Kemuliaan Pembawa Hadits

  Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 نَضَّرَ
  اللهُ امْرَءاً سَمِعَ مِنَّا حَدِيْثاً فَحَفِظَهُ – وفي لفظٍ: فَوَعَاها …

Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نَضَّرَ اللهُ امْرَءاً سَمِعَ مِنَّا حَدِيْثاً فَحَفِظَهُ – وفي لفظٍ: فَوَعَاها وَحَفِظَها – حَتَّى يُبَلِّغَهُ،
فَرُبَّ حامِلِ فِقْهٍ إلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ، وَرُبَّ حامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيْهٍ

“Semoga Allah mencerahkan (mengelokkan rupa) orang yang mendengar hadits dariku, lalu dia menghafalnya – dalam lafazh riwayat lain: lalu dia memahami dan menghafalnya –, hingga (kemudian) dia menyampaikannya (kepada orang lain), terkadang orang yang membawa ilmu agama menyampaikannya kepada orang yang lebih paham darinya, dan terkadang orang yang membawa ilmu agama tidak memahaminya” (Hadits yang shahih dan mutawatir).

Takhrij Hadits dan Derajatnya

Hadits ini diriwayatkan oleh imam Abu Dawud (no. 3660), at-Tirmidzi (no. 2656), Ibnu Majah (no. 230), ad-Darimi (no. 229), Ahmad (5183), Ibnu Hibban (no. 680), ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabiir” (no. 4890), dan imam-imam lainnya.

Hadits ini adalah hadits yang shahih dan mutawatir, karena diriwayatkan oleh lebih dari dua puluh orang sahabat radhiyallahu ‘anhum dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan diriwayatkan dari
berbagai jalur yang banyak sekali.

Imam Shalahuddin al-‘Ala’i berkata, “Hadits ini diriwayatkan dari berbagai jalur yang banyak, dari sejumlah besar sahabat radhiyallahu ‘anhu, di antaranya: Abdullah bin mas’ud, Jubair bin muth’im, Zaid bin Tsabit, Nu’man bin Basyir, Abu Sa’id al-Khudri, Abdullah bin ‘Umar, Anas bin Malik, Ibnu ‘Abbas, ‘Aisyah, Abu Hurairah, Ubay bin Ka’ab, Jabir bin Abdillah, Rabi’ah bin ‘Utsman, Abu Qarshafah dan sahabat lainnya radhiyallahu ‘anhum“.

Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata, “Hadist ini sangat masyhur (dikenal), dikeluarkan dalam kitab-kitab “as-Sunan” atau dalam sebagiannya, dari hadits (riwayat) Ibnu Mas’ud, Zaid bin Tsabit dan Jubair bin muth’im. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban dan al-Hakim. Dan (imam) Abul Qasim Ibnu Mandah menyebutkan dalam kitabnya “at-Tadzkirah” bahwa hadits ini diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh dua puluh empat orang sahabat radhiyallahu ‘anhum, kemudian beliau menyebutkan nama-nama sahabat tersebut…”.

Bahkan imam as-Suyuthi dalam kitab “Tadriibur raawi” (2179) menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh sekitar tiga puluh orang sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Hadits ini dinyatakan shahih oleh sejumlah besar imam Ahlul hadits, di antaranya: imam Abdurrahman bin Abi Hatim, Ibnu Hibban, al-Mundziri, al-‘Ala’i, Ibnul Qayyim, al-Bushiri dan syaikh al-Albani.

Syarah Hadits

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan dan kemuliaan orang yang mempelajari, memahami, kemudian menyampaikan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits beliau kepada umat manusia. Sampai-sampai imam Ibnul Qayyim ketika mengomentari hadits ini, beliau berkata, “Seandainya tidak ada keutamaan mempelajari ilmu (tentang hadits Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam) kecuali
(keutamaan yang disebutkan dalam hadits) ini, maka cukuplah itu sebagai kemuliaan (yang agung), karena sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kebaikan bagi orang yang mendengar ucapan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian memahami, menghafal dan menyampaikannya (kepada orang lain)”.

Semakna dengan ucapan di atas, Mulla ‘Ali al-Qari berkata, “Hadits ini menunjukkan keagungan hadits (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), keutamaan dan kedudukan orang-orang yang mempelajarinya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan/mengistimewakan mereka dengan doa (kebaikan) yang tidak ada seorangpun dari umat ini yang menyertai mereka dalam doa (kebaikan) tersebut. Seandainya tidak ada manfaat (keutamaan) dalam mempelajari, menghafal dan menyampaikan hadits (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) kecuali (hanya) mendapatkan berkah dari doa yang agung ini, maka cukuplah itu sebagai manfaat (yang agung), kemuliaan di dunia dan akhirat, serta bagian dan keutamaan (yang besar)”.

Doa kebaikan yang berupa kecerahan dan keindahan (rupa), yang diucapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi orang-orang yang mempelajari dan menyampaikan petunjuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat ini adalah sebagai al-Jaza’u min jinsil ‘amal (balasan yang sesuai dengan perbuatan baik mereka), karena mereka telah mengusahakan sebab sampainya petunjuk dan bimbingan kebaikan dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada manusia, yang dengan mengamalkan ini semua, wajah manusia akan menjadi putih berseri pada hari kiamat nanti, sebagaimana yang digambarkan dalam firman Allah Ta’ala,

{يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ، فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُون. وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَةِ اللَّهِ هُمْ
فِيهَا خَالِدُون}

“Pada hari yang (di waktu itu) ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya
(kepada mereka dikatakan): “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman, karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu. Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya” (QS Ali ‘Imraan: 106-107).

Dan sungguh doa yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini benar-benar terbukti secara nyata pada diri orang-orang yang diberi taufik oleh Allah Ta’ala untuk mempelajari dan mendakwahkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sungguh-sungguh dan disertai dengan keikhlasan serta mengharapkan balasan pahala dari Allah Ta’ala.

Mulla ‘Ali al-Qari berkata, “Ada yang mengatakan: Sungguh Allah telah mengabulkan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (tersebut).
Oleh karena itu, kamu dapati para (ulama) ahli hadits adalah orang yang paling bagus (elok) wajahnya dan indah penampilannya. Diriwayatkan dari imam Sufyan bin ‘Uyainah bahwa beliau berkata: “Tidak ada seorang pun yang menuntut (ilmu) hadits kecuali (terlihat) pada wajahnya kecerahan”, yaitu: keindahan yang tampak atau (yang bersifat) maknawi (tidak tampak)”.

Hal ini tidaklah mengherankan, karena secara umum Allah Ta’ala menjadikan perbuatan baik dan amalan shaleh sebagai sebab yang menjadikan kebaikan dan keindahan lahir dan batin pada diri orang yang mengamalkannya, terlebih lagi pada diri orang-orang yang membawa petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan sumber kebaikan dalam agama ini.

Inilah makna ucapan sahabat yang mulia, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma sewaktu beliau berkata, “Sesungguhnya (amal) kebaikan itu memiliki (pengaruh baik berupa) cahaya di hati, kecerahan pada wajah, kekuatan pada tubuh, tambahan pada rezki dan kecintaan di hati manusia, dan (sebaliknya) sungguh (perbuatan) buruk (maksiat) itu memiliki (pengaruh buruk berupa) kegelapan di hati, kesuraman pada wajah, kelemahan pada tubuh, kekurangan pada rezki dan kebencian di hati manusia”.

Oleh karena itu, imam Ibnul Qayyim berkata, “Doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini (keindahan rupa) mengandung arti keindahan keelokan pada lahir dan batin, karena (kata) an-nadhrah berarti kecerahan dan keindahan yang menghiasi wajah, (yang bersumber) dari pengaruh iman (dalam hati), serta kegembiraan, kesenangan dan kebahagiaan (yang dirasakan dalam) batin dengan keimanan tersebut, sehingga kegembiraan, kesenangan dan kebahagiaan itu akan tampak (nyata)
berupa kecerahan pada wajah. Oleh karena itulah, Allah Ta’ala mengumpulkan kesenangan dan kebahagiaan (dalam hati) dengan keceriaan (pada wajah, sebagai balasan kemuliaan bagi penduduk surga), sebagaimana dalam firman-Nya,

{فَوَقَاهُمُ اللَّهُ شَرَّ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورً}

“Maka Allah menjaga mereka dari keburukan pada hari itu dan menganugerahkan kepada mereka kecerahan (pada wajah mereka) serta kegembiraan (dalam hati mereka)” (QS al-Insaan: 11).

Maka kecerahan (ada) pada wajah-wajah mereka dan kegembiraan/kebahagiaan (ada) pada hati mereka, (ini berarti) bahwa kesenangan dan kegembiraan
(dalam) hati akan menampakkan (pegaruh baik berupa) kecerahan pada wajah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala (tentang keadaan penduduk surga),

{تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيم}

“Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan” (QS al- Muthaffifiin:24).

Kesimpulannya, kecerahan pada wajah bagi orang yang mendengarkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian memahami, menghafal
dan menyampaikannya (kepada orang lain), ini adalah pengaruh kemanisan (iman), dan kesenangan serta kebahagiaan (yang dirasakannya) di dalam hati”.

Keterangan di atas menunjukkan keutamaan yang agung dari mempelajari dan memahami hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam membersihkan penyakit hati dan kotoran jiwa manusia, yang itu semua merupakan penghalang utama untuk mencapai kemanisan iman dan kebahagiaan hati.

Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganalogikan petunjuk dan ilmu yang beliau bawa dengan air hujan yang Allah Ta’ala turunkan ke bumi untuk memberikan kehidupan bagi tanah yang tandus dan bagi makhluk hidup. Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا…“

“Sesungguhnya perumpaan bagi petunjuk dan ilmu yang Allah Ta’ala wahyukan kepadaku adalah seperti air hujan (yang baik) yang Allah turunkan ke bumi…“.

Imam Ibnu Hajar dalam kitab “Fathul Baari” membawakan ucapan para ulama dalam menerangkan makna hadits ini, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat perumpamaan bagi agama yang beliau bawa (dari Allah Ta’ala) seperti air hujan (yang baik) yang merata dan turun ketika manusia (sangat) membutuhkannya, seperti itu jugalah keadaan manusia sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sebagaimana air hujan tersebut memberi kehidupan (baru) bagi negeritanah yang mati (kering dan tandus), demikian pula ilmu agama akan memberi kehidupan bagi hati yang mati…”.

Imam Ibnul Jauzi berkata, “Ketahuilah bahwa hati manusia tidak (mungkin) terus (dalam keadaan) bersih. Akan tetapi (suatu saat mesti) akan bernoda (karena dosa dan maksiat), maka (pada waktu itu) dibutuhkan pembersih (hati), dan pembersih hati itu adalah menelaah kitab-kitab ilmu (agama yang bersumber dari petunjuk al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam)”.

Maraatib(TingakatanTahapan) dalam Menuntut Ilmu Agama

Dalam hadits yang agung ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengisyaratkan tentang maraatib (tingakatantahapan) yang harus ditempuh dalam menuntut ilmu agama, agar ilmu yang dipelajari benar-benar dapat dipahami dengan baik dan bermanfaat bagi orang yang mempelajarinya.

Tahapan-tahapan ilmu tersebut adalah:

 1. Mendengarkanmenyimak ilmu dari sumbernya, sumber ilmu yang utama adalah al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan termasuk dalam hal ini membaca dan menelaah kitab-kitab ilmu agama yang bersumber dari wahyu Allah Ta’ala tersebut.
 2. Berusaha memahami dan meresapi kandungan maknanya, agar ilmu itu benar-benar menetap dalam hati dan tidak hilang.
 3. Berusaha menjaga dan menghafalnya, agar tidak dilupakan.
 4. Menyebarkan dan menyampaikannya kepada umat, supaya kebaikan dan petunjuk Allah Ta’ala tersebar dan diamalkan dalam kehidupan manusia, karena ilmu agama itu ibaratnya seperti perbendaharaan harta yang terpendam dalam tanah, kalau tidak segera dikeluarkan maka harta itu terancam akan musnah.

Dalam hal ini, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata, “Menyampaikan sunnah (hadits) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat lebih utama daripada menyampaikan (melontarkan) anak panah ke leher musuh (berperang melawan musuh-musuh Islam). Karena menyampaikan (melontarkan) anak panah ke leher musuh mampu dilakukan oleh mayoritas manusia, adapun menyampaikan sunnah (hadits) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (kepada umat) hanyalah bisa dilakukan oleh waratsatul Anbiya’ (orang-orang yang mewarisi ilmu para Nabi ‘alaihimus salam dengan tekun mempelajarinya) dan orang-orang yang menggantikan (tugas) mereka (dalam mempelajari, memahami dan menyebarkan petunjuk Allah Ta’ala) di umat-umat mereka. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk (golongan) mereka, dengan anugerah dan kemurahan-Nya”.

Kemudian, sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhir hadits ini, “…Terkadang orang yang membawa ilmu agama  menyampaikannya kepada orang yang lebih paham darinya…”, ini menunjukkan salah satu manfaat besar dari menyampaikan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat.

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (di akhir hadits) ini merupakan peringatan akan pentingnya menyampaikan (petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat). Karena terkadang orang yang disampaikan kepadanya (hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) lebih paham (makna hadits tersebut) daripada orang yang menyampaikannya, sehingga orang tersebut mendapatkan (manfaat besar) dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang disampaikan kepadanya) melebihi yang didapatkan si penyampai. Atau (bisa juga) diartikan bahwa orang yang disampaikan kepadanya (hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) lebih paham (makna hadits tersebut) daripada orang yang menyampaikannya, maka ketika dia mendengarkan hadits tersebut, dia akan mengartikannya dengan
sebaik-baik kandungan makna, menarik kesimpulan (hukum-hukum) fikh, dan memahami kandungan (yang benar) dari hadits tersebut”.

Fawa’id Hadits

 1. Besarnya perhatian dan semangat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberikan bimbingan kebaikan kepada umatnya, untuk kemuliaan mereka di dunia dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman,

{لَقَدْ
جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ}

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kalanganmu sendiri, berat terasa olehnya apa-apa yang menyusahkanmu, sangat menginginkan (petunjuk dan kebaikan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min” (QS at-Taubah:128).

 2. Peringatan untuk memberikan perhatian besar dalam mempelajari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik secara riwayah (yang berhubungan dengan periwayatan perawi dalam sanad hadits) maupun dirayah (makna dan kandungan hadits).
 3. Keutamaan menekuni ilmu hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendokan kebaikan bagi orang-orang yang menekuninya.
 4. Anjuran untuk menyebarkan dan mendakwahkan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat.
 5. Agungnya kemuliaan dan keutamaan para ulama ahli Hadits.
 6. Anjuran untuk menjaga dan menghafal hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
 7. Al-Jaza’u min jinsil ‘amal (balasan yang Allah Ta’ala berikan kepada manusia adalah sesuai dengan jenis perbuatan mereka).
 8. Keutamaan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena merekalah orang yang paling pertama dan sungguh-sungguh dalam mendengarkan, memahami dan menyampaikan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat ini, maka merekalah yang paling berhak untuk mendapatkan kemuliaan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini.
 9. “Barangsiapa yang mengajak (manusia) untuk (melakukan) kebaikan, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang yang melakukannya”.
10. Mendoakan kebaikan yang berupa kecerahan dan keindahan rupa bagi orang yang mempelajari dan mendakwahkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
11. Larangan menyembunyikan ilmu dan petunjuk kebaikan.
12. Hadits ahad (hadits yang hanya diriwayatkan oleh perawi yang jumlahnya sedikit) adalah dalil dan hujjah (argumentasi) yang wajib diamalkan kandungannya, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam dalam hadits ini tidak mensyaratkan jumlah yang banyak bagi orang yang mendengar dan menyampaikan hadits-hadits beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
13. Kebaikan manusia lahir dan batin hanyalah dicapai dengan memahami dan mengamalkan petunjuk Allah Ta’ala dalam al-Qur’an dan sunnah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
14. Fungsi utama petunjuk yang dibawa oleh Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembersih penyakit hati dan kotoran jiwa manusia.
15. Mempelajari, memahami, menghafal dan menyampaikan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah termasuk sebab utama terjaganya kemurnian sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam, dan ini termasuk makna firman Allah Ta’ala,

{إِنَّا نَحْنُ نزلْنَا
الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ}

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (QS al-Hijr:9).

16. Keutamaan dan kemuliaan mempelajari ilmu agama.
17. Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih adalah sumber pengambilan hukum-hukum fikh.
18. Keutamaan menggabungkan antara menghafal hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memahami kandungan maknanya.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن
الحمد لله رب العالمين

Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 11 Dzulqa’dah 1430 H
**********************************
Kemuliaan Pembawa Hadits Rasulullah

عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِت رصي الله عنه قاَلَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم
يَقُوْلُ: ((نَضَّرَ اللهُ امْرَءاً سَمِعَ مِنَّا حَدِيْثاً فَحَفِظَهُ — وَفِيْ لَفْظٍ: فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا —
حَتَّى يُبَلِّغَهُ

((فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيْهٍ

Dari Zaid bin Tsabit rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Semoga Allah mencerahkan (mengelokkan rupa) orang yang mendengar hadits dariku, lalu dia menghapalnya’  dalam lafadz riwayat lain, ‘lalu dia memahami dan menghapalnya, hingga (kemudian) dia menyampaikannya (kepada orang lain), terkadang orang yang membawa ilmu agama menyampaikannya kepada orang yang lebih paham darinya, dan terkadang orang yang membawa ilmu
agama tidak memahaminya’.” (Hadits yang shahih dan mutawatir).

TAKHRIJ HADITS DAN DERAJATNYA
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud no. 3660, at-Tirmidzi no. 2656, Ibnu Majah no. 230, ad-Darimi no. 229, Ahmad 5183, Ibnu Hibban
no. 680, ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabiir no. 4890, dan imam-imam lainnya.

Hadits ini adalah hadits yang shahih dan mutawatir, karena diriwayatkan oleh lebih dari dua puluh orang sahabat rodhiyallohu ‘anhum Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam, dan diriwayatkan dari berbagai jalur yang banyak sekali.

Imam Shalahuddin al-’Ala’i berkata, “Hadits ini diriwayatkan dari berbagai jalur yang banyak, dari sejumlah besar sahabat rodhiyallohu ‘anhum, di antaranya: Abdullah bin Mas’ud, Jubair bin Muth’im, Zaid bin Tsabit, Nu’man bin Basyir, Abu Sa’id al-Khudri, Abdullah bin ‘Umar, Anas
bin Malik, Ibnu ‘Abbas, ‘Aisyah, Abu Hurairah, Ubay bin Ka’ab, Jabir bin Abdillah, Rabi’ah bin ‘Utsman, Abu Qarshafah, dan sahabat lainnya
rodhiyallohu ‘anhum“. (Jaami’ut Tahshiil fi Ahkaamil Maraasiil hal.
52-53)

Imam Ibnu Hajar al-’Asqalani berkata, “Hadits ini sangat masyhur (dikenal), dikeluarkan dalam kitab-kitab “as-Sunan” atau dalam sebagiannya, dari hadits (riwayat) Ibnu Mas’ud, Zaid bin Tsabit, dan
Jubair bin Muth’im. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban dan al-Hakim. Dan (Imam) Abul Qasim Ibnu Mandah menyebutkan dalam kitabnya
at-Tadzkirah bahwa hadits ini diriwayatkan dari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam oleh dua puluh empat orang sahabat rodhiyallohu ‘anhum, kemudian beliau menyebutkan nama-nama sahabat tersebut…” (Faidhul Qadiir 6283 oleh Imam al-Munawi)

Bahkan Imam as-Suyuthi dalam kitab Tadriibur Raawi (2179) menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh sekitar tiga puluh orang sahabat
rodhiyallohu ‘anhum.

Hadits ini dinyatakan shahih oleh sejumlah besar imam ahlul hadits, di antaranya: Imam Abdurrahman bin Abi Hatim, Ibnu Hibban, al-Mundziri, al-’Ala’i, Ibnul Qayyim, al-Bushiri, dan Syaikh al-Albani.

SYARAH HADITS
Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan dan kemuliaan orang yang mempelajari, memahami, kemudian menyampaikan petunjuk Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam dalam hadits-hadits beliau kepada umat manusia. Sampai-sampai Imam Ibnul Qayyim ketika mengomentari hadits ini, beliau berkata, “Seandainya tidak ada keutamaan mempelajari ilmu (tentang hadits Rasululah shollallohu ‘alaihi wasallam) kecuali
(keutamaan yang disebutkan dalam hadits) ini, maka cukuplah itu sebagai kemuliaan (yang agung), karena sungguh Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam mendoakan kebaikan bagi orang yang mendengar ucapan beliau shollallohu ‘alaihi wasallam, kemudian memahami, menghapal, dan
menyampaikannya (kepada orang lain).” (Miftahu Daaris Sa’aadah 171)

Semakna dengan ucapan di atas, Mulla ‘Ali al-Qari berkata, “Hadits ini menunjukkan keagungan hadits (Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam), keutamaan dan kedudukan orang-orang yang mempelajarinya,
karena Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam
mengkhususkanmengistimewakan mereka dengan doa (kebaikan) yang tidak ada seorangpun dari umat ini yang menyertai mereka dalam doa (kebaikan)
tersebut. Seandainya tidak ada manfaat (keutamaan) dalam mempelajari, menghapal, dan menyampaikan hadits Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam, kecuali (hanya) mendapatkan berkah dari doa yang agung ini, maka cukuplah itu sebagai manfaat (yang agung), kemuliaan di dunia dan akhirat, serta bagian dan keutamaan (yang besar).” (Mirqaatul Mafaatiih
Syarhu Misykaatil Mashaabiih 1288)

Doa kebaikan yang berupa kecerahan dan keindahan (rupa), yang diucapkan Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam bagi orang-orang yang mempelajari dan menyampaikan petunjuk beliau shollallohu ‘alaihi
wasallam kepada umat ini adalah sebagai al-Jaza’u min jinsil ‘amal (balasan yang sesuai dengan perbuatan baik mereka), karena mereka telah
mengusahakan sebab sampainya petunjuk dan bimbingan kebaikan dalam hadits-hadits Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam kepada manusia,
di mana dengan mengamalkan ini semua, wajah manusia akan menjadi putih berseri pada hari kiamat nanti, sebagaimana yang digambarkan dalam
firman Allah Jalla Jalaluhu:

١١. فَوَقَاهُمُ اللَّهُ شَرَّ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُوراً

Maka Allah menjaga mereka dari keburukan pada hari itu dan menganugerahkan kepada mereka kecerahan (pada wajah mereka) serta kegembiraan (dalam hati mereka). (QS. al-Insaan: 11)

Maka kecerahan (ada) pada wajah-wajah mereka dan kegembiraankebahagiaan (ada) pada hati mereka, (ini berarti) bahwa kesenangan dan kegembiraan (dalam) hati akan menampakkan (pengaruh baik berupa) kecerahan pada wajah. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (tentang keadaan penduduk surga):

إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا…

Sesungguhnya perumpamaan bagi petunjuk dan ilmu yang Allah ‘Azza Wa Jalla wahyukan kepadaku adalah seperti air hujan (yang baik) yang Allah
turunkan ke bumi… (HSR. Al-Bukhari no. 79 dan Muslim no. 2282)

Imam Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Baari membawakan ucapan para ulama dalam menerangkan makna hadits ini, “Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam membuat perumpamaan bagi agama yang beliau bawa (dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala) seperti air hujan (yang baik) yang merata dan turun ketika manusia (sangat) membutuhkannya, seperti itu jugalah keadaan manusia sebelum diutusnya Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam, maka sebagaimana air hujan tersebut memberi kehidupan (baru) bagi negeritanah yang mati (kering dan tandus), demikian pula ilmu agama akan memberi kehidupan bagi hati yang mati…” (Fathul Baari 1177)

Imam Ibnul Jauzi berkata, “Ketahuilah bahwa hati manusia tidak (mungkin) terus (dalam keadaan) bersih, akan tetapi (suatu saat mesti) akan bernoda (karena dosa dan maksiat), maka (pada waktu itu) dibutuhkan pembersih (hati), dan pembersih hati itu adalah menelaah kitab-kitab ilmu (agama yang bersumber dari petunjuk al-Qur’an dan hadits Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam).” (Talbisu Ibliis hal. 398)

MARAATIB (TINGKATANTAHAPAN) DALAM MENUNTUT ILMU AGAMA

Dalam hadits yang agung ini, Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam juga mengisyaratkan tentang maraatib (tahapan) yang harus ditempuh
dalam menuntut ilmu agama, agar ilmu yang dipelajari benar-benar dapat dipahami dengan baik dan bermanfaat bagi orang yang mempelajarinya.
Tahapan-tahapan ilmu tersebut adalah:

 1. Mendengarkanmenyimak ilmu dari sumbernya, sumber ilmu yang utama adalah al-Qur’an dan hadits Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam. Dan termasuk dalam hal ini membaca dan menelaah
kitab-kitab ilmu agama yang bersumber dari wahyu Allah ‘Azza Wa Jalla tersebut.
 2. Berusaha memahami dan meresapi kandungan makna-nya, agar ilmu itu benar-benar menetap dalam hati dan tidak hilang.
 3. Berusaha menjaga dan menghapalnya, agar tidak dilupakan.
 4. Menyebarkan dan menyampaikannya kepada umat, supaya kebaikan dan petunjuk Allah Jalla Jalaluhu tersebar dan diamalkan dalam kehidupan manusia, karena ilmu agama itu ibaratnya seperti
perbendaharaan harta yang terpendam dalam tanah, kalau tidak segera dikeluarkan maka harta itu terancam akan musnah. (Lihat keterangan Ibnul Qayyim dalam kitab Miftahu Saaris Sa’aadah 171-72).

Dalam hal ini, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata, “Menyampaikan Sunnah (hadits) Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam kepada umat lebih utama daripada menyampaikan (melontarkan) anak panah ke leher musuh (berperang melawan musuh-musuh Islam). Karena menyampaikan (melontarkan) anak panah ke leher musuh mampu dilakukan
oleh mayoritas manusia, adapun menyampaikan Sunnah (hadits) Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam (kepada umat) hanyalah bisa dilakukan oleh Waratsatul Anbiya’ (orang-orang yang mewarisi
ilmu para Nabi ‘alaihi salam dengan tekun mempelajarinya) dan orang-orang yang menggantikan (tugas) mereka (dalam mempelajari,
memahami, dan menyebarkan petunjuk Allah Y) di umat-umat mereka.
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan kita termasuk (golongan) mereka, dengan anugerah dan kemurahanNya.” (Jala-ul Afhaam hal. 415)

Kemudian, sabda Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam di akhir hadits ini, “… Terkadang orang yang membawa ilmu agama menyampaikannya kepada orang yang lebih paham darinya…”, ini
menunjukkan salah satu manfaat besar dari menyampaikan petunjuk Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam kepada umat.

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Sabda Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam (di akhir hadits) ini merupakan peringatan akan pentingnya
menyampaikan (petunjuk Rasulullah n kepada umat). Karena terkadang orang yang disampaikan kepadanya (hadits Rasulullah shollallohu
‘alaihi wasallam) lebih paham (makna hadits tersebut) daripada orang yang menyampaikannya, sehingga orang tersebut mendapatkan (manfaat besar) dari hadits Rasulullah shollallohu ‘alaihi
wasallam (yang disampaikan kepadanya) melebihi yang didapatkan si penyampai. Atau (bisa juga) diartikan bahwa orang yang disampaikan
kepadanya (hadits Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam) lebih paham (makna hadits tersebut) daripada orang yang menyampaikannya, maka ketika dia mendengarkan hadits tersebut, dia akan
mengartikannya dengan sebaik-baik kandungan makna, menarik kesimpulan (hukum-hukum) fikih, dan memahami kandungan (yang benar) dari hadits tersebut.” (Miftahu Daaris Sa’aadah 172)

FAWA’ID HADITS

 1. Besarnya perhatian dan semangat Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam untuk memberikan bimbingan kebaikan kepada umatnya, untuk
kemuliaan mereka di dunia dan akhirat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala
berfirman:

١٠. وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ فِي شِيَعِ الأَوَّلِينَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an [10], dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. al-Hijr: 9)

 2. Keutamaan dan kemuliaan mempelajari ilmu agama.
 3. Hadits Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam yang shahih adalah sumber pengambilan hukum-hukum fikih.
 4. Keutamaan menggabungkan antara menghapal hadits Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam dan memahami kandungan maknanya.
(Dirasatu Hadits: Nadhdharallahu Imraan Sami’a Maqaalati… 3368-375)

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن
الحمد لله رب العالمين
*********************************
 Keutamaan Menghafal Hadits

Rasulullah SAW pernah bersabda (artinya) : “Semoga Allah menjadikan berseri-seri wajah seseorang yang mendengar dari kami hadits lalu dia
menghafalkannya kemudian menyampaikannya kepada orang lain….”
(HR. Tirmidzi, Abu Daud dan Ibnu Majah dari Zaid bin Tsabit  ra.)

Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang menghafal 40 hadits yang bermanfaat bagi ummatku dari urusan dien
mereka, niscaya Allah akan membangkitkannya di hari kiamat beserta para ulama. Keutamaan seorang alim di bandingkan seorang abid (ahli ibadah)
sebanyak 70 derajat dan Allah yang lebih tau berapa jarak antara satu derajat ke derajat berikutnya.”
(HR. Baihaqi dalam Syu’bul Iman)*

Dari Abu Darda ra. berkata, Rasulullah SAW telah di tanya apa batasan ilmu jika seseorang menghafalnya maka dia termasuk faqih?

Rasulullah SAW menjawab, “Barangsiapa menghafal bagi ummatku 40 hadits  dari perkara dien mereka, niscaya Allah akan membangkitkannya di hari
kiamat sebagai seorang faqih dan aku menjadi pemberi syafaat dan saksi baginya”.
(HR. Baihaqi dalam Syu’bul Iman)*
********************************
Kewajiban Memuliakan Ilmu dan Ulama

Allah Ta’ala Meninggikan Derajat Ulama, Jangan Kau Rendahkan

?Kewajiban Memuliakan Ilmu dan Ulama?

بسم الله الرحمن الرحيم

? Allah ta’ala berfirman,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

? “Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” [Al-Mujadilah: 11]

? Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

يرفع الله المؤمن العالم على المؤمن غير العالم ورفعة الدرجات تدل على
الفضل إذ المراد به كثرة الثواب وبها ترتفع الدرجات ورفعتها تشمل المعنوية
في الدنيا بعلو المنزلة وحسن الصيت والحسية في الآخرة بعلو المنزلة في الجنة

1) Allah mengangkat derajat seorang mukmin yang berilmu melebihi mukmin yang tidak berilmu.
2) Terangkatnya derajat menunjukkan keutamaan, yaitu banyaknya pahala yang dengan itu terangkatlah derajat.
3) Ketinggian derajat mencakup ‘maknawiyah’ di dunia, seperti kedudukan yang tinggi dan disebut dengan kebaikan, dan juga mencakup ‘hissiyah’ di
akhirat yaitu kedudukan yang tinggi di surga.
[Fathul Baari, 1/141]

? Maka ayat yang mulia ini menunjukkan keutamaan ilmu agama dan keutamaan orang-orang yang memilikinya dan selalu berusaha mempelajarinya. Oleh karena itu Allah ta’ala tidaklah memerintahkan
kepada Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam untuk meminta suatu tambahan selain ilmu.

? Allah ta’ala berfirman,

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

? “Dan katakanlah: Wahai Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” [Thaha: 114]

? Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

واضح الدلالة في فضل العلم لأن الله تعالى لم يأمر نبيه صلى الله عليه و
سلم بطلب الازدياد من شيء الا من العلم والمراد بالعلم العلم الشرعى الذي
يفيد معرفة ما يجب على المكلف من أمر دينه في عباداته ومعاملاته والعلم
بالله وصفاته وما يجب له من القيام بأمره وتنزيهه عن النقائص ومدار ذلك على
التفسير والحديث والفقه

1) Ayat ini jelas menunjukkan keutamaan ilmu, karena Allah ta’ala tidak memerintahkan Nabi-Nya shallallahu’alaihi wa sallam untuk meminta suatu
tambahan kecuali ilmu.
2) Ilmu yang dimaksudkan di sini adalah ilmu syar’i (ilmu agama) yang dengan itulah kita mengenal kewajiban atas seorang hamba dalam ibadah
maupun mu’amalat, juga ilmu tentang Allah dan sifat-sifat-Nya, dan kewajiban untuk menjalankan perintah-Nya serta menyucikan-Nya dari berbagai kekurangan.
3) Ilmu ini beredar pada tafsir, hadits dan fiqh.
[Fathul Baari, 1/141]

?#Beberapa_Pelajaran:

1) Kewajiban dan keutamaan menuntut ilmu agama.

2) Hendaklah selalu bersemangat dalam menuntut ilmu agama dan senentiasa berdoa meminta tambahan ilmu kepada Allah ta’ala.

3) Manusia hanya bisa berusaha dan yang menganugerahkan hasilnya adalah Allah ta’ala, tidak terkecuali ilmu, oleh karena itu diantara bekal
terbaik dalam menuntut ilmu adalah ketakwaan.

4) Kemuliaan para ulama dan penuntut ilmu agama, maka wajib bagi setiap muslim dan muslimah untuk memuliakan dan menghormati mereka serta
mendoakan kebaikan untuk mereka.

5) Merendahkan para ulama dan penuntut ilmu termasuk dosa besar, karena Allah ta’ala telah memuliakan mereka, maka tidaklah patut merendahkan mereka. Oleh karena itu, betapa pun kita tidak setuju dengan pendapat seorang ulama karena kita lebih memilih pendapat ulama yang lain, namun tidak dibenarkan bagi kita untuk menjatuhkan kehormatan seorang ulama, meski kita tidak mengikuti pendapatnya dalam masalah yang diperbolehkan padanya perbedaan pendapat antara para ulama, karena merendahkan ulama sangat berbahaya dan termasuk ciri ahlul bid’ah yang paling jelas.

=> Al-Imam Abu ‘Utsman Ash-Shabuni rahimahullah berkata,

علامات البدع على أهلها بادية ظاهرة، وأظهر آياتهم وعلاماتهم: شدة معاداتهم
لحملة أخبار النبي صلى الله عليه وسلم واحتقارهم واستخفافهم بهم

⛔ “Tanda-tanda ahlul bid’ah nampak jelas pada orang-orangnya, dan tanda mereka yang paling jelas adalah, kerasnya permusuhan, perendahan dan
peremehan mereka terhadap para ulama pembawa hadits-hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.” [‘Aqidatus Salaf Ashhaabil Hadits: 101]

=> Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata,

وأننا نسمع في زماننا هذا من يتكلم في أعراض العلماء ويتهمهم بالغباوة
والجهل وعدم إدراك الأمور وعدم فقه الواقع كما يقولون وهذا أمر خطير

⛔ “Sering kita mendengar di zaman sekarang ini, orang yang menjelek-jelekan ulama dan menuduh mereka sebagai orang dungu, jahil, tidak mengerti permasalahan dan tidak tahu fakta di lapangan (fiqh
waqi’), tuduhan ini adalah hal yang sangat berbahaya.” [Muhadhoroh Aqidah wa Da’wah, 2/183]

=> Asy-Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Aalusy Syaikh hafizhahullah berkata,

فإذا غلط أحدهم في مسألة أو في مسألتين أو إجتهد فأخطأ، فإنهم لا يتبعونه
فيما أخطأ فيه، لكنهم لا يذمونه لأنهم يعلمون أنه مجتهد، وأن العلماء هم
ورثة الأنبياء. فمن منهجهم سلامة ألسنتهم من الوقيعة في أهل العلم، لأن
العلماء هم ورثة الأنبياء وهم الذين يدلون الناس على الشريعة

⛔ “Apabila salah seorang ulama keliru dalam satu atau dua masalah, atau ia berijtihad dan salah maka Ahlus Sunnah tidak mengikuti kesalahan mereka namun juga tidak mencela mereka, karena Ahlus Sunnah menyadari bahwa ia seorang mujtahid, dan para ulama adalah pewaris para nabi. Maka
termasuk manhaj Ahlus Sunnah adalah selamatnya lisan-lisan mereka dari menjelek-jelekkan para ulama, karena ulama adalah pewaris para nabi dan
merekalah yang menunjuki umat kepada syari’at agama ini.” [Ad-Durusul ‘Ilmiyyah Al-’Aammah fil ‘Ilmi wad Da’wah wat Tarbiyah, 2/487]

6) Ilmu yang paling wajib untuk dipelajari dan paling tinggi kedudukannya adalah ilmu agama.

7) Mempelajari ilmu dunia dan lebih mementingkannya, dan tidak mempedulikan ilmu agama sangat tercela.

8) Mempelajari ilmu agama termasuk sebesar-besarnya ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah ta’ala dan meraih pahala yang besar.

9) Kaum mukminin bertingkat-tingkat derajat mereka di dunia maupun di akhirat, sesuai dengan kadar ilmu dan amal.

10) Tidak ada jalan untuk meraih kebahagian di dunia dan akhirat kecuali dengan menuntut ilmu agama, mengamalkannya dan mengajarkannya.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
********************************

Mengenal Kitab-Kitab Hadits

Mengenal Kitab Al-Jami’, Al-Sunan, dan Al-Mushannaf

1. Kitab Al-Jami’
Menurut etimologinya, al-Jami’ artinya “yang menghimpun” sehingga dapat dipahami bahwa kitab al-Jami’ adalah kitab yang menghimpun banyak hal.
Karena itulah, menurut istilah ulama hadis, pengertian kitab al-Jami’ ada dua macam, yaitu:

1. Dilihat dari segi pokok kandungan hadis yang dihimpunnya, pengertian kitab al-Jami’ adalah kitab hadis yang disusun dan dibukukan oleh pengarangnya terhadap semua pembahasan agama. Di antaranya masalah iman, thaharah, ibadah, mu’amalah, pernikahan, sirah, riwayat hidup, tafsir,
adab, penyucian jiwa, fitnah dan lain sebagainya. Inilah yang membedakan antara kitab al-jami’ dan kitab al-Musannaf. Karena hanya disusun berdasarkan permasalahan tertentu dan umumnya adalah mengenai persoalan fikih, sedangkan al-Jami’ lebih umum.

2. Dilihat dari segi sumber rujukan hadis-hadis yang dihimpunnya, pengertian kitab al-Jami’ adalah kitab yang menghimpun hadis-hadis yang berasal dari kitab-kitab hadis yang telah ada.

Hanya saja secara umum, kitab al-Jami’ dimaknai dalam pengertiannya yang pertama yaitu kitab disusun berdasarkan bab dan mencakup hadis-hadis
dari berbagai sendi ajaran Islam.

Sebagai contoh kitab al-Jami’ adalah kitab Sahih al-Bukhari (194-256 H), kitab tersebut ia beri nama “al-Jami’ al-Musnad al-Sahih al-Mukhtasar min umuri Rasulillahi Sallallahu ‘alaihi wa sallama wa sunanihi wa ayyamihi”. kitab tersebut dinamakan al-Jami’ karena di dalamnya mencakup masalah yang beraneka ragam, termasuk persoalan hukum, politik, dan sebagainya.

2. Kitab As-Sunan
As-sunan yaitu kitab-kitab yang disusun berdasarkan bab-bab tentang fiqhi dan hanya memuat hadis-hadis yang marfu’ saja agar dijadikan sumber bagi para Fuqaha dalam mengambil sebuah kesimpulan. As-sunan tidak terdapat pembahasan tentang Sirah, Aqidah, Manaqib, dan lain-lain.
As-sunan hanya membahas masalah fiqhi dan hadis-hadis hukum saja.
Al-Kittana mengatakan bahwa susunan kitab sunan berdasarkan bab-bab tentang fiqhi mulai bab tentang Iman, Tharah, Sholat, Zakat, Puasa, Haji, dan seterusnya.

Kitab-kitab sunan yang terkenal adalah : Sunan Abu Daud karya Sulaiman Bin Asy’ast As-Sijistani (W 275 H), Sunan An-nasa’i karya Abdurrahman
Ahmad Bin Syu’aib An-nasa’I (W 303 H), Sunan Ibnu Majah karya Muhammad Bin Yazid bin Majah Al-Qazwiniy (W 275 H), dan yang lainnya.

Salah satu kitab yang disusun secara sunan adalah kitab Sunan Abu Dawud.
Kitab tersebut disusun berdasarkan fiqhi dan hanya memuat hadis-hadis marfu’ dan tidak memuat hadis-hadis mauquf dan maqtu’, sebab menurutnya
keduanya tidak disebut sunnah. Dalam Sunan Abu Dawud terdapat beberapa kitab dan setiap kitab terbagi dalam beberapa bab. Adapun perinciannya
adalah : 35 Kitab, 1871 Bab, dan 4800 hadis. Ada juga yang mengatakan bahwa hadis dalam Sunan Abu Dawud berjumah 5274 hadis.

3. Kitab Al-Mushannaf
Menurut istilah ahli hadis mushannaf adalah sebuah kitab hadis yang disusun berdasarkan bab-bab fiqhi, yang didalamnya terdapat hadis marfu’, mauquf, dan maqtu’. Karena mushannaf adalah kitab hadis yang
disusun berdasarkan kitab fiqih, maka Muwatta’ termasuk didalamnya.

Salah satu contoh hadis yang menggunakan metode ini adalah kitab al muwatta’ karya Imam Malik. Secara eksplisit tidak ada pernyataan yang tegas tentang metode yang dipakai oleh Imam Malik dalam menghimpun kitabnya al muwatta’, namun secara implicit dengan melihat paparan Imam Malik dalam kitabnya dapat diketahui bahwa metode yang ia gunakan adalah metode mushannaf atau muwatta’.

Disamping itu Imam Malik juga menggunakan tahapan-tahapan penyeleksian terhadap hadis-hadis yang disandarkan kepada nabi, kepada sahabat atau
fatwa sahabat, fatwa tabi’in, ijma’ ahli Madinah, dan pendapat Imam Malik sendiri. Dalam hal ini ada empat kriteria yang diutarakan oleh Imam Malik dalam mengkritisi para periwayat hadis yaitu:

Periwayat hadis bukan orang yang berprilaku jelek
Bukan ahlul bid’ah.
Bikan orang suka berdusta.
Bukan orang yang tau ilmu tapi enggang mengamalkannya.

Meskipun Imam Malik telah berusaha seselektif mungkin dalam memfilter hadis-hadis yang ia terima untuk dihimpun, tetap saja ulama hadis berbeda pendapat dalam memberikan penilaian terhadap kualitas hadis-hadisnya. Misalnya Sufyan bin Uyainah dan al Suyuti mengatakan seluruh hadis yang diriwayatkan oleh imam Malik adalah sahih karena diriwayatkan dari orang-orang yang dapat dipercaya.

Abu Bakar Al Abhari berpendapat tidak semua hadis dalam kitab al muwatta’ sahih, ada yang mursal, mauquf, dan maqtu’. Ibnu Hazm berpendapat bahwa dalam kitab All Muwatta’ terdapat 300 hadis mursal dan 70 hadis dhaif. Sedangkan Ibnu Hajar berpendapat bahwa didalamnya terdapat hadis mursal bahkan hadis mungqati’.

Berdasarkan kitab yang telah ditahqiq oleh M. Fuad abdul Baqi’, kitab al muwatta’ Malik terdiri dari 2 juz, 61 bab, dan 1824 hadis. Berbeda dengan pendapat M. Syuhudi Ismail yang mengatakan bahwa kitab almuwatta’ terdiri dari 1804 hadis.

Mengenal Kitab Al-Mustadrak, Al-Mustakhraj, Al-Musnad, dan Al-Mu’jam

1. Kitab Al-Mustadrak
Penyusun kitab al mustadrak adalah kitab yang disusun untuk memuat hadis-hadis yang tidak dimuat didalam kitab-kitab hadis sebelumnya, padahal hadis itu shahih menurut syarat yang dipergunakan oleh ulama tersebut. Salah satu kitab Mustadrak yang terkenal adalah al Mustadrak ala Shahihaini karya al Hakim al Naisabury (321-405 H).

2. Kitab Al-Mustakhraj
Mustakhraj adalah kitab hadis yang memuat matan-matan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhary atau Muslim atau kedua-duanya atau lainnya, kemudian sipenyusun meriwayatkan matan-matan hadis tersebut dengan sanad sendiri yang berbeda. Misalnya: mustakhraj shahih bukhary susunan Al
Jurjaniy.

3. Kitab Al-Musnad
Sebuah kitab hadis dinamakan musnad apabila ia memasukkan semua hadis yang pernah ia terima dengan tanpa menerangkan derajat ataupun nyaring
hadis-hadis tersebut. Kitab musnad berisi tentang hadis-hadis kumpulan hadis, baik itu hadis shahih, hasan dhaif. Atau kitab hadis yang disusun menurut nama rawi pertama yang menerima dari Rasul selanjutnya sampai pada perawi terakhir. Mencari suatu hadis dalam kitab ini sangatlah rumit, tapi dengan terbitnya Tiftah Kunusi, al-Mu’jam al-Mufahrasy dan Taysirul Manfaah, maka kesukaran itu pun hilang.

Al-masanid yang dibuat oleh para ulama hadis sangatlah banyak. Menurut al-Kattani jumlahnya sebanyak 82 musnad dan menurutnya lebih banyak dari itu. Adapun Musnad yang terkenal adalah : Musnad Imam Ahmad Bin Hambal (W 241 H), Musnad Abu Dawud Sulaiman Bin Dawud Ar-rashili (W 204 H), Musnad Abu Bakar Abdullah Bin Azzubair Al-humaidy (W 219 H), dan lain-lain.

Musnad-mussnad ini sebagaimana disebutkan sebelumnya tidak hanya berisi kumpulan-kumpulan hadis shahih saja, tetapi mencakup semua kualitas
hadis dan berurutan sesuai bab fiqhi saja tetapi juga berdasarkan urutan nama sahabat.

Karena kitab Musnad jumlahnya cukup banyak maka dalam menentukan title sahabat ada yang berdasarkan alphabet atau abjad berdasarkan sahabat
yang pertama tama masuk Islam, ada yang berdasarkan Al-asyaratul Mubassyirina Fil Jannah atau sepuluh sahabat yang dijamin masuk syurga
dan lain-lain.

Salah satu kitab musnad yang dijadikan kitab Al-ushuliy (sumber) adalah musnad Ahmad Bin Hambal. Musnad Ahmad Bin Hambal termasuk kitab
termasyhur yang disusun pada periode tahun kelima perkembangan hadis (abad ketiga Hijriyah). Kitab ini menghimpun dan melengkapi kitab-kitab hadis yang ada sebelumnya dan merupakan satu kitab yang yang dapat memenuhi kebutuhan kaum muslimin dalam dalam hal agama dan dunia pada masanya. Seperti halnya ulama-ulama abad ketiga semasanya, Imam Ahmad Bin Hambal menyusun kitab haditsnya secara musnad. Hadis-hadis yang terdapat dalam kitab musnadnya tersebut tidak semua diriwayatkan
olehnya, akan tetapi sebagiannya merupakan tambahan dari putranya Abdullah dan juga Abu Bakar Al-qat’i.

Musnad Ahmad Bin Hambal memuat 40.000 hadis dan 10.000 diantaranya dengan berulang serta tambahan dari putranya Abdullah dan Abu Bakar
Al-qat’i kurang lebih 10.000 hadis.

Secara umum terdapat tiga penilaian ulama yang berbeda tentang derajat hadis dalam kitab hadis Musnad Ahmad Bin Hambal antara lain :

Seluruh hadis yang terdapat dalam kitab Musnad Ahmad Bin Hambal dapat dijadikan sebagai Hujjah.
Dalam kitab Musnad Ahmad Bin Hambal terdapat hadis shahih, dhaif, dan bahkan maudhu’.
Dalam kitab Musnad Ahmad Bin Hambal terdapat hadis shahih dan dhaif dan mendekati hasan.

Diantara mereka yang berpendapat demikian adalah Al-Zahadi, Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ibnu Taimiyah dan Assuyuti.

4. Kitab Al-Mu’jam
Mu’jam disusun mengikut tertib huruf ejaan, atau mengikut susunan nama guru-guru mereka. Nama guru-guru mereka juga disusun mengikut ejaan nama
atau laqob mereka.

Mu’jam juga hanya mengumpulkan Hadis-hadis Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tanpa melihat kwalitas Hadis-hadisnya.

Contoh kitab-kitab mu’jam ialah Mu’jam Tabrani, Mu’jam kabir, Mu’jam as-Sayuti, dan Mu’jam as-Saghrir, Mu’jam Abi Bakr, ibn Mubarak, dan
sebagainya.

Kitab rijal yang mengumpulkan orang-orang yang tersebut dalam meriwayatkan Hadis-hadis Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
mengikiut ejaan bersama dengan kuniyyahnya. Ini semua adalah untuk memastikan kesahihan sesebuah Hadis.
 ******************************
MENGENAL KITAB-KITAB HADITS POKOK

BAB I
PENDAHULULAN
Pemeliharaan hadits dari masa ke masa terus dilakukan oleh setiap generasi umat ini. Mulai dari zaman Rasulullah saw. sampai pada masa akhir tabi’ at-tabi’in. Sehingga muncullah berbagai kitab hadits yang banyak kita kenal hari ini, seperti al Muwaththa’, Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Musnal al-Imam Ahmad bin Hanbal, kitab-kitab sunan yang empat, dan yang lainnya. Sebagaimana kitab-kitab tersebut telah masyhur di kalangan umat Islam sebagai kitab rujukan hadits-hadits Rasulullah saw. yang bersifat pokok. Kemudian diteruskan
oleh generasi sesudahnya dengan mensyarah kitab-kitab tersebut, seperti Fath al-Baari, Syarah shahih Muslim, da lain sebagainya.
Tidak terhenti sampai di sana, bahkan sampai hari ini para ulama terus mengkaji dan meneliti hadits-hadits tersebut, sehingga benar-benar terlihat jelas bahwa hadits itu bersumber dari Rasulullah saw.
Perjuangan para ahli ilmu dan ahli hadits di masa lalu, patut kita teladani hari ini. Dengan perjuangan mereka, kita dapat menikmati dengan meudah mempelajari hadits-hadits Rasulullah saw. yang shahih. Berikut di antara gambaran perjuangan mereka sebagaimana yang diungkapkan oleh
al-Imam al-Hakim dalam ma’rifah Ulumil Hadits:
 “Mereka lebih memilih untuk menempuh padang gurun dan tanah kosong daripada bersenang-senang di tempat tinggal dan negeri mereka. Mereka
merasakan kenikmatan dalam kesengsaraan di dalam perjalanan bersama dengan ahli ilmu dan riwayat. Mereka jadikan masjid-masjid sebagai rumah
mereka. Mereka jadikan menulis sebagai makanan kesehariannya.
Mencocokkan tulisan sebagai percakapan di waktu malam. Mengulang pelajaran sebagai istirahat mereka. Tinta sebagai parfum mereka.
Begadang sebagai tidur mereka. Dan kerikil sebagai bantal mereka.”

Maka patutlah kita hari ini sedikit menilik bagaimana perjuangan mereka dan kembali membaca dan mengkaji hasil karya mereka yang besar. Karena
begitu pentingnya kajian ini, maka penulis akan mencoba menggambarkan sekelumit tentang kitab-kitab pokok hadits-hadits Rasulullah saw. Pada makalah ini penulis akan membahas tentang empat kitab saja yaitu:
Muwaththa’ al-Imam Malik bin Anas, Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, dan Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal.

BAB II

MENGENAL KITAB-KITAB HADITS POKOK
A.    AL-MUWAHTHA’
1.      Tokoh
Kitab al-Muwaththa’disusun oleh Imam Malik bin Anas. Dia merupakan seorang imam mazhab dari imam yang empatdan juga seorang ahli hadits.
Nama lengkapnya yaitu Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir al-Ashbahy al-Himyary yang biasa dipanggil Abu Abdullah, gelarnya Imam Dar
al-Hijrah. Dilahirkan di Madinah pada tahun 93 H atau 712 M dan wafat pada tahun 179 H.

Di tengah lingkungan yang sarat iman dan ilmu yang murni Imam Malik dilahirkan. Ia tumbuh dan berkembang di sana. Di antara pepohonan Madinah, Imam Malik meretas jalan untuk menghadiri berbagai halaqah (pengajian) keilmuan dan hadis. Ia duduk menghadiri majelis keilmuan para pakar ilmu pada masanya. Imam Malik ketika itu adalah anak muda yang pandai, luar biasa banyak hafalannya, teguh, disiplin, tekun, berbakti, dan bertaqwa.

Kakek dan ayahnya termasuk ulama hadis terpandang di Madinah. Oleh sebab itu, sejak kecil Imam Malik tidak berniat meninggalkan Madinah untuk mencari ilmu, karena beliau merasa Madinah adalah kota sumber ilmu yang berlimpah dengan ulama-ulama besar.Imam Malik selalu menghadiri majelis keilmuan salah seorang ulama Madinah, Abdurrahman bin Hurmuz selama tujuh tahun penuh. Selama rentang waktu tersebut, ia benar-benar
mendapat pengaruh dari sang guru, Ibnu Hurmuz. Selain itu, Imam Malik juga ikut menghadiri majelis keilmuan Rabi’ah bin Abdurrahman, dan Nafi’
maula (mantan budak) Ibnu Umar.

2.      Gambaran Umum Isi Kitab
Al-Muwaththa’ berasal dari kata wathi’a – yatha’u–wath’an yang berarti “berjalan di atas” atau “melalui”. Sedangkan kata al-Muwaththa’ itu sendiri merupakan ism maf’ul dari fi’il tsulatsi mazid bi harf
fi ‘ain fi’il, yang berarti “Dimasuki”.

Artinya mudah dimasuki atau dipahami. Sebab dinamakan kitab ini dengan al-Muwaththa’ adalah karena dua sebab:
a.       Karena kitab ini menjadi pembicaraan manusia, maksudnya ia dimudahkan untuk manusia.
b.      Karena para ulama Madinah sepakat dan setuju atasnya.

Imam Malik berkata:

عرضت كتابى هذا على سبعين فقيها من فقهاء المدينة فكلهم و اطأنى عليه
فسميته: الموطأ

“Saya menunjukkan kitabku ini kepada tujuh puluh ahli fikih Madinah.
Semuanya menyepakatiku atasnya, maka saya memberinya nama al-Muwaththa’.”

Kitab ini berisi hadits-hadits Rasulullah saw., atsar-atsar sahabat, dan fatwa-fatwa tabi’in. Dia memilahnya dari seratus ribu hadits yang pernah dia riwayatkan.
Hadits yang terkumpul di dalamnya menurut riwayat Yahya bin Yahya al-Andalusi mencapai 853 hadits.
Abu Bakar al-Abhari mengatakan, “Jumlah hadits Rasulullah saw., atsar sahabat, dan fatwa tabi’in yang ada dalam al-Muwaththa’ adalah 1720 hadits, yang bersanad 600, mursal 222, mauquf 613, dan fatwa tabi’in 285.”

Perbedaan perhitungan jumlah hadits yang terdapat dalam al-Muwaththa’ berdasarkan perbedaan riwayat dari Imam Malik. Imam Malik selalu membersihkan dan memperbaiki isi Muwaththa’nya, dan tetap menulisnya dan memperbaikinya.
Adapun derajat hadits-hadits yang terdapat dalam al-Muwaththa’ sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam asy-Syafi’i: “Kitab paling shahih setelah al-Qur’an adalah Muwaththa’ Imam Malik.” Tidaklah ada pertentangan antara pernyataan ini dengan kesepakatan ulama bahwa kitab paling shahih setelah al-Qur’an adalah Shahih al-Bukhari dan Shahih
Muslim. Hal itu karena beberapa hal:
a.       Pernyataan Imam asy-Syafi’i ini sebelum adanya shahih al-Bukhari dan shahih Muslim. Dia meninggal pada 204 H, sedangkan umur Imam al-Bukhari pada waktu itu belum melewati sepuluh tahun, dan Imam Muslim lahir pada tahun tersebut.
b.      Sebagian besar hadits yang ada pada al-Muwaththa’ terdapat pula pada Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, dan sisanya terdapat pada kitab sunan yang empat.
Sebagianulama dari barat dan timur mengatakan bahwa semua yang ada pada al-Muwaththa’ adalah shahih. Di antara al-Hafizh Ibnu ash-Shalah dan
Ibnu Hajar. Akan tetapi yang rajih menurut pendapat jumhur ulama bahwa derajat al-Muwaththa’ adalah di bawah Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa al-Muwaththa’ adalah kitab yang keenam dari kitab hadits yang enam (al-Kutub al-Sittah), di antara mereka adalah Razin bin Mu’awiyah as-Saraqusthi
(w. 535 H) dan al-Majd bin al-Atsir (w. 606 H).

3.      Penilaian Ulama
Di mata masyarakat dan umat Islam, Imam Malik memiliki kedudukan luar biasa yang menyamai kedudukan para khalifah, gubernur, dan walikota.
Majelis ilmunya diliputi ketenangan, kewibawaan, dan kehormatan. Bahkan para pemimpin sekalipun di kala itu sangat senang mendengarkan pengajian
sang Imam.
Suatu ketika amir al-Mukminin Harun al-Rasyid berkata kepada sang Imam:

يا أبا عبد الله، أريد أن أسمع منك (الموطأ).

“Wahai Abu Abdullah, aku ingin mendengarkan darimu (al-Muwaththa’).”

Lalu Imam Malik menjanjikan esok harinya. Pada hari yang dijanjikan Harun al-Rasyid duduk di rumahnya menunggu Imam Malik, dan begitu juga
sang Imam menunggu sang Amir di rumahnya. Karena sudah lama menunggu, Harun al-Rasyid mengutus seseorang untuk mengundang Imam Malik. Lalu ia berkata kepada Imam Malik:

يا أبا عبد الله، ما زلت أنتظرك منذ اليوم.

“Wahai Abu Abdullah, aku telah menunggumu seharian”

Imam Malik menyatakan:

وأنا أيضا يا أمير المؤمنين لأم أزل أنتظرك منذ اليوم، إن العلم يؤتى ولا
يأتي، وإن ابن عمك صلى الله عليه وسلم هو الذي جاء بالعلم؛ فإن رفعتموه
ارتفع، وإن وضعتموه اتضع

“Aku juga menunggumu seharian wahai Amir al-Mu’minin, sesungguhnya ilmu itu dicari, tidak datang sendiri, dan sesungguhnya anak pamanmu saw.  yang dia datang bersama ilmu, jika engkau meninggikannya, dia akan tinggi, dan jika engkau rendahkan, maka ia menjadi rendah.”
Beberapa pendapat Ulama mengenai Imam Malik dan al-Muwaththa’:
a.       Imam asy-Syafi’i rahimahullah
Dalam memposisikan Imam Malik di kalangan Ulama Imam asy-Syafi’i menyatakan:

إذا ذكر العلماء فمالك النجم، و قال: مالك معلمى و عنه أخذتُ العلم

“Apabila disebutkan Ulama, maka Malik adalah Najm (bintang), dia juga berkata: “Malik adalah guruku, dan darinya aku mengambil ilmu.”

Mengenaial-Muwaththa’, Imam asy-Syafi’i berkata:

ما على طهر الأرض كتاب أصح بعد كتاب الله من كتاب مالك

“Tidak ada kitab yang paling shahih di permukaan bumi ini setelah al-Qur’an daripada kitab (Muwaththa’) Imam  Malik.”

b.      Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Mengomentaripendapat Imam Syafi’i di atas, Ibnu Taimiyah menyatakan:

وهو كما قال الشافعي رضي الله تعالى عنه

“Dan dia (Muwaththa’Imam Malik) sebagaimana yang dinyatakan asy-Syafi’i ra..”

هذه كتب الصحيح التى أجلّ ما فيها كتاب البخارى أول ما يستفتح الباب بحديث
مالك، و إن كان فى الباب شيءٌ من حديث مالك لا يقدّم على حديثه غيره

“Kitab-kitab shahih ini yang di dalamnya terdapat kitab al-Bukhari, awal babnyadibuka dengan hadits Malik, apabila di dalam bab tersebut terdapat sesuatu dari hadits Malik, maka dia tidak mendahulukan
haditsnya selain dari hadits Malik.

c.       Al-Hafizh Ibnu ‘Abdil Bar
Al-Hafizh Ibnu ‘Abdil Bar rahimahullah (w. 463 H) merupakan seorang ulama yang menyarahkan al-Muwaththa’ dalam kitabnya yang berjudul
al-Istidzkar fi Syarh Madzahibi Ulama’ al-Amshar dan at-Tamhid lima fi al-Muwaththa’ min al-Ma’ani wa al-Asanid yang telah dicetak di Maroko sebanyak 24 Jilid. Ibnu ‘Abdil Bar berkata:

من اقتصر على حديث مالك رحمه الله فقد كُفي تعب التفتيش و البحث، ووضع يده
من ذلك على عروة وُثقى لا تنفصم، لأن مالكا قد انتقد و انتقى، و خلص، و لم
يرو إلا عن ثقة حجة

“Siapa yang mencoba untuk meringkas hadits Malik rahimahullah, maka cukuplah keletihan dalam mengkaji dan membahasnya, lalu ia berpegang
dengan tali kokoh niscaya tidak juga akan putus. Karena Malik telah mengkritik, membersihkan, memurnikan, dan dia hanya meriwayatkan dari
hujjah yang tsiqah.”

d.      Syeikh ad-Dahlawy

…تيقنتُ أنه لا يوجد الآن كتاب ما فى الفقه أقوى من موطأ الإمام مالك، لأن
الكتب تتفاضل فى ما بينها، إما من جهة فضل المصنف، أو من جهة التزام الصحة،
أو من جهة شُهرة إحاديثها، أو من جهة القبول لها من عآمة المسلمين، أو من
جهة حسن الترتيب واستيعاب المقاصد المهمة و نحوها، و هذه الأمور كلها
موجودة فى الموطأ على وجه الكمال، بالنسبة إلى جميع الكتب الموجودة على وجه
الارض الآن…

“Saya yakin sekarang tidak ditemukan kitab yang di dalam fiqh yang lebih kuat dari Muwaththa’ Imam Malik. Karena kitab-kitab yang kelebihan terdapat di dalamnya, baik dari segi kelebihan penyusun, dari segi ketegasan keshahihannya, dari segi kemasyhuran hadits-haditsnya, dari segi diterimanya oleh kaum muslimin, dari segi kerapian susunannya,
maupun kepekatan tujuan-tujuan yang sangat urgen, dan lain sebagainya.
Semua itu terdapat dalam al-Muwaththa’ secara sempurna disbanding dengan seluruh kitab yang ada di permukaan bumi ini.”

Demikianlah berbagai pendapat ulama mengenai kitab al-Muwaththa’ yang disusun oleh Imam Malik bin Anas. Dari berbagai pendapat yang telah
dikemukakan oleh ulama di atas sebenarnya tidak bertentangan dengan pendapat jumhur ulama yang mengatakan bahwa kitab yang paling shahih
setelah kitab Allah (al-Qur’an) adalah shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Sebagaimana yang telah penulis jelaskan sebelumnya dengan
beberapa alasan.
Di antara syarah al-Muwaththa’ yang paling penting yaitu:
1)      Al-Istidzkar fi Syarh Madzahibi Ulama’ al-Amshar
2)      At-Tamhid lima fi al-Muwaththa’ min al-Ma’ani wa al-Asanid, keduanya karya Ibnu Abdil Barr, telah dicetak di Maroko sebanyak 24 jilid

B.     AL-SHAHIHAYN (SHAHIH AL BUKHARYDAN SHAHIH MUSLIM)
1.      Shahih al-Bukhary
a.      Tokoh
Namanya adalah Muhammad, kunyahnya Abu Abdullah, laqabnya Imamul Muhadditsin (Imam para ahli hadits) atau Amirul Mukminin fil Hadits
(Amir orang-orang mukmin dalam hadits). Nasabnya yaitu Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah bin Badzidzbih.

Dia dilahirkan pada bulan Syawal 194 H dan wafat pada tahun 256 H.

Dua nama terakhir dari nasab Imam al-Bukhari sebagaimana yang penulis kutip di atas, menerangkan bahwa Imam al-Bukhari bukanlah keturunan orang Arab yang disebut dengan ‘Ajam (‘Ujmah). Menurut para ahli hadits kata Bardizbah itu berarti petani. Ayah Bardizbah adalah Badzidzbih, yang keduanya merupakan orang Persia.

Imam al-Bukhari telah menghafal hadits sebelum genap umurnya sepuluh tahun. Dia belajar lebih dari 1000 syaikh atau guru, menghafal 100.000 hadits shahih dan 200.000 hadits yang tidak shahih.

Imam al-Bukhari meninggalkan sekitar dua puluh karya dalam bidang hadits, ilmu-ilmunya, dan tokoh-tokohnya, serta ilmu-ilmu ke-Islaman lainnya. Yang terpopuler adalah al-Jami’ ash-Shahih, yang lebih
dikenal dengan sebutan shahih al-Bukhari.
b.      Gambaran Umum Isi Kitab
Kitab ini dikenaldi kalangan ulama dengan nama Shahih al-Bukhari. Imam al-Bukhari mengeluarkan hadits yang terdapat dalam shahihnya dari 600
ribu hadits. Umumnya, hadits-hadits yang ini telah dibukukan dalam kitab-kitab musnad dan mushannaf yang lain sebagaimana yang telah dikodifikasi oleh para ulama pada abad ke 2 H. Imam al-Bukhari
mendengarkan dari gurunya berdasarkan musnad dan mushannaf mereka.Oleh karena itu, Imam al-Bukhari mengambil hadits dengan cara as-Sima’. Beliau menyusun kitabnya selama 16 tahun.

Menurut Al-Hafizh Abu al-Fadhl Syihabuddin bin Hajar, semua matan yang muttasil dalam Shahih al-Bukhari tanpa pengulangan berjumlah 2602 hadits. Di antara matan-matan yang mu’allaq lagi marfu’ yang tidak beliau sebutkan dengan sanad bersambung di tempt lain dalam kitab al-Jami’ berjumlah 159 hadits, sehingga semuanya berjumlah 2761 hadits.

c.       Penilaian Ulama
Jumhur ulama mengatakan, kitab al-jami’ al-shahih al-musnad al-mukhtashar min hadits rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan kitab yang paling shahih setelah kitab Allah Azza wa Jalla (al-Qur’an).

Bukanlah sesuatu yang berlebihan jika mereka mengatakan bahwa umat Islam tidak pernah mencurahkan perhatian mereka terhadap sebuah kitab, setelah kitab Allah sebagaimana kadar perhatian mereka terhadap shahih al-Bukhari dari sisi periwayatan dan penyimakannya, penghafalan dan
penulisannya, penjelasan hadits-hadits dan para perawinya, peringkasan dan pemisahan sanad-sanadnya.

1)      Al-Hafizh ibn Hajar al-Asqalany

ذكر الفربرى أنه سمعه منه تسعون ألفا … و من رواية الجامع أيضا: أبو طلحة
منصور بن محمد بن علي بن قريبة البزدوي، و إبراهيم بن معقل النسفى و حماد
بن شاكر الفسوي …. و الرواية التى اتصلت بالسماع فى هذهالأعصار وما قبلها
هي رواية: محمد بن يوسف بن مطر بن صالح بن بشر الفربري…

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Al-Farabri menyatakan bahwa sebanyak sembilan puluh ribu orang telah mendengarkan shahih al-Bukhari dari
beliau.” Al-Hafizh juga mengatakan: “Bahwa di antara perawi kitab al-Jami’ (shahih al-Bukhari) adalah: Abu Thalhah Manshur bin Muhammad
bin Ali bin Qaribah al-Bazdawi, Ibrahim bin Ma’qil an-Nasafi, dan Hammad bin Syakir al-Fasawi. Sedangkan riwayat yang sampai pada masa-masa ini
dan sebelumnya dengan cara pendengaran langsung (as-Sima’) adalah riwayat Muhammad bin Yusuf bin Mathar bin Shalih bin Bisyr al-Farabri.”

2)      Para ulama yang menyusun kitab syarah shahih al-Bukhari Begitu banyaknya penilaian ulama terhadap kitab shahih al-Bukhari, sehingga jumlahnya dalam bentuk mukhaththah (manuskrip) dan yang telah dicetak mencapai tujuh puluh satu kitab sesuai penghitungan Prof. Abdul Ghani bin Abdul Khaliq. Menurut penghitungannya juga, jumlah ta’liq, ringkasan, dan yang serupa dengannya mencapai empat puluh empat kitab antara yang belum dicetak atau sudah.

Di antara kitab-kitab syarah Shahih al-Bukhari yang paling penting yang telah dicetak adalah:
a)      A’lam as-Sunan, karya Imam al-Khaththabi Abu Sulaiman Hamd bin Muhammad al-Busti yang wafat pada 388 H.
b)      Al-Kaukab ad-Darari fi Syarh Shahih al-Bukhari, karya al-Hafizh Syamsuddin Muhammad bin Yusuf yang dikenal dengan nama al-Karmani yang wafat pada 786 H.
c)      Fath al-Baari, karya al-Hafizh Ibnu Hajar yang wafat pada 852 H. Ia termasuk syarah Shahih al-Bukhari terpenting dan terbaik.
d)     Umdah al-Qari, karya al-Hafizh Badruddin Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad al-Hanafi yang terkenal dengan nama al-‘Aini, yang wafat pada
855 H.
e)      Irsyad as-Sari, karya Syihabuddin Ahmad bin Muhammad yang dikenal dengan nama al-Qasthalani, yang wafat pada 923 H.
f)       Faidh al-Bari, karya syaikh Muhammad Anwar al-Kasymiri al-Hanafi, yang wafat pada 1352 H.
g)      Lami’ ad-Darari, karya al-Hajj Rasyid Ahmad al-Kankuhi dan kitab-kitab syarah yang lain.
Penilaian ulama terhadap para perawinya telah dimulai lebih awal. Yaitu ketika al-Hafizh Abu Ahmad Abdullah bin Adi (W. 365 H) menulis sebuah
kitab yang diberi nama Man Rawa ‘anhu al-Bukhari, kemudian penulisan karya ilmiah tentang hal itu muncul secara berurutan. Di antara kitab-kitab tersebut adalah:
a)      Al-Hidayah wa al-Irsyad, yang ditulis oleh Abu Nashr Ahmad bin Muhammad al-Kalabadzi (W. 398 H)
b)      At-Ta’dil wa at-Tarjih Liman Akhraja lahu al-Bukhari fi ash-Shahih, karya Abu al-Walid Sulaiman bin Khalaf al-Baji
c)      Al-Jami’u Baina Rijal ash-Shahihain, karya Abu al-Fadhl Muhammad bin Thahir al-Maqdisi (W. 507 H).

2.      Shahih Muslim
a.      Tokoh
Shahih Muslim di susun oleh al-Imam al-Kabiral-Hafizh Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Wardi bin Kausadz al-Qusyairi
an-Naisaburi.
Dia dilahirkan di Naisabur pada 204 H dan wafat pada 261 H.

Beliau lebih dikenal dengan al-Imam Muslim.
Al-Imam Muslim adalah seorang ahli hadits dari Khurasan, yang berjalan ke berbagai negeri untuk belajara hadits dan ilmu. Selama pengembaran
itu beliau banyak menyusun mushannaf. Beliau memiliki banyak guru, di antaranya di Khurasan yaitu Yahya bin Yahya at-Tamimi, Ishaq bin
Rahuwiyah dan lainnya. Di Ray yaitu Muhammad bin Mihran al-Jammal, Abu Ghassan Muhamman bin Amr Zunaija, dan lainnya. Di Irak yaitu Ahmad bin
Hanbal, Abdullah bin Maslamah al-Qa’nabi, dan lainnya. Di Hijaz yaitu Sa’id bin Manshur, Abu Muash’ab az-Zuhri, dan lainnya. Di Mesir yaitu
Amr bin Sawwad, Harmalah bin Yahya, dan lainnya.

Sedangkan yang meriwayatkan darinya (muridnya) banyak sekali, antara lain Imam Tirmidziy, Ibnu Khuzaimah, Yahya ibn Sa’id, dan Abdurrahman
ibn Abi Hatim. Imam Muslim berhasil mencapai puncak keilmuan. Beberapa imam lebih mendahulukan beliau daripada guru-guru lain masa itu dalam rangka mengetahui hadits. Imam-imam masa itu juga sangat memuji beliau, demikian pula mayoritas ahli ilmu sesudah beliau.

b.      Gambaran Umum Isi Kitab
Imam Muslim menyusun kitabnya itu dari 300.000 hadits yang didengarnya langsung. Untuk menyeleksinya, beliau menghabiskan waktu sekitar 15 tahun.
Kitab itu dikenal di kalangan para ulama dengan nama Shahih Muslim. Ibnu ash-Shalah berkata:

روينا عن مسلم رحمه الله قال: صنفت هذا “المسند الصحيح” من ثلاثمائة ألف
حديث مسموعة. و قال ابن الصلاح أيضا: “بلغنا عن مكى بن عبدان قال: سمعت
مسلم بن الحجاج يقول: لو أن أهل الحديث يكتبون مائتي سنة الحديث فمدارهم
على هذا المسند، يعنى مسنده الصحيح

“Diriwayatkan kepada kami dari Muslim rahimahullah dia berkata:‘Saya menyusun kitab ini, al-Musnad ash-Shahih dari 300 ribu hadits yang saya
dengar.’ Ibnu ash-Shalah juga berkata: Telah sampai kepada kami dari Maki bin Abdan, dia berkata, saya mendengar Muslim bin al-Hajjaj berkata: “Seandainya para ahli hadits menulis hadits selama dua ratus tahun, maka poros mereka adalah pada musnad ini yakni musnad ash-Shahih.”

Menurut Ibnu ash-Shalah, dalam shahih Muslim tidak terdapat hadits mu’allaq kecuali sedikit. Menurut Abu Ali al-Ghassani al-Andalusi
menyebutkan bahwa terjadi inqitha’ (terputus) dalam shahih Muslim pada empat belas tempat.

Ibnu ash-Shalah kemudian memperjelas perkataannya, ia menyebutkan tiga tempat yaitu:
1) Dalam kitab tayammum,
2) Kitab buyu’ (jual beli),
dan
3) Bab hudud (hukuman yang telah ditentukan kadarnya oleh syari’at). Menurut ar-Rasyid al-Aththar hanyalah tiga belas, salah satunya pengulangan.

Dua hadits yang terakhir (dalam kitab buyu’ dan bab hudud) telah diriwayatkan oleh Muslim sebelum dua jalan periwayatan tersebut dengan sanad muttashil, kemudian dia mengikutkannya dengan dua sanad ini.
Maka berdasarkan ini, dalam hadits muslim tidak terdapat hadits mu’allaq setelah mukadimah yang mana dia tidak memaushulkannya kecuali hadits Abu al-Jahm dalam kitab tayammum. Di dalamnya masih
tersisa empat belas tempat lagi yang beliau riwayatkan dengan sanad muttashil yang kemudian beliau lanjutkan dengan perkataan “Si fulan
meriwayatkannya’.

Al-Hafizh Ibnu Hajar lebih sepakat dengan perkataan ar-Rasyid al-Aththar yang mengatakan terjadi di tiga belas tempat. Dalam mengomentari pendapat al-Hafizh al-Iraqi beliau mengatakan bahwa perkataan Muslim “Si fulan meriwayatkan” tidak terjadi pada semua hadits yang disebutkan, akan tetapi terjadi hanya pada enam hadits di dalam mukadima Shahih
Muslim. Kemudian tujuh hadits yang tersisa, di dalam terdapat satu hadits yang diulang. Maka jumlahnya hanya dua belas saja, enam yang
ta’liq (terputusnya perawi setelah sahabat) dan enam lagi dengan bentuk ittishal (bersambung), tetapi masing-masing tidak disebutkan dengan jelas tentang nama orang yang meriwayatkannya. Maka ungkapan yang benar adalah dengan mengatakan, ‘di dalamnya masih tersisa enam tempat.’
Dalam riwayat lain dikatakan, bahwa hadits-hadits tersebut zahirnya munqathi’ (terputus sanadnya), padahal bukan munqathi’. Sebagaimana pendapat jumhur ulama hadits tentang sanad hadits yang di dalamnya terdapat seorang yang mubham (tidak disebutkan namanya) bahwa ia adalah muttashil yang di dalamnya terdapat seorang yang mubham.

Imam an-Nawawi menyebutkan dalam tambahannya di dalam kitab at-Taqrib, dia berkata: “Jumlah haditsnya sekitar 4000 dengan membuang hadits yang diulang.”

Jumlahnya melebihi jumlah hadits dalam kitab al-Bukhari, karena banyaknya jalur periwayatnya. Abu Fadhl Ahmad bin Salamah meriwayatkan bahwa jumlahnya 12.000 hadits.

c.       Penilaian Ulama
Para ulama tidak memberikan perhatian yang khusus kepada sebuah kitab sesudah kitab Allah sebagaimana perhatian mereka kepada kitab Shahih
al-Bukhari dan Shahih Muslim. Sebagaimana penulis telah membahasnya pada pembahasan sebelumnya tentang Shahih al-Bukhari.
Ulama sangat memperhatikan shahih Muslim dalam sisi periwayatan dan penyimakan, hanya saja pada kurun masa terakhir dikenal masyhur riwayat
Shahih Muslim yang muttashil melalui riwayat Abu Ishaq bin Muhammad bin Sufyan an-Naisaburi, seorang ahli fikih, mujtahid yang zuhud, perawi
Shahih Muslim. Beliau wafat pada 308 H. di antara kitab Syarah Shahih Muslim yang terpenting adalah:
1)      Al-Mufhim fi Syarhi Muslim, karya Abdul Ghafir bin Ismail al-Farisi (W. 529 H)
2)      Al-Mu’lim fi Syarhi Muslim, karya Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Umar al-Maziri al-Maliki (W. 536 H)
3)      Ikmal al-Mu’lim bi Fawa’id Syarhi Shahih Muslim, karya al-Qadhi Abu al-Fadhl ‘Iyadh bin Musa al-Yahshubi (W. 544 H)
4)      Syarh Shahih Muslim, karya Abu Amr bin Utsman bin Ash-Shalah (W. 643 H)
5)      Al-Minhaj fi Syarhi Shahih Muslim bin al-Hajjaj, karya Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi (W. 676 H)
6)      Ikmal al-Ikmal, karya Abu ar-Rauh Isa bin Mas’ud az-Zawawi al-Maliki (W. 744 H)
Dan syarah-syarah yang lainnya yang jumlahnya sebanyak 48 kitab syarah dan mukhtasharnya.

3.      Perbandingan keduanya
Tidak diragukan lagi, bahwa masing-masing memiliki ciri khusus. Imam al-Bukhari menyebut setiap bab dalam kitab, mengulangi beberapa hadits
karena beberapa kaedah dan memotong sebagian hadits dengan menempatkannya di berbagai tempat untuk menjelaskan suatu hukum atau menambah suatu pengertian ataupun mengukuhkan kemuttashilan sanad, dan lain-lain. Sementara Imam Muslim tidak melakukan hal itu, tetapi menghimpun beberapa jalur di tempat yang sama dengan sanad yang beragam dan redaksi yang berbeda juga, sehingga mudah dipelajari.

Syarat al-Bukhari dan Muslim ialah meriwayatkan hadits yang telah disepakati ketsiqahan periwayatannya hingga sampai kepada seorang
sahabat yang masyhur, tanpa ada perselisihan antara para perawi yang tsiqah (terpercaya), dan sanadnya muttashil dan tidak terputus.
Hanya saja Imam Muslim meriwayatkan hadits-hadits dari orang yang haditsnya ditinggalkan oleh Imam al-Bukhari karena syubhat (aib) yang terdapat pada dirinya. Muslim meriwayatkan hadits-haditsnya dengan menghilangkan syubhat tersebut, seperti Hammad bin Salamah, Suhail bi Abi Shalih, Dawud bin Abi Hind, Abu az-Zubair al-Makki, al-Ala’ bin
Abdurrahman dan lainnya.

C.    MUSNAD IMAM AHMAD BIN HANBAL
1.      Tokoh
Pengarang kitab Musnad Imam Ahmad bin Hanbal yaitu Syaikhul Islam, pemimpin umat Islam pada masanya, seorang hafizh, hujjah, imam, dan
menjadi panutan umat. Kemuliaan dan martabatnya diakui oleh semua orang, baik yang pro ataupun yang kontra dengannya.
Dia adalah Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdullah bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin ‘Auf bin
Qasith bin Mazin bin Syaiban bin Zuhl bin Tsa’labah bin ‘Ukabah bin Sha’ub bin Ali bin Bakar bin Wa’il adz-Dzuhli asy-Syaibani al-Marwazi al-Baghdadi,

Imam Ahmad bin Hanbal lahir pada 164 H dan wafat pada 241 H, salah seorang imam fiqh dan hadits terkemuka.

2.      Sistematika Penyusunan
Imam Ahmad rah, telah menyusunnya berdasarkan sahabat yang lebih awal memeluk Islam dan lebih utama kedudukannya dalam Islam. Dia memulainya
dari sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira dengan surga, kemudian ahli Badar, disusul ahli Bai’at Ridhwan (Hudaibiyah), dan seterusnya.

Jumlah haditsnya mencapai 30.000 hadits lebih yang beliau saring dari 750.000 buah hadits. Beliau mentakhrij hadits-hadits itu dari sekitar 800 orang sahabat.

Abu Musa menyebutkan bahwa jumlah hadits dalam musnad adalah 40.000 kurang 30 atau 40 hadits yang ditakhrij dari 700 orang pria dan 100 lebih perempuan.

3.      Gambaran Umum Isi Kitab
Hadits-hadits dalam musnad itu berkisar antara yang shahih, hasan, dan dha’if. Ada hadits-hadits shahih yang telah ditakhrij oleh para pemilik al-kutub as-sittah. Ada pula yang belum mereka takhrij. Ada
yang hasan dan ada pula yang dha’if yang bisa dijadikan hujjah, sampai-sampai Imam as-Suyuti mengatakan: “Semua yang ada di dalam musnad
Ahmad adalah maqbul. Karena hadits dha’if yang ada di dalamnya mendekati kualitas hasan.”
Sebagian ulama berbeda pendapat mengenai ada tidaknya hadits maudhu’ di dalam musnad, meski hanya sedikit. Kesimpulannya adalah bahwa yang
diperselisihkan itu tidak lebih dari hitungan jari tangan. Ibnu Hajar di dalam kitabnya “Ta’jil al-Manfa’ah bi Rijal al-Arba’” (Yakni al-Muwaththa’, musnad Abu Hanifah, musnad asy-Syafi’i, dan musnad Ahmad) mengatakan: dalam al-Musnad tidak ada hadits yang tidak memiliki asal kecuali tiga atau empat hadits. Beliau beralasan bahwa
hadits-hadits itu sebenarnya telah diperintahkan oleh Imam Ahmad untuk dihapus, tetapi yang diperintah lupa menghapusnya. Namun demikian, sebagian hafizh berusaha menafikan adanya hadits maudhu’ di
dalamnya.

Namun menurut Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi mengatakan موضوعفيه(di dalamnya terdapat hadits maudhu’)
4.      Penilaian Ulama
Al-Hafizh Abu Musa al-Maidani berkata:

لم يُخرج أحمد في مسنده إلا عمن ثبت عنده صدقُه و ديانته دون من طُعن في أمانته

“Imam Ahmad tidak meriwayatkan hadits dalam kitabnya melainkan dari orang yang menurutnya jujur dan hanif agamanya, bukan orang yang tidak
amanah.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

شرط المسند أقوى من شرط أبى داود فى سننه و قد روى أبو داود فى سننه عن
رجال أعرض عنهم أحمد فى المسند و لهذا كان الإمام أحمد لا يروى في المسند
عمن يعرف أنه يكذب مثل محمد بن سعيد المصلوب و نحوه، ولكن قد يروى عمن يضعف
لسوء حفظه، فإنه يكتب حديثه ليعتضد به و يعتبر به

“Syarat al-Musnad lebih kuat daripada syarat Abu Dawud dalam sunannya. Abu Dawud meriwayatkan hadits dari para perawi yang ditolak haditsnya oleh Imam Ahmad dalam musnadnya. Oleh karena itu, Imam Ahmad tidak pernah meriwayatkan hadits dalam musnadnya dari orang yang dikenal sebagai pendusta, seperti: Muhammad bin Sa’id al-Mashlub dan semisalnya. Tetapi terkadang ia meriwayatkan hadits dari orang yang lemah karena kualitas hafalannya jelek. Dia menulis haditsnya untuk
menguatkan atau menjadikannya sebagai pedoman.”

Bentuk-bentuk perhatian ulama terhadap musnad:
1.      Al-Hafizh Abu Bakar Muhammad bin Abdullah bin al-Muhib as-Shamit menyusunnya menurut urutan huruf mu’jam (hija’yah) nama sahabat dan orang-orang yang meriwayatkan hadits dari mereka, sebagaimana susunan kitab-kitab al-Athraf.
2.      Al-Hafizh Abu al-Fida’ Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir rahimahullah mengambil kitab musnad dengan susunan Ibnu al-Muhib ash-Shamit dan menggabungkannya dengan al-kutub as-sittah, musnad al-Bazzar, musnad Abu Ya’la al-Mushili dan Mu’jam al-Thabrani al-Kabir. Kemudian beliau menyusun semuanya sebagaimana penyusunan Ibnu
al-Muhib terhadap al-musnad dan memberinya nama Jami’ al-Masanid wa as-Sunan.
3.      Al-Hafizh Ibnu Hajar juga menyusunnya menurut al-Athraf hadits dalam kitabnya yang diberi nama Athraf al-Musnid al-Mu’tala bi Athrafi
al-Musnad al-Hanbali. Kemudian beliau menggabungkannya dengan sepuluh kitab hadits lain dalam kitabnya Ithaf as-Saadah al-Maharah al-Khiyarah bi Athraf al-Kutub al-Asyrah.
4.      Al-Hafizh Syamsuddin al-Husaini membuat tarjamah (biografi) para perawinya dalam kitabnya al-Ikmal biman fi Musnad Ahmad min ar-Rijal minman Laisa fi Tahzib al-Kamal li al-Mizzi. Kemudian beliau meletakkan biografi tersebut dalam kitabnya at-Tazkirah bi Rijal al-Asyrah, yaitu al-Kutub as-Sittah, Muwaththa’ Malik, Musnad Ahmad, Musnad asy-Syafi’i, dan Musnad Abu Hanifah. Dan telah diringkas oleh al-Hafizh dalam kitab Ta’jil al-Manfa’ah hanya pada perawi kitab yang empat.
5.      Syaikh Ahmad bin Abdurrahman as-Sa’ati menyusun kitab musnad menurut urutan bab-bab untuk memudahkan para penuntut ilmu dalam
menggunakannya. Beliau memberinya nama dengan al-Fath ar-Rabbani bi Tartib Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal asy-Syaibani, kemudian beliau
kembali mensyarahkannya dan mentakhrij hadits-haditsnya dalam kitab yang berjudul “Bulugh al-Amani min Asrar Al-Fath ar-Rabbani. Keduanya
telah dicetak.
6.      Musnad ini juga mendapat perhatian dari Syaikh Ahmad bin Muhammad Syakir rahimahullah, beliau mensyarahkan hadits-haditsnya yang gharib dan member hukum shahih atau dha’if berdasarkan
kemampuan ijtihadnya.
7.      Perhatian ulama terhadap musnad ini dari sisi kedudukan, urgensi, dan penjelasan derajat hadits-haditsnya, antara lain:
a.       Khasha’is al-Musnad, karya Abu Musa al-Madini
b.      Al-Mish’ad al-Ahmad dan al-Musnad al-Ahmad, karya Syamsuddin al-Jazari
c.       Al-Qaul al-Musadadad fi adz-Dzabb’an Musnad Ahmad, karya al-Hafizh Ibnu Hajar

BAB III

PENUTUP
 Demikianlah sekelumit tentang kitab-kitab hadits yang pokok, yang merupakan rujukan bagi setiap muslim untuk mengambil syari’at Allah setelah al-Qur’an al-Karim. Imam Malik merupakan ahli hadits sekaligus Imam mazhab fikih di antara imam yang empat yang terkenal hingga hari ini. Imam al-Bukhari merupakanAmirul mukminin fi al-hadits yaitu Amir orang-orang beriman dalam hadits. Imam Muslim dikenal dengan Imam besar para Hafizh. Sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal merupakan Syaikhul Islam yang dalam ilmunya.
Sepanjang penjabaran makalah ini, penulis menyadari akan kekurangan dan kelemahan. Baik dari aspek kurang padatnya pembahasan dan juga dari aspek kebahasaan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritikan dan masukan dari pembaca yang dapat mendukung untuk menutup kekurangan makalah ini.
Penulis juga menyarankan kepada pembaca dan peserta diskusi untuk kembali membaca dan mengkaji kitab-kitab ulama yang berkaitan dengan
pembahasan dalam makalah ini, seperti at-taarikh al-baghdadi, at-taarikh al-‘iraqi, Hadyu as-Sari, dan kitab-kitab lainnya.
Akhirnya penulis hanya bisa berdoa dan berharap kepada sang Pemberi Hidayah yakni Allah Azza wa Jalla, semoga makalah ini bermanfaat, terutama bagi penulis sendiri, dan juga untuk pembaca sekalian.

********************************
Mengenal Kitab-Kitab Rujukan Ilmu Hadist

Segala puji bagi Allah, tuhan sekalian alam, selawat dan salam ke atas junjungan besar Nabi Muhammad SAW, para ahli keluarganya dan sahabatnya serta mereka yang menurutinya dengan kebenaran.

Penulisan ini ditulis khasus untuk para pencinta ilmu hadith serta para pelajar ilmu Islam di tingkat permulaan dan pertengahan. Penulisan ini hanya menumpukan aspek sumber rujukan (kitab utama) dalam pengajian ilmu hadith dan tidak akan mengulas bab-bab hadith yang lain. Penulisan ini
akan menjelaskan topik-topik berikut.

1. Kitab-kitab utama dalam ilmu hadith.
2. Kitab-kitab utama dalam bidang ‘ulum hadith, maudu’at dll.
3. Kitab-kitab utama dalam ilmu rijal hadith.

Bagaimanapaun, penulisan ini tidak akan melengkapi keseluruhan kitab utama, bahkan ia cuma sebagai panduan kepada beberapa kitab yang muktamad dalam bidang hadith dan ilmu-ilmunya.

KITAB-KITAB UTAMA DALAM ILMU HADITH

1. Shohih al-Bukhari

·Ditulis oleh Imam al-Hafiz Muhammad Bin Ismail al-Bukhari, lahir pada 13 Syawal tahun 194 H, wafat pd 256 H.

·Tergerak hati untuk mengumpulkan hadith2 shohih apabila mendengar kalam salah seorang gurunya iaitu Imam Ishak Rahawaih berkata “ Sekiranya kamu mengumpulkan sebuah kitab yang ringkas
bagi hadith2 shohih dari Nabi SAW”

·Kitab beliau menduduki tangga teratas selepas al-Quran. Menurut Ibn Hajar al-asqolani dalam muqaddimah Fath al-BariShohih Bukhari mempunyai 7398 hadith dengan perulangan. Tanpa perulangan sebanyak 2602 hadith.

·Lebih utama daripada shohih Muslim karena :

a) Imam Bukhari mensyaratkan setiap perawi yang mengambil dari perawi lain mesti berada dalam satu zaman dan mesti berjumpa sekurang-kurangnya sekali. Manakala Imam Muslim hanya mensyaratkan berada di satu zaman, tanpa syarat berjumpa.

 b) Imam Bukhari lebih merupakan seorang yang faqih berbanding Imam Muslim.

c) Imam Bukhari tidak mengambil hadith dari Imam Muslim, manakala Muslim mengambil dari Bukhari.

d) Bukhari mengkaji perihal perawi.

e) Paraperawi yang dikritik dalam sanad hadtih dalam shohih Bukhari hanya lebih kurang 80 orang sahaja. Manakala Muslim lebih kurang 160 orang. Dalam keadaan Bukhari mengambil Hadith dari guru2nya yang amat dikenalinya, kebanyakan guru2 nya telah dikritik sebagai dhoif, tetapi beilau lebih kenal akan guru2nya daripada para pengkritik.

 f) Kurangnya pengkritik ke atas Bukhari dari sudut
‘syaz’ dan ‘illah’ berbanding Muslim. Bukhari sebanyak 78, manakala Muslim sebanyak 130.

 ·Kitab syarah dan ringkasan Shohih Bukhari terlampau banyak, hinggakan kitab syarahnya sahaja mencecah 82 buah ( Sila lihat Kasyf az-Zunun) ·Syarah Bukhari yang paling popular adalah :

a) I’lam as-Sunan, Imam al-Khattabi ( 386 H)

b) At-Tanqih, Imam Badr al-Deen al-Zarkasyi (794 H)

 c) Fath al-Bari, Al-Hafiz Ibn Hajar al-asqolani (852 H)

d) Umdah al-Qari, Badr ad-din al-‘aini (855H)

e) At-Tawsyikh, Al-Hafiz Jalaluddin As-Suyuti (911H)

f) Irsyad al-Sari, Ahmad Bin Muhd al-Qastalani (923 H)

·Kitab khusus yang meneliti perawi2 di dalam shohih Bukhari :

a)Asma’ Rijal Shohih al-Bukhari, Ahmad Bin Muhd
Al-Kalabazi (398 H)

2. Shohih Muslim

·Ditulis oleh Imam al-Hafiz Muslim Bin Hajjaj al-Qusyairy al-Nisaburilahir 204 H, wafat 261 H. Menduduki tangga kedua selepas Shohih Bukhari atas sebab2 yang dinyatakan di atas.

·Bagaimanapun, Shohih Muslim lebih terkenal dibanding shohih Bukhari dari sudut ilmu penulisan, seperti Muslim tidak banyak perulangan hadith, begitu juga isnad. Ia juga menggabungkan seluruh
hadist berkaitan dalam satu bab, juga meletakkan jalan2 (turuq) yang diredhainya. Begitu juga meletakkan isnad dan lafaz yang berbeda, yang mana itu menjadikan lebih mudah bagi pengkaji dibanding Bukhari.

·Hadist di dalamnya sebanyak 7275 dengan perulangan, sebanyak 4000 tanpa ulang.

·Imam Muslim mempunyai kaedah tersendiri yang hebat dalam menringkaskan sanad menurut keadah matematik.

·Kitab syarahnya mencecah 15 buah. Yang terpopular :

a) Al-Mu’lim bi fawaid Muslim, Imam Muhd Ali Al-Mazari al-Maliki (536 H)

b) Ikmal al-Mu’allim bi fawaid Muslim, Al-Qadhi ‘Iyadh al-Maliki (544 H)

c) Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim, Imam an-Nawawi (676 H)

d) Talkhis Shohih Muslim wa syarhuh, Ahmad Umar al-Qurtubi (656H) – kitab ikhtisor Muslim

e) Mukhtasor al-Hafiz Zaki ad-Din al-Munziri (656H)

·Kitab yang meneliti rijal( perawi) dalam shohih Muslim:

a) Rijal Shohih al-Imam Muslim, Ahmad Ali Manjuyah ( 428 H)

b) Rijal al-Bukhari wa Muslim, Al-Hafiz al-Dar Qutni (385 H)

3. Sunan An-Nasaie

 Ditulis oleh Imam al-Hafiz Ahmad Bin Syuaib al-Khurasani(215 H-303H).

 Ia menduduki tempat ketiga karena merupakan sunan yang tersedikit mengandung hadith Dhoif.( demikian menurut Dr Mustofa as-Siba’ie dalam kitabnya as-Sunnah wa makanatuha fi at-Tasyri’ al-Islami).
Imam Suyuti menyatakan pula sunan ini adalah terbersih sanadnya dari empat sunan selepas shohihain. (lihat Zahr al-Ruba, 13, juga Syurut
al-aimmah al-sittah, Al-Maqdisi, ms 12)

 Beliau menjelaskan perihal rawi dari sudut shohih, dan asoh, dhoif dan ad’af.

 Hadith dalam kitabnya terbagi 3 jenis:

a). Hadith yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim.

b). Hadith shohih di atas syarat Bukhari dan Muslim, tetapi tidak dikeluarkan oleh mereka berdua.

c). Hadith yang terpisah dari illat hadith, difahami oleh ahli ilmu.Aa

·Kitab syarahnya :

a). Zahru al-Ruba ‘ala al-Mujtaba, Imam As-Suyuti (911 H)

b). Ihktisharnya dikarang oleh Imam as-Sandi (1138 H)

4. Sunan Abu Daud

·Ditulis oleh Imam al-Hafiz Sulaiman bin As’ath al-Sijistani(202 H- 275 H)

·Beliau mengeluarkan hadith dari kumpulan 500,000 hadith lalu memilih yang terbaik. Sunannya mencecah 4800 hadith.

·Beliau menghadkan sunannya kepada hadith ahkam, lalu merupakan kitab hadith pertama yang bersifat kumpulan hadith ahkam.

·Jika hadith dlm kitabnya terlampau wahan, beliau akan menjelaskannya, (Ibnu Solah menaqalkan kalam Abu Daud sendiri)

·Kitab beliau istimewa kerana menyebut masalah2 furu’. Cthnya dalam Bab al-Adab yang mempunyai 80 bab. Juga mengandungi perincian terhdp sunnah perbuatan, perkataan, taqrir dan sifat Nabi.

·Syarahnya oleh :

a). Imam Al-Khattabi ( 386 H), Ma’alim as-Sunan

b). Qutb ad-Din as-Syafie (752 H)

c). Al-Syeikh Shihabuddin Ar-Ramli al-Syafie (844 H)

d). Syaraf al-Haq Abadi, ‘Aun al-Ma’bud

·Ikhtisornya oleh :

a).Al-Hafiz al-Munziri ( 656 H)

b).Imam Ibn Qayyim (751 H)- beserta syarah.

5. Sunan at-Tirmidzi  al-Jami’ li Imam at-Tirmidzi

·Imam al-Hafiz Abu Isa Muhd Bin Isa at-Tirmidzi ( 209 H – 270 H)

·Sunannya disusun menurut bab feqh dan lainnya, terkandung hadith Shohih, Hasan dan Dhoif. Beserta penjelasan darjah (kekuatan) hadith.

·Ia merupakan kitab yang khusus dalam menyatakan Hadith2 bertaraf Hasan. Ini kerana beliaulah yang pertama mengkelaskan hadith sbg Hasan lalu menjadikan kitabnya sebagai sumber utama untuk tujuan itu.

·Kitab beliau ini tidak sunyi dari kritikan para ulama’ hadith, serta dianggap beliau ‘mutasahil’ dalam men’shohih’ dan meng’hasan’ serta mengambil hadith dari rijal dhu’afak (perawi dhoif) dan
‘Matruk’. Antara yang mengkritik ini adalah al-Imam al-Hafiz Shamsuddin az-Zahabi ( 748 H). Rujuk Mizan al-I’tidal krgn az-Zahabi.

a) Hadith Hasan menurut Imam At-Tirmidzi adalah b) Perawi dalam Isnadnya tidak dituduh ‘al-kizb’ ( pembohong).
c) Tidak ‘syazd) Diriwayatkan lebih dari satu jalan.
(lihat al-ilal al-Shoghir , Imam at-Timidzi, 5658)

·Syarahnya oleh:

a) Abu Bakar Ibn al-‘arabi (543 H) ‘aridatul ahwazi.

b) Imam As-Suyuti as-Syafie (911 H)

c) Ibn Rejab al-Hanbali (795 H)

d) Abd Rahman al-Mubarakpuri al-Hindi ( 1353 H), Tuhfatul ahwazi.

6. Sunan Ibn Majah

·OlehImam al-Hafiz Yazid Bin Majah( 207 H – 263 H),

·Mengandungi lebih kurang 4000 hadith.

·Ulama’ terdahulu hanya menjadikan usul utama hadith dalam 5 kitab yang disebut di atas, lalu ulama’ terkemudian meletakkan kitabnya di nombor 6 krn banyaknya manfaat dlm bidang feqh. Individu yang
pertama meletakkannya di tangga ke 6 adalah, al-Hafiz Muhd Bin Tohir al-Maqdisi (507 H).

·Bagaimanapun terdpat ikhtilaf dalam meletakkan kitab hadith di tangga ke 6, ada yang memilih Muwatta’ Imam Malik, atau Sunan ad-Darimi. Ini adalah karen Ibn Majah terkenal mengeluarkan hadith dari perawi yang dituduh pembohong dan pencuri hadith.

·Syarahnya oleh:

a) Muhd Musa al-Damiri ( 808 H)

b) Imam as-Suyuti (911 H) , Misbah az-Zujajah ala sunan Ibn Majah.
********************************
Mengenal Kitab-kitab Hadits yang Diakui

    Kitab Shahih, Sunan, dan Musnad

Hadits shahih dan hadits hasan itu banyak terdapat di dalam Kitab Shahih dan di dalam kitab-kitab Sunan yang disusun oleh Imam Hadits yang mu’tamad. Kitab Shahih ialah kitab yang disusun hanya dengan memasukkan hadits-hadits yang shahih. Bab-bab yang ada di dalamnya biasanya disusun menurut permasalahannya sebagaimana penyusunan bab-bab dalam Kitab Fiqh.

Sedang kalau Kitab Sunan juga disusun sebagaimana Kitab Shahih. Hanya memang, di dalamnya memuat hadits-hadits hasan dan juga, terkadang, terdapat hadits dhaif. Berbeda dengan Kitab Musnad. Kitab Musnad disusun tidak didasarkan pada permasalahannya seperti Kitab Fiqh, tetapi
didasarkan pada sahabat (perawi) yang meriwayatkannya. Misalnya hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah disusun di bawah nama atau judul Abu Hurairah. Di dalamnya terdapat hadits-hadits shahih, hasan dan dhaif yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.

    Profil Kitab Shahih dan Sunan

      1. Kitab Shahih Bukhari

Pengarangnya adalah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al Mughirah (lahir di Bukhara th. 194 H dan wafat 254 H di dekat Kota Samarqand).

Jumhur ulama’ telah sepakat bahwa Kitab Shahih Bukhari merupakan kitab yang paling shahih setelah Al-Qur’an, dan merupakan kitab pokok yang
pertama dari kitab hadits. Imam Syafi’i telah berkata: “Tidak ada suatu kitab di muka Bumi ini, setelah kitab Al-Qur’an yang lebih shahih daripada kitab Imam Malik (Al Muwaththa’).”

Ucapan tersebut diucapkan oleh Imam Asy syafi’i ketika Imam Bukhari belum menulis kitab shahihnya. Setelah Imam Bukhari menulis Kitab
Jami’ush Shahihnya, Jumhur Ulama’ berpendapat bahwa Kitab Shahih Bukhari adalah yang paling tinggi nilainya.

Hadits-hadits yang ditulisnya merupakan saringan dari beribu-ribu hadits yang ada padanya. Setiap beliau menulis satu hadits dalam kitabnya, ia
shalat istikharah lebih dahulu. Ia berkata:

“Tidaklah aku menulis satu hadits ke dalam kitab shahih kecuali aku mandi sebelumnya dan aku shalat dua rakaat lebih dahulu.”

Tidak ada satu hadits pun yang tidak dapat dipakai sebagai hujjah, hanya diperselisihkan apakah hadits-hadits yang ada di dalamnya itu memberifaidah qath’i ataukah memberikan faidah dhanny.

Ibnu Shalah menyatakan bahwa jumlah hadits yang ada di dalam Kitab Bukhari sejumlah 7275 hadits, termasuk hadits-hadits yang mukarrar (yang disebut berulang-ulang), hitungan tersebut diikuti oleh Imam
Nawawi. Tetapi menurut Ibnu Hajar Al Asqalany, setelah menghitung dengan teliti, dia menyatakan bahwa jumlah hadits dalam Shahih Bukhari termasuk
yang mukarrar selain hadits mu’allaq dan mutabi’ ada 7377. Kalau hadits yang mukarrar tidak dimasukkan ke dalamnya, ada 2602, yang muallaq ada 1341, dan yang mutabi’ ada 344 hadits, jumlah semuanya ada 9082 hadits, tidak termasuk hadits mauquf dan hadits maqthu’.

Syarah dari kitab Bukhari ada 82 buah, di antaranya:

  * At Tanqieh karangan Badruddin Az Zarkasyi
  * At Tausyieh karangan Jalaluddin As Sayuthy
  * Umdatul qaari karangan Badruddin Al Ainy
  * Fat hul Baari karangan Syihabuddin Al As qalany
  * A’lamus sunan karangan Al Khaththaby
  * Al Kawakibud Daraarie karangan Muhammad binYusuf Al Kirmany dan lain-lainnya

Yang merupakan induk dari syarah Bukhari ialah Fat-hul Baari karangan Syihabuddin Al As qalany. Dan sebaik-baiknya mukhtashar dari Shahih
Bukhari ialah At Tajriedush shahih yang disusun oleh Husain Ibnul Mabarak.

      2. Kitab Shahih Muslim

Penyusunnya adalah Abdul Husain Muslim ibn Al Hajjaj ibn Muslim Al Qusyairi An Naisabury (lahir di Naisabur th. 204 H, wafat th. 261 H).

Kitab Shahih Muslim merupakan kitab kedua setelah Shahih Bukhari. Kitab Shahih Muslim lebih bagus susunannya dibandingkan kitab Shahih Bukhari.
Sehingga mencari hadits-hadits dalam Kitab Shahih Muslim lebih mudah dibandingkan mencari hadits di Kitab Bukhari, karena beliau tidak mentaqthi’ suatu hadits. Misalnya, ia meletakkan hadits-hadits tentang
wudhu, di bagian wudhu. Berbeda dengan Shahih Bukhari, yang susunan tidak teratur.

Imam Muslim menyusun kitabnya ketika guru-gurunya masih hidup. Rijalus hadits yang dipakai oleh Imam Muslim semuanya dapat dipertanggungjawabkan tentang ketsiqahannya. Menurut Muhammad Abu Zahwu dalam kitab Al Haditsu wal Muhadditsun halaman 382 sebagai berikut:

“Imam Muslim – rahimahullah- telah menyebutkan dalam muqaddimah Jami’ush Shahihnya, ia membagi hadits-hadits menjadi tiga bagian:

Pertama, hadits-hadits yang diriwayatkan oleh orang-orang yang hafidh dan kuat sekali hafalannya; Kedua, hadits-hadits yang diriwayatkan oleh
orang-orang yang kurang dikenal keadaannya serta tidak begitu kuat benar hafalannya; Ketiga, hadits-hadits yang diriwayatkan oleh orang-orang yang lemah yang ditinggalkan, kalau sudah habis dari bagiangolongan pertama barulah diikuti bagian kedua, sedang bagian yang ketiga, maka tidak diambil untuk dipegangi.”

Sebagian ulama’ berpendapat bahwa Imam Muslim wafat sebelum menulis hadits yang diambil dari golongan kedua tersebut, dan sebagian ulama’
yang lain mengatakan bahwa Imam Muslim hanya mencukupkan dari golongan pertama dan kedua, dan itu adalah endapat yang belakangan ini dianggap
lebih kuat oleh Imam An Nawawi.

Jumlah hadits-hadits yang terdapat dalam kitab Sahih Muslim sebanyak 7273 termasuk hadits-hadits yang mukarrar (yang berulang-ulang). Kalau hadits-hadits mukarrar tidak dimasukkan, jumlahnya ada 4000 hadits.

Kitab yang memberikan syarah ada 15 buah, antara lain:

  * Al Mu’allim bi Fatwa-idi Muslim, karangan Al Maazary.
  * Al Ikmaal karangan Al Qadli Al ‘Iyad.
  * Minhajul Muhadditsin karangan An Nawawi.
  * Ikmaalul Ikmaal karangan Az Zawawi.
  * Ikamalu Ikmalil Muallim karangan Abu Abdillah Muhammad Al Abiyi Al Maliki.

      3. Kitab Sunan An Nasai

Penyusunnya adalah Ahmad bin Syuaib bin Ali Ibn Sinaaan An Nasai. Ia menyusun Kitab Sunan Kubra yang memuat hadits-hadits shahih dan hadits
ma’lul (yang di dalamnya ada cacat tersembunyi), kemudian beliau menyusun Kitab Sunan Sughra dan menamakannya dengan Kitab Al Mujtaba.
Tentang kedua kitab ini beliau berkata:

“Kitab sunan seluruhnya shahih dan sebagiannya ma’lul dan kami pilih kami namakan: Al Mujtabaa, semua haditsnya shahih.”

Setelah menyusun Kitab Sunan Kubra, Imam an-Nasa-i menunjukkan kepada Amir Ar Ramlah. Amir pun berkata kepadanya, apakah semua haditsnya
shahih? Imam An-Nasai menjawab, tidak. Maka Amir minta agar ia memilih yang shahih saja, kemudian disusunlah kitab Al Mujtabaa.

Kitab Mujtabaa ini adalah kitab yang paling sedikit hadits-hadits dhaifnya demikian pula perawi yang dinilai cacat oleh ulama. Derajatnya lebih tinggi dari Sunan Abu Daud, Sunan At Turmudzi bahkan ada yang mengatakan rijalul hadits yang dipakainya lebih tinggi nilainya daripada yang dipakai oleh Imam Muslim. Abu Ali An Naisaburi mengatakan:

“Syarat Imam An Nasai dalam memakai rijalul hadits adalah lebih berat bila dibanding syarat Muslim.”

Ibnu Hajar Al Asqalany mengatakan:

“Banyak orang yang dipakai sebagai perawi untuk menakhrijkan hadits oleh Imam Abu Daud dan At Turmidzi, tetapi dijauhi (tidak dipakai) oleh
An Nasai untuk menakhrijkan haditsnya, bahwa ia juga menjauhi untuk menakhrijkan hadits dari beberapa rijalul hadits shahihain.”

Tetapi pada umumnya, syarat An Nasai adalah lebih rendah daripada syarat shahihain, karena menurut Abu Abdillah bin Mandah yang beliau dengar
dari Muhammad bin Saad Al Bawardi (Mesir) yang berkata:

“Adalah dari mazhab Abu Abdurrahman An Nasai untuk menakhrijkan dari semua orang yang tidak disepakati untuk ditinggalkannya.”

Di antara yang menulis syarah kitab sunan An Nasai ialah Jalaluddin As Suyuthi dalam Kitab Zahrur Rabbi alal Mujtaba. Demikian juga halnya dengan Abdul Hadi As Sindy. Kitab Sunan An Nasai adalah kitab yang kurang mendapat syarah dibandingkan kitab sunan yang lain. Dan Kitab Al Mujtaba adalah kitab pokok yang ketiga.

      4. Kitab Sunan Abu Daud

Penyusunnya adalah Abu Daud Sulaiman Ibn Asy ats As Sijistani (lahir di Sijistan th. 202 H dan wafat: th. 275 H)

Di dalam muqaddimah dari kitabnya beliau mengatakan:

“Di dalam kitabku ini, hadits-hadits yang di dalamnya terdapat kelemahan yang sangat, aku menjelaskannya, sedang hadits-hadits yang aku
tidak memberikan komentar sesuatu, maka hadits-hadits itu shalihbaik, sebagiannya menguatkan yang lain.”

Demikian pula ia berkata: “Aku telah menulis hadits Rasulullah SAW sebanyak lima ratus ribu hadits dan aku memilih darinya empat ribu delapan ratus hadits, dan aku menyebutkan hadits shahih, dan yang
menyerupai shahih serta yang mendekati shahih.”

Dari kata-kata Abu Daud tersebut, dapat dimengerti bahwa penulisan hadits-hadits dalam kitabnya ialah, kalau hadits yang ditulis itu terdapat kelemahan, ia menjelaskan di mana letak kelemahannya. Jika
hadits tersebut adalah hadits shahih, beliau tidak memberikan komentar sesuatu.

Apakah hadits-hadits yang maksut ‘alaih (yang tidak diberi komentar sesuatu) oleh Imam Daud dapat diamalkan?

Menurut Ibnu Shalah dan Imam nawawi, kita boleh mengamalkan hadits maskut ‘alaih yang ada di dalam Kitab Sunan Abu daud, karena Imam Abu
Daud sendiri mengatakan demikian, ia termasuk orang yang tsiqah dan luas pengetahuannya dalam bidang hadits. Menurut penelitian Ibnu Shalah,
bahwa hadits maskut ‘alaih ternyata hadits shahih dan hadits hasan sehingga dapat dipakai untuk hujjah. Imam An Nawawi memberi catatan,
kalau tampak kelemahan hadits maskut ‘alaih, maka harus ditinggalkan.
Menurut Imam As Suyuti, bahwa yang dimaksud hadits shalih adalah shalih lil ihtibar (baik sebagai pujian) bukan shalih lil ihtijaj (baik untuk berhujjah), sehingga meliputi juga hadits hasan dan dhaif. Imam Al Mundziri setelah mengadakan penelitian mendapatkan beberapa hadits dhaif yang tidak diberi komentar.

Di antara yang memberikan syarah ialah Imam Abu Sulaiman Al Khaththabi dalam Kitab Ma’alimus Sunan dan juga Syihabuddin Ar Ramly. Kitab Sunan
Abu Daud merupakan kitab pokok yang keempat.

      5. Kitab Sunan At Turmudzi

Penyusunnya adalah Abu Isa Muhammad Ibn Isa Ibn Surah As Silmy At Turmudzi. Sebetulnya Imam Turmidzi sendiri menamakan kitabnya dengan
kitab “Jami”. Namun Jumhur Ulama’ menyebutnya dengan Kitab Sunan, karena disusun menurut permasalahannya seperti Kitab Fiqih dan di dalamnya terdapat hadits shahih, hasan dan beberapa hadits dhaif. Imam At Turmudzi mengatakan:

“Aku tidak memasukkan ke dalam kitabku ini, kecuali hadits-hadits yang telah diamalkan oleh sebagian fuqaha’ kecuali hadits (…. kalau peminum
khamar itu minum yang keempat kalinya maka bunuhlah) dan Hadits; (… Nabi SAW telah menjama’ shalat zhuhur dan ashar di Madinah tanpa adanya
khauf ketakutan dan tidak dalam bepergian).”

Jumhul Ulama’ mengakui Sunan At- Turmudzi ini tinggi nilainya dan besar sekali manfaatnya serta isinya hampir tidak ada yang berulang-ulang.
Menurut Ibnu Hazm, orang tidak boleh mengamalkan apa yang telah dinyatakan shahih atau hasan oleh Turmudzi, karena Turmudzi termasuk
orang yang majhul (orang yang tidak dikenal) sedang penilaian orang yang majhul tidak dapat diterima. Dan Imam Turmudzi telah menashih atau
menghasankan hadits yang di dalam sanadnya terdapat orang yang bernama Katsir bin Abdullah seorang yang terkenal sebagai pendusta. Hadits
tersebut berbunyi sebagai berikut:

“Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ali Al Khalal, telah menceritakan kepada kami Abu Amir Al Aqdi, telah menceritakan kepada kami Katsir bin Abdullah bin Amir bin Auf Al muzany dari ayahnya, dari kakeknya sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda: Shuluh (perdamaian) itu boleh d iantara kaum muslimin kecuali satu perdamaian, ialah
mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Dan orang muslimin wajib menepati syarat-syarat yang dibuatnya kecuali satu syarat ialah
mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Hadits ini adalah hadits Hasan Shahih.”

Dalam kitab Nailul Authar Juz V: 286, dalam memberikan syarah hadits tersebut, dicantumkan pernyataan Imam Adz Dzahabi, sebagai berikut:

“Adapun At Turmudzi, ia meriwayatkan dari haditsnya , dan ia menshahihkannya, maka karena itu Ulama’ tidak memegangi terhadap pentashhihannya.”

Tetapi pendapat Jumhur Ulama’, pada prinsipnya hadits-hadits yang dinyatakan shahih atau hasan oleh Imam Turmudzi memang betul shahih atau hasan. Kecuali, kalau memang ada cacat yang dapat melemahkan hadits-hadits itu. Memang Turmudzi telah men-shahih hadits tersebut yang sanadnya terdapat seorang pendusta Katsir bin Abdullah, tetapi hal ini tak dapat dijadikan alasan untuk menolak semua hadits yang diriwayatka oleh Turmudzi. Selain itu, hadits tersebut diriwayatkan juga oleh Imam Abu Daud dengan sanad yang jayyid dan Ibnu Hibbah juga menashih hadits tersebut dengan sanad yang lain, melalui sahabat Abu Hurairah, dan Al
Hakim menashih melalui sahabat Anas dan Aisyah, hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Al Darul Quthni.

Selain itu menurut penilaian Ulama’ jarhu wat Ta’dil, Imam Turmudzi adalah seorang yang mempunyai pengetahuan luas di dalam bidang hadits dan terkenal sebagai orang yang tsiqah.

Di antara yang memberikan syarah terhadap kitab ini ialah Ibnul Araby Al Maliky dalam Kitab Aridhatul Ahwadzy, sedangkan yang memberikan ikhtishar ialah Najamuddin Ibnu Aqiel dalam Kitab Al jami. Sunan At Turmudzi dipandang sebagai pokok yang kelima.

      6. Kitab Sunan Ibnu Majah

Penyusunnya adalah Abu Abdillah Muhammad Ibn Yazied Ibn Majah Al Qazwieny. Kitab ini nilainya lebih rendah dibandingkan dengan kitab sunan-sunan yang tersebut di atas. Ulama’-ulama’ mutaqaddimin
berkeberatan memasukkan Sunan Ibnu Majah dalam lingkungan kutubus sittah dan sebagai gantinya meletakkan Kitab Al Muwaththa’, dan sebagian ahli
hadits lebih senang menempatkan Sunan Ad Darimy sebagai kitab yang keenam dari kutubus sittah, karena sedikit sekali perawi-perawi yang
lemah dan jarang hadits yang mungkar serta hadits-hadits yang syadz.
Menurut Al Hafiz Al Muzzi, hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah sendiri pada umumnya dhaif.

Menurut perhitungan Abul Hasan Al Qaththan, dalam Sunan Ibnu Majah ada 150 bab memuat 4000 hadits. Menurut Adz Dzahabi dari sebanyak itu ada ±
1000 hadits yang dhaif dan ada yang sampai tingkat maudhu’, jumlahnya mencapai 20 (dua puluh) hadits.

Sedang orang yang pertama kali memasukkan Sunan Ibnu Majah dalam lingkungan kutubus sittah ialah Muhammad bin Thahir Al Maqdisi kemudian
disusul oleh Abdul Ghani dan disambut oleh Ulama’ Mutaakhhirin lainnya, dengan alasan dimenangkannya Sunan Ibnu Majah atas Al Muwaththa’ dan Sunan Ad Darimy karena di dalam Sunan Ibnu Majah terdapat banyak zawaid
(tambahan-tambahan atau tafsiran-tafsiran) yang tidak terdapat dalam kutubul-khamsah, walaupun zawaid tersebut ada yang shahih dan ada yang
dhaif.

Imam Ibnu Majah termasuk orang yang luas pengetahuannya dan seorang yang hafidh, tetapi sayangnya beliau memasukkan juga hadits yang dhaif dalam kitabnya yang menyebabkan turunnya derajat Sunan Ibnu Majah. Dalam hal ini Imam Adz Dzahabi berkata:

“Sungguh Ibnu Majah adalah seorang yang hafidh, yang sangat benar dan luas pengetahuannya, hanya saja didalam kitabnya terdapat hadits-hadits
mungkar dan sedikit hadits maudhu’ yang dapat menurunkan derajat sunannya.”

Di antara kitab yang memberikan syarah ialah Kitab Mishbahuz Zujajah ‘ala sunani Ibni Majah.

      7. Kitab Sunan Ad Darimy

Penyusunnya adalah Abu Muhammad Abdullah Ibn Abdir Rahman as Darimy As Samarkandy (lahir th: 181 H dan wafat th: 255 H). Kitab ini lebih banyak
mengandung hadits-hadits shahih, jika dibandingkan dengan Kitab Sunan Ibnu majah. Hanya sedikit hadits yang tidak shahih, karena itu sebagian
ulama’ hadits menjadikan kitab ini sebagai kitab pokok yang keenam menggeser Kitab Sunan Ibnu Majah.
**********************************

Mengenal Kitab Sunan

Kitab Sunan

Apa itu kitab sunan?. Saya pernah dengar cemarah yg menyebut kitab sunan. Trim’s

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Kata ’Sunan’ [arab: السُنَن]  adalah bentuk jamak dari kata sunah [arab: السُنّة], yang secara bahasa berarti jalan dan kebiasaan. Sedangkan secara istilah, sunah menurut mayoritas ulama adalah sinonim dari hadis
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mencakup ucapan, perbuatan, persetujuan, dan sifat-sifat beliau.

Macam-macam Kitab Hadis

Dilihat dari sistematikan penulisan, ada beberapa macam kitab hadis yang ditulis para ulama. Diantaranya,

 1. Kitab al-Jami’ [arab: الجامع], yaitu kitab hadis yang disusun menurut bab tertentu dan memuat berbagai macam, meliputi aqidah, ahkam, adab, tafsir, tarikh, siroh, manaqib (Fadhilah orang soleh),
Raqaiq (hadis yang melembutkan hati), dst. Diantara kitab jami’ yang terkenal adalah Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Jami’ Abdurrazaq, dan yang lainnya. (Ushul at-Takhrij, hlm. 110)
 2. Kitab al-Musnad [arab: المسند], yaitu kitab hadis yang disusun berdasarkan urutan huruf hijaiyah dengan mengacu kepada nama sahabat. Dimulai dari nama sahabat yang diwali huruf [أَ] hingga huruf [يَ]. Misalnya, dimulai dari hadis dari sahabat Abu Bakar. Maka dikumpulkan hadis-hadis dari Abu Bakar tanpa memandang pembahasan dan tema hadis.

Kitab musnad yang terkenal adalah Musnad Imam Ahmad bin Hambal. Kitab ini memuat kurang lebih 40.000 hadis. Jika dibuang pengulangan, sekitar
30.000 hadis. Kemudian kitab musnad lainnya: Musnad at-Thayalisi, musnad al-Humaidi, dst. (Ushul at-Takhrij, hlm. 40)

 3. Kitab sunan, adalah kiab hadis yang disusun berdasarkan bab fikih, mulai masalah thaharah, shalat, zakat, dst. dan hanya berisi hadis marfu’ (sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan hanya ada beberapa atsar sahabat.
 4. Kitab Mushanaf, kitab hadis yang disusun berdasarkan bab fikih, mulai masalah thaharah, shalat, zakat, dst. dan berisi hadis marfu’
(hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), mauquf (keterangan sahabat), dan maqthu’ (keterangan tabi’in). Diantara kitab mushannaf yang terkenal adalah Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, dan Mushannaf
Abdurrazaq. (Ushul at-Takhrij, hlm. 134).

Kitab Sunan

Dari definisi beberapa kitab hadis di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa satu kitab kumpulan hadis tergolong kitab sunan, jika terpenuhi 3 syarat,

 1. Hanya berisi hadis marfu’ (hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), dan sangat sedikit selain sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
 2. Hadis-hadis tersebut terkait bab hukum fikih
 3. Susunannya mengikuti sistematika buku fikih.

(ar-Risalah al-Mustathrafah, hlm. 32)

Mengenal 4 Kitab Sunan

Pertama, Sunan Nasa’i

Imam an-Nasai, nama aslinya Ahmad bin Syuaib an-Nasai. Nasa’ adalah nama kota kelahiran beliau, satu daerah di wilayah Khurasan. Beliau wafat tahun 303 H di Ramlah Palestina di usia 88 tahun.

Imam an-Nasai menulis kitab as-Sunan al-Kubro, mencakup hadis-hadis yang shahih, dan hadis bermasalah. Kemudian beliau ringkas dalam kitab
as-Sunan as-Sughro, yang beliau beri nama ‘al-Mujtaba’ [arab: المجتبى].
Untuk kitab kedua ini, beliau hanya mengumpulkan hadis-hadis yang beliau anggap shahih. Kitab inilah yang kemudian sering dikenal dengan sunan
an-Nasai.

Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan,

و”المجتبى” أقل السنن حديثاً ضعيفاً، ورجلاً مجروحاً ودرجته بعد “الصحيحين”،
فهو – من حيث الرجال – مقدم على “سنن أبي داود والترمذي”؛ لشدة تحري مؤلفه
في الرجال، قال الحافظ ابن حجر رحمه الله: كم من رجل أخرج له أبو داود
والترمذي تجنب النسائي إخراج حديثه، بل تجنب إخراج حديث جماعة في
“الصحيحين”. اهـ.

Kitab al-Mujtaba adalah kitab sunan yang paling sedikit jumlah hadis dhaifnya dan paling sedikit perawi yang majruh (dinilai lemah).
Derajatnya di bawah shahih Bukhari dan Muslim. Sehingga sunan ini, dilihat dari perawi-perawinya, lebih unggul dibandingkan sunan Abu Daud, dan Turmudzi. Karena penulis sangat ketat dalam memilih perawi hadis.
Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,

‘Ada banyak perawi yang dicantumkan dalam kitab Abu Daud dan Turmudzi, namun dihindari oleh an-Nasai dalam menyebutkan hadis. Bahkan beliau
menghindari beberapa perawi yang ada di kitab shahih Bukhari dan Muslim.’ (Mustholah Hadis, hlm. 51).

Kedua, Sunan Abu Daud

Imam Abu Daud, nama lengkapnya Sulaiman bin al-Asy’ats bin Ishaq as-Sijistani. Beliau termasuk muridnya Imam Ahmad bin Hambal. Para ulama
banyak memuji beliau dengan kekuatan hafalan dan pemahamannya yang mendalam. Beliau meninggal di Bashrah pada 275 H, di usia 73 tahun.

Kitab sunan Abu Daud memuat 4800 hadis, yang aslinya adalah pilihan dari 500.000 hadis. Beliau berusaha untuk memilih hadis-hadis yang shahih,
meskipun di sana ada beberapa hadis yang dhaif.

Ibnu Mandah mengatakan,

وكان أبو داود يخرج الإسناد الضعيف إذا لم يجد في الباب غيره؛ لأنه أقوى
عنده من رأي الرجال. اهـ.

Abu Daud mencantumkan hadis yang sanadnya dhaif, jika dalam bab tersebut, beliau tidak menjumpai hadis lain. Karena hadis dhaif lebih
kuat menurut beliau, dari pada pendapat manusia. (Dinukil dari Mustholah Hadis, hlm. 52).

Ketiga, Sunan at-Turmudzi

Imam at-Turmudzi, nama lengkap beliau: Abu Isa, Muhammad bin Isa as-Sulami at-Turmudzi. Lahir di kota Turmudz tahun 209 H. Beliau termasuk murid Imam Bukhari.

Kata Turmudzi [الترمذي] ada dua cara baca, bisa dibaca Tirmidzi, dan bisa dibaca Turmudzi. Beliau wafat tahun 279 H, di usia 70 tahun.

Sunan at-Turmudzi juga disebut oleh sebagian ulama dengan Jami’ at-Turmudzi [arab: جامع الترمذي]. Dikenal dengan kitab Jami’, karena dalam sunan Turmudzi tidak hanya mengupas bab fikih, namun juga bab lainnya, seperti sirah, adab, tafsir, aqidah, fitnah akhir zaman dan yang lainnya. Hanya saja, mengingat di bagian awal beliau susun mengikuti kajian fikih, dna itu lebih dominan, banyak ulama lebih mengenalnya sebagai kitab sunan.

Dalam kitab sunannya, Turmudzi mencantumkan hadis shahih, hasan dan dhaif, dengan penjelasan derajat  masing-masing hadis, berikut keterangan sisi dhaifnya.

Beliau juga menjelaskan pendapat para ulama sebagai keterangan tambahan untuk hadis yang beliau bawakan.

Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan,

اعلم أن الترمذي خرج في كتابه الصحيح والحسن والغريب. والغرائب التي خرجها
فيها بعض المنكر، ولا سيما في كتاب الفضائل، ولكنه يبيِّن ذلك غالباً، ولا
أعلم أنه خرج عن متهم بالكذب، متفق على اتهامه بإسناد منفرد، نعم قد يخرج
عن سيئ الحفظ، ومن غلب على حديثه الوهن، ويبيِّن ذلك غالباً، ولا يسكت عنه

Ketahuilah bahwa Turmudzi menyebutkan dalam kitabnya hadis shahih, hasan, dan gharib. Hadis gharib yang beliau sebutkan, sebagiannya ada
yang munkar, terutama untuk bab tentang fadhilah amal. Hanya saja, umumnya beliau jelaskan sisi lemahnya. Dan saya tidak menjumpai, beliau
menyebutkan hadis dari perawi yang tertuduh berdusta (muttaham bil kadzib), yang disepakati pelanggarannya, dan dia sendirian. Benar bahwa
beliau terkadang menyebutkan hadis dari perawi yang buruk hafalannya, atau perawi yang umumnya hadisnya lemah. Dan umumnya beliau jelaskan hal
itu, dan tidak didiamkan. (Dinukil dari Mustholah Hadis, Ibnu Utsaimin, hlm. 53).

Keempat, Sunan Ibnu Majah

Ibnu Majah, nama lengkap beliau adalah Abu Abdillah, Muhammad bin Yazid bin Abdillah bin Majah al-Qazwaini. Nama Majah adalah kakek buyut
beliau. Beliau dilahirkan di Qazwain (bagian Iraq) tahun 209 H dan meninggal tahun 273 H, di usia 64 tahun.

Beliau mengumpulkan hadis dalam kitab sunannya mencapai 4341 hadis.

Dalam urutan kitab sunan, sunan Ibnu Majah berada di urutan paling akhir. Dibandingkan yang lain, sunan Ibnu Majah paling banyak memuat hadis dhaif.

قال الذهبي: فيه مناكير وقليل من الموضوعات. اهـ، وقال السيوطي: إنه تفرد
بإخراج الحديث عن رجال متهمين بالكذب، وسرقة الأحاديث، وبعض تلك الأحاديث،
لا تعرف إلا من جهتهم.

Adz-Dzahabi memberikan komentar tentang sunan Ibnu Majah,

“Di sana ada beberapa hadis munkar dan sedikit hadis palsu.”

As-Suyuthi mengatakan,

“Ibnu Majah sendirian meriwayatkan hadis dari perawi yang dituduh berdusta, pencuri hadis, dan sebagian hadisnya, tidak dikenal kecuali dari jalur perawi bermasalah.” (Dinukil dari Mustholah Hadis, Ibnu Utsaimin, hlm. 54).

Catatan:

Enam kitab hadis rujukan pokok (al-Ummahat as-Sitta)

 1. Shahih Bukhari
 2. Shahih Muslim
 3. Sunan Nasai
 4. Sunan Abu Daud
 5. Sunan Turmudzi
 6. Sunan Ibnu Majah / Muwatha’ Imam Malik

Di urutan keenam ulama berbeda pendapat, antara Sunan Ibnu Majah dengan Muwatha’ Imam Malik.

Sebagian ulama yang memposisikan Muwatha’ Imam Malik di urutan keenam itu. Diantaranya adalah Ahmad bin Razin as-Sarqasthi (w. 535 H) dalam kitabnya at-Tajrid fi al-Jam’i baina as-Shihhah, dan Abus Sa’adat Ibnul Atsir (w. 606 H). (Taujih an-Nadzar, Thahir al-Jazairi, hlm. 153)

Demikian,

Allahu a’lam
 *******************************
Mengenal Kitab Al-Muwathta’

AL-MUWATTA’ demikianlah Imam Malik yang bergelar Imam Dar al-Hijrah menamai kitabnya. Diriwayatkan, berdasarkan penuturan Imam Malik
sendiri, bahwa “Suatu ketika aku mendemonstrasikan kitabku di hadapan tujuh puluh para ulama fiqh Madinah dan semuanya menyetujuiku (watha’ani), maka akupun menamainya dengan al-Muwaththa’”.
Riwayat ini memberi penegasan pula akan kualitas dan otoritas kitab ini.
Maka tidak mengherankan kitab ini selalu mendapatkan perhatian di kalangan para pencinta hadits (thalib al-hadits). Bahkan orientalis seperti Ignaz Goldziher tidak ketinggalan mengkaji kitab ini, meskipun dengan motiv yang berbeda.

Tema pokok bahasan dalam Kitab al-Muwaththa’ lebih didominasi oleh persoalan fiqh. Bahasan fiqh dalam kitab ini hampir mencakup tiga perempat dari keseluruhan isi kitab.
Sementara seperempat lainnya digunakan untuk membahasa adab, etika dan sejenisnya.

Barangkali fakta inilah yang membuat para ulama berbeda pendapat, apakah kitab ini lebih tepat dikatakan sebagai kitab hadits ataukah kitab fiqh.

Jumlah dan Macam-macan Riwayat dalam al-Muwatta’

Kitab ini menghimpun hadits-hadits Nabi, pendapat sahabat, qaul tabi’in, ijma’ ahl al-Madinah dan pendapat ijtihad Imam Malik sendiri.

Mengenai jumlah riwayat dalam kitab ini ada perbedaan pendapat dikalangan para ulama. Namun menurut Syeikh Muhammad bin Turki dalam
kitabnya Manahij al-Muhaddisin, al-Muwatta’ mengandung:

[1] hadits musnad sebanyak 500 hadits dengan kualitas shahih,
[2] hadits mursal sebanyak 222 hadits,
[3] hadits munqati’ dengan jumlah yang sangat sedikit,
[4] hadits balagat (hadits yang isnad awalnya dibuang dan didahului dengan kata-kata balagani), jumlahnya sebanyak 61 hadits,
[5] hadits mubham (hadits yang tidak jelasnya siapa naratornta. Imam Malik hanya menyebutnya dengan, misalnya, haddasani siqah” atau haddasani rajulun”.
[6] hadits Mauquf sebanyak 613, dimana sebagiannya berstatus marfu’ bil al-hukm,
[7] Pendapat para Tabi’in, yaitu hadits maqtu’ sekitar 235 hadits, dan
[8] pendapat Imam Malik sendiri.

Otoritas Hadits Mursal dalam Pandangan Imam Malik

Ada perbedaan di kalangan para ulama mengenai otoritas hadits mursal dalam pandangan Imam Malik. Namun berdasarkan pendapat yang paling rajih, beliau mengakui otoritas hadits mursal. Alasannya, karena dalam kitabnya beliau banyak menjadikan hadits mursal sebagai hujjah dalam banyak masalah hukum fiqh. Laporan yang sama juga disampaikan oleh murid-murid beliau. Hanya saja hadits mursal tersebut harus berasal dari perawi yang dapat dipercaya (tsiqah)

Syarat kehujjahan hadits mursal dalam pandangan Imam Malik, kemudian diberikan notasi tambahan oleh Mahmud Shalih Jabir dan Hatim Daud.
Menurut keduanya, hadits mursal dalam Kitab al-Muwattha’ tidak terlepas dari empat kasus berikut ini, yaitu:

Pertama, hadits tersebut dimursalkan oleh imam Malik dan dimasuk dalam redaksi hadits balagahat dan maqthu’. Dalam kasus ini semua hadits tersebut shahih karena beliau dikenal sebagai ulama yang tidak menerima hadits kecuali dari narator yang tsiqah

Kedua, Imam Malik menerima hadits dari tabi’in senior, misalnya Sa’id bin Musayyab, kemudian dimursalkan. Semua bentuk mursal dalam kasus
seperti ini kualitas haditsnnya shahih, karena semua perawi tabi’in senior menerima haditsnya dari para sahabat. Dan tentunya mereka semuanya adalah para narator yang tsiqah

Ketiga, Imam Malik meriwayatkan hadits dari tabi’in yunior tetapi dikenal tsiqah, misalnya Zaid bin Aslam, kemudian dimursalkan. Dalam kasus ini, haditsnya juga dianggap hujjah oleh imam Malik

Keempat, Imam Malik meriwayatkah hadits dari tabi’in yunior kemudian dimursalkan.

Hanya saja tabi’in yunior tersebut menerima hadits dari perawi tsiqah dan tidak tsiqah. Dalam kasus ini, Imam Malik tidak akan berhujjah dengan hadits tersebut sampai terbukti kualitas keshahihannya.

Penulis Pengasuh Pesantren Hidayatullah Berau. Tulisan disarikan dari Manahijul Muhadditsin, Hujjiyah Al-hadits Al-mursal ‘Inda al-imam Malik
bin Anas, dan beberapa sumber lainnya
*********************************
  Mengenal Kitab Rijal al-Hadits

RINGKASAN KITAB RIJAL HADITS

A. Ushul al-Ghabah Fi Ma’rifatil Asma’is Shahabah Kitab ini merupakan karya Izzuddin Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad ibnu al-Atsir al-Jazari
(w. 630 H). Kitab ini sangat baik untuk mengetahui nama-nama sahabat, karena pengarangnya telah mencurahkan segala kemampuannya guna
menghimpun, memperbaiki, dan menyusunnya. Kitab ini juga memuat 7554 biografi sahabat yang disusun berdasarkan urutan huruf hijaiyyah sesuai
dengan huruf pertama dan kedua sampai huruf terakhir nama-nama tersebut, juga berdasarkan nama bapak dan kakek serta kabilahnya. Ungkapan
tersebut, sebagaimana pernyataan pengarangnya dalam mukaddimah kitab ini susunan kitab ini berdasarkan urutan alif, ba, ta, tha, dan berdasarkan
huruf pertama, kedua, ketiga sampai pada huruf terakhir dari nama setiap sahabat. Demikian juga berdasarkan nama bapak, kakek, orang setelahnya,
dan kabilah. Kemudian disebutkan nama-nama sahabat sesuai dengan urutan tersebut, baru kemudian nama shahabat perempuan, dan nama kuniyahnya sekaligus. Pada setiap awal biografi disebutkan huruf, sebagai rumus pengarang terdahulu yang telah menyebutkan nama-nama itu dalam kitabnya.
Rumusan-rumusan itu ada empat, yaitu: a. ( د ) untuk Ibnu Mundah : Abu Abdullah Muhammad bin Yahya (w. 301 H). b. ( ع ) untuk Abu Nu’aim :
Ahmad bin Abdullah al-Asfahani (w. 430 H). c. ( ب ) untuk Ibnu Abdil Bar : Abu Umar Yusuf bin Abdullah al-Qurthubi (w. 463 H). d. ( س ) untuk Abu
Musa : Muhammad bin Amr al-Madani (w. 581 H). Pada akhirnya biografi disebutkan nama-nama pengarang yang telah menyebutkan biografi tersebut,
guna menghindari huruf-huruf itu.

B. Al-Thabaqat al-Kubra.
Kitab ini adalah karya Abu Abdullah Muhammad bin Sa’ad Katib al-Wahidi (w. 230 H). Dalam kitab ini beliau menghimpun biografi para sahabat, tabi’in orang-orang setelah sampai pada masa beliau sendiri, dengan susunan yang baik dan luas. Kitab ini telah dicetak menjadi delapan jilid dengan pembahasan sebagai berikut:
1) Jilid pertama, tentang
perjalanan Nabi Muhammad saw semasa hidupnya. 2) Jilid kedua, tentang peperangan Nabi Muhammad saw sakit yang mendekati wafat, peristiwa
kewafatannya, kemudian orang yang memberi fatwa di Madinah, sahabat yang termasuk penghimpun al-Qur’an baik pada masa Nabi Muhammad saw atau
serelahnya, kemudian sahabat Muhajirin dan Anshar yang memberi fatwa di Madinah setelah Rasulullah wafat.
3) Jilid ketiga, tentang biografi sahabat Muhajirin dan sahabat Anshar yang mengikuti perang Badar.
4) Jilid keempat, tentang biografi sahabat Muhajirin dan sahabat Anshar yang tidak mengikuti perang Badar, namun lebih dahulu masuk Islam, dan
sahabat yang masuk Islam sebelum Fath al-Makkah. 5) Jilid kelima, tentang tabi’in Madinah dan sahabat yang tinggal di Makkah, Thaif, Yaman, Yamamah, dan Bahrain, kemudian tabi’in yang tinggal di kota-kota tersebut dan orang-orang setelahnya.
6) Jilid keenam, tentang sahabat dan tabi’in Kufah serta ahli Fiqh dan ilmu lain setelah tabi’in sampai
pada masa pengarang.
7) Jilid ketujuh, tentang sahabat, tabi’in dan para
pengikutnya pada masa pengarang, yang semuanya bertempat tinggal di berbagai daerah dan kota. Tetapi, kebanyakan menyebutkan bahwa mereka
tinggal di Basrah, Syam, dan Mesir.
8) Jilid kedelapan, tentang sahabat perempuan. Para ulama berpendapat, penilaian jarh dan ta’dil oleh Ibnu Sa’ad (pengarang kitab Thabaqat al-Kubra) dapat diterima. Karena itu, kitab ini merupakan sumber yang dapat dipegang dari beberapa sumber
biografi perawi.

C. Al-Tarikh al-Kabir
Kitab ini adalah karya Imam al-Bukhari (w. 256 H) yang disusun dalam bentuk yang besar, sehingga memuat 12.305 biografi. Sebagaimana dalam
naskah yang telah dicetak dan dipakai nomor urut. Kitab ini disusun berdasarkan urutan huruf mu’jam dengan memperhatikan huruf pertama dari nama perawi dan nama bapaknya. Al-Bukhari memulai pembahasan dengan menyebutkan nama-nama Muhammad, karena mulianya nama Nabi Muhammad saw, seperti halnya beliau mendahulukan nama-nama sahabat dalam setiap nama perawi tanpa memperhatikan nama bapaknya. Kemudian baru menyebutkan seluruh nama perawi dangan memperhatikan urutan nama-nama bapaknya.

D. Al-Jam’u Bayna Rijal al-Shahihayn
 Kitab ini ditulis oleh Abu al-Fadhl, Muhammad ibn Tahrir al-Muqaddasi yang terkenal dengan Ibnu Qirani ( w. 507 H). kitab ini merupakan
himpunan kitab al-Kalabazi dan Ibnu Manjuyah dengan tambahan beberapa hal yang tidak dimuat dalam keduanya, pembuangan sebagian keterangan
yang berlebih-lebih, dan hal-hal yang tidak dibutuhkan. Kitab ini disusun berdasarkan urutan huruf mu’jam dengan cara menghimpun
perawi-perawi kedua kitab Shahih Bukhari dan Muslim serta menjelaskan riwayat perawi dari kedua kitab dan telah dicetak di India oleh Da’irat
al-Ma’arif al-Usmaniyyah secara berturut-turut pada tahun 1323 H. E.
Taqrib al-Tahzib Adalah kitab ringkasan Ibnu Hajar dari kitabnya sendiri, yaitu Tahzib al-Tahzib, yang hanya mencapai seperenam dari besar kitab itu. Sebagaimana disebutkan dalam mukaddimah kitabnya, motivasi penyusunan kitab Taqrib al-Tahzib ini adalah permintaan sebagian teman untuk menyendirikan nama-nama perawi dalam kitabnya
Tahzib al-Tahzib secara khusus. Sistematika pembahasannya adalah:
1. Menyebutkan seluruh biografi dalam kitab Tahzib al-Tahzib tanpa membatasi biografi perawi-perawi kitab hadits enam, sebagaimana dilakukan oleh al-Zahabi dalam al-Kasyif. Biografi ini disusun sesuai
dengan susunan kitab Tahzib.
2. Menggunakan semua tanda dalam kitab
Tahzib al-Tahzib dengan sedikit perubahan. Beliau juga menambahkan tanda tamyiz bagi perawi yang tidak mempunyai riwayat dalam kitab-kitab
bahasan kitab Tahzib al-Tahzib.
3. Dalam kitab Tahzib al-Tahzib ini Ibnu
Hajar menyebutkan derajat perawi yang diringkas menjadi dua belas derajat lengkap dengna istilah jarh dan ta’dil sesuai dengan derajat tersebut. Orang yang menggunakan kitab ini hadus memahami derajat dan
istilah yang ada, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman, sebab terkadang Ibnu Hajar menggunakan istilah tertentu dalam kitab ini.
4. Dalam muqaddimah kirab ini, beliau juga mengelompokkan tabaqat (tingkatan) para perawi menjadi dua belas yang harus diketahui oleh orang yang menggunakan kitab ini guna mengerahui istilah khusu yang dipakai oleh Ibnu Hajar dalam kirab ini. 5. Pada akhir kitab ini, beliau menambahkan
satu pasal tentang perawi perempuan yang masuh samar sesuai dengan urutan muridnya, baik laki-laki maupun perempuan.
********************************
MAKALAH MENGENAL KITAB HADIST DAN BIOGRAFI PENGARANGNYA

BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG

Dalam kehidupan sehari-hari telah kita jumpai bersama banyaknya orang tidak mengetahui tentang kitap-kitap Hadist, dan lebih banyak lagi orang
yang selalu berkata tentang Hadist-hadist Nabi Muhamad namun dia tidak mengetahui dari kitab mana Hadist tersebut diambil dan siapa pengarang
serta bagaimana biografi pengarang Hadist tersebut, Karena banyaknya problema yang terjadi pada kehiduapan kita maka kami telah sepakat mengambil makalah dengan judul Mengnal Kitab-kitab hadist dan Biografi Pengarangnya, dengan harapan agar segala masalah tersebut dapat diminimalisir.

RUMUSAN MASALAH
Bagaimanakah Biografi pengarang Hadist-Hadist yang telah kita jumpai bersama?
Apa saja macam-macama hadist ?
TUJUAN PENULISAN MAKALAH
Adapun tujuan penulisan makalah ini antara lain:
Agar kita dapat mengetahui bagaiman biografi tentang berbagai macam Hadist Agar kita dapat lebih faham dan mengetahui tentang macam-macam Hadist dan apa saja isi dari Hadist-hadist

BAB II
PEMBAHASAN
MENGENAL KITAB-KITAB HADIS DAN BIOGRAFI PENGARANGNYA

KITAB AL MUWATTA’ oleh IMAM MALIK
Biografi Imam Malik
Berikut sekilas biografi tentang Imam Malik  yang memiliki nama lengkap Abu Abdullah Malik ibn Anas ibn Malik ibn Abi Amir ibn Amr ibn al-Haris
ibn Gaiman ibn Husail ibn Amr ibn al-Haris al-Asbahi al-Madani. Imam Malik dilahirkan di kota Madinah, dari sepasang suami istri Anas bin Malik dan Aliyah binti Suraik, bangsa Arab Yaman. Ayah
Imam Malik yinggal di suatu tempat bernama Zulmarwah dan bekerja sebagai pembuat panah.
Tentang tahun kelahiranyya, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para sejarawan. Ada yang menyatakan 90 H, 93 H, 94 H dan ada pula yang
menyatakan 97 H. tetapi mayoritas sejarawan lebih cenderung menyatakan beliau lahir tahun 93 H pada masa Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik ibn
Marwan dan meninggal tahun 179 H.
Imam Malik memiliki budi pekerti yang luhur, sopan, lemah lembut, suka menolong orang yang kesusahan, dan suka berderma kepada kaum miskin.
Beliau juga termasuk orang yang pendiam, tidak suka membual dan berbicara seperlunya, sehingga dihormati oleh banyak orang. Namun dibalik sifat pendiamnya tersebut, beliau juga merupakan sosok yang sangat kuat, dan kokoh dalam pendirian. Bukti terkait sifatnya tersebut adalah Imam Malik pernah dicambuk 70 kali oleh Gubernur Madinah Ja’far
ibn Sulaiman ibn Ali ibn Abdullah ibn Abbas karena menolak mengikuti pandangan Ja’far ibn Sulaiman.
Sebagaiman tahun kelahirannya, ada beberapa versi tentang waktu meninggalnya imam Malik. Ada yang berpendapat tanggal 11, 12, 13, 14 bulan Rajab 179 H dan ada yang berpendapat 12 Rabi’ul Awwal 179 H. Di antara pandangan yang paling banyak diikuti adalah pendapat Qadi Abu Fadl Iyad yang menyatakan bahwa Imam Malik meninggal pada hari Ahad 12 Rabi’ul Awwal 179 H dalam usia 87 tahun, setelah satu bulan menderita sakit.
Kitab Al Muwatta’
Ada beberapa versi yang mengemukakan tentang latar belakang penyusunan al-muwatta’, diantaranya yaitu:
Problem politik dan sosial keagamaan pada masa tradisi Daulah Umayyah-Abasiyyah yang mengancan integritas kaum Mslim.
Adanya permintaan Khalifah Ja’far al-Mansur atas usulan Muhammad ibn al-Muqaffa’ yang sangat prihatin terhadap perbedaan fatwa dan perkembangan yang berkembang saat itu, dan mengusulkan kepada Khalifah untuk menyusun undang-undang yang menjadi penengah dan bisa diterima semua pihak.
Selain usulan dari Khalifah Ja’far al-Mansur, sebenarnya Imam Malik sendiri memiliki keinginan kuat untuk menyusun kitab yang dapat memudahkan umat Islam dalam memahami agama.

Selanjutnya mengenai isi Kitab al-Muwatta’ ini tidak hanya menghimpun hadist Nabi, tetapi juga memasukkan pendapat sahabat, Qaul Tabi’in,
Ijma’ Ahlul Madinah dan pendapat Imam Malik. Para ulama berpendapat tentang jumlah hadis yang terdapat dalam al-Muwatta’, namun pendapat
yang banyak disetujui para ulama yakni pendapat Fuad Abdul Baqi bahwa al-Muwatta’ memuat 1824 hadis dengan kualitas yang beragamm dengan
metode penyusunan hadis berdasar klasifikasi hukum (abwab fiqhiyyah).
Dalam Kitab al-Muwatta’ tidak semua hadisnya sahih, ada yang munqati’, mursal, dan mu’dal. Meskipun demikian, banyak ulama hadis berikutnya
yang mencoba mentakhrij dan me-muttasil-kan hadis-hadis yang munqati’, mursal, dan mu’dal. Dalam pandangan Ibnu Abd al-Barr dari 61 hadis
yang dianggap tidak muttasil semuanya sebenarnya musnad dengan jalur selain Imam Malik.

KITAB MUSNAD oleh AHMAD IBN HANBAL
Biografi Ahmad ibn Hanbal
     Ahmad bin Muhammad ibn Hanbal al-Syaibany dilahirkan di Baghdad tepatnya di Kota MaruMerv, pada bulan Rabi’ul awal tahun 164 H atau Nopember 780 M. nama lengkapnya ialah Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal ibn Hilal ibn Asad ibn Idris abn ‘Abdillah bin Hayyan ibn ‘Bdillah bin
Anas ibn ‘Awf ibn Qasit bin Mazin ibn Syaiban ibn Zual ibn Ismail ibn Ibrahim.
       Ketika Ahmad masih kecil, ayahnya berpulang kepada Allah SWT dengan hanya meninggalkan harta pas-pasan untuk menghidupi keluarganya. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa, jika Ahmad ibn Hanbal ditanya mengenai asal-usul sukunya, dia mengatakan bahwa ia adalah anak dari suku orang-orang miskin. Dia hidup sebagaimana layaknya rakyat jelata, tinggal di tengah-tengah mereka dan merasakan penderitaan, luka san duka cita mereka.
Kondisi yang demikian menjadi salah satu pendorong bagi Ahmad untuk belajar dengan sungguh-sunghuh. Dia ingin seggera bisa mengurangi beban ibunya. Dia juga melihat banyaknya bid’ah yang tersebar di masyarakat.
Hal itu pula lah yang mendorong dia untuk pergi ke berbagai wilayah mencari hadis.
        Ahmad menikah dan memiliki dua orang putra yang terkenal dalam bidang hadis yaitu Salih dan Abdullah. Kedua puteranya banyakmenerima hadis dari sang ayah dan memasukkan sejumlah hadis ke
dalam kitab Musnad ayahnya.
         Imam Ahmad ibn Hanbal adalah gambaran seorang tokoh yang sederhana, merakyat dan mempunyai komitmen keislaman tinggi. Kecintaan
beliau pada hadis dan kesetiaan pada Nabi yang harus dibayar dengan pengorbanan fisik dan non fisik, merupakan satu nilai tambah yang harus
dihargai.
         Pada tahun 195 H sampai 197 H Ahmad belajar fiqh dan Ushul Fiqh pada Imam Syafi’I yang pada waktu itu berada di hijaz. Di Hijaz pula ia belajar pada Imam Malik dan Imam al-Laitsbin Sa’ad
al-Misri. Dalam pencarian hadis ia juga pergi ke Yaman dan ke daerah-daerah lain, seperti Khurasan, Persia, dan Tarsus.
Kitab Musnad
          Sebuah kitab dinamakan kitab Musnad apabila penyusunnya memasukkan semua hadis yang pernah dia terima, dengan tanpa menyaring dan menerangkan derajat hadis-hadis tersebut.
Pengertian lain dari kitab Musnad ialah kitab yang hadis-hadis di dalamnya disebutkan berdassarkan nama sahabat yang lebih dahulu masuk islam atau berdasarkan nasab.
        Dilihat dari nilai hadis yang ada di dalam kitab,
menurut ulama, derajat kitab ini beraa di bawah kitab Sunan. Subhi al-Salih menempatkan Musnad Ahmad pada peringkat kedua yang sederajat dengan Jami’ al-Tarmizi dan Sunan Abu Dawud.
       Musnad Ahmad termasuk termasuk kitab termashur dan terbesar yang disusun pada periode kelima perkembangan hadis. Kitab ini
melengkapi dan menghimpun kitab-kitab hadis yang ada sebelumnya dan merupakan satu kitab yang dapat memenuhi kebutuhan muslim dalam hal
agama dan dunia pada masanya. Hadis-hadis yang terdapat dalam Musnad terdebut tidak semua riwayat Ahmad, sebagian merupakan tambahan dari
puteranya yang bernama Abdullah dan tambahan dari Abu Bakar al-Qati’i..
         Musnad tersebut memuat 40.000 hadis. Tambahan dari Abdullah sekitar 10.000 hadis dan beberapa tambahan pula dari Ahmad bin Ja’far al-Qatili. Abdullah ibn Ahmad ibn Hanballah yang menyusun Kitab Musnad ini.

KITAB AL SAHIH oleh IMAM AL-BUKHARI
Biografi Imam Al-Bukhari
      Nama lengkapnya adalah Abu ‘Abdullah Muhammad ibn Isma’il ibn Ibrahim ibn al-Mugirah ibn Bardizbah al-Ju’fi al-Bukhari.
Dilahirkan pada hari Jum’at 13 Syawal 194 H di Bukhara, dan meninggal pada tanggal 30 Ramadhan tahun 256 H pada usia 62 tahun.
      Disaat usianya belum mencapai 10 tahun, Imam al-Bukhari telah memulai belajar hadis. Sehingga tidak mengherankan apabila pada usia kurang lebih 16 tahun telah berhasil menghafal matan sekaligus rawi dari beberapa buah kitab karangan Ibn Mubarak dan Waqi.
      Karena ketekunan, ketelitian, dan kecerdasannya dalam mencari, menyeleksi dan menghafal  hadis, serta banyak menulis kitab, menjadikan ia cepat dikenal sebagai seorang ahli hadis dan mendapat
gelar Amir al-Mu’minin fi al-hadis. Sehingga banyak ulama yang belajar dan meriwayatkan hadis darinya.
Kitab Sahih Al-Bukhari
      Menurut kesepakatan ulama, sebuah hadis dapat dinilai sebuah hadis sahih apabila memenuhi criteria sebagai berikut: Sanad bersambung, periwayat bersifat adil, periwayat bersifat dabit, dalam hadis tersebut tidak terdapat kejanggalan dan tidak terdapat cacat.
Kriteria hadis sahih menuut Imam al-Bukhari adalah dalam hal persambungan sanad ia menekankan adanya informasi positif tentang periwayat bahwa mereka benar-benar bertemu atau minimal satu zaman dan dalam hal sifat atau tingkat keilmuwan periwayat ia menekankan adanya kriteria paling tinggi.
       Imam al-Bukhari mendapat wasiat dari gurunya Ishaq Ibn Ruhawaih untuk menyusun sebuah kitab yang berbeda dari kitab-kitab yang telah disusun oleh ulama sebelumnya, yaitu dengan cara hanya membukukan hadis-hadis yang sahih saja. Dengan usaha kerasnya dalam mengumpulkan dan meneliti hadis guna memastikan kesahihannya, akhirnya tersusunlah sebuah kitab hadis yang ia beri nama al-Jami’ al-Musnad al-Sahih al-Mukhtasar min Umur Rasul Allah SAW wa Sunanih wa Ayyamih.
       Kitab hadis karya al-Bukhari disusun dengan membagi menjadi beberapa judul tertentu dengan istilah kitab berjumlah 97 kitab dan 4550 bab. Jumlah hadis secara keseluruhan adalah 7275 buah hadis termasuk yang terulang atau sebanyak 4000 buah hadis tanpa pengulangan.

KITAB SAHIH MUSLIM oleh IMAM MUSLIM
Biografi Imam Muslim
    Nama lengkap Imam Muslim ialah Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al-Qusyairi al-Naisaburi. Beliau dinisbatkan kepada Naisaburi karena di lahirkan di Nisabur, Iran bagian
timur-laut pada tahun 204 H  820 M.
    Imam Muslim belajar hadis mulai usia kurang lebih 12 tahun. Sejak itulah beliau mulai serius mempelajari dan mencari hadis.
Beliau adalah seorang muhaddis, hafiz yang terpercaya. Beliau banyak menerima pujian dan pengakuan dari para ulamahadis maupun ulama lainnya.
    Selain itu, Imam Muslim juga seorang saudagar yang beruntung, ramah dan memiliki reputasi tinggi. Al-Zahabi menjulukinya sebagai Muhsin Naisbur. Beliau tidak fanatic dengan pendapatnya sendiri,
murah senyum, toleran dan tidak gengsi untuk menerima pendapat atau kebenaran dari orang lain.
Kitab Sahih Muslim
   Kitab himpunan hadis sahih karya Muslim ini judul
aslinya ialah al-Musnad al-Sahih al-Mukhtasar min al-Sunan bi al-Naql al-‘Adl ‘an al-‘Adl ‘an Rasul Allah SAW, namun lebih dikenal dengan nama Sahih Muslim.
     Kitab ini memuat hadis yang cukup banyak. Hanya saja mengenai penentuan jumlah hadisnya, terdapat informasi atau pendapat yanh berbeda-beda. Menurut keterangan Ahmad bin Salamah menyatakan bahwa dalam Sahih Muslim memuat 12.000 hadis. Sementara yang lainnya ada yang
menyatakan berjumlah 7.275 hadis, 5.632 hadis, 4.000 hadis, dan 3.033 hadis. Perbedaan tersebut terjadi karena ada yang menghitung hadis-hadis
yang berulang-ulang ada yang tidak. Karenanya, perbedaan tersebut dapat dipahami sekaligus dapat dikompromikan.
       Imam Muslim menyusun kitabnya dengan cara menghimpun matan-matan hadis yang senada atau satu tema lengkap dengan sanad-sanadnya pada satu tempat, tidak memotong atau memisah-misahkannya
dalam beberapa bab yang berbeda, serta tidak mengulang-ulang penyebutan hadis kecuali dalam jumlah sedikit karena adanya kepentingan yang
mendesak yang menghendaki adanya pengulangan.
      Namun demikian, dalam kitab ini pun terdapat beberapa hadis yang dikritik. Kritik yang muncul terutama bukan pada aspek sanadnya tetapi lebih pada matannya, hal itu pun lebih disebabkan karena
adanya perbedaan pemahaman atau pemaknaan.

KITAB SUNAN oleh ABU DAWUD
Bigrafi Abu Dawud
        Nama lengkap Abi dawud adalah Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’as bin Ishaq bin Imran al-Azdi al-Sijistani.
Beliau dilahirkan pada tahun 202 H di Sijistan, Basrah. Sebagai ulama mutaqaddimin yang produktif, beliau selalu memanfaatkan waktunya untuk ilmu dan ibadah. Namun informasi kehidupan Abu Dawud di masa kecil sangat sedikit. Sedangkan masa dewasanya banyak riwayat menyatakan bahwa
beliau termasuk ulama hadis yang terkenal.
  Pola hidup sederhana tercermin dalam kehidupannya. Hal ini terlihat dari cara berpakaiannya, yaitu salah satu lengan bajunya
lebar dan satunya sempit. Menurutnya, lengan yang lebar untuk membawa kitab dan yang sempit tidak diperlukan, kalau dibuat sama-sama lebar berarti pemborosan. Maka tidak heran jika banyak ulama yang semasanya atau sesudahnya memberikan gelar zahid (mampu meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi) dan wara’ (teguh atau tegar dalam mensikapi kehidupan).
      Pada tahun 275 H Abu Dawud al-Sijistani mengheembuskan nafas terakhirnya dalam usia 73 tahun dan tepatnya pada tanggal 16 Syawal 275 H di Basrah.
Kitab Sunan Abu Dawud
   Menurut ahli hadis, Kitab Sunan adalah kitab hadis yang disusun berdasarkan bab-bab fiqih. Kitab Sunan ini hanya memuat hadis-hadis marfu’ dan tidak memuat hadis mauquf atau maqtu’, sebab dua
macam hadis terakhir ini tidak disebut sunnah.
    Metoda yang dipakai oleh Abu Dawud berbeda dengan metode yang dipakai ulama-ulama sebelumnya, seperti Imam Ahmad bin Hanbal yang
menyusun kitab musnad dan Imam Bukhari dan Muslim ysng menyusun kitabnya dengan hanya membatasi pada hadis-hadis yang sahih saja. Adapun Abu Dawud menyusun kitabnya dengan metode mengumpulkan hadis-hadis yang berkaitan dengan hokum, dan dalam penyusunannya berdasarkan urutan bab-bab fiqih seperti taharah, shalat, zakat dan sebagainya dengan beraneka kualitas dari yang sahih sampai yang da’if. Tetapi hadis-hadis yang berkenaan dengan fada’il al-A’mal (keutamaan-keutamaan amal) dan kisah-kisah tidak dimasukkan dalam kitabnya.
      Dalam Sunan Abu Dawud, beliau membagi hadisnya dalam beberapa kitab, dan setiap kitab dibagi menjadi beberapa bab. Adapun perinciannya adalah 35 kitab, 1871 bab, serta 4800 hadis. Tetapi munurut Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, jumlahnya sebanyak 5274 hadis. Perbedaan
ini disebabkan karena Abu Dawud sering mencantumkan sebuah hadis di tempat yang berbeda, hal ini dilakukan karena untuk menjelaskan suatu
hokum dari hadis tersebut, dan disamping itu untuk memperbanyak jalur sanad.

KITAB SUNAN oleh IMAM AL-TIRMIZI
Biografi Imam Al-Tirmizi
    Imam al-Tirmizi memiliki nama lengkap Abu ‘Isa Muhammad ibn ‘Isa ibn Saurah ibn Musa ibn al-Dahhak al-Sulami al-Bugi al-Tirmizi.
Adapun nisbah yang melekat dalam nama al-Tirmizi, yakni al-Sulami, dibangsakan dengan Bani Sulaim, dari kabilah Ailan. Sementara al-Bugi adalah nama tempat dimana al-Tirmizi wafat dan dimakamkan. Sedangkan kata al-Tirmizi sendiri dibangsakan kepada kota Tirmiz, tempat al-Tirmizi dilahirkan. Al-Tirmizi lahir pada tahun 209 H dan wafat pada
malam Senin tanggal 13 Rajab tahun 279 H di desa Bug dekat kota Tirmiz dalam keadaan buta.
      Al-Tirmizi adalah pakar hadis yang masyhur pada abad ke-3 H. Sebagai pakar hadis, beliau ingin menjaga keutuhan hadis sebagai dasar syari’at Islam. Ia lebih memilih menggunakan hadis da’if laisa
bihi matruk (hadis daif yang kelemahannya tidak menghalangi pengamalannya) daripada hokum qiyas dan ijma’.
Kitab Al-Jami’ Al-Sahih
     Kitab ini memuat berbagai permasalahan pokok agama, di antaranya yaitu: al-aqa’id (akidah), al-riqaq (budi luhur), adab (etika), al-tafsir (tafsir al-Qur’an), al-tarikh wa al-syiar (sejarah dan jihad Nabi), al-syama’il (tabi’it), al-fitan (fitnah),
dan al-manaqib wa al-masalib.
     Secara keseluruhan, kitab al-Jami’ al-Sahih atau Sunan al-Tirmizi ini terduru dari 5 juz, 2376 bab dan 3956 hadis. Kitab ini disusun berdasarkan urutan bab fiqih, dari bab taharah samapi dengan bab akhlaq, do’a, tafsir, fada’il dan lain-lain.
    Kitab al-Tirmizi banyak memuat hadis hasan, maka membuat kitab tersebut popular dengan nama kitab hadis hasan. Namun para ulama berbeda pendapat mengenai hadis hasan ini, karena al-Tirmizi tidak member definisi yang pasti, terlebih al-Tirmizi menggabungkan dengan istilah yang beraneka ragam, seperti: hadis hasan sahih, hasan garib dan
hasan sahih garib.

KITAB SUNAN oleh AL-NASA’I
Biografi Imam al-Nasa’i
      Nama lengkap beliau adalah Ahmad bin Syu’aib bin Ali bin Sinan bin bahr bin Dinar, dan diberi gelar dengan Abu Abd al-Rahman al-Nasa’i. Beliau dilahirkan pada tahun 215 H di kota Nasa’ yang masih termasuk wilayah Khurasan. Kepada tempat kelahiran beliau inilah namanya dinisbatkan.
        Setelah menjadi ulama hadis, beliau memilih Negara Mesir sebagai tempat bermukim untuk menyiarkan dan mengajarkan hadis-hadis kepada masyarakat.
Beliau tinggal di Mesir ini sampai setahun sebelum beliau wafat, karena setahun menjelang beliau wafat ia pindah ke Damaskus. Di sinilah terjadi suatu peristiwa yang sangat menyedihkan yang sekaligus merupakan sebab kematiannya. Beliau wafat padahari Senin, tanggal 13 Bulan Syafar, tahun
303 H (915 M) di al-Ramlah.
      Dari segi fisik, al-Nasa’I dikenal sebagai seorang imam hadis yang mempunyai wajah cukup ganteng. Ia dikenal sangat rajin, sungguh-sungguh dalam beribadah malam maupun siang, ibadah puasa sunat
dan puasa dawud, selalu melaksanakan ajaran islam dalam segala aspek kehidupan, serta melakukan haji setiap tahunnya secara kontinyu.
Kitab Sunan Al-Nasa’i
       Kitab Sunan al-Nasa’i ini disusun berdasarkan metode sunan. Kata sunan adalah jamak dari kata sunnah yang pengertiannya juga sama dengan hadis. Sementara itu yang dimaksud dengan metode sunan
disini adalah metode penyusunan kitab hadis berdasarkan klasifikasi hokum islam (abwab al-fiqhiyyah) dan hanya mencantumkan hadis-hadis
yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW saja (marfu’). Berbeda dengan kitab muwatta’ dan mushannif yang banyak memuat hadis-hadis mauquf dan maqtu’, meskipun metode penyusunannya sama dengan kitab sunan.
      Kemudian dapat ditegaskan juga bahwa Imam al-Nasa’i dalam menyusun kitabnya hanya mengkhususkan hadis-hadis sunnah dan yang
berbicara tentang hukum dan tidak dimasukkan di dalamnya yang berkaitan dengan khabar, etika dan mau’izah-mau’izah. Hal ini dikarenakan kitab
ini pilihan berupa hadis-hadis hokum dari kitab beliau yang lain, yaitu sl-Sunan al-Kubra.
     Kitab Sunan al-Nasa’I ini tak luput dari perhatian dan komentar dari beberapa ulama hadis. Hal ini terbukti dengan banyaknya syarah dan penjelasan yang diberikan oleh beberapa ulama hadis yang
datang sesudah beliau.hal ini membuktikan bahwa kitab Sunan al-Nasa’I mendapat respon yang positif dan begitu baik di kalangan ulama hadis, karena belum pernah ada kitab hadis diberi syarah begitu banyak oleh ulama hadis sebagaimana yang terjadi pada kitab Sunan al-Nasa’i.

KITAB SUNAN IBN MAJAH
Biografi Imam Ibnu Majah
    Imam Ibnu Majah memiliki nama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Yazid bin Majah ar-Rabi’I al-Qazwini. Beliau dilahirkan di daerah Qazwin pada tahun 209H.
     Sejak kecil hingga dewasa, Imam Ibnu Majah dikenal sebagai orang yang gemar mempelajari ilmu pengetahuan, lebih khusus lagi mengenai hadis.
     Sekian banyak keberhasilan yang telah beliau raih selama hidup, sebanyak itu pula Imam Ibnu Majah telah banyak meninggalkan warisan keilmuwan. Karena jasanya sangat besar, Ibnu Majah tetap
dikenang hingga saat ini.
    Beliau wafat pada tanggal 22 Ramadhan 273 H dan jenazahnya dishalatkan oleh saudaranya, Abu Bakar. Pemakamannya dilakukan oleh kedua saudaranya, Abu Bakar dan Abdullah serta putranya
yang bernama Abdullah.

Kitab Sunan Ibn Majah
       Kitab ini merupakan karya terbesar Ibnu Majah. Dalam kitab sunan tersebut, Imam Ibnu Majah menulis sebanyak 4.000 hadis, dengan menyusunnya menjadi 1.500 bab dan penulisannya disusun menurut sistematika fiqih.

KITAB SUNAN AL-DARIMI
Biografi al-Darimi
      Nama lengkapnya yaitu ‘Abdurrahman ibn ‘Abdirahman ibn al-Fadhl ibn Bahram ibn ‘Abdis Shamad. Ia dilahirkan pada tahun wafatnya
Ibn al-Mubarak, yaitu pada tahun 181 H di kota Samarqand.
Sejak kecil ia telah dikaruniai kecerdasan otak sehingga ia mudah untuk memahami dan menghafal setiap yang didengarnya. Dengan bakal
kecerdasannya itulah ia menemui para syaikh dan belajar ilmu.
     Imam al-Darimi meninggal dunia pada hari Tarwiyah tahun 255 H setelah shalat ‘Ashar. Ia dikubur pada hari Jum’at yang bertepatan
dengan hari ‘Arafah. Ketika meninggal, al-Darimi umurnya telah mencapai 75 tahun. Ada satu pendapat yang menyatakan bahwa ia meninggal pada
tahun 205 H, akan tetapi pendapat ini diragukan kebenarannya.

Kitab Sunan al-Darimi
      Kitab hadis karya al-Darimi ini berjudul al-Hadis
al-Musnad al-marfu’ al-mauquf wa al-Maqtu’. Kitab ini disusun dengan menggunakan sistematika berdassarkan pada bab-bab fiqih. Sehingga kitab
hadis ini lebih popular dengan sebutan Sunan al-Darimi.
       Kitab ini berisi hadis-hadis marfu’, mauquf, dan maqtu’.
Bagian terbesar dari hadis-hadis yang terdapat dalamkitab tersebut adalah hadis-hadis yang marfu’, ini pula lah yang menjadi sandaran utama dalam mengemukakan hokum-hukum pada setiap babnya. Namun ada kalanya al-Darimi memperpanjang lebar penbahasan dengan menambah hadis yang marfu’ dan mengemukakan berbagai asar dari para sahabat maupun dari para tabi’in.
    Dalam menyusun kitab Sunan al-Darimi ini, baliau
tampaknya tidak berkehendak untuk memperbanyak jalur sanad, tetapi ia lebih berkeinginan untuk menyusun suatu kitab yang ringkas. Dalam satu
bab ia hanya memasukkan satu hadis, dua hadis, atau tiga hadis saja.
Inilah alasan beliau hanya memasukkan tidak lebih dari 10 buah hadis mu’allaq.
    Kitab karya al-Darimi ini memiliki sistematika penyusun yang baik, yang terangkai dalam 24 kitab, artisan bab, dan 3367 buah hadis yang terdiri dari 89 hadis mursal dan 240 hadis maqtu’ serta kebanyakan hadis bersandar langsung dari Nabi Muhammad SAW (marfu’).

KITAB AL-SUNAN AL-SAGIR oleh AL-BAIHAQI
Biografi Imam Al-Baihaqi
      Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Ahmad ibn al-Husain ibn ‘Aliy ibn ‘Abd Allah abn Musa al-Baihaqi. Ia dilahirkan pada bulan Sya’ban tahun 384 H di desa Khasraujird, daerah Biahaq.
     Menurut al-Subkiy, al-Baihaqi adalah seorang imam kaum Muslimin, pemberi petunjuk orang beriman, da’i yang mengajak kepada agama Allah SWT yang kokoh, seorang fiqih yang mulia, hafiz kabir, ahli usul yang cerdas, zahid,wara’, merendahkan diri untuk Allah SWT, pembela mazhab Syafi’I dalam hal usul maupun furu’-nya.
     Al-Baihaqi meninggal dunia di Naisaburi pada tanggal 10 Jumadi al-Ula tahun 458 H dan dikuburkan di Baihaq.

Kitab al-Sunan al-Sagir
      Kitab al-Sunan al-Sagir oleh al-Baihaqi diperuntukkan bagi orang-orang yang sudah benar aqidahnya. Al-Baihaqi menyatakan bahwa kitabnya tersebut memuat tentang berbagai hal yang harus di lalui oleh mereka yang telah lurus aqidahnya, yaitu memuat tentang ibadah, mu’amalah, munakahat, hudud, siyar, hukunat.
     Kitab ini memiliki dua versi, yakni versi pertama yang berjudul al-Sunan al-Sagir dan versi kedua yang berjudul al-Sunan al-Kubra. Al-sunan al-Sagir bukanlah ringkasan dari kitab al-Sunan al-Kubra. Tidak semua hadis yang ada dalam al-Sunan al-Sagir telah ada dalam al-Kubra, begitu juga sebaliknya.
      Al-Sunan al-Kubra disusun oleh al-Baihaqi dalam rangka membela fiqih al-Syafi’I dan memperkokoh pendapatnya dengan mengemukakan
hadis yang syawahid yang banyak jumlahnya dan memenuhi isi kitab al-Kubra. Sedangkan Sunan al-Sagir disusun untuk memenuhi kebutuhan orang yang mencari ilmu dan sebagai tuntunan dalam beramal untuk orang yang telah lurus aqidahnya.

KITAB SAHIH oleh IBN KHUZAIMAH
Biografi Ibn Khuzaimah
       Ibn Khuzaimah nama lengkapnya ialah Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah al-Naisaburi. Ia lahir pada bulan Safar 223 H
838 M di Niasabur (Nisapur).
     Sejak kecil ia telah mempelajari al-Qur’an. Setelah itu konon ia sangat ingin untuk menemuui Ibn Qutaibah guna mencari dan mempelajari hadis. Namun pada saat itu ayahnya meminta anaknya untuk terlebih dahulu mempelajari al-Qur’an hingga benar-benar memahaminya.
Setelah dianggap mampu memahami la-Qur’an, barulah ia diizinkan oleh ayahnya untuk mencari dan mempelajari hadis-hadis Nabi dan melawat ke
Marwa serta menemui Muhammad bin Hisyam serta Ibnu Qutaibah.
      Berkat kecerdasan dan keuletannya dalam mencari ilmu pengetahuan, akhirnya beliau menjadi seorang imam besar di Khurasan. Ia pun banyak menggeluti hadis dengan mempelajari dan mendiskusikannya.
Karena itulah ia terkenal sebagai seorang hafiz dan digelari imam al-a’immah (pemimpin diantara para pemimpin).
    Setelah mengisi masa hidupnya dengan berbagai perjuangan dan pengabdian, akhirnya pada malam Sabtu tanggal 2 Zulqa’idah 311 H  924 M, Ibn Khuzaimah wafst dalam usia kurang lebih 89 tahun. Jenazahnya dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dimakamkan di bekas kamarnya yang kemudian dijadikan makam.

Kitab Sahih Ibn Khuzaimah
        Naskah cetakan Sahih Ibn Khuzaimah yang beredar di masyarakat pada mulanya merupakan manuskrip. Manuskrip-manuskrip itu pertama kali ditemukan sekitar akhir abad ke-6 atau awal abad ke-7 H di toko kitab Ahmad Salis di Istanbul. Manuskrip tersebut berjumlah 311 lembar halaman, dan setiap halamannya terdiri dari 25 s.d. 31 baris.
Diantara manuskrip-manuskrip yang ditemukan, pada bagian awal dan akhirnya terdapat lembaran-lembaran yang hilang.
       Belum diketahui secara pasti kapan manuskrip-manuskrip itu mulai disalin ulang atau diperbanyak menjadi naskah cetakan. Namun, naskah cetakan yang sekarang beredar di pasaran atau di masyarakat ialah naskah cetakan Sahih Ibn Khuzaimah  yang merupakan hasil suntingan Dr. M.M. Azami. Naskah ini pertama kali diterbitkan oleh al-Maktab
al-Islami, Beirut pada tahun 1390 H  1970 M.
       Menurut Dr. M.M. Azami, beliau tidak menemukan seorang pun ulama muttaqaddimin yang menamai kitab susunan Ibn Khuzaimah dengan nama al-Sahih. Penyebutan karyanya dengan nama al-Sahih bukanlah berasal darinya, akan tetapi muncul sesudahnya. Para ulama tang pernah menamai dengan sebutan tersebut ialah para ulama yang tergolong ulama mutaakhirin.
      Tiap-tiap kitab dibagi atau diklasifikasikan menjadi beberapa bab dengan jumlah yang berbeda-beda untuk tiap-tiap kitabnya, berkisar antara 100-500 bab. Bagi bab-bab yang dianggap masuk dalam satu tema atau topik kemudian digabungkan atau dimasukkan ke dalam satu kelompok bab yang disebut dengan jumma’u abwab.
       Dengan melihat nomor urut terakhir hadis, maka jumlah keeluruhan hadis dalam karya Ibn Khuzaimah dapat segerra diketahui yaitu
sebanyak 3.079 buah hadis yang disajikan dalam empat jilid. Jumlah tersebut termasuk yang diulang-ulang.
       Banyak sanjungan yang dialamatkan kepada kitab tersebut, salah satunya diungkapkan oleh Ibn Kasir yang mengatakan bahwa lebih baik Sahih Ibn Khuzaimah daripada Mustadrak al-Hakim.

KITAB AL-MUSTADRAK’ALA AL-SAHIHAIN oleh AL-HAKIM
Biografi Al-Hakim
     Al-Hakim yang mempunyai nama lengkap Abu ‘Abdullah Muhammad bin ‘Abdullah bin Muhammad bin Hamdun bin Hakam bin Nu’aim bin
al-Bayyi’ al-Dabbi al-Tahmani al-Naisaburi. Ia dilahirkan di Naisabur pada hari Senin 12 Rabi’ul Awwal 321 H.
    Ayah al-Hakim yang bernama ‘Abdullah bin Hammad bin Hamdun adalah seorang pejuang yang dermawan dan ahli ibadah, serta sangat loyal terhadap penguasa Bani Saman yang menguasai daerah Samaniyah. Dalam catatan sejarah, daerah Samaniyah pada abad ke-3 H telah melahirkan tokoh-tokoh hadis kenamaan dan ditempat inilah al-Hakim muncul dan dibesarkan.
Kondisi seperti ini pula lah yang sedikit banyak mempengaruhi kemunculan al-Hakim sebagai seorang pakar hadis abad ke-4 H.

Kitab al-Mustadrak’ala al-Sahihaini
        Kitab ini disusun pada tahun 373 H, pada saat al-Hakim berusia 52 tahun. Inisiatif penulisan kitab al-Mustadrak’ala al-Sahihaini yakni asumsi al-Hakim bahwa masih banyak hadis sahih yang
berserakan, baik yang belum dicatat oleh para ulama maupun yang sudah tercantum dalam beberapa kitab hadis yang ada. Al-Hakim juga mnyusun
kitabnya berdasarkan kaedah-kaedah ilmiah dalam menentukan keabsahan sanad dan matan.
       Kitab tulisan al-Hakim dinamakan al-mustadrak artinya ditambahkan atau disusulkan atasal-sahih. Al-Hakim menamakan demikian karena berasumsi bahwa hadis-hadis yang disusun dalam kitabnya merupakan hadis-hadis shahih atau memenuhi syarat kesahihan Bukhari Muslim, dan belum tercantum dalam Sahih Bukhari maupunSahih Muslim.
      Kitab ini tersusun dalam 4 jilid besar yang berisi 8.690 hadis dan mencakup 50 bahasan (kitab). Kitab karya al-Hakim ini termasuk kitabal-Jami’, karena muatan hadisnya terdiri dari berbagai dimensi,
yaitu: aqidah 251 hadis; ibadah 1277 hadis; hokum halal haram 2519 hadis; takwil mimpi 32 hadis; pengobatan 73 hadis; rasul-rasul 141 hadis; 1218 hadis tentang bigrafi sahabat; huru-hara peperangan 347 hadis; kegoncangan hari kiamat 911 hadis; peperangan Nabi dan al-fitan 233 hadis; tafsir 974 hadis dan fadhail al-Qur’an 70 hadis.
      Al-Hakim mengklasifikasikan hadis menjadi dua yaitu sahih dan da’if. Untuk hadis hasan (sebagaiman klasifikasi al-Turmuzi) dimasukkan dalam kriteria jadis sahih yang tidak disepakati kesahihannya.

KITAB AL-MU’JAM AL-SAGIR AL-TABARANI AL SAHIHAIN AL-HAKIM
Biografi al-Thabarani
      Nama lengkap beliau adalah Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub bin Muthair al-Lakhmi al-Yamani al-Tabarani. Beliau dilahirkan di Akka pada tahun 260 H, bulan Shofar, di tengah-tengah keluarga yang
terhormat, dari kabilah Lakhmsuku yaman yang berimigrasi ke Quds (Palestina) dan menetap disana.
     Al-Thabarani mulai belajar hadis pada usia muda, ketika masih berumur 13 tahun. Dan di umur 14 tahun beliau berkelana ke Quds Palestina dan Syam untuk menghafalkan al-Qur’an dan belajar berbagai
ilmu pengetahuan dan agama.
      Setelah menyelesaikan studinya ke berbagai wilayah, beliau kembali lagi ke Asfahan, dan menetap di sana sampai akhir hayatnya selama kurang lebih setengah abad. Al-Thabarani meninggal di Asfahan pada 28 Zul Qa’idah tahun 360 H dalam usia seratus tahun sepuluh bulan. Beliau dimakamkan disamping kubur Hamamah al-Dausi, seorang sahabat Rasulullah.

Kitab al-Mu’jam al-Sagir
    Kitab mu’jam ialah kitab-kitab hadis yang disusun
berdasarkan musnad-musnad sahabat, guru-gurunya, Negara atau lainnya, dan umumnya susunan nama-nama sahabat itu berdasarkan urutan huruf
hija’iyyah. Selain itu, salah satu karakteristik atau kelebihan dari kitab al-Mu’jam al-Sagir ini adalah setiap sanad diberi komentar tentang hubungan antara guru dengan muridnya atau antara rawi yang satu dengan rawi berikutnya.
    Kitab ini terdiri dari 279 halaman untuk juz I, dan
bagian akhir yang merupakan juz II terdiri dari 222 halaman termasuk lima tema tambahan.
     Nilai atau kualitas hadis yang dikandung dalam kitab al-Mu’jam al-Sagir ini cukup beragam. Ada hadis yang bernilai sahih, hasan dan da’if. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penelitian lebih jauh
dan mendalam agar supaya dapat diketahui hadis-hadis yang sahih dan hasan, sehingga dapat dijadikan sebagai hujjah agama.
     Terlepas dari kekurangan dan kelebihan kitab ini, yang jelas metode mu’jam yang ditawarkan oleh al-Thabarani  ini member warna tersendiri dalam studi kitab-kitab hadis, setidaknya dapat memudahkan
para pengkaji hadis dalam  menelusuri atau mencari hadis dari sumbernya berdasarkan periwayat atau guru dari mukharrij al-hadis.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

      Kitab kitab hadist terdiri dari banyak kitab diantaranya : Kitab Al Muwatta’, Kitab Musnad, Kitab Sahih, Al-Bukhari, dan masih banyak lagi yang lainnya.
   Para sanad kitab hadist pada umumnya mereka memiliki kecerdasan yang tinggi, serta merelakan pergi meninggalkan kotanya untuk mencari serta mempelajari hadis dari guru-guru yang tidak sedikit pula.

SARAN
Demi penyempurnaan makalah ini, saran dan kritikan teman-teman sangat dibutuhkan. Kesalahan dan kekeliruan yang terdapat dalam makalah ini adalah bukti dari kerancuan pemikiran penulis, dan semua itu tidak lepas dari sifat manusia yang selalu salah dan lupa.

Kitab Ihya’ Ulumuddin

Sebelum membaca langsung kitab Ihya’ Ulumuddin ini ingin kami nasihatkan kepada siapa yang ingin membenci dengan kitab Ihya ‘Ulumuddin itu supaya jangan meneruskan usaha anda itu. Jangan termakan hasutan yang membenci ilmu tasawwuf dan kitab Ihya tersebut, Kepada yang sudah khatam, pasti kita dapat melihat betapa unggulnya kitab masterpiece Imam Al-Ghazali tersebut. Jangan takut untuk membacanya.

BIOGRAFI HUJJATUL ISLAM IMAM AL-GHOZALY

Imam Ghazali telah sampai ke derajat Hujjatul Islam, sedangkan Hujjatul Islam berarti telah hafal 300.000 (tiga ratus ribu) hadits berikut sanad dan hukum matannya. Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Muhammad Abu Hamid Al Ghazaly At-Thuusiy Rahimahullah.

Berikut kami kutipkan dari kitab Al Bidayah wan Nihayah juz XVI halaman 214

محمد بن محمد بن محمد أبو حامد الغزالي ولد سنة خمسين وأربعمائة وتفقه على
إمام الحرمين ، وبرع في علوم كثيرة ، وله مصنفات منتشرة في فنون متعددة ،
فكان من أذكياء العالم في كل ما يتكلم فيه ، وساد في شبيبته حتى إنه درس
بالنظامية ببغداد في سنة أربع وثمانين وله أربع وثلاثون سنة ، فحضر عنده
رءوس العلماء ، وكان ممن حضر عنده ابن عقيل
وأبو الخطاب من رءوس الحنابلة ، فتعجبوا من فصاحته واطلاعه .
ورحل إلى الشام فأقام بها بدمشق وبيت المقدس مدة ، وصنف في هذه المدة كتابه
” إحياء علوم الدين ” وهو كتاب عجيب ، ويشتمل على علوم كثيرة من الشرعيات ،
وممزوج بأشياء لطيفة من التصوف وأعمال القلوب ، لكن فيه أحاديث كثيرة غرائب
ومنكرات ، ومنها ما هو موضوع ، كما يوجد في غيره من كتب الفروع التي يستدل
بها على الحلال والحرام ، كما يوجد في غيره من كتب الفروع التي يستدل بها
على الحلال والحرام فالكتاب الموضوع للرقائق والترغيب والترهيب أسهل أمرا
من غيره ، ثم عاد إلى بلده طوس فأقام بها، وابتنى رباطا واتخذ دارا حسنة،
وغرس فيها بستانا أنيقا، وأقبل على تلاوة القرآن وحفظ الاحاديث الصحاح.
وكانت وفاته في يوم الاثنين الرابع عشر من جمادى الآخرة من هذه السنة، ودفن
بطوس رحمه الله تعالى، وقد سأله بعض أصحابه وهو في السياق فقال: أوصني،
فقال: عليك
بالاخلاص، ولم يزل يكررها حتى مات رحمه الله.

Muhammad bin Muhammad Abu Hamid Al-Ghozali, Beliau lahir pada tahun 450H.
Beliau mempelajari ilmu fiqih kepada Imam Haramain. Beliau mahir dengan banyak ilmu. Beliau mempunyai banyak karangan dari berbagai disiplin ilmu. Maka beliau termasuk salah seorang cendekiawan dunia disetiap apa yang dibahas. Beliau sudah menjadi pemimpin sejak usia muda, dimana beliau mengajar di An-Nidhamiyyah di Baghdad dalam usia beliau 34 tahun, dan dihadiri pembesar-pembesar ulama. Diantara yang hadir ialah Ibn Aqil dan Abul Khaththab yang mana keduanya adalah pembesar madzhab Hanbali. Mereka takjub dengan kefasihan dan pengetahuan beliau. Beliau pindah ke Syam, dan beliau mukim disana. Dan (beliau juga mukim) di Baitul Maqdis dalam satu masa. Beliau mengarang kitabnya Ihya’ Ulumiddin dalam masa ini. Ihya adalah sebuah kitab yang mengagumkan.
Kitab tersebut memuat ilmu syara’ yang bermacam-macam, dicampur dengan hal-hal yang lembut dari tasawwuf dan amaliyah hati, akan tetapi didalam Ihya terhadapat banyak hadits yang gharib, munkar bahkan diantaranya ada yang maudhu’ sebagaimana ditemukan didalam kitab lainnya dari kitab-kitab Furu’ yang mana hadits-hadits tersebut dijadikan sebagai dalil untuk halal dan haram. Kitab yang dikarang untuk RAQAA`IQ (menghaluskan hati), TARGHIB (menyemangatkan) dan TARHIB (menjadikan takut) adalah perkara yang lebih dipermudah dari yang lainnya. Kemudian beliau pulang ke negaranya, Thus. Dan beliau mukim disana. Beliau membangun ribath. Beliau membuat rumah yang bagus. Beliau disana membikin taman yang indah, Beliau menetapimenekuni tilawatil Quran dan menghafal hadits-hadits shahih. Dan Beliau wafat pada hari Senin tanggal 24 Hijriyah bulan Jumadil akhir tahun ini (505 H). Beliau dimakamkan di Thus, semoga Allah Ta’ala merahmati beliau Sebagian kawan beliau
memintanya, dalam keadaan beliau masih naza’, dia berkata: Wasiatilah aku, maka beliau berkata: Tetaplah kamu dengan ikhlas, kalimat tersebut
beliau ulang-ulang sampai beliau wafat, Semoga Allah merahmatinya.

SEKELUMIT PUJIAN KIBARUL ULAMA’ KEPADA IMAM AL-GHOZALY

Al Hafizh Adz Dzahabi (673-748 H) dalam kitabnya Siyar A’lam an Nubala juz XIX halaman 232, memulai biografi Imam Ghazali dengan ucapan beliau :

– الغزالي الشيخ الامام البحر، حجة الاسلام، أعجوبة الزمان، زين الدين أبو
حامد محمد بن محمد بن محمد بن أحمد الطوسي، الشافعي، الغزالي، صاحب
التصانيف، والذكاء المفرط

“Al-Ghazali, Syaikh, Imam, Lautan, Hujjatul Islam, keajaiban zaman, Zainuddin Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad,
At-thusi, Asy-syafi’i, al Ghazali, orang yang mempunyai banyak karangan dan orang yang sangat cerdas”

Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali Qoddasallohu Sirroh, beliau adalah seorang tokoh ilmuwan yang melaut, dan pemuka hati yang gemilang yang Tak pernah di dapatkan baik di kalangan Syafi’iyyah ataupun lainnya di akhir zaman ini, yang seperti beliau dan seperti kitab kitab karangan beliau. Dialah keindahan zamannya yang besar kadarnya selaku pensyarah kitabullah dari sunnah Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam.

Beliau diakui oleh banyak sekali para Hujjatul Islam lainnya, diantaranya Hujjatul Islam Al Imam Ibn Hajar Al Astqalany, beliau banyak sekali mengambil ucapan Imam Ghazali pada kitabnya Fathul Bari beliau banyak merujuk fatwa Imam Ghazali dari kitabnya Ihya Ulumuddin, demikian pula Hujjatul Islam Imam Nawawi, demikian pula Al Hafizh Imam Qurtubiy, Al Hafizh Imam Assuyuthiy, (Al Hafizh adalah gelar bagi mereka yg telah hafal 100.000 (seratus ribu hadits) berikut sanad dan hukum matannya.

قال النووي كاد الاحياء ان يكون القرأن ~ هامش إحياء ج 1 ص 17

Hampir saja posisi Ihyâ’ menandingi al-Qur’an”. Sanjungan tersebut disampaikan oleh tokoh karismatik `Ulamâ’ul-islâm al-Imâm al-Faqîh
al-Hâfizh Abû Zakariya Muhyiddîn an-Nawawi atau lebih dikenal dengan sebutan Imâm Nawawi Shâhibul-majmû`, yang hidup dua abad pasca Imâm Ghâzali.

Quthbil-’auliyâ’ as-Sayyid Abdullâh al-`Aydrus berpesan kepada segenap umat Islam untuk selalu berpegang teguh pada al-Qur’an dan Sunnah.
Sedangkan penjelasan keduanya, menurut beliau, telah termuat dalam kitab Ihyâ’ Ulûmiddîn karya Imâm Ghâzali.

Dua komentar ulama tadi telah membuktikan keagungan kitab ini dan besarnya anugerah yang diraih oleh Imâm Ghâzali. Sampai-sampai kritikus dan peneliti Hadits Ihyâ’, al-Imâm al-Faqîh al-Hâfîzh Abûl Fadhl al-`Irâqi, turut memberikan apreseasi positif terhadap kitab yang ditakhrijnya itu. Beliau menempatkan Ihyâ’ sebagai salah satu kitab
teragung di tengah-tengah khazanah keilmuan Islam yang lain.

Sungguh agung sanjungan ulama-ulama tersebut terhadap kitab Ihyâ’ dan al-Ghâzali. Karenanya, tidak berlebihan bila Syârih (komentator) kitab tersebut, Murtadhâ az-Zabîdi, memunculkan sebuah image “andaikan masih ada nabi setelah Nabi Muhammad niscaya al-Ghâzali orangnya.

Imâm Ghâzali telah mengkonsep materi yang ditulisnya dalam empat klasifikasi kajian pokok. Dari masing-masing klasifikasi tersebut terdapat sepuluh pokok sub pembahasan utama (kitab). Secara global, isi keseluruhan kitabnya telah mencakup tiga sendi utama pengetahuan Islam, yakni Syarî`at, Tharîqat, dan Haqîqat. Imâm Ghâzali juga telah mengkoneksikan ketiganya dengan praktis dan mudah ditangkap oleh nalar pembaca. Sehingga, as-Sayyid Abdullâh al-`Aydrus memberikan sebuah kesimpulan bahwa dengan memahami kitab Ihyâ’ seseorang telah cukup untuk meraih tiga sendi agama Islam tersebut.
Telah berkata Sayyid Bakri dalam Kifayatul Atqiyaa waminhajul Asyfiyaa halaman 98 :

ولا يطعن في الاحياء الا ضال مضل بل قال بعض العارفين والله لو بعث الله
الأموات لما أوصوا الأحياء الا بما في الاحياء وفيه انتفاع لاهل الابتدائ
والانتهاء والتوسط لانه مذكور فيه ما يصلح للفرق الثلاثة.

“Dan tidak ada yang membantah Ihya’ Ulumiddin itu melainkan orang yang sesat lagi menyesatkan, bahkan berkata sebagian arifin; “Demi Allah,
jika sekiranya Allah bangkitkan orang mati niscaya tidaklah mereka berpesan terhadap mereka yang hidup, melainkan dengan apa yang ada dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, dan di dalamnya ada manfa’at pelajar pemula, tinggi, dan tawassuth (sedangtengah2) karna di dalamnya disebutkan perkara yang patut untuk tiga golongan tersebut”

عليكم بملازمة احياء علوم الدين فهو موضع نظر الله وموضع رضاالله فمن احب
وطالعه وعمل بما فيه فقد استوجب محبة الله ومحبة رسوله وملائكته وأنبياءه
وأوليائه وجمع بين الشريعة والطريقة والحقيقة في الدنيا والآخرة وصار عالما
في الملك والملكوت

“Tetaplah kalian dengan melazimkan Kitab Ihya’ Ulumuddin, karna dia itu tempat “pandangan” Allah dan keridloan-Nya. maka barangsiapa yang mencintainya dan menelaahnya serta mengamalkan apa yang terdapat di dalamnya, maka sesungguhnya Ia telah berhak memperoleh kecintaan Allah
dan kecintaan Rosul-Nya, kecintaan malaikat malaikat-Nya, kecintaan para Nabi-Nya, kecintaan para Wali-Nya, dan berarti Ia telah menjadikan antara Syari’at, Thoriqot, dan Hakikat di dunia dan Akhirat.dan jadilah Ia orang yang Aalim di alam malakut”

Di samping karena cakupan materi yang tersaji di dalamnya, kitab ini juga ditopang oleh jurnalistik yang sistematis. Sistematika penulisan yang begitu rapi menjadikan Ihyâ’ lebih menarik dan mudah dibaca oleh berbagai kalangan; sederhana, berbobot, dan tidak terlalu meluas dalam penyajian. Lagi pula istilah-istilah rumit juga jarang ditemui dalam pembendaharaan kata yang terpakai.

Inilah dibeberapa alasan kenapa kitab ini sangat digemari oleh banyak kalangan. Oleh fuqaha, Ihya’ dijadikan sebagai rujukan standar dalam bidang fikih. Oleh para sufi, kitab ini menjadi materi pokok yang tidak boleh ditinggalkan. Kedua studi ilmu tersebut telah tercover dalam karya momumental Imâm Ghâzali ini.

Sebenarnya, tidak hanya dua kelompok ini yang banyak mereferensi Ihya’,
Para teolog Islam juga menganggap penting untuk menempatkan Ihya’ sebagai bahan dasar kajian. Paradigma bertauhid yang disajikan Imâm Ghâzali di awal pembahasan kitab Ihya’ sangat membantu pada pencerahan akal dalam proses peng Esaan Allah. Imâm Ghâzali mampu mengarahkan logika pembaca pada sebuah kesimpulan yang benar dalam bertauhid dengan nalar berfikir yang tepat dan berdiri kokoh di atas dalil-dalil naqli.

KOREKSI ATAS IHYA’ ULUMIDDIN

Meskipun posisi Ihya’ di tengah-tengah keilmuan Islam sangat tinggi, bukan berarti kitab ini terlepas sepenuhnya dari koreksi dan kritik.
Banyak sekali komentar negatif dan bantahan yang ditujukan kepada Imâm Ghozali atas karya momumentalnya ini, utamanya dalam studi Hadits yang beliau sajikan.
Hadits-hadits Ihyâ’ ditengarai banyak bermasalah oleh beberapa kritikus Hadits. Keberadaannya menjadi sorotan utama dan sebagai bahan pokok kritikan para rival al-Ghozali, semisal al-Hafizh Abul Faraj Abdurrahmân Ibnu al-Jauzi. Ibnul Jauzi yang dikenal anti Ihya, beliau banyak memvonis palsu pada hadits-hadits yang ditulis Imâm Ghozali dalam kitab tersebut.

Dinamika inilah yang selanjutnya diangkat kepermukaan oleh kelompok ekstrimis dan orentalis untuk menolak sepenuhnya isi kitab Ihya’ Ulumiddîn. Lebih-lebih, kelompok ini tanpa malu-malu menyebut al-Ghozali sebagai pemalsu hadits.

MELURUSKAN IHYA’ ULUMUDDIN

Benarkah Imam al-Ghozali pemalsu hadits?
Atau memang beliau tidak membidangi studi ini?
Dan apakah kitab Ihya’ banyak memuat Hadits palsu sehingga tidak layak untuk dipelajari?

Berikut sebagai bahan pertimbangan ilmiah sebelum pembaca ikut mengiyakan tuduhan tersebut.
Pertama, apabila dikatakan bahwa kitab Ihya’ banyak memuat Hadits-hadits palsu dan tidak terdapat landasan ilmiah dalam pembelaannya, maka tuduhan ini terlalu tergesa-gesa.

Terhitung, hanya tiga redaksi Hadits yang diklaim maudhu` oleh al-Hafizh al-`Iraqi ketika mentakhrij lebih dari empat ribu lima ratus hadis yang ditampilkan Imâm Ghâzali dalam kitab Ihya’-nya. “Bilangan tersebut sangatlah kecil tutur al-`Irâqi. Lebih-lebih, apabila kita memandang jumlah Hadits yang ditampilkan oleh Imâm Ghâzali secara keseluruhan.
Setidaknya, kuantitas hadits Imam Ghazali dalam kitab Ihyâ’-nya telah setingkat dengan beberapa kitab sunan, semisal Sunan Abî Dâwud, Sunan
Nasâ’i, dan bahkan dapat dikatakan melebihi bilangan hadits yang terdapat dalam Sunan Ibnu Mâjah.

Dalam kitab: Ta’riful Ahya’ bi fadhoo’il Ihya’ karya Syaikh ‘Abdul Qaadir al ‘Aiydarus Ba ‘Alawi :

وحاصل ما أجيب به عن الغزالي ـ ومن المجيبـين الحافظ العراقي ـ أن أكثر ما
ذكره الغزالي ليس بموضوع كما برهن عليه في التخريج، وغير الأكثر وهو في
غاية القلة رواه عن غيره أو تبع فيه غيره متبرئاً بنحو صيغة «روى» وأما
الاعتراض عليه أن فيما ذكره الضعيف بكثرة، فهو اعتراض ساقط، لما تقرر أنه
يعمل به في الفضائل، وكتابه في الرقائق فهو من قبلها، ولأن له أسوة بأئمة
الأئمة الحفاظ في اشتمال كتبهم على الضعيف بكثرة المنبه على ضعفه تارة
والمسكوت عنه أخرى، وهذه كتب الفقه للمتقدمين ــــ وهي كتب الأحكام لا
الفضائل ــــ يوردون فيها الأحاديث الضعيفة ساكتين عليها، حتى جاء النووي
رحمه الله في المتأخرين ونبه على ضعف الحديث وخلافه، كما أشار إلى ذلك كله
العراقي.

Lebih lanjut, al-`Irâqi juga memberikan sebuah pembelaan bahwa sebagaian dari Hadits maudhû` tadi disampaikan tanpa memakai shîghat riwayat.
Sehingga, dalam studi methodologi Hadits, Imâm Ghâzali tidak dapat diposisikan sebagai perawi yang mendapat ancaman dari baginda nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.

Kedua, perlu dipahami bahwa ketiga Hadits tadi bukanlah refensi utama Imâm Ghâzali, malainkan sekedar tambahan dari dalîl shahîh yang mendasari ijtihadnya. Imâm Ghâzali selalu mendahulukan landasan ijtihadnya dengan dasar yang shahîh dari Al-Qur’an sebelum kemudian menampilkan dalil lain yang selevel atau di bawahnya.

Bahkan Imam Al-Ghozali sendiri pun sudah memberi peringatan kelirunya orang yang memperbolehkan memalsukan hadits dalam fadlaail a’amaal.
Berikut teks aslinya dalam Ihya’ Ulumiddin juz III halaman 136, cetakan Daar Ihyaa al Kutub al ‘Arabi, ‘Iisaa al Baabi al Halabi wa Syirkaah.

Dan sekali lagi, bilangan tersebut sangatlah kecil. Tentu sangat na’if bila bagian kecil dari kekeliruan (untuk tidak mengatakan kesalahan karena keduanya memiliki perbedaan makna yang signifikan) tersebut dapat menghapus pada seluruh kebenaran yang terkandung dalam kitab Ihyâ’.
Generalisasi seperti ini merupakan salah satu bentuk paralogis yang biasa dipakai oleh teroris intelektual ketika menghantam lawan pemikirannya tanpa memandang esensi kebenaran lain yang lebih berharga.

Ketiga, apabila dikatakan bahwa Imâm Ghâzali tidak kapabel dalam studi Hadits maka sangat keliru sekali. Al-Mustashfâ karya al-Ghâzali di bidang Usul Fiqh cukup kiranya untuk membuktikan kapabilitas beliau dalam bidang kajian Hadits. Dalam kitab tersebut, tepatnya pada entri pembahasan sunnah, Imâm Ghâzali telah panjang lebar menuturkan konsep dan perdebatan ulama mengenai dinamika kajian Hadits, utamanya yang berkenaan dalam proses istinbâtul-ahkâm. Bahkan, al-Ghâzali juga sempat memberikan tarjih ketika terjadi perselisihan alot antara ulama, baik itu yang muncul dari kalangan ushûliyyin atau muhadditsîn.
Keempat, ancaman Rasulullah kepada para pemalsu Hadits hanya tertuju kepada pemalsu yang sengaja berspekulatif. Hal tersebut terbukti dari tambahan redaksi `amdan atau muta`ammidan (Sengaja) dalam beberapa riwâyat shahîh dari kutubis-sittah.

Husnudz-zhan kita, kesengajaan dalam pemalsuan Hadits tidak akan terjadi pada ulama sekaliber al-Ghâzali. Terlalu rendah intelektualisme
al-Ghâzali bila harus memalsukan Hadits untuk menopang pemikirannya.
Imâm Ghâzali sendiri telah meletakkan sebuah prinsip bahwa pemalsuan Hadits dengan alasan apapun tidak diperkenankan. Pernyataan tersebut
sebagai penangkis terhadap dugaan bolehnya memalsukan Hadits untuk fadhâ’ilul-a`mâl atau pencegah tindakan tercela. Menurut al-Ghâzali keberadaan ayat dan Hadits sahih telah cukup untuk memenuhi tujuan tersebut.

Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa penulisan Hadits palsu dalam literatur Imâm Ghâzali muncul dari unsur ketidak sengajaan atau keliru.
Dalam pembendaharaan kata arab istilah yang dipakai untuk menyatakan makna ini adalah kata khatha’ bukan ghalath. Abû Hilâl al-Hasan Abdullâh
bin Sahal al-`Askari membedakan antara keduanya dengan menitiktekankan terhadap ada dan tidaknya unsur kesengajan. Jika memang sengaja maka disebut ghalath dan khata’ apabila sebaliknya.

Kemudian, kesimpulan ini dihadapkan pada sabda Nabi  “rufi`a `an ummati al-khata’“, yakni diantara perbuatan umat Islam yang dimaklumi (dimaafkan) adalah tindakan yang muncul tanpa adanya unsur kesengajaan (khatha’); bukan yang memang bertujuan salah (ghalath). Karenanya, tiada dosa bagi tindakan yang muncul tanpa disengaja. Al-Hâfizh Ibnu Hajar al-`Asqalâni telah mengutip adanya konsesus ulama akan hal ini, termasuk keliru dalam meriwayatkan Hadits. Lalu, akankah kita menghukumi al-Ghâzali sebagai pendosa dan pendusta?

Kelima, apabila kita bercermin pada takhrîj al-Hafizh al-Irâqi, maka tidak akan ditemukan lebih dari tiga Hadits yang disepakati kepalsuannya. Namun, berbeda apabila kita mengacu pada komentar
al-Hâfizh Ibnu al-Jauzi. Terdapat sekitar dua puluh lima Hadits yang diklaim maudhû` olehnya. Ibnul Jauzi memang dikenal sebagai ulama yang
sembrono dalam memfonis palsu sebuah Hadits. Sikap kontroversi Ibnul Jauzi ini banyak mendapat sorotan kritis dari para muhadditsîn.
Sehingga, banyak klaim yang dilontarkan Ibnul Jauzi justru mendapat bantahan balik.

Al-Hâfizh al-`Irâqi dan al-Hâfizh Ibnu Hajar al-`Asqalâni memberikan sanggahan khusus terhadap tuduhan palsu Ibnul Jauzi akan kesahihan beberapa riwayat Imâm Ahmad. Sedangkan al-Hâfizh Jalâluddîn as-Suyûthi menulis Al-Qaul al-Hasan fîdz-Dzabbi `anis-Sunnan yang secara umum membantah segenap tuduhan palsu Ibnul Jauzi terhadap riwayat Imâm Bukhâri, Muslim, Ahmad, Dâwud, Turmuzi, Nasâ’i, Ibnu Mâjah, Mustadrak al-Hâkim, dan beberapa Hadits lagi di berbagai literatur yang lain.

Ringkasnya, sebagaimana yang telah disimpulakan oleh as-Syaikh Muhammad Mahfûzh bin Abdullâh at-Turmûsi, mayoritas Hadits yang diklaim palsu
oleh Ibnul Jauzi dalam beberapa karya kritisnya, semisal Al-Maudhû`at dan Al-`Ilal al-Mutanâhiyah, adalah hadits shahîh, hasan atau juga dha`îf. Kesimpulan ini diperkuat dengan adanya pernyataan Ibnu Shalâh bahwa Ibnul Jauzi memang banyak memvonis palsu terhadap Hadits dha`îf tanpa ada dasar kepalsuan.

Fakta lain berbicara mengejutkan ketika kita menyimak berbagai karya Ibnul Jauzi; tidak hanya kedua kitab di atas, utamanya di bidang mawâ`izh dan tasawuf, semisal Bahrud-Dumû` dan Al-Wafâ fî
Ahwâlil-Mushtafâ. Kedua kitab ini banyak memuat Hadits palsu lebih dari isi kitab yang ia kritisi. Sampai-sampai, Dr. Ibrâhîm Bâjis bin Abdul
Majid dan Dr. Mushtafâ Abdul Qadîr `Athâ terkejut akan kenyataan ini.
Sosok Ibnul Jauzi yang terbilang berlebihan dalam kritik Hadits dan keras menentang cerita-cerita aneh, justru karya-karyanya dipenuhi oleh kedua hal tersebut. Ibnul Atsir sejarawan abad VII juga menyatakan keterkejutan serupa dalam Al-Kâmil fî at-Târîkh-nya.

Untuk itu tidak salah apabila al-Imâm al-Hâfizh Ibnu Hajar al-`Asqalâni memberikan sebuah kritik pedas bahwa “mayoritas riwayat yang termuat dalam karya-karya Ibnul Jauzi (selain kitab kritik haditsnya) adalah maudhû’. Riwayat yang perlu dikritisi lebih banyak daripada yang tidak”.
Bahkan Ibnul Jauzi tidak segan untuk mengutip sebuah riwayat dari karya yang pernah dikritisinya, atau sekedar menukil Hadits-hadits yang telah di vonis palsu dalam kitab Al-Maudhû`ât-nya.

Namun, bukan berarti menyerang balik terhadap sebuah kenyataan yang sama pahitnya. Menyimak fakta ini, kita juga perlu bersikap bijak tanpa mengesampingkan etika intelektualitas melalui sisi pandang kebenaran yang lain.

Keenam, mengenai perselisihan dalam status hukum maudhû` yang muncul dari penilaian Imam Hadits selain Ibnul Jauzi, cukup kiranya diketahui bahwa hal tersebut masih dalam ranah ijtihâdi yang tidak perlu dielukan.
Penilaian muhaddits dalam studi kritiknya memang cenderung beragam, karena vonis palsu dalam kritik Hadits hanyalah aplikasi dari sebuah praduga yang tidak menutup adanya kemungkinan keliru. Lebih-lebih, apabila kritik diarahkan pada mata rantai periwayatan.

Dan lagi, jumlah yang diperselisihkan itu terbilang sangat sedikit;
tidak lebih dari tiga redaksi Hadits. Diantaranya adalah Hadits yang menyebutkan keutamaan membaca Fâtihatul-Kitâb dan dua ayat dari surat Ali `Imrân yang diklaim palsu oleh Imâm Ibnu Hibbân. Di dalam rangkaian sanad Hadits tersebut terdapat Al-Haris bin `Amîr yang menurut Ibnu Hibbân sebagai sosok periwayat Hadits palsu. Namun, tuduhan ini dibantah oleh al-Hâfizh al-`Irâqi. Al-Hâfizh melandasi bantahannya pada label tsiqqah yang telah diberikan oleh Hammâd bin Zaid, Ibnu Mu`in, Abû Zar`ah, Abû Hâtim, dan Imam Nasâ’i kepada Al-Haris bin `Amîr.
Wal hasil, sebesar apapun kritikan terhadap Ihyâ’ Ulûmiddîn secara khusus dan literatur-literatur salaf yang lain secara umum tidak akan mengurangi nilai kebesaran yang telah diraihnya. Pembuktian secara
ilmiyah dan obyektif telah memberikan bantahan nyata terhadap kritik dan tuduhan yang tidak berdasar itu.

Sejarah juga turut menjadi bukti akan kebesaran mereka.

TANBIH  (TAMBAHAN RIWAYAT SHOHIH)

ﺫﻛﺮﺍﻟﺸﻴﺦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠـﻪ ﺑﻦ ﺃﺳﻌﺪ ﺍﻟﻴﺎﻓﻌﻲ ﺭﺣﻤﺔ ﻟﻠـﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻥ ﺍﻟﻔﻘﻴﻪ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﻗﻄﺐ
ﺍﻟﻴﻤﻦ ﺇﺳﻤﺎﻋﻴﻞ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺍﻟﺤﻀﺮﻣﻲ ﺛﻢ ﺍﻟﻴﻤﻨﻲ ﺳﺌﻞ ﻋﻦ ﺗﺼﺎﻧﻴﻒ ﺍﻟﻐﺰﺍﻟﻲ ﻓﻘﺎﻝ ﻣﻦ
ﺟﻤﻠﺔ ﺟﻮﺍﺑﻪ : ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠـﻪ ﺳﻴﺪ ﺍﻷﻧﺒـﻴﺎﺀ ﻭﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺇﺩﺭﻳﺲ
ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺳﻴﺪ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﻭﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺍﻟﻐﺰﺍﻟﻲ ﺳﻴﺪ ﺍﻟﻤﺼﻨﻔﻴﻦ.

Syaikh Abdullah bin As’ad Al-Yafi’ Rahmatullah alaih berkata: seorang wali qutub yaman yg faqih adalah Syekh Isma’il bin Muhammad Al-Hadlromy, kemudian di tanyakan kpd faqih dari yaman tentang beberapa karya Imam Ghozali, maka di jawab oleh beliau (Syaikh Isma’il bin Muhammad Al-Hadlromy) : Muhammad bin Abdullah (Rasulullah) adalah sayyidil anbiya’, dan Muhammad bin Idris As-Syafi’I (Imam Syafi’i) adalah sayyidil a’immah, dan Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali adalah sayyidil Mushonnifin.

ﻭﺫﻛﺮ ﺍﻟﻴﺎﻓﻌﻲ ﺃﻳﻀﺎً ﺃﻥ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻜﺒـﻴﺮ ﺃﺑﺎ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﺣﺮﺯﻫﻢ ﺍﻟﻔﻘﻴﻪ
ﺍﻟﻤﺸﻬﻮﺭ ﺍﻟﻤﻐﺮﺑـﻲ ﻛﺎﻥ ﺑﺎﻟﻎ ﻓﻲ ﺍﻹﻧﻜﺎﺭ ﻋﻠﻰ ﻛﺘﺎﺏ ﺇﺣﻴﺎﺀ ﻋﻠﻮﻡ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﻛﺎﻥ
ﻣﻄﺎﻋﺎً ﻣﺴﻤﻮﻉ ﺍﻟﻜﻠﻤﺔ، ﻓﺄﻣﺮ ﺑﺠﻤﻊ ﻣﺎ ﻇﻔﺮ ﺑﻪ ﻣﻦ ﻧﺴﺦ ﺍﻹﺣﻴﺎﺀ ﻭﻫﻢ ﺑﺈﺣﺮﺍﻗﻬﺎ
ﻓﻲ ﺍﻟﺠﺎﻣﻊ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ

Dan Imam Al-Yafi’i juga mengatakan, bahwasanya Imam besar Abul Hasan Ali bin Hirzihim, seorang Faqih yang terkenal di Maghribi (maroko) dia
dulu sangat mengingkari kitab Ihya ulumuddin, dan beliau adalah orang yang ditaati dan di dengar ucapannya. kemudian beliau memerintahkan untuk mengumpulkan semua yang didapat daripada naskah kitab Ihya dan ingin membakarnya di masjid jami’ pada hari jum’at.

ﻓﺮﺃﻯ ﻟﻴﻠﺔ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻛﺄﻧﻪ ﺩﺧﻞ ﺍﻟﺠﺎﻣﻊ ﻓﺈﺫﺍ ﻫﻮ ﺑﺎﻟﻨﺒـﻲ ﻓﻴﻪ ﻭﻣﻌﻪ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ
ﻭﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠـﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﻭﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻐﺰﺍﻟﻲ ﻗﺎﺋﻢ ﺑـﻴﻦ ﻳﺪﻱ ﺍﻟﻨﺒـﻲ ؛ ﻓﻠﻤﺎ ﺃﻗﺒﻞ ﺍﺑﻦ
ﺣﺮﺯﻫﻢ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻐﺰﺍﻟﻲ : ﻫﺬﺍ ﺧﺼﻤﻲ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠـﻪ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﺍﻷﻣﺮ ﻛﻤﺎ ﺯﻋﻢ
ﺗﺒﺖ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠـﻪ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﺷﻴﺌﺎً ﺣﺼﻞ ﻟﻲ ﻣﻦ ﺑﺮﻛﺘﻚ ﻭﺍﺗﺒﺎﻉ ﺳﻨﺘﻚ ﻓﺨﺬ ﻟﻲ
ﺣﻘﻲ ﻣﻦ ﺧﺼﻤﻲ،

Kemudian pada malam jum’atnya beliau bermimpi seakan-akan masuk kedalam masjid jami’, ternyata didalam masjid itu ada Nabi saw. dan bersama Nabi Sayyidina Abu bakar dan Umar Radhiyallahu anhuma, serta Imam Ghozaly berdiri di hadapan Nabi saw. ketika Ibnu hirzihim menghadap, Imam
ghozali berkata: ini musuhku Ya Rasulullah, jika perkara yg terjadi sebagaimana yang dia sangka, maka aku bertaubat kepada Allah, dan jika
sesuatu yang aku dapat itu dari keberkahanmu dan mengikuti sunnahmu, maka ambilkanlah untuku haqku dari musuhku ini.

ﺛﻢ ﻧﺎﻭﻝ ﺍﻟﻨﺒـﻲ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻹﺣﻴﺎﺀ، ﻓﺘﺼﻔﺤﻪ ﺍﻟﻨﺒـﻲ ﻭﺭﻗﺔ ﻭﺭﻗﺔ ﻣﻦ ﺃﻭﻟـﻪ ﺇﻟﻰ ﺁﺧﺮﻩ،
ﺛﻢ ﻗﺎﻝ : ﻭﺍﻟﻠـﻪ ﺇﻥ ﻫﺬﺍ ﻟﺸﻲﺀ ﺣﺴﻦ، ﺛﻢ ﻧﺎﻭﻟـﻪ ﺍﻟﺼﺪﻳﻖ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠـﻪ ﻋﻨﻪ، ﻓﻨﻈﺮ
ﻓﻴﻪ ﻓﺎﺳﺘﺠﺎﺩﻩ . ﺛﻢ ﻗﺎﻝ : ﻧﻌﻢ ﻭﺍﻟﺬﻱ ﺑﻌﺜﻚ ﺑﺎﻟﺤﻖ ﺇﻧﻪ ﻟﺸﻲﺀ ﺣﺴﻦ، ﺛﻢ ﻧﺎﻭﻟـﻪ
ﺍﻟﻔﺎﺭﻭﻕ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠـﻪ ﻋﻨﻪ، ﻓﻨﻈﺮ ﻓﻴﻪ ﻭﺃﺛﻨﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺼﺪﻳﻖ،

Kemudian diberikan kepada Nabi kitab Ihya, lalu Nabi membukanya selembar demi selembar dari awal kitab hingga akhir, kemudian Nabi bersabda: demi Allah sesungguhnya ini sesuatu (kitab) yang bagus, kemudian diberikan kepada Ash-Shiddiq ra. Maka beliau melihatnya dan menganggap baik kitab tersebut, kemudian beliau berkata: Benar, Demi Dzat yang mengutusmu dengan haq, sesungguhnya ini sesuatu (kitab) yang baik, kemudian diberikan kepada Sayyidina Umar ra. dan beliau melihat isi kitab itu, dan beliaupun memuji kitab itu sebagaimana yang dikatakan oleh Ash-Shiddiq.

ﻓﺄﻣﺮ ﺍﻟﻨﺒـﻲ ﺑﺘﺠﺮﻳﺪ ﺍﻟﻔﻘﻴﻪ ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﺣﺮﺯﻫﻢ ﻋﻦ ﺍﻟﻘﻤﻴﺺ ﻭﺃﻥ ﻳﻀﺮﺏ ﻭﻳﺤﺪ ﺣﺪ
ﺍﻟﻤﻔﺘﺮﻱ، ﻓﺠﺮﺩ ﻭﺿﺮﺏ . ﻓﻠﻤﺎ ﺿﺮﺏ ﺧﻤﺴﺔ ﺃﺳﻮﺍﻁ ﺗﺸﻔﻊ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺼﺪﻳﻖ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ
ﻭﻗﺎﻝ : ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻌﻠﻪ ﻇﻦ ﻓﻴﻪ ﺧﻼﻑ ﺳﻨﺘﻚ ﻓﺄﺧﻄﺄ ﻓﻲ ﻇﻨﻪ، ﻓﺮﺿﻲ ﺍﻹﻣﺎﻡ
ﺍﻟﻐﺰﺍﻟﻲ ﻭﻗﺒﻞ ﺷﻔﺎﻋﺔ ﺍﻟﺼﺪﻳﻖ،

Maka Nabi memerintahkan untuk mencabuk faqih Ali Ibnu hirzihim di atas gamis, dan dicambuk serta di had dengan hadnya pembuat kebohongan, Lalu beliaupun di cambuk dan dipukul. ketika telah dicambuk lima kali, Sayidina Abu bakar memintakan ma’af untuknya, dan beliau berkata: Ya Rasulullah, mungkin dia menyangka apa yang ada didalam kitab Ihya menyalahi sunnahmu, kemudian dia salah didalam sangkaannya, dan Imam ghozali menerima, maka Rasulullah pun menerima permintaan maafnya
Ash-Shiddiq.

ﺛﻢ ﺍﺳﺘﻴﻘﻆ ﺍﺑﻦ ﺣﺮﺯﻫﻢ ﻭﺃﺛﺮ ﺍﻟﺴﻴﺎﻁ ﻓﻲ ﻇﻬﺮﻩ، ﻭﺃﻋﻠﻢ ﺃﺻﺤﺎﺑﻪ ﻭﺗﺎﺏ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻦ ﺇﻧﻜﺎﺭﻩ ﻋﻠﻰ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻐﺰﺍﻟﻲ ﻭﺍﺳﺘﻐﻔﺮ، ﻭﻟﻜﻨﻪ ﺑﻘﻲ ﻣﺪﺓ ﻃﻮﻳﻠﺔ ﻣﺘﺄﻟﻤﺎً ﻣﻦ ﺃﺛﺮ
ﺍﻟﺴﻴﺎﻁ ﻭﻫﻮ ﻳﺘﻀﺮﻉ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻭﻳﺘﺸﻔﻊ ﺑﺮﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ، ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﺭﺃﻯ
ﺍﻟﻨﺒـﻲ ﺩﺧﻞ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻣﺴﺢ ﺑـﻴﺪﻩ ﺍﻟﻜﺮﻳﻤﺔ ﻋﻠﻰ ﻇﻬﺮﻩ ﻓﻌﻮﻓﻲ ﻭﺷﻔﻲ ﺑﺈﺫﻥ ﺍﻟﻠﻪ
ﺗﻌﺎﻟﻰ، ﺛﻢ ﻻﺯﻡ ﻣﻄﺎﻟﻌﺔ ﺇﺣﻴﺎﺀ ﻋﻠﻮﻡ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻓﻔﺘﺢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻧﺎﻝ ﺍﻟﻤﻌﺮﻓﺔ ﺑﺎﻟﻠﻪ،
ﻭﺻﺎﺭ ﻣﻦ ﺃﻛﺎﺑﺮ ﺍﻟﻤﺸﺎﻳﺦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺍﻟﺒﺎﻃﻦ ﻭﺍﻟﻈﺎﻫﺮ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ.

Kemudian Bangunlah Ibnu hirzihim sedang bekas cambukan masih ada dipunggungnya, lalu beliau memberitahukan teman-temannya (mengenai mimpi tsb) dan bertaubat kepada Allah atas pengingkarannya kepada Imam Ghozali dan beristighfar, akan tetapi masih tersisah rasa sakit cambuk tersebut dalam waktu yang lama, dan dia terus memohon kepada Allah dan meminta syafa’at kepada Rasulullah, hingga beliau bermimpi Nabi, dan mengusap punggung Ibnu hirzihim dengan tangan beliau yang mulia, kemudian beliau sembuh dengan izin Allah, kemudian beliau selalu melazimkan mempelajari kitab Ihya ulumuddin, maka Allah membukakan (hijabilmu) untuknya dan
mendapatkan karunia ma’rifat billah, maka jadilah beliau Pembesar Ulama, Ahli ilmu bathin dan Dhohir. semoga Allah merahmatinya.

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻴﺎﻓﻌﻲ : ﺭﻭﻳﻨﺎ ﺫﻟﻚ ﺑﺎﻷﺳﺎﻧﻴﺪ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﺔ ﻓﺄﺧﺒﺮﻧﻲ ﺑﺬﻟﻚ ﻭﻟﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻦ ﻭﻟﻲ
ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻦ ﻭﻟﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻦ ﻭﻟﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻟﻜﺒـﻴﺮ ﺍﻟﻘﻄﺐ ﺷﻬﺎﺏ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ
ﺍﻟﻤﻴﻠﻖ ﺍﻟﺸﺎﺫﻟﻲ، ﻋﻦ ﺷﻴﺨﻪ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻟﻜﺒـﻴﺮ ﺍﻟﻌﺎﺭﻑ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻳﺎﻗﻮﺕ ﺍﻟﺸﺎﺫﻟﻲ، ﻋﻦ
ﺷﻴﺨﻪ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻟﻜﺒـﻴﺮ ﺍﻟﻌﺎﺭﻑ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﺃﺑـﻲ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﺍﻟﻤﺮﺳﻲ، ﻋﻦ ﺷﻴﺨﻪ ﺍﻟﺸﻴﺦ
ﺍﻟﻜﺒـﻴﺮ ﺷﻴﺦ ﺍﻟﺸﻴﻮﺥ ﺃﺑـﻲ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻟﺸﺎﺫﻟﻲ ﻗﺪﺱ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺭﻭﺍﺣﻬﻢ ﻭﻛﺎﻥ ﻣﻌﺎﺻﺮﺍً ﻻﺑﻦ
ﺣﺮﺯﻫﻢ ﻗﺎﻝ : ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺃﺑﻮ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻟﺸﺎﺫﻟﻲ : ﻭﻟﻘﺪ ﻣﺎﺕ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺃﺑﻮ
ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﺑﻦ ﺣﺮﺯﻫﻢ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻮﻡ ﻣﺎﺕ ﻭﺃﺛﺮ ﺍﻟﺴﻴﺎﻁ ﻇﺎﻫﺮ ﻋﻠﻰ ﻇﻬﺮﻩ.

Dan Imam al-yafi’i berkata: telah meriwayatkan kepada kami cerita ini dengan sanad yang sohih, dan telah mengabarkan kepadaku mengenai hal ini Wali Allah dari Wali Allah dari Wali Allah Asy-syeikh Al-Kabir Al-Quthub Syihabuddin Ahmad bin Al-maliiq Asy-Syadzili, dari gurunya Syaikh Kabir Al-Arif Billah Yaquut Asy-Syadzili, dari gurunya As-Syaikh Al-Arif billah Abil Abbas Al-Mursiy, dari gurunya As-Syaikh Kabir, gurunya para guru Abil Hasan Asy-Syadziliy: dan telah meninggal Asy-Syaikh Abul Hasan ibnu Hirzihim Rahimahullah, sedangkan di hari wafatnya bekas cambuk
masih nampak dipunggungnya.

 ﻛﺘﺎﺏ ﺗﻌﺮﻳﻒ ﺍﻷﺣﻴﺎﺀ ﺑﻔﻀﺎﺋﻞ ﺍﻻﺣﻴﺎﺀ.

    Wallahu a’lam. sumber
**************************************
Kajian Ihya ‘Ulumuddin

        Pengantar Kajian Ihya

Kitab Ihya ‘Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali merupakan khazanah tasawuf yang dikenal secara luas di kalangan umat Islam. Selain karena pribadinya yang menonjol dan disebut-sebut sebagai mujaddid (pembaharu dalam agama), juga karena uraian dalam Ihya dekat dengan alam dan kehidupan Muslim, seperti persoalan ritual, akhlak, maupun sosial.

Sebagaimana dikatakan Imam Al-Ghazali, bahwa pembahasan dalam Ihya memang ditekankan dalam wilayah muamalah. Adapun yang dimaksud “muamalah” disini adalah: ilmu amal-perbuatan yang “selain harus diketahui, juga dituntut untuk diamalkan”, baik secara lahir maupun batin.

Inilah posisi Ihya ‘Ulumuddin yang membuatnya menjadi rujukan-awal yang penting dalam mengenal khazanah tasawuf, yakni sebagai jembatan yang menghubungkan aspek syariat lahir dengan aspek esoteris (tasawuf) dalam Islam.

Ihya ‘Ulumuddin terbagi dalam empat bagian besar kitab, atau dikenal sebagai rubu’, dimana di dalam setiap rubu’ terdiri atas 10 bab. Dan Kajian Ihya di bawah dikelompokan berdasarkan rubu’-rubu’ yang terdapat dalam Ihya ‘Ulumuddin.

Adapun format kajiannya bisa berupa ringkasan suatu bab tertentu, cuplikan-cuplikan yang kami anggap penting, maupun kajian yang disertai
referensi lain. Kami juga telah mengumpulkan hadits-hadits yang terdapat di kitab tersebut, dan sekarang sedang dicoba untuk mengumpulkan atsar-atsar (kisah hikmah para Nabi, para sahabat, atau yang lainnya) untuk melengkapi kajian yang ada.

Besar harapan kami untuk dapat mengkaji dan menampilkan seluruh bagian-bagian Ihya secara terperinci. Mudah-mudahan kami diberi rahmat
dan kekuatan dari hari ke hari untuk menampilkannya di sini.

Di dalam Ihya ‘Ulumuddin, Imam Al-Ghazali membagi pembahasan dalam empat bagian besar, atau rubu’, yang masing-masing terdapat 10 kitab
didalamnya. Keempat rubu’ itu adalah:

 1. Rubu’ Ibadah, terdiri atas:
(01) Kitab Ilmu,
(02) Kitab Akidah,
(03) Kitab Taharah,
(04) Kitab Ibadah,
(05) Kitab Zakat,
(06) Kitab Puasa,
(07) Kitab Haji,
(08) Kitab Tilawah Quran,
(09) Kitab Zikir dan Doa, dan
(10) Kitab Tartib Wirid.
 2. Rubu’ Adat Kebiasaan, terdiri atas:
(11) Kitab Adab Makan,
(12) Kitab Adab Pernikahan,
(13) Kitab Hukum Berusaha,
(14) Kitab Halal dan Haram,
(15) Kitab Adab Berteman dan Bergaul,
(16) Kitab ‘Uzlah,
(17) Kitab Bermusafir,
(18) Kitab Mendengar dan Merasa,
(19) Kitab Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar, dan
(20) Kitab Akhlaq.
 3. Rubu’ Al-Muhlikat (Perbuatan yang Membinasakan), terdiri atas:
(21) Kitab Keajaiban Hati,
(22) Kitab Bahaya Nafsu,
(23) Kitab Bahaya Syahwat,
(24) Kitab Bahaya Lidah,
(25) Kitab Bahaya Marah, Dendam, dan Dengki, (26) Kitab Bahaya Dunia,
(27) Kitab Bahaya Harta dan Kikir,
(28) Kitab Bahaya Pangkat dan Riya,
(29) Kitab Bahaya Takabbur dan ‘Ujub, dan
(30) Kitab Bahaya Terpedaya.
 4. Rubu’ Al-Munjiyat (Perbuatan yang Menyelamatkan), terdiri atas:
(31) Kitab Taubat,
(32) Kitab Sabar dan Syukur,
(33) Kitab Takut dan Berharap,
(34) Kitab Fakir dan Zuhud,
(35) Kitab Tauhid dan Tawakal,
(36) Kitab Cinta, Rindu, Senang, dan Ridha,
(37) Kitab Niat, Jujur, dan Ikhlas,
(38) Kitab Muraqabah dan Muhasabah,
(39) Kitab Tafakur, dan
(40) Kitab Mengingat Mati.

        Imam Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali, atau yang dikenal sebagai Algazel di Dunia Barat Abad Pertengahan, adalah seorang tokoh dan filsuf terkemuka yang memiliki kejeniusan dan kepakaran di bidang fiqh, ushul dan tasawuf. Beliau lahir di Thusi daerah Khurasan wilayah Persia tahun 450 H (1058 M).

Imam Al-Ghazali menuliskan Ihya ‘Ulumuddin (membahas ilmu-ilmu agama) yang dikarangnya selama beberapa tahun dalam keadaan berpindah-pindah antara Syams, Yerussalem, Hijaz dan Yus, yang merupakan kitab paling terkenal dan berisi paduan indah antara fiqh, tasawuf dan falsafat.
Tidak saja terkenal di kalangan Kaum Muslim, tetapi juga di Dunia Baratdan luar Islam.
************************************
SEJARAH RINGKAS AL-GHAZAL

Nama lengkapnya, ialah Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad, Imam Besar Abu Hamid Al-Ghazali Hujjatul-Islam. Dilahirkan di Thusia, suatu kota di Khurasan dalam Th. 450 H. (1058 M). Ayahnya bekerja membuat pakaian dari bulu (wol) dan menjualnya di pasar Thusia.

Sebelum meninggal ayah Al-Ghazali meninggalkan kata pada seorang ahli tasawwuf temannya, supaya mengasuh dan mendidik A1 Ghazali dan adiknya Ahmad. Setelah meninggal ayahnya, maka hiduplah Al-Ghazali di bawah asuhan ahli tasawwuf itu.

Harta pusaka yang diterimanya adalah sedikit sekali. Ayahnya seorang miskin yang jujur, hidup dari usaha sendiri bertenun kain bulu. Di samping itu, selalu mengunjungi rumah alim ulama, memetik ilmu
pengetahuan, berbuat jasa dan memberi bantuan kepada mereka. Apabila mendengar huraian alim ulama itu maka ayah Al-Ghazali menangis tersedu-sedu seraya bermohon kepada Allah swt. kiranya dia dianugerahi seorang putera yang pandai dan berilmu.

Pada masa kecilnya Al-Ghazali mempelajari ilmu fiqih di negerinya sendiri pada Syekh Ahmad bin Muhammad Ar-Razikani. Kemudian pergi ke negeri Juijan dan belajar pada Imam Abi Nasar Al-Ismaili.

Setelah mempelajari beberapa ilmu di negeri tersebut, berang- katlah Al-Ghazali ke negeri Nisapur dan belajar pada Imam Al-Haramain. Di
sanalah mulai kelihatan tanda-tanda ketajaman otaknya yang luar biasa dan dapat menguasai beberapa ilmu pengetahuan pokok pada masa itu
seperti ilmu mantik (logika), falsafah dan fiqih madzhab Syafi’i. Imam Al-Haramain amat berbesar hati dan selalu mengatakan : “Al-Ghazali itu lautan tak bertepi  

Setelah wafat Imam Al-Haramain, lalu Al-Ghazali berangkat ke Al-Askar mengunjungi Menteri Nizamul-muluk dari pemerintahan dinasti Saljuk. Ia
disambut dengan kehormatan sebagai seorang ulama besar. Kemudian dipertemukan dengan para alim ulama dan pemuka-pemuka ilmu pengetahuan.
Semuanya mengakui akan ketinggian dan keahlian Al-Ghazali. Menteri Nizamul-muluk melantik Al-Ghazali pada tahun 484 H. menjadi guru besar pada Perguruan Tinggi Nizamiyah yang didirikannya di kota Bagdad. Empat tahun lamanya Al-Ghazali mengajar di Perguruan Nizamiyah dengan cukup mendapat perhatian dari para pelajar, dari dekat dan jauh, sampai datang kepadanya suatu masa, di mana dia menjauhkan diri dari masyarakat ramai.

Maka pada tahun 488 H. Al-Ghazali pergi ke Makkah menunaikan rukun Islam kelima. Setelah selesai mengerjakan Hajji, la terus ke negeri Syam (Siria), mengunjungi Baitul-makdis. Kemudian ke Damaskus dan terus menetap beribadah di masjid Al- Umawi di kota tersebut pada suatu sudut yang terkenal sampai sekarang dengan nama “Al-Ghazaliyah”, diambil dari nama yang mulia itu. Pada masa itulah dia mengarang kitab “IHYA ‘ ” yang
kami alih-bahasakan ini. Keadaan hidup dan kehidupannya pada saat itu adalah amat sederhana, dengan berpakaian kain kasar, menyedikitkan makan dan minum, mengunjungi masjid-masjid dan desa, melatih diri berbanyak ibadah dan menempuh jalan yang membawanya kepada kerelaan Tuhan Yang Maha Esa.

Kemudian dia kembali ke Bagdad, mengadakan majlis penga- jaran dan menerangkan isi dan maksud dari kitab nya —Ihya’—. Tak lama sesudah itu berangkat pula ke Nisapur dan mengajar sebentar pada Perguruan Nizamiyah Nisapur. Akhirnya, kembali ia ke kampung asalnya Thusia. Maka didirikannya di samping rumahnya sebuah madrasah untuk ulama-ulama fiqih dan sebuah pondok untuk kaum shufi (ahli tasawuf). Dibagikannya waktunya
antara membaca Al-Qur’an, mengadakan pertemuan dengan kaum shufi, memberi pelajaran kepada penuntut-penuntut ilmu yang ingin menyauk dari lautan ilmunya, mendirikan shalat dan lain-lain ibadah. Cara hidup yang demikian diteruskannya sampai akhir hayatnya. Dengan mendapat husnul-khatiraah Al-Ghazali meninggal dunia pada hari Senin tanggal 14 Jumadil-akhir tahun 505 H (1111 M) di Thusia.

Janazahnya dikebumikan di makam Ath-Thabiran, berdekatan dengan makam Al-Firdausi, seorang ahli sya’ir yang termasy- hur. Sebelum meninggal Al-Ghazali pernah mengucapkan kata-kata yang diucapkan pula kemudian oleh Francis Bacon seorang filosuf Inggeris, yaitu : “Kuletakkan arwahku dihadapan Allah dan tanam- kanlah jasadku dilipat bumi yang sunyi senyap. Namaku akan bangkit kembali menjadi sebutan dan buah bibir ummat manusia di masa depan”.

Ia meninggalkan pusaka yang tak dapat dilupakan oleh ummat muslimin khususnya dan dunia umumnya dengan karangan-karangan yang berjumlah  hampir 100 buah banyaknya. Diantaranya kitab “Ihya'” yang terdiri dari empat jilid besar, Dalam dunia Kristen telah lahir pula kemudian Thomasa Kempis (1379 —1471 M) yang mendekati dengan pribadi Al-Ghazali dalam dunia Islam, berhubung dengan karangannya “De Imitation Christi” yang sifatnya mendekati “IHYA’ tetapi dipandang dari pendidikan Kristen.

Diantara karangannya yang banyak itu, ada dua buah yang kurang dikenal di negeri kita, akan tetapi sangat terkenal di dunia Barat. MaLah menyebabkan pecah perang pena antara ahli-ahli falsafah. Yaitu kitab
“Maqashidul-falasifah” (Maksudnya ahli-ahli falsafah) dan kitab “Tahafutul-falasifah” (Kesesatan ahli-ahli falsafah).

Kitab yang pertama berisi ringkasan dari bermacam-macam ilmu falsafah, mantik, metafisika dan fisika. Kitab ini sudah diterjemah kan oleh Dominicus Gundisalyus ke bahasa Latin di akhir abad ke XII M.

Kitab yang kedua member! kritik yang tajam atas sistem falsafah yang telah diterangkannya satu persatu dalam kitab pertama tadi. Malah oleh
Al-Ghazali sendiri menerangkan dalam kitab yang kedua itu, bahwa maksudnya menulis kitab yang pertama tadi ialah mengumpulkan lebih dahulu bahan-bahan untuk para pembaca, yang nantinya akan dikritiknya satu persatu dalam kitab yang kedua.

Beberapa puluh tahun kemudian, maka lahirlah di Andalusia. (Spanyol) Ibnu Rusyd, digelarkan Filosuf Cordova (1126 -1198). Dia membantah akan pendirian Al-Ghazali dalam hal falsafah itu dengan mengarang sebuah kitab yang dinamainya “Tahafutu-tahafutil falasifah” (Kesesatan buku Tahafutul-falasifah Al-Ghazali).

Dalam buku ini, Ibnu Rusyd telah menjelaskan ke salahpahaman Al-Ghazali tentang mengartikan apa yang dinamakan falsafah dan betapa salah pahamnya tentang pokok-pokok pelajaran falsafah.

Demikianlah telah beredar dua buah buku dalam dunia Islam, yang satu menyerang dan menghancurkan falsafah dan yang satu lagi mempertahankan falsafah itu. Keduanya bertempur secara aktif dalam dunia fikiran umat Islam dan menantikan waktunya masing-masing, siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah.

Di samping kemasyhuran dan keagungan yang dipunyai Al-Ghazali, dilontarkannya kitabnya Tahafutul-falasifah ke tengah-tengah ummat
manusia dengan gaya bahasa yang hidup bergelora. Sehingga karangan Ibnu Rusyd menjadi lumpuh menghadapi guntur bahasa- nya Al-Ghazali. Maka pada akhimya dalam peperangan alam pikiran ini, Al-Ghazali tampil ke tengah gelanggang sebagai pemenang.

Sebagai filosuf, Al-Ghazali mengikuti aliran falsafah yang boleh dinamakan “madzhab hissiyat” yakni yang kira-kira sama artinya dengan “mazhab perasaan. Sebagaimana filosuf Inggeris David Hume (1711 — 1776) yang mengemukakan bahwa perasaan adalah sebagai alat yang terpenting dalam falsafah, di waktu dia menentang aliran rasionalisme, yakni satu aliran falsafah yang tim- bul di abad ke XYIII, yang semata-mata berdasar kepada pemeriksaan panca indera dan akal manusia.

Al-Ghazali telah mengemukakan pendapat yang demikian, se lama 700 tahim terlebih dahulu dari Dayid Hume. Ia mengakui bahwa perasaan (hissiyat) itu boleh keliru juga akan tetapi akal manusia juga tidak terpelihara dari kekeliruan dan kesesatan. Dan tidak akan dapat mencapai kebenaran sesempurna-sempumanya dengan sendirinya saja. Dan tidak mungkin dapat dibiarkan bergerak dengan semau-maunya saja. Lalu akhimya Al-Ghazali kembali kepada apa yang dinamakannya “dlaruriat” atau aksioma sebagai hakim dari akal dan perasaan dan kepada hidayah yang datang dari Allah swt.

Al-Ghazali tak kurang mengupas falsafah Socrates, Aristoteles dan memperbincangkan pelbagai masalah yang sulit-sulit dengan cara yang halus dan tajam. Tak kurang ia membentangkan ilmu mantik dan menyusun ilmu kalam yang tahan uji dibanding – kan dengan karangan-karangan filosuf yang lain. Semua ini menunjukkan ketajaman otaknya. Disamping itu tidak enggan dia berkata dengan kerendahan hati serta khusu’ akan kata-kata “Wallahu a’lam’.’ artinya “Allah yang Maha Tahu”

Dalam zaman Al-Ghazali, masih berkobar pertentangan antara ahli tasawwuf dan ahli fiqih. Maka salah satu dari usaha Al-Ghazali ialah
merapatkan kedua golongan yang bertentangan itu.

Baik semasa hidupnya atau sesudah wafatnya, Al-Ghazali mendapat teman sepaham, di samping lawan yang menentang akan pendiriannya. Yang tidak sepaham, di antaranya ialah Ibnu Rusyd, Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim dan lain-lain dari ahli fiqih. Didunia Barat Al-Ghazali mendapat perhatian besar, mendapat penghargaan dari para filosuf. Di antaranya dari Renan, CassanoVa, Carta de Yaux dan Iain-lain.

Seorang ahli ketimuran Inggeris bemama Ds. Zwemmer pernah memasukkan Al-Ghazali menjadi salah seorang dari empat orang pilihan pihak Islam dari mulai zaman Rasulullah saw. sampai kepada zaman kita sekarang, yaitu :

1. Nabi Besar Muhammad صلى الله عليه وسلم. sendiri.
2. Imam-Al-Bukhari, ulama hadist yang terbesar.
3. Imam-Al-Asy ‘ari, ulama tauhid yang termasyhur.
4. Imam-Al-Ghazali, pengarang Ihya yang terkenal.

Demikianlah sekelumit dari sejarah hidup ulama besar ini, dengan kita menyebutkan beberapa bidang lagi, di mana Al-Ghazali mempunyai saham yang tidak kecil, seperti bidang pendidikan, da’wah, fiqih dan lain-lain.

Semoga pusaka ilmiyah yang ditinggalkan Al-Ghazali, dapatlah kiranya diambil faedahnya oleh ummat manusia umumnya dan ummat Islam khususnya!.

Aamiin!.

BAB PERTAMA BAHAGIAN PERTAMA

 إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

(Inna fii riftaalika ladzikraa Iiman kaana lahuu qalb).

“Sesungguhnya hal yang demikian itu menjadi pengajaran bagi siapa yang mempunyai hati (pengertian) (S. Qaaf, ayat 37),

بسم الله الرحمٰن الرحيم
أحمده الله أولاً حمداً كثيراً متوالياً، وإن كان يتضاءل دون حق جلاله حمد
الحامدين

Pertama-tama, aku memuji Allah, pujian yang banyak, berturut- turut, walaupun amat kecil pujian pemuji-pemuji itu, kurang dari hak keAgunganNya.

Kedua, aku bersalawat dan mengucapkan salam kepada Rasul-rasul- Nya, salawat yang meratai Rasul-rasul yang lain, bersama penghulu ummat manusia.

Ketiga, aku memohonkan kebajikan kepada Allah Ta’ala, tentang membangkitnya cita-citaku, mengarang sebuah kitab, tentang “Menghidupkan Kembali ilmu-ilmu Agama” (Ihya’ Ulumiddin).

Keempat, aku menantang, untuk memotong kesombonganmu, hai pencela, yang melampaui batas pada mencela, diantara golongan orang-orang yang ingkar, yang berlebih-lebihan mencaci dan melawan, diantara lapisan orang-orang yang melawan, yang lalai.

Maka sesungguhnya telah terlepas ikatan diam dari lidahku. Telah dikalungkan pada leherku, tanggungan berkata-kata dan kalung mutiara bertutur kata, selama engkau berkekalan buta dari kebenaran yang nyata, serta berkepanjangan menolong yang batil, membaguskan kebodohan dan mengobarkan fitnah kepada orang, yang memilih mencabut diri sedikit dari adat kebiasaan orang banyak. Dan ia cenderung sedikit dari membiasakan
diri mengikuti kebiasaan itu, kepada beramal dengan yang dikehendaki oleh ilmu, karena mengharap mencapai apa yang diajak oleh Allah Ta’ala beribadah kepadaNya. Yaitu : membersihkan diri dan membaikkan hati. Dan untuk memperoleh kembali sebahagian apa yang telah dibuang-buangkannya, dari menyia-nyiakan umur, karena putus-asa dari kesempumaan memperoleh kembali dan menampalkannya. Dan tersisih dari kumpulan orang, yang dikatakan terhadap mereka oleh yang empunya syari’at – rahmat Allah dan sejahteraNya kepadanya.

أشد الناس عذابا يوم القيامة عالم لم ينفعه الله سبحانه بعلمه

(Asyaddun naasi ‘adzaaban yaumal qiyaamati ‘aalimun lam yanfa-hullaahu subhaanahuu bi’ilmih). Artinya :”Manusia yang sangat menderita azab pada hart qiamat, ialah orang yang berilmu (orang alim), yang tidak diberi manfa’at oleh Allah swt. dengan ilmunya”. (1 )

Demi umurku, sesungguhnya tiada sebab untuk berkekalannya kamu pada kesombongan, selain oleh penyakit yang meratai orang banyak. Bahkan telah meratai golongan orang-orang yang teledor, dari pada memperhatikan pentingnya persoalan ini. Dan bodoh, bahwa persoalan ini besar. Dan
keadaannya itu sungguh- sungguh. Akhirat itu di depan dan dunia itu di belakang. Ajal itu dekat. Perjalanan itu jauh. Perbekalan itu sedikit.
Bahaya itu besar. Dan jalan itu tertutup. Selain keikhlasan karena wajah Allah, dari ilmu dan amal, adalah tertolak pada pihak pengecam, yang dapat melihat.

Berjalan ke jalan akhirat serta banyaknya tipu-daya tanpa penunjuk dan teman adalah pay ah dan sukar. Maka penunjuk-penunjuk jalan itu ialah kaum ulama. Mereka adalah pewaris nabi – nabi. Telah kosonglah zaman dari mereka. Tidak ada yang tinggal, kecuali orang-orang yang berbuat resmi-resmian. Kebanyakan telah digoda sethan dan terjerumus ke dalam kesesatan. Masing-masing mereka telah tertarik kepada keuntungan yang dekat. Lalu memandang yang baik menjadi buruk dan yang buruk menjadi baik. Sehingga ilmu agama senantiasa terinjak-injak dan nur hidayah hilang lenyap disegala pelosok bumi.

Orang-orang itu berkhayal kepada orang banyak, bahwa ilmu pengetahuan itu tak lain, dari fatwa pemerintah yang dipakai oleh para kadli (hakim) untuk menyelesaikan persengketaan ketika berkecamuk kezaliman. Atau ilmu pengetahuan itu ialah jidal (perdebatan), yang diperalat oleh orang yang mencari kemegahan untuk memperoleh kemenangan dan keuntungan. Atau ilmu pengetahuan itu ialah sajak yang dihiasi, yang dipergunakan oleh juru-juru nasehat supaya dapat mempengaruhi orang awam. Karena mereka itu, tidak melihat, selain dari yang tiga tadi, tempat memburu yang haram dan menangguk harta kekayaan duniawi.

1.Hadits Ini diriwayatkan Ath-Thabrarani dan AL -Baihaqi dari Abu Hurairah dengan isnad dla’ff.

Adapun ilmu jalan akhirat yang ditempuh ulama-ulama terdahulu yang saleh, yang dindmakan oleh Allah swt. dalam KitabNya dengan Fiqih, Hikmah, Ilmu, Cahaya, Nur, Hidayah dan Petunjuk, maka telah dilipat dari orang banyak dan menjadi hal yang dilupakan.

Manakala hal yang demikian itu menghancurkan Agama dan mendatangkan bahaya yang mengerikan, maka aku berpendapat bahwa berusaha menyusun
kitab ini, adalah penting untuk Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama (Ihya Ulumiddin), membukakan jalan yang dilalui imam-imam yang terdahulu dan memberi penjelasan maksud dari ilmu pengetahuan yang berguna, dari nabi- nabi dan ulama-ulama terdahulu yang saleh.

Aku buat dasar kitab ini empat bahagian besar (empat rubu’) yaitu:

1.bahagian (rubu’) per’ibadatan (rubu’ ‘ibadah).
2.bahagian (rubu’) pekerjaan sehari-hari (rubu’adat kebiasaan).
3.bahagian (rubu’) perbuatan yang membinasakan (rubu’al-muhlikat).
4.bahagian (rubu’) perbuatan yang menyelamatkan (rubu’ al-munjiyat).

Aku mulai sejumlah dengan “kitab ilmu”, karena ilmu itu amat penting, untuk pertama-tama aku bentangkan, tentang ilmu, di mana segala orang berbakti kepada Allah dengan menuntutnya, di atas sabda Rasul saw. yang bersabda :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : طلب العلم فريضة على كل مسلم

(Thalabul ‘ilmi fariidlatun ‘alaa kulli muslim) Artinya :”Menuntut ilmu itu wajib atas tiap-tiap muslim”. (1) Diriwayatkan Ibnu Majah dari Anas Dipandang dla’if oleh AlBaihaqi dan lainnya.

إذ قال صلى الله عليه وسلم : نعوذ بالله من علم لا ينفع

(Na’uudzu billaahi min ‘ilmin laa yanfa’).

Artinya :”Kita berlindung dengan Allah, dari ilmu yang tidak bermanfa’at”. (Diriwayatkan Ibnu Majah dari Jabir dengan isnad baik.) Aku akan buktikan kecenderungaii manusia sekarang, jauh dari bentuk
kebenaran. Tertipunya mereka dengan kilatan patamorgana. Dan kepuasan mereka dengan kulit ilmu, tanpa isi.

Bahagian (rubu’) ibadah, melengkapi sepuluh kitab :

1.Kitab ilmu.
2.Kitab kaidah-kaidah i’tikad (aqidah).
3.Kitab rahasia (hikmah) bersuci.
4.Kitab hikmah shalat.
5.Kitab hikmah zakat.
6.Kitab hikmah shiam(puasa).
7.Kitab hikmah hajji.
8.Kitab adab (kesopanan) membaca Al-Qur’an.
9.Kitab dzikir dan do’a.
10 Kitab tartib wirid pada masing-masing waktunya.

 Bahagian (rubu’) pekerjaan sehari-hari melengkapi sepuluh kitab :

1.Kitab adab makan.
2.Kitab adab perkawinan.
3.Kitab hukum berusaha (bekerja).
4.Kitab halal dan haram.
5.Kitab adab berteman dan bergaul dengan berbagai golongan manusia.
6.Kitab ‘uzlah (mengasingkan diri).
7.Kitab adab bermusafir (berjalan jauh).
8.Kitab mendengar dan merasa.
9.Kitab amar ma’ruf dan nahi mungkar.
10. Kitab adab kehidupan dan budi-pekerti (akhlaq) kenabian.

      Bahagian (rubu’) perbuatan yang membinasakan, melengkapi sepuluh kitab :

1.Kitab menguraikan keajaiban hati.
2.Kitab latihan diri (jiwa).
3.Kitab bahaya hawa nafsu perut dan kemaluan.
4.Kitab bahaya lidah.
5.Kitab bahaya marah, dendam dan dengki.
6.Kitab tercelanya dunia.
7.Kitab tercelanya harta dan kikir.
8.Kitab tercelanya sifat suka kemegahan dan cari muka (ria).
9.Kitab tercelanya sifat takabur dan mengherani diri (‘ujub).
10. Kitab tercelanya sifat tertipu dengan kesenangan duniawi.

      Bahagian (rubu’) perbuatan yang melepaskan, melengkapi sepuluh kitab :

1.Kitab taubat.
2.Kitab sabar dan syukur.
3.Kitab takut dan harap.
4.Kitab fakir dan zuhud.
5.Kitab tauhid dan tawakkal.
6.Kitab cinta kasih , rindu , jinak hati dan rela.
7.Kitab niat, benar dan ikhlas.
8.Kitab muraqabah dan menghitung amalan.
9.Kitab memikirkan hal diri (tafakkur).
10Kitab ingat mati.

Adapun bahagian ‘ibadah, maka akan saya terangkan nanti peri adabnya yang mendalam, sunat-sunatnya yang halus-halus dan maksudnya yang penuh hikmah, yang diperlukan oleh orang yang ber- ilmu, yang mengamalkan.
Bahkan tidaklah dari ulama akhirat, orang yang tidak memperhatikan kepadanya. Dan yang terbanyak daripadanya, adalah termasuk yang disia-siakan dalam ilmu fiqih.Adapun bahagian pekerjaan sehari-hari, maka akan saya terangkan hikmah pergaulan yang berlaku antara sesama manusia, liku-likunya, sunatnya yang halus-halus dan sifat memelihara diri yang tersembunyi pada tempat-tempat lalunya. Yaitu, yang harus dipunyai oleh orang yang beragama.

Adapun bahagian perbuatan yang membinasakan, maka akan saya terangkan nanti semua budi pekerti yang tercela yang tersebut dalam Al-Qur’an,
dengan menghilangkannya membersihkan jiwa dan mensucikan hati daripadanya. Saya akan terangkan masing-masing dari budi pekerti itu, batas dan hakikatnya. Kemudian akan saya sebutkan sebab terjadinya, kemudian bahaya yang timbul dari padanya, kemudian tanda-tanda mengenalinya, kemudian cara mengobatinya supaya terlepas kita dari padanya. Semuanya itu, disertai dengan dalil-dalil ayat, hadits dan kata-kata shahabat Nabi (atsar).

Adapun bahagian perbuatan yang melepaskan, maka akan saya terangkan semua budi pekerti yang terpuji dan keadaan yang disukai, yang menjadi budi pekerti orang-orang muqarrabin dan shiddiqin, yang mendekatkan hamba kepada Tuhan semesta alam. Saya akan terangkan pada tiap-tiap budi pekerti itu, batasnya, hakikatnya, sebab yang membawa tertarik kepadanya, faedah yang dapat diperoleh daripadanya, tanda-tanda untuk mengenalinya dan keutamaan yang membawa kegemaran kepadanya, serta apa yang ada padanya, dari dalil-dalil syari’at dan akal pikiran,

Penulis-penulis lain sudah mengarang beberapa buku mengenai sebahagian dari maksud-maksud tadi. Akan tetapi kitab ini, berbeda dari buku-buku itu dalam lima hal

1.Menguraikan dan menjelaskan apa yang ditulis penulis-penulis lain secara singkat dan umum.
2.Menyusun dan mengatur apa yang dibuat mereka itu berpisah-pisah dan bercerai-berai.
3.Menyingkatkan apa yang dibuat mereka itu berpanjang-panjang dan menentukan apa yang ditetapkan mereka.
4..Membuang apa yang dibuat mereka itu berulang-ulang dan menetapkan dengan kepastian diantara yang diuraikan itu.
5..Memberi kepastian hal-hal yang meragukan yang membawa kepada salah paham, yang tidak disinggung sedikitpun dalam buku-buku yang lain.
Karena semuanya, walaupun mereka itu menempuh pada suatu jalan, tetapi tak dapat di bantah, bahwa masing-masing orang salik (orang yang berjalan pada jalan Allah) itu mempunyai perhatian tersendiri, kepada sesuatu hal yang tertentu baginya dan dilupakan teman-temannya. Atau ia tidak lalai dari perhatian itu, akan tetapi lupa dimasukkannya ke dalam buku-bukunya. Atau ia tidak lupa akan tetapi ia dipalingkan oleh sesuatu yang memalingkannya dari pada menyingkapkan yang tertutup daripadanya. Maka inilah keadaan-keadaan khusus bagi kitab ini serta mengandung pula semua ilmu pengetahuan itu.

Sesungguhnya yang membawa aku mendasarkan kitab ini pada empat bahagian (rubu), adalah dua hal :

Pertama : -yaitu pendorong asli—bahwa susunan ini pada menjelaskan hakikat dan pengertian, adalah seperti ilmu dlaruri (ilmu yang mudah,
tak memerlukan kepada pemikiran mendalam). Sebab pengetahuan yang menuju ke akhirat itu, terbagi kepada ilmu mu’amalah dan ilmu mukasyafah.

Yang dimaksud dengan ilmu mukasyafah ialah yang diminta mengetahuinya saja. Dan dengan ilmu mu’amalah ialah yang diminta, di samping mengetahuinya, hendaklah diamalkan. Dan yang dimaksudkan dari kitab ini, ialah ilmu mu ‘amalah saja, tidak ilmu mukasyafah, yang tidak mudah menyimpannya di buku-buku, meskipun menjadi tujuan maksud para pelajar dan keinginan perhatian orang-orang shiddiqin.

Dan ilmu mu’amalah itu adalah jalan kepada ilmu mukasyafah. Tetapi, para nabi -rahmat Allah kepada mereka tidak memper katakan pada orang banyak, selain mengenai ilmu untuk jalan dan petunjuk kepada ilmu mukasyafah itu.

Adapun ilmu mukasyafah, mereka tidak memperkatakannya selain dengan jalan rumus dan isyarat, yang merupakan contoh dan kesimpulan. Karena para Nabi itu tahu akan singkatnya paham orang banyak untuk dapat memikulnya.

Alim ulama itu adalah pewaris Nabi-nabi. Maka tiada jalan bagi mereka untuk berpaling daripada mengikuti dan mematuhinya.

Kemudian, ilmu mu’amalah itu terbagi kepada :

1- ilmu dhahir, yaitu ilmu, mengenai amal perbuatan anggota badan.
2.-ilmu bathin, yaitu ilmu mengenai amal perbuatan hati dan yang melalui pada anggota badan.

Adakalanya adat kebiasaan dan adakalanya ‘ibadah.

Dan yang datang pada hati, yang dengan sebab terdinding dari pancaindra, termasuk bagian alam malakut, adakalanya terpuji dan adakalanya tercela. Maka seharusnyalah, ilmu ini terbagi dua, yaitu :
dhahir dan bathin.

Bagian dhahir yang menyangkut dengan anggota badan, terbagi kepada adat kebiasaan dan ibadah. Bagian bathin yang menyangkut dengan hal ihwal hati dan budi pekerti jiwa, terbagi kepada : yang tercela dan yang terpuji. Jadi, semuanya berjumlah empat bahagian. Dan tidaklah kurang perhatian pada ilmu mu’amalah, dari bahagian-bahagian ini.

Pendorong Kedua :
Yang menggerakkan untuk menyusun kitab ini menjadi empat bahagian, ialah aku melihat keinginan para pelajar, besar sekali kepada ilmu fiqih, ilmu yang layak bagi orang yang tidak takut kepada Allah swt., yang memperalat ilmu itu untuk mencari kemegahan dan penonjolan dengan kemegahan serta kedudukan dalam perlombaan. Dan ilmu fiqih itu terdiri dari empat bahagian. Dan orang yang menghiasi dirinya dengan hiasan yang disukai orang banyak, tentu dia akan disukai. Maka aku tidak jauh dalam membentuk kitab ini dengan bentuk fiqih untuk menarik hati golongan pelajar-pelajar. Dan karena inilah, sebahagian orang yang ingin menarik
hati pembesar-pembesar kepada ilmu kesehatan, bertindak lemah lembut, lalu membentuknya dalam bentuk ilmu bintang dengan memakai ranji dan
angka. Dan menamakannya ilmu taqwim kesehatan, supaya kejinakan hati mereka dengan cara itu menjadi tertarik kepada membacanya.

Berlemah-lembut menarik hati orang kepada ilmu pengetahuan yang berguna dalam kehidupan abadi, adalah lebih penting daripada kelemah-lembutan menariknya kepada ilmu kesehatan, yang faedahnya hanya untuk kesehatan jasmaniyah belaka.

Faedah pengetahuan ini ialah membawa kesehatan kepada hati dan jiwa yang bersambung terus kepada kehidupan abadi. Apalah artinya ilmu kesehatan itu yang hanya dapat mengobati tubuh kasar saja, yang akan hancur binasa dalam waktu yang tidak lama lagi. Kita bermohon kepada Allah swt. akan taufiq bagi petunjuk dan kebenaran. Bahwa Allah Maha
Pemurah lagi Maha Pengasih.

تصنيف

حجة الإسلامالإمام أبي حامد الغزالي

وهو أبو حامد محمد بن محمد بن محمد الغزالي

الطوسيتغمده الله برحمتهومعه تخريج الحافظ العراقي رحمه الله

TERJEMAHAN

IHYA ULUMIDDIN BAHASA MELAYU
Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali
*********************************
  Tarjamah ihya ulumuddi juz 1 : PENJELASAN TENTANG ILMU YANG FARDLU KIFAYAH

PENJELASAN TENTANG ILMU YANG FARDLU KIFAYAH

Ketahuilah bahwa fardlu tidak berbeda dengan yang tidak fardlu, kecuali dengan menyebutkan bahagian-bahagian ilmu.Dan ilmu-ilmu itu dengan disangkutkan kepada fardlu yang sedang kita bicarakan ini, terbagi kepada : ilmu syari’ah dan bukan ilmu syari’ah.
Yang dimaksudkan dengan ilmu syari’ah ialah yang diperoleh dari Nabi-Nabi as. Dan tidak ditunjukkan oleh akal manusia kepadanya, seumpama ilmu berhitung atau percobaan seumpama ilmu kedokteran atau pendengaran seumpama bahasa.

Maka ilmu-ilmu yang bukan syari’ah, terbagi kepada : ilmu yang terpuji, ilmu yang tercela dan ilmu yang dibolehkan. Ilmu yang terpuji, ialah yang ada hubungannya dengan kepentingan urusan duniawi, seperti ilmu kedokteran dan ilmu berhitung. Dan itu terbagi kepada fardlu kifayah dan kepada ilmu utama yang tidak fardlu.

Yang fardlu kifayah, ialah tiap-tiap ilmu yang tidak dapat dike-sampingkan dalam menegakkan urusan duniawi, seumpama ilmu kedokteran.
Karena pentingnya dalam pemeliharaan tubuh manu¬sia. Dan seumpama ilmu berhitung, karena pentingnya dalam masyarakat jual beli, pembahagian
harta wasiat, pusaka dan lain- lainnya. Inilah ilmu-ilmu, jikalau kosonglah negeri dari pada orang-orang yang menegakkannya, niscaya berdosalah penduduk negeri itu. Tetapi apabila ada seorang saja yang
bangun menegakkan ilmu itu, maka mencukupilah dan terlepaslah yang lain dari kewajiban tersebut.

Dari itu, tak usah diherankan dari perkataan kami, bahwa ilmu kedokteran dan ilmu berhitung itu termasuk fardlu kifayah. Juga pokok-pokok perusahaan (industri) juga termasuk fardlu kifa¬yah, seumpama pertanian, pertenunan dan siasat Bahkan juga pem- bekaman dan penjahitan, karena jikalau kosonglah negeri dari tu- kang bekam maka segeralah datang kebinasaan kepada mereka. Dan berdosalah mereka itu membawa dirinya kepada kebinasaan. Maka sesungguhnya Yang Menurunkan penyakit, Dia pulalah yang menurunkan obat dan memberi petunjuk cara memakainya serta menyediakan sebab-sebab untuk merawatinya. Maka tidak dibo¬lehkan membawa diri kepada kebinasaan dengan menyia-nyiakan obat itu.
Adapun ilmu yang dihitung : utama, tidaklah fardlu. Maka menda- lami hal-hal yang halus bagi ilmu berhitung, ilmu kedokteran dan lain-Iainnya, adalah termasuk yang tidak diperlukan begitu penting.
Tetapi berfaedah menambahkan kekuatan pada kadar yang diperlukan. Adapun ilmu yang tercela yaitu : ilmu sihir, mantera-mantera, ilmu tenung dan ilmu balik mata.
Adapun ilmu yang dibolehkan yaitu : ilmu tentang pantun-pantun yang tak cabul, berita-berita sejarah dan sebagainya.
Adapun ilmu syari’ah dan itulah yang dimaksud menjelaskan- nya, maka adalah terpuji semuanya. Tetapi kadang-kadang bercampur dengan apa yang
disangkakan itu syari’ah. Pada hal ada¬lah itu tercela. Dari itu, terbagi kepada : terpuji dan tercela.
Yang terpuji mempunyai pokok, cabang, mukaddimah dan pelengkap, sehingga berjumlah empat.

Yang pertama : pokok (ushul). Yaitu empat : Kitabullah ‘Azza wa Jalla, Sunnah Rasul saw., ljma’ ummat dan peninggalan-peninggal- an shahabat (atsar).
Dan ljma’ itu pokok, dari segi bahwa dia menunjukkan kepada Sunnah. Maka adalah dia pokok pada derajat ketiga. Begitu juga peninggalan shahabat, maka dia juga pokok menunjukkan ke¬pada Sunnah. Karena para shahabat r.a. menyaksikan wahyu dan penurunan Al-Qur-an. Dan mengetahui dengan petunjuk-petunjuk keadaan, apa yang tidak diketahui oleh orang lain.
Kadang-kadang tidak dijumpai kata-kata dalam apa yang diketahui dengan petun juk keadaan. Maka dengan dasar ini, para alim ulama berpendapat
untuk mengikuti dan berpegang teguh kepada peninggalan peninggalan shahabat. Dan yang demikian itu adalah dengan syarat tertentu, dalam bentuk tertentu dan tidak wajar menerangkannya dalam kupasan ini.

(Laa yaqdlil qaadlii wa huwa ghadl-baanu).

Yang kedua : Cabang (furu’). yaitu apa yang dipahamkan dari pokok-pokok (ushul) di atas. Tidak menurut yang dikehendaki oleh kata-katanya,
tetapi menurut pengertian yang dapat dicapai oleh akal pikiran. Dengan sebab itu maka faham menjadi luas, Sehingga dari kata-kata yang diucapkan, dapat dipahami yang lain. Seperti apa yang dapat dipahami dari sabda Nabi saw. :
Artinya :”Hakim (kadli) itu tidak mengadiliperkara ketika dia sedang marah(1) Bahwa dia tidak mengadili juga ketika mau buang air, lapar atau merasa sakit .

Ilmu furu’ itu terbagi tiga : pertama menyangkut dengan ke- pentingan duniawi. Dan termuat dalam kitab-kitab fiqih. Yang bertanggung jawab terhadapnya ialah para ulama fiqih. Dan mereka itu adalah ulama dunia.

Kedua menyangkut dengan kepentingan akhirat. Yaitu ilmu hal keadaan hati, budi pekerti terpuji dan tercela, hal-ikhwal yang direlai dan yang dibenci Allah. Pengetahuan ini termuat pada bagian penghabisan dari kitab ini. Yakni dalam jumlah kitab ‘.’Ihya’Ulumiddin”. Dan sebahagian daripadanya, ialah ilmu yang memancar dari hati kepada anggota badan, dalam ibadahnya dan ‘adat kebiasaannya. Dan itu termuat pada bahagian pertama dari kitab ini.

Yang ketiga : mukaddimah (ilmu pengantar), yaitu ilmu yang merupakan alat seperti ilmu bahasa dan tata-bahasa. Kedua- nya adalah merupakan
alat untuk mengetahui isi Kitabullah dan Sunnah Rasul saw. Bahasa dan tata-bahasa itu tidaklah termasuk dalam ilmu syari’ah. Tetapi harus dipelajari disebabkan agama. Karena syari’ah (Agama Islam) ini datangnya dengan bahasa Arab. Dan semua agama tidak lahir selain dengan sesuatu bahasa. Maka jadilah mempelajari bahasa itu sebagai alat.
Dan setengah dari alat, ialah : ilmu menulis tulisan. Tetapi tidaklah itu penting. “Karena Rasulullah saw. sendiripun tidak tahu tulis baca(ummi)”. (2)
Kalaulah tergambar dapat dihafal semua yang didengar, maka me¬nulis itu tidak perlu lagi. Tetapi pada ghalibnya, lemah dari hapalan maka menulis
itu menjadi penting.

Yang keempat : penyempurnaan, iaitu ilmu Al-Qur-an. Dan terbagi kepada :
yang berhubungan dengan kata-katanya seperti mempelajari qiraah (cara membaca), dan bunyi hurufhya. Dan yang berhubungan dengan pengertiannya, seperti tafsir, karena pengertian itu berpegang pula kepada naqal (keadaan di sekitar ayat itu, baik sebab turunnya dan suasananya yang diper-

1.Dirawikan Al-Bukharl dan Muslim dari Abi Bikrah.
2.Dirawikan Ibnu Mardawalh dari Abdullah bin umar,

oleh dalam sejarah tiap-tiap ayat suci). Karena semata-mata bahasa saja, tidak dapat berdiri sendiri. Dan yang berhubungan dengan hukumnya, seperti mengetahui yang nasikh dan mansukh, yang umum dan yang khusus, yang nash dan yang dhahir dan cara meng- gunakan antara sebahagian ayat
dengan sebahagian lainnya. Yaita suatu ilmu yang bernama “Ushulul-fiqh”.
Dan ilmu ini melengkapi juga Sunnah Nabi.

Adapun, ilmu penyempurna pada hadits Nabi dan peninggalan peninggalan shahabat (atsar), yaitu ilmu mengenai perawi-perawi hadits, namanya, keturunannya, nama-nama shahabat, kepribadiannya dan ilmu mengenai adalah (kejujuran) perawi-perawi dan keadaan mereka dalam meriwayatkan
hadits. Supaya dapat membedakan antara hadits lemah dan hadits kuat. Dan mengetahui umur mereka supaya dapat membedakan antara hadits mursal dan
hadits musnad. Dan juga mengetahui yang berhubungan dengan musnad itu (1).
(1) Hadits mursal, yaitu : perawi-perawinya tidak jelas bersambung sampai kepada Nabi saw., sedang hadits musnad adalah Jelas (peny).

Inilah ilmu-ilmu syari’ah dan semuanya itu terpuji, bahkan semuanya termasuk fardlu kifayah.
Jikalau anda tanyakan !!!: mengapakah aku hubungkan ilmu fiqih dengan ilmu dunia dan ulama-ulama fiqih dengan ulama-ulama dunia?

Aku menjawab, bahwa ketahuilah sesungguhnya Allah Ta’ala menjadikan Adam a.s. dari tanah dan keturunannya dari unsur-unsur bahan dari tanah dan
air hanyir. Mereka dikeluarkan dari tulang sulbi laki-laki, ke dalam rahim wanita. Dari situ ke dunia, kemudian ke kubur, kemudian ke padang makhsyar, kemudian ke-sorga atau ke neraka. Inilah permulaan mereka dan inilah kesudahan mereka! Dan inilah tempat kediaman mereka! Dijadikan dunia tempat mencari perbekalan untuk akhirat, supaya dapat diperoleh dari dunia itu, apa yang patut untuk perbekalan itu.

Kalau manusia itu memperoleh dunia dengan keadilan, ma¬ka lenyaplah segala permusuhan. Dan kosonglah para alim ulama dari kesibukan. Tetapi
manusia itu memperoleh dunia dengan nafsu-syahwat, lalu timbullah bermacam-macam permusuhan. Maka perlulah kepada penguasa (sultan) untuk memimpinnya. Dan pe- nguasa itu memerlukan kepada undang-undang (qanun)
untuk memimpin ummat manusia itu.

Ahli fiqih, ialah orang yang tahu dengan undang-undang siasah, jalan mengetengahi diantara orang banyak, apabila bertengkar di bawah hukum
hawa nafsu. Jadi, ahli fiqih itu adalah guru sultan

dan penunjuknya kepada jalan memimpin dan mengatur makhluk supaya teratur urusan duniawi dengan kelurusan mereka.
Demi sebenarnya, hai tersebut, berhubungan juga dengan agama. Tetapi tidaklah dengan agama itu sendiri, melainkan dengan perantaraan dunia.
Karena dunia adalah tempat bercocok tanam bagi akhirat. Dan agama itu tidak sempurna selain dengan dunia. Penguasa (raja) dan agama adalah dua
anak kembar. Agama itu pokok dan penguasa itu pengawal. Sesuatu yang tidak berpokok (bersendi), roboh. Sesuatu yang tidak berpengawal
(berpenjaga), hilang. Kerajaan dan kepastian hukum tak sempurna, selain dengan penguasa. Jalan kepastian hukum untuk menyelesaikan persoalan
peme- rintahan, ialah dengan fiqih.

Sebagaimana siasah manusia dengan pemerintahan, tidak termasuk sebahagian dari ilmu agama, pada tingkat pertama. Tetapi, adalah penolong kepada sesuatu, di mana agama tidak sempurna, kecuali dengan dia. Maka demikian juga pengetahuan jalan siasah. Seperti dimaklumi, bahwa ibadah hajji, tidak akan sempurna, kecuali dengan pengawal, yang mengawal dari orang-orang Arab diperjalanan. Sedang ibadah hajji itu suatu hai dan berjalan menuju ibadah hajji itu adalah hal kedua. Dan mengadakan pengawalan, di mana hajji itu tidak akan sempurna, selain dengan pengawalan itu, adalah hai ketiga. Dan mengetahui cara-cara, daya upaya dan aturan-aturan pengawalan itu, adalah hal keempat.

Maka hasil dari pengetahuan fiqih, ialah mengetahui cara kepemimpinan dan kepengawalan. Dan ditunjukkan kepada yang demi¬kian, oleh apa yang
dirawikan dari hadits musnad :

(Laa yuftin naasa illaa tsalaatsatun amiirun au ma’muurun au mu-takallifun).
Artinya :
“Tidak memberi fatwa (perintah) kepada manusia selain oleh tiga : amir atau ma’mur atau yang memikul beban itu (mutakallif)”. (1)

Amir ialah imam (penguasa). Merekalah yang mengeluarkan fatwa. Ma’mur ialah wakil dari amir. Yang memikul beban itu, ialah yang lain dari yang dua tadi. Dan memikul beban tersebut tanpa diperlu¬kan.
1. Dirawikan Ibnu Majah dari ‘Amr bin Syu*alb, isnadnya hasan (baik).

Para shahabat Nabi ra. menjaga diri dari mengeluarkan sesuatu fatwa.
Hingga masing-masing mereka, menyerahkan kepada temannya. Dan mereka tidak menjaga benar, apabila ditanyakan tentang ilmu Al-Qur-an dan jalan ke akhirat.

Pada setengah riwayat, ganti dari yang memikul beban itu, ialah : “Orang yang bekerja dengan ria”. Maka orang yang mau me¬mikul resiko dengan menyatakan sesuatu fatwa, sedang dia tidak ditugaskan untuk itu, maka tidak ada maksud orang itu, selain mencari kemegahan dan harta.

Jika anda menyatakan kepadaku bahwa pendapatku tentang ilmu fiqih itu, kalaupun betul, hanya mengenai hukum penganiayaan, hukum denda, utang-piutang dan penyelesaian persengketaan, maka tidaklah betul mengenai bahagian ibadah, dari hal puasa dan shalat. Dan tidak pada yang dilengkapi oleh bahagian adat dari hukum mu’amalah, dari penjelasan halal dan haram.

Ketahuilah! Bahwa yang terdekat dari apa yang diperkatakan oleh ahli fiqih, dari amal perbuatan, di mana amal perbuatan itu adalah amal perbuatan akhirat, ialah tiga : Islam, shalat dan zakat, halal dan haram. Apabila anda perhatikan sejauh pandangan ahli fiqih tentang hal di atas, niscaya anda tahu, bahwa hal tersebut ti¬daklah melampaui batas-batas dunia kepada akhirat.

Apabila telah dipahami demikian pada yang tiga tadi, maka pada lainnya lebih jelas lagi. Tentang Islam maka ahli fiqih itu, memperkatakan tentang yang syah dari padanya, tentang yang ba- tal dan tentang
syarat-syaratnya. Dan tidaklah diperhatikan pada¬nya, selain kepada lisan. Dan hati tidaklah termasuk dalam ling- kungan wilayah seorang ahli fiqih. Karena Rasulullah saw. meletakkan pemegang pedang dan kekuasaan,diluar hati, dengan sabda- nya :

(Hallaa syaqaqta ‘an qalbih).
Artinya :
“Mengapa tidak engkau pisahkan dari hatinya?”. (1)
(1) Dirawikan Muslim dari Usamah bin Zaid.
Sabda ini ditujukan oleh Nabi saw. kepada seorang pembunuh, yang membunuh orang yang telah mengucapkan kalimah Islam, dengan alasan bahwa
pengucapannya itu lantaran takut kepada pedang. Bahkan ahli fiqih itu menetapkan syah Islam dibawah naungan pedang, pada hai ia tahu pedang itu tidak menyingkapkan isi niat seseorang dan tidak menghilangkan dari hati, kebodohan dan keheranan. Tetapi mengisyaratkan kepada pemegang pedang. Pedang itu memanjang kepada lehernya. Dan tangan itu meman- jang kepada hartanya. Kalimat tadi dengan lisan adalah menyela- matkan leher dan harta, selama leher dan hartanya belum la- gi terpisah dari padanya.
Begitulah di dunia. Dari itu, Nabi saw. bersabda :

(Umirtu an uqaatilan naasa hattaa yaquuluu laa ilaaha illallaahu fa-idzaa qaaluu haa faqad ‘ashamuu minnii dimaa-ahum wa amwaa- lahura).
Artinya :
“Aku disuruh memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan “Laa ilaaha illallaah”. Apabila telah diucapkannya, maka terpeliharalah darah dan
hartanya daripadaku”. Nabi saw. menetapkan aki- batnya pengucapan itu pada darah (nyawa) dan harta”. (1)
1. Dirawikan Al-Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah.

Adapun di akhirat, maka harta itu tidak berguna padanya. Tetapi nurhati, rahasianya dan keikhlasannya yang berguna. Dan itu tidak termasuk dalam bidang fiqih. Kalau seorang ahli fiqih mencempelungkan diri dalam ilmu fiqih, adalah seperti kalau ia mencempelungkan diri dalam ilmu kalam dan ilmu kedokteran. Dan dia itu berada di luar bidangnya.

Mengenai shalat, maka ahli fiqih itu berfatwa dengan syah bila shalat itu dikerjakan dengan bentuk segala perbuatan shalat serta jelas syarat-syaratnya, meskipun ia lengah dalam seluruh shalatnya, dari awal sampai akhirnya. Asyik berfikir menghitung pen- jualan di pasar, kecuali ketika bertakbir.
Shalat semacam itu tidaklah bermanfa’at di akhirat, sebagaimana pengucapan dengan lisan mengenai Islam tak adalah manfa’atnya.

Tetapi ahli fiqih berfatwa dengan syahnya. Artinya apa yang telah dikerjakan, telah berhasil menuruti bunyi perintah dan hapuslah daripadanya, hukuman bunuh dan dera.
Adapun khusu’ dan menghadirkan hati yang menjadi amal perbuatan akhirat dan dengan itu bermanfa’atlah amal dhahir, maka tidak¬lah disinggung-singgung oleh ahli fiqih. Kalaupun ada, rraka adalah di luar bidangnya.

Mengenai zakat, maka ahli fiqih itu memandang yang mana dapat diminta bantuan penguasa. Sehingga apabila ada yang enggan mem- bayar zakat, lalu penguasa mengambilnya dengan paksa. Karena telah diputuskan, bahwa harta itu telah terlepas dari hak miliknya.
Menurut ceritera, bahwa Kadli Abu Yusuf memberikan hartanya pada akhir tahun (akhir haul) kepada isterinya dan ia sendiri menerima pemberian
dari isterinya untuk menghindarkan zakat. Maka diceriterakannya hai itu kepada Imam Abu Hanifah ra.

Imam Abu Hanifah ra. menjawab : “Itu adalah dari segi fiqihnya. Dan dia benar. Itu adalah dari fiqih dunia. Akan tetapi di akhirat melaratnya lebih besar dari segala penganiayaan”.
Seumpama inilah kiranya, ilmu yang mendatangkan melarat. Mengenai halal dan haram, maka menjaga diri (wara’) dari yang haram, adalah sebahagian
dari agama. Tetapi wara’ itu mempunyai empat tingkat:
Tingkat pertama : ialah penjagaan diri (wara’), yang disyaratkan pada keadilan kesaksian. Yaitu bila penjagaan diri yang ter¬sebut tidak ada,
maka orang tidak boleh menjadi saksi, hakim dan wali. Penjagaan diri yang dimaksud, ialah penjagaan diri, dari per¬buatan yang nyata haramnya.
Tingkat kedua : ialah wara’ orang-orang salih. Yaitu, menjauhkan diri dari segala perbuatan syubhat, yang ada padanya kemungkinan- kemungkinan
yang diragukan. Bersabda Nabi saw. :

(Da’-maa yariibuka ilaa maa laa yariibuka).
Artinya :”Tinggalkanlah yang meragukan untuk diambil yang tidak meragukan”. (1)
Dan Nabi saw. bersabda :

(Al-itsmu hazzaazul quluub). Artinya :
“Dosa itu membawa penyakit bagi hati (jiwa)”. (2)
Tingkat ketiga’: ialah wara’ orang-orang yang taqwa (muttaqin). Yaitu meninggalkan perbuatan yang sebenarnya halal tetapi diku watiri terbawa
kepada yang haram. Bersabda Nabi saw. :

(Laa yakuunurrajulu minal muttaqiina hattaa yada’a maa laa ba’sa bihi makhaafatan mimmaa bihi ba’sun)
Artinya :
“Tidaklah orang itu bernama orang taqwa, sebelum ia meninggalkan sesuatu yang tak ada apa-apanya, karena takut kepada yang ada apa-apanya”. (3)

Contohnya seumpama : menjaga diri (wara’) dari mempercakapkan hal orang.
Karena takut terperosok kepada mengumpat. Dan memelihara diri dari memakan sepanjang keinginan, karena takut bergelora semangat dan tenaga
yang membawa kepada per-buatan terlarang.
Tingkat keempat : ialah wara’ orang-orang shiddiqin. Yaitu berpaling (meninggalkan), selain kepada Allah Ta’ala. Karena takut
1.Dirawikan At-Tirmidzi, An-Nasa-i- dan Ibnu Hibban dari Al-Hasan bin Ali .
2.Dirawikan Al-Baihaoi da^lbiiu Mai’ud. Dan dirawikan AI-‘Adani, hadiu mauquf.
3.Dirawikan At-TiririMzi, IBnu Majah dan Al-Hakim dan ditashihkannya dari ‘Athly- yalf as-Sa’di.
terpakai meskipun sesa’at dari umur, kepada yang tidak mendatang- kan faedah lebih pendekatan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla, walaupun ia tahu dan yakin bahwa perbuatan tersebut tidak mem¬bawa kepada yang haram.
Maka semua tingkat tadi adalah di luar perhatian ahli fiqih, selain tingkat pertama. Yaitu : mengenai pemeliharaan diri (wara’) saksi, hakim dan yang merusakkan ‘adalah (keadilan). Menegakkan pemeliharaan diri (wara’) dengan yang demikian, tidaklah meniada- kan dosa di akhirat.
Bersabda Nabi saw. kepada Wabishah :

(Istafti qalbaka wa-in aftauka wa-in aftauka wa-in aftauka).
Artinya :”Mintalah fatwa kepada hatimu, walaupun orang telah memberi fatwa kepadamu, walaupun orang telah memberi fatwa kepadamu, walaupun
orang telah memberi fatwa kepadamu!”. (1)
(1) Dirawikan Ahmad dari Wabishah.
Ahli fiqih itu tidak memperkatakan tentang penyakit hati (jiwa) dan cara mengatasinya. Tetapi yang ada, mengenai yang merusakkan ‘adalah (keadilan) saja. Jadi seluruh perhatian ahli fiqih, adalah menyangkut dengan dunia, yang dengan dunia itu, ada perbaikan jalan akhirat. Bila sekiranya ia memperkatakan sesuatu dari sifat- sifat hati dan hukum akhirat, adalah termasuk ke dalam percakapannya itu secara sambil lalu.
Sebagaimana kadang-kadang termasuk ke dalam percakapannya, persoalan kedokteran, berhitung, ilmu bin tang dan ilmu kalam. Dan sebagaimana
termasuknya ilmu falsa¬fah ke dalam tata- bahasa dan pantun.

Sufyan Ats-Tsuri, seorang pemuka ilmu dhahir berkata :
“Sesungguhnya mempelajari ini (ilmu fiqih), tidaklah termasuk perbekalan akhirat”. Bagaimana? Telah sepakat para ahli bahwa kemuliaan pada ilmu itu, ialah pelaksanaannya. Maka bagaimana ia menyangka, dia mengajar hukum dhihar (menyerupakan isteri dengan punggung ibu) hukum al-li’an (mengutuk isteri), hukum as-salam (beijual beli benda yang belum dilihat si pembeli, hanya diterangkan sifat-sifat- nya saja oleh si penjual), sewa-menyewa dan tukar-menukar uang. Dan orang yang mempelajari hal-hal tersebut, untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala itu, adalah gila.

Sesungguhnya perbuatan itu adalah dengan hati dan anggota tubuh pada segala amal ta’at. Dan kemuliaan, ialah amalan-amalan itu.

Kalau anda bertanya, mengapa tidak aku samakan antara ilmu fiqih dan ilmu kedokteran, karena ilmu kedokteran juga berhubungan dengan dunia,
yaitu kesehatan badan. Dan itu berhubung pula dengan kebaikan agama. Dan penyamaan ini menyalahi dengan ijma’ ummat Islam?

Ketahuilah! Bahwa penyamaan itu tidaklah suatu keharusan, bah- kan terdapat perbedaan antara keduanya. Ilmu fiqih itu lebih mulia dari ilmu
kedokteran dari tiga segi :
Pertama : fiqih itu ilmu syari’ah, karena dia diperoleh dari kenabian.
Lain halnya dengan ilmu kedokteran. Dia itu tidaklah termasuk ilmu syari’ah.
Kedua : ilmu fiqih itu tidak dapat melepaskan diri sekali-kali, oleh seseorang yang menuju ke jalan akhirat, baik dia sehat atau sakit.
Sedang ilmu kedokteran tidak diperlukan selain oleh orang sakit. Dan orang sakit itu sedikit.
Ketiga : ilmu fiqih itu berdampingan dengan ilmu jalan akhirat. Karena dia memandang pada amal perbuatan anggota tubuh. Sumber dan tempat
terjadinya amal perbuatan anggota tubuh itu, adalah peri laku hati (jiwa). Yang terpuji dari pada amal perbu¬atan itu, adalah yang timbul dari budi pekerti yang terpuji, yang melepaskan diri dari bahaya di akhirat. Yang tercela adalah timbul dari budi pekerti yang tercela. Dan tidak tersembunyi lagi akan hubungan antara anggota tubuh dengan hati (jiwa) itu.
Adapun sehat dan sakit, maka tempat terjadinya, adalah bersih pada sifat badan dan percampuran. Dan itu adalah dari sifat- sifat tubuh, tidak dari sifat-sifat hati. Maka manakala dihubung- kan ilmu fiqih kepada ilmu kedokteran, niscaya tampaklah kemu¬liaan ilmu fiqih itu. Dan apabila dihubungkan ilmu jalan ke akhirat kepada ilmu fiqih, maka tampaklah pula kelebihan ilmu jalan keakhirat.
Jika anda menyatakan : “Uraikanlah kepadaku dengan jelas, ilmu jalan ke akhirat itu, yang menunjukkan isi serta tujuannya, meski pun tidak
sampai terperinci benar!”.
Maka ketahuilah, bahwa ilmu jalan ke akhirat itu adalah dua macam, ilmu mukasyafah dan ilmu mu’amalah.

Yang pertama : ilmu mukasyafah itu ialah ilmu bathin. Dan itulah, kesudahan segala ilmu. Telah berkata setengah arifin (ahli ilmu ma’rifah
yaitu ilmu mengenai Allah Ta’ala) : “Orang yang tidak mempunyai bahagian dari ilmu mukasyafah ini, aku takut akan buruk kesudahannya (tidak
memperoleh husnul-khatimah). Sekurang-kurang bahagian dari padanya, ialah membenarkan ilmu itu dan tunduk kepada ahlinya”.

Berkata yang lain : “Orang yang ada padanya dua perkara, tidak akan terbuka baginya sedikitpun dari ilmu ini, yaitu, berbuat bid’ah atau takabur”.
Ada lagi yang mengatakan : “Barang siapa mencintai dunia atau selalu memperturutkan hawa nafsu, niscaya ia tidak akan yakin kepada ilmu ini dan mungkin ia yakin kepada ilmu-ilmu yang lain. Sekurang-kurangnya penyiksaan terhadap orang yang meng- ingkarinya, ialah tidak merasakan sedikitpun kelezatan ilmu ini”. Ahli yang berkata tadi lalu bermadah :

“Relalah terhadap orang yang telah hilang dari engkau, Oleh kehilangannya.
Maka itu dosa, Ada siksaan padanya “.

Itulah ilmu orang-orang shiddiqin dan muqarrabin. Yakni ilmu mukasyafah.
Yaitu : ibarat cahaya yang lahir dalam hati ketika penyucian dan pembersihannya dari sifat-sifat yang tercela. Dari cahaya itu, tersingkaplah beberapa banyak keadaan, yang tadinya namanya pernah didengar. Maka diragukan pengertiannya yang tidak terurai, lagi tidak jelas. Lalu jelaslah ketika itu, sehingga berhasillah ma’rifat yang hakiki dengan Dzat Allah swt. dan sifatNya yang kekal sempurna, perbuatanNya dan hukumNya pada kejadian dunia dan akhirat. Cara penyusunanNya melebihkan akhirat dari dunia, mengenai arti kenabian dan Nabi, arti Wahyu, arti setan, arti kata-kata Malaikat dan setan-setan, cara permusuhan setan dengan manusia, bagaimana kedatangan malaikat kepada Nabi-nabi, bagaimana sampai wahyu itu kepada Nabi-nabi,mengenal alam malakut langit dan bumi, mengenai hati dan betapa benterokan antara bala tentara malaikat dan setan di dalam hati, mengenai perbedaan antara langkah malaikat dan langkah setan, mengenai akhirat, sorga dan neraka, azab kubur, titian, timbangan, hitungan amal dan maksud dari firman Allah Ta’ala :

(Iqra’ kitaabaka kafaa binafsikal yauma ‘alaika hasiiban). Artinya:
“Bacalah kitabmu! Cukuplah pada hari ini, engkau membuat perhitungan atas dirimu sendiri”. (S. Al-Isra’, ayat 14). dan maksud firman Allah Ta’ala :

(Wa innad daaral aakhirata lahiyal hayawaanu lau-kaanuu yaTa- muim).
Artinya:
“Dan bahwa kampung akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya kalau mereka mengetahui”. (S. AI-Ankabut, ayat 64).
dan arti berjumpa dengan Allah Ta’ala dan memandang kepada wajahNya Yang Maha Mulia,
arti dekat dengan Allah dan bertempat disampingNya, arti memperoleh kebahagiaan dengan menemani alam arwah, Malaikat dan Nabi-nabi.
arti berlebih-kurangnya pang¬kat ahli Sorga, sehingga mereka melihat satu sama lain, seumpama menampak bintang bersinar dilembaian langit dan
lain-lainnya yang panjang kalau dibentangkan. Karena manusia, mengenai pengertian hal-hal yang tersebut di atas sesudah membenarkan pokok-pokok- nya, mempunyai bermacam-macam tingkat. Sebagian mereka berpendapat, bahwa semuanya itu adalah contoh-contoh. Dan yang disediakan oleh Allah untuk hambaNya yang sholih, ialah : sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan ter lintas di dalam hati manusia. Dan tak adalah serta makhluk itu Sorga, selain dari sifat-sifat dan nama-nama.

Setengah berpendapat bahwa sebahagian adalah contoh-contoh dan sebahagian lagi bersesuaian dengan hakikat yang sebenarnya yang dipahami
dari kata-katanya. Demikian juga, sebahagian mereka berpendapat, bahwa kesudahan mengenal Allah Ta’ala ialah mengakui kelemahan diri dari pada mengenalNya. Sebahagian lagi mendakwakan beberapa hal yang agung, tentang mengenal Allah Ta’ala. Ada lagi yang mengatakan, bahwa batas
mengenal Allah Ta’ala itu, ialah apa yang sampai kepada aqidah orang kebanyakan. Yaitu beriman ; bahwa Allah Ta’ala itu ada, maha mengetahui,
maha kuasa, mendengar, melihat dan berkata-kata.

Kami maksudkan dengan ilmu mukasyafah itu ialah bahwa terangkat tutup yang menutupi sehingga jelaslah kenyataan kebenaran Allah pada semuanya itu, dengan sejelas-jelasnya, laksana mata memandang, yang tak diragukan lagi.

Hal yang demikian itu mungkin pada diri (jauhar) manusia, sekiranya tidak cermin hatinya telah tebal dengan karat dan kotor de¬ngan kotoran dunia.

Sesungguhnya kami maksudkan dengan ilmu jalan ke akhirat, ialah ilmu mengenai cara menggosok cermin tersebut, dari kotoran- kotoran tadi,
yang menjadi dinding (hijab) dari pada Allah Ta’ala, daripada mengenai sifat-sifat dan af’alNya. Membersihkan dan mensucikannya ialah dengan
mencegah diri dari menuruti hawa nafsu dan berpegang teguh dalam segala hal, kepada ajaran Nabi-Nabi as.

Maka menurut apa yang cemerlang dari hati dan berbetulan kearah kebenaran, niscaya bergemilanglah hakikatnya. Dan jalan untuk itu, tak
lain dari latihan yang akan datang perinciannya nanti pada tempatnya dam dengan ilmu dan mengajarinya.
Inilah ilmu yang tidak dituliskan dalam kitab-kitab dan tidak diperkatakan oleh orang-orang yang telah dianugerahi oleh Allah Ta’ala dengan sesuatu dari ilmu ini, selain bersama ahlinya. Yaitu dengan
bersama-sama bertukar-pikiran dan dengan cara rahasia.
Inilah ilmu tersembunyi yang dimaksudkan oleh Nabi saw. dengan sabdanya :

(Iaha minal ‘ilmi kahaiatil maknuuni laa ya’lamuhu illaa ahlul ma’rifati billaahi ta’aalaa. Fa-idzaa nathaquu bihii lam yajhalhu illaa ahlul ightiraari billaahi ta’aalaa. Falaa tahqiruu ‘aaliman aataa¬hullaahu ta’aalaa ‘ilman minhu, fa-innallaaha ‘azza wa jalla lam yah- qirhu idz-aataahu iyyaah).
Artinya :”Sesungguhnya sebahagian dari ilmu itu seakan-akan seperti keadaan tertutup yang tidak diketahui, selain oleh ahli yang mengenal(ma’rifat) akan Allah Ta’ala. Apabila mereka mempercakapkannya,
maka tidak ada yang tak mengerti. selain dari orang-orang yang telah tertipu, jauh dari Allah Ta’ala. Dari itu janganlah kamu hinakan seorang yang berilmu, yang dianugerahi oleh Allah Ta’ala ilmu tsb. Karena Allah Ta’ala sendiri tidak menghinakannya karena telah menganugerahinya ilmu tadi”. (1).

Yang kedua : ilmu mu’amalah, ialah ilmu perihal hati (jiwa). Apa yang terpuji dari padanya, seperti sabar, syukur, takut, harap, rela, zuhud, taqwa, sederhana, pemurah, mengenai nikmat Allah Ta’ala dalam segala keadaan, ihsan, baik sangka, baik budi, bagus pergaulan, benar&ikhlas.
Maka mengetahui hakikat hal keadaan ini, batas-batasnya dan sebab-sebabnya yang diusahakan,hasil, tanda dan cara mengobati yang lemah dari padanya, sehingga menjadi kuat dan yang hilang sehingga kembali, adalah termasuk sebahagi¬an dari ilmu akhirat.

Adapun yang tercela yaitu : takut miskin, marah kepada taqdir, menokoh, dengki, busuk hati, menipu, mau tinggi, suka di puji, mencintai lama hidup di dunia untuk bersenang-senang, takabur, riak marah, keras kepala, suka bermusuhan. amarah, loba, kikir, gembira tidak pada tempatnya, angkuh, congkak, bangga dengan kekayaan ditangannya, menghormati orang kaya, menghina orang miskin, gila hormat dan pangkat, suka berlomba secara tidak jujur, menyombong diri menerima kebenaran ;
suka campur soal yang tidak penting, suka banyak bicara, memuji diri, menghias-hiasi budi pekerti, berminyak air, ujub, asyik memperkatakan
kekurang- an orang melupakan kekurangan diri sendiri, hilang perasaan gundah dan takut dari hati, sangat menekan perasaan jiwa apabila tersinggung, lemah hati mencari kebenaran, mengambil teman dha¬hir dari musuh bathin, merasa aman dari kemurkaan Allah Ta’ala, pada menarik apa
saja dari pemberianNya, bersandar kepada ta’at, murka, khianat, tokoh-menokoh, panjang angan-angan, kesat dan kasar hati, gembira dengan
dunia dan berduka cita atas hilangnya, berjinak hati dengan makhluk dan merasa sepi bercerai dengan me¬reka, kaku, ceroboh, tergopoh-gopoh,
kurang malu dan kurang belas kasihan.

Inilah dan yang seumpama dengan ini, dari sifat-sifat hati (jiwa), menjadi sumber perbuatan keji dan tempat tumbuh perbuatan terla-
(1) Dirawikan Abu Abdirrahman As-Salami dari Abu Hurairah, isnad dla’if.

-rang. Lawannya adalah budi pekerti yang terpuji, tempat memancar ta’at dan pendekatan diri kepada Allah Ta’ala.

Maka mengetahui batas-batas hal ini, hakikat, sebab, hasil dan pengobatannya adalah ilmu akhirat dan fardlu ‘aiti menurut fatwa ulama-ulama akhirat. Orang yang membuang muka dari ilmu tersebut, adalah binasa dengan kekuasaan Raja-diraja di akhirat, sebagaimana orang yang membuang muka dari segala pekerjaan dhahir, adalah binasa dengan
kekuasaan pedang raja-raja dunia, berdasarkan fatwa ahli fiqih dunia.

Maka pandangan ulama fiqih mengenai fardlu ‘ain itu, adalah bersandarkan kepada kepentingan dunia, sedang ini, bersandar- kan kepada kepentingan
akhirat. Bila ditanyakan kepada seorang ahli fiqih, tentang arti dari arti-arti ini, umpamanya tentang ikhlas atau tentang tawakkal atau tentang menjaga diri dari sifat ria, ma¬ka ia akan tertegun, sedangkan
karena fardlu ‘ainnya, bila diabai- kan akan mendatangkan kebinasaannya di akhirat. Tetapi coba tanyakan tentang li’an,dhihar,berlomba kuda dan
memanah, nisca¬ya akan diletakkannya dihadapanmu berjilid-jilid buku dengan terperinci yang mendalam, yang menelan banyak waktu, pada hal sedikitpun tidak diperlukan. Kalaupun ada yang diperlukan, nisca¬ya tidaklah kosong negeri, dari orang yang menyanggupinya. Dan cukuplah letih dan payah padanya, lalu senantiasa ia berpayah-payah padanya, malam dan siang, pada menghafal dan mempelajari- nya. Dan melupakan dari apa yang penting dalam agama.

Apabila didesak, maka ahli fiqih itu menjawab : “Aku menghabiskan waktu mempelajarinya karena fiqih itu ilmu agama dan fardlu kifayah”. Ia
mengelabui dirinya dan orang lain pada mempelajarinya.
Orang cerdik itu tahu bahwa kalau adalah maksudnya melaksanakan perintah pada fardlu kifayah, tentu didahulukannya fardlu ‘ain. Bahkan juga akan didahulukannya banyak dari fardlu-fardlu kifayah yang Iain dari ilmu fiqih itu.

Berapa banyak negeri yang tidak berdokter, selain dari orang zimmi (orang kafir yang Adilindungi pemerintah Islam). Orang zimmi itu menurut
hukum fiqih, tidak dapat diterima menjadi saksi me¬ngenai hal yang menyangkut dengan kedokteran.

Kemudian, tidak seorangpun dari orang Islam, kami lihat bekerja dalam lapangan kedokteran. Mereka berlomba-lomba kepa¬da ilmu fiqih, lebih-lebih masalah khilafiah dan perdebatan. Negeri
penuh dengan ulama fiqih, yang bekerja mengeluarkan fatwa dan memberi penjawaban dari peristiwa-peristiwa yang terjadi. Wahai kiranya,
bagaimana ahli-ahli fiqih agama, memurahkan waktunya mengeijakan fardlu kifayah yang telah dikerjakan oleh suatu golong- an. Dan mengabaikan
yang tak ada orang bangun mengerjakannya. Adakah ini mempunyai sebab tertentu? Hanya pengetahuan ke-dokteran itu, tidak mudah menjadi pengurus harta wakaf, harta wasiat, pengawas harta anak yatim, menjadi hakim dan pemerintah, terkemuka dari teman sejawat dan berkuasa menghantam lawan.

Benarlah kiranya, telah terinjak-injak ilmu agama dengan tingkah laku ulama jahat. Maka Allah Ta’ala tempat bermohon pertolongan. KepadaNya
tempat berlindung, kiranya ‘dilindungiNya kita dari penipuan ini, yang membawa kepada amarahNya dan menertawa- kan setan.

Ahli wara’ dari ulama dhahir, mengaku kelebihan ulama bathin dan yang mempunyai mata hati. Imam Asy-Syafi’i ra. pernah duduk dihadapan Syaiban
Pengembala, seperti duduknya seorang anak kecil di maktab,seraya bertanya: “Bagaimana membuat itu dan itu?”

Maka dikatakan kepada Imam Asy-Syafi’i : “Seperti engkau berta¬nya pada Badui ini?”. Maka menjawab Imam Syafi’i : “Sesungguh¬nya ini sesuai
dengan apa yang kami lupakan”.

Imam Ahmad bin Hanbal ra. dan Yahya bin Mu’in selalu pergi menjumpai Ma’ruf Al-Karkhi, padahal dalam ilmu dhahir tak adalah orang lain yang
setingkat dengan keduanya. Imam Ahmad dan Yahya menanyakan :
“Bagaimana?”. Sedang Rasulullah saw. pernah bersabda, ketika ditanyakan : “Apa yang kami perbuat, apabila datang kepada kami suatu persoalan, yang kami tidak peroleh dalam Kitab dan Sunnah?”.
Maka Nabi saw. menjawab :

(Salush shaalihiina waj-‘aluuhu syuuraa bainahum).
Artinya :
“Tanyakunlah kepada orang-orang sholih dan selesaikanlah dengan jalan bermusyawarah dengan mereka”. (1)Dirawikan Ath-Thabrani dari Ibnu Abbas, dipandang lemah oleh kebanyakan ahli hadits.

Karena itulah, dikatakan bahwa ulama dhahir itu adalah hiasan bumi dan kerajaan. Dan ulama bathin adalah hiasan langit dan alam malakut.
Berkata Al-Junaid ra. : “Bertanya As-Sirri guruku- kepadaku pada suatu hari : “Apabila engkau berpindah daripadaku, maka dengan siapa engkau
bercakap-cakap?”. Lalu aku jawab : “Dengan Al-Muhasibi”. Maka ia berkata : “Ya, betul! Ambillah dari ilmunya dan adab kesopanannya! Tinggalkanlah
dari engkau pemecahannya ilmu kalam dan serahkan itu kepada para ulama ilmu kalam sendiri (ulama mutakallimin)! ‘. Kemudian tatkala aku berpisah, aku mendengar dia mengatakan : “Kiranya Allah menjadikan engkau seorang ahli hadits yang sufi. Tidak dija dikan-Nya engkau, seorang sufi yang ahli hadits”. Diisyaratkan oleh As-Sirri, bahwa orang
yang memperoleh hadits dan ilmu, kemudian bertasawwuf, maka akan memperoleh kemenangan. Dan orang yang bertasawwuf sebelum berilmu maka
akan membahayakan bagi dirinya.

    Ihya Ulumuddin Kitab Paling Ditakuti Wahabi (I)

Baru membaca jilid I kitab ihya (ada 4 jilid) saja sudah terbongkar kesesatan-kesesatan ulama-ulama suu’ yang menjadi antek-antek penguasa
(pada zaman beliau dan zaman sekarang seperti ulama2 wahabi) dan faham sesat seperti wahabi…..

-dari masalah aqidah (dengan dalil aqli dan naqli, hadits2 shahih dan riwayat shahih menjelaskan aqidah Ahlusunnah “Allah ada tanpa tempat dan
arah”)

– pengertian bid’ah (lihat pengertian bid’ah yang sangat sesuai dgn ahlusunnah, di sifat-sifat ulama ahirat), – etika seorang ulam (Imam ghazali menjelaskan etika ulama yang tidak menjadi hamba/selalu menshohihkan kelakuan raja walaupun jelas2 kelakuan raja tsb bertentangan dgn sunnah, lihat syaikh2/mufti2 saudi yang menjadi anjing2
raja-raja badwi, lihat fatwa2 mereka yang mengkafirkan muslimin palestine, menyokong saudi sebagai pangkalan musuh islam Amerika)

– Adab sehari-hari dan do’a masnunnah (sangat detail menyebutkan adab-adab dan doa-doa, pantas saja wahabi yang kencingnya selalu berdiri
“Benci sangat” dengan kitab ini).

– Fadhilah-fadhilah dari amal-amal yang wajib sampai amal-amal yang sering dianggap kecil, remeh dan terlupakan  oleh muslimin (Ingat Kaidah
Ahlusunnah dalam masalah “Fadhilah dan Adab” hadits yang tidak seberapa Dhoif masih bisa dipakai asal didukung dan tidak bertentangan dengan
hadits yang lebih Saohih!!)….

Saya sarankan kitab yang sedemikian banyak rahasia-rahasia ilmu dan amal ini dibaca oleh muslimin sekalian agar tidak tersesat oleh aqidah-aqidah diluar ahlusunnah waljamaah (wahabi, JIL, ahmadiyah, dsb)

Bagi yang belum pernah membaca, jangan dulu berkomentar “ingat setiap kata-kata kalian akan dipertanggung jawabkan!!!”

Hari ini, makin ramai nampaknya golongan yang ingin berlagak pandai.
Lagaknya seperti lebih pandai dan bestari dari para ulama terdahulu yang memang sah lebih alim, warak dan kukuh imannya dari mereka semua. Hari ini, wujud generasi yang hanya sekadar graduate dari Al-Azhar, UIA, dan sebagainya yang tak habis-habis mempersoalkan isu-isu yang tidak membawa
kemajuan kepada ummah seperti mempertikaikan kewajiban bermazhab, mengkritik umat Islam yang bertaklid, membida’ahkan sana-sini,
memperdebatkan perkara fiqh yang furu’ dan sebagainya.

Saudara saudari seIslamku! Itu semua tidak membawa faedah yang besar kepada ummah. Ia hanya membawa kepada perpecahan. Salah satu isu yang tak relevan untuk diketengahkan ialah berkenaan kitab Ihya ‘Ulumuddin yang dikarang oleh Imam Al-Ghazali.

Pernah saya mendengar kritik dan ‘suara-suara’ yang bencikan kitab tersebut. Pernah saya mendengar ada golongan yang ingin menghumban kitab tersebut jauh-jauh. Ada orang tak mahu sentuh langsung kitab itu. Ada dakwaan mengatakan kitab Ihya mengandungi banyak hadith-hadith daif dan
maudhuk. Maka kitab tersebut adalah sangat berbahaya!!! Saya adalah dari kalangan yang amat menitikberatkan kedudukan sesuatu hadith. Memandang sepintas lalu pada dakwaan tersebut, maka saya pun nampaknya perlu menjauhi kitab tersebut. Tapi perlukah saya?

Pernahkah kalian terfikir mengapa kitab Ihya ini tetap bertahan walaupun ia dikatakan ada mengandungi hadith-hadith maudhuk (iaitu hadith palsu)?

Untuk menjawab soalan ini, saya akan menterjemahkan artikel yang dijawab oleh Sheikh Amjad Rasheed. Jawapan beliau adalah dalam bentuk audio yang kemudian ditranskripkan oleh Saudari Huma Shah yang merupakan salah
seorang staf di SunniPath . Transkrip tersebut yang berbahasa Arab kemudiannya diterjemahkan dalam Bahasa Inggeris oleh Sheikh Faraz Rabbani yang merupakan seorang tenaga pengajar di SunniPath . Saya berharap terjemahan saya dari Bahasa Inggeris ke Bahasa Malaysia tidak akan lari jauh dari isi artikel yang sebenar.

Sebelum membaca terjemahan yang akan siap tidak lama lagi itu (InsyaAllah) ingin saya nasihatkan kepada sesiapa yang baru ingin berjinak-jinak dengan kitab Ihya ‘Ulumuddin itu supaya meneruskan usaha anda itu. Jangan termakan hasutan puak-puak yang membenci ilmu tasawwuf dan kitab Ihya tersebut. Kepada yang sudah berjinak pula, teruskan pembacaan anda. Kepada yang sudah khatam berjinak, pasti kalian dapat melihat betapa unggulnya kitab masterpiece Imam Al-Ghazali tersebut.

Jangan takut untuk membacanya. Keempat-empat mazhab yang ada mengiktiraf kitab tersebut. Mustahil para ulama terbilang dari keempat-empat mazhab itu terlepas pandang bahaya (iaitu bahaya ancaman api neraka) akibat membaca kitab tersebut.

After all, Ihya deals with your heart. Diseased heart will face great troubles in the Day of Judgement and Ihya tries to prevent it.
*******************************
Keagungan Kitab Ihya’ Ulumuddin

Siapakah yang tidak mengenal kitab Ihya Ulumuddin karya imam al-Ghazali ? namanya sahaja sudah tidak asing di telinga kaum muslimin, dan dibaca umat muslim dengan panduan para ulama di seluruh penjuru dunia.

“Hampir Saja Posisi Ihya Menandingi Al-Qur’an”(maksudnya adalah karena sangat banyaknya umat muslim yang mengulang-ngulang pembacaan
ihya). Sanjungan Tersebut Disampaikan Oleh Tokoh Karismatik `Ulama’ul-Islam Al-Imam Al-Faqih Al-Hafizh Abu Zakariya Muhyiddîn An-Nawawi Atau Lebih Dikenal Dengan Sebutan Imam Nawawi Shahibul-Majmu`,
Yang Hidup Dua Abad Pasca Imam Ghazali.

Quthbil-’Auliya’ As-Sayyid Abdullah Al-`Aydrus Berpesan Kepada Segenap Umat Islam Untuk Selalu Berpegang Teguh Pada Al-Qur’an Dan Sunnah.
Sedangkan Penjelasan Keduanya, Menurut Beliau, Telah Termuat Dalam Kitab Ihya Ulumiddin Karya Imam Ghazali.

Dua Komentar Ulama Tadi Telah Membuktikan Keagungan Kitab Ini Dan Besarnya Anugrah Yang Diraih Oleh Imam Ghazali. Sampai-Sampai Kritikus
Dan Peneliti Hadis Ihya, Al-Imam Al-Faqih Al-Hafîzh Abul Fadhl Al-`Iraqi, Turut Memberikan Apreseasi Positif Terhadap Kitab Yang Ditakhrijnya Itu. Beliau Menempatkan Ihya Sebagai Salah Satu Kitab Teragung Di Tengah-Tengah Khazanah Keilmuan Islam Yang Lain.

Begitu Pula Al-Faqih Al-`Allamah Isma`Il Bin Muhammad Al-Hadhrami Al-Yamani Ketika Ditanya Tentang Karya-Karya Imam Ghazali; Beliau
Menjawab :  “Muhammad Bin Abdillah Adalah Sayyidul-’Anbiya’, Muhammad Bin Idris As-Syafi’i Sayyidul-A’immah, Sedangkan Muhammad Bin Muhammad Bin Muhammad Al-Ghazali Adalah Sayyidul-Mushannifîn“.

Imam al-Iraqi mengatakan dalam takhrij kitab Ihyanya :

 إنه من أجل كتب الإسلام في معرفة الحلال والحرام، جمع فيه بين ظواهر
الأحكام، ونزع إلى سرائر دقت عن الأفهام، لم يقتصر فيه على مجرد الفروع
والمسائل، ولم يتبحر في اللجة بحيث يتعذر الرجوع إلى الساحل، بل مزج فيه
علمي الظاهر والباطن، ومرج معانيها في أحسن المواطن، وسبك فيه نفائس اللفظ
وضبطه، وسلك فيه من النمط أوسطه، مقتدياً بقول علي كرم الله وجهه: خير هذه
الأمة النمط الأوسط يلحق بهم التالي ويرجع إليهم الغالي

“ Kitab Ihya Ulumuddin adalah termasuk kitab Islam paling agung dalam mengetahui halal dan haram, menghimpun hukum hakam zahir, dan mencabutnya kepada rahasia-rahasia yang sangat dalam pemahamannya. Tidak cukup hanya masalah furu’ dan persoalannya, dan tidak pula membiarkan
mengarungi lebih dalam ke dasar samudera sehingga tidak mampu kembali ke tepian, akan tetapi beliau mengumpulkan antara ilmu zahir dan ilmu bathin, menghiasai makna-maknanya dengan sebaik-baik tempatnya.
Menuturkan mutiara-mutiara lafaz dan dhabtntya. Menggunakan manhaj tengah-tengah (adil) karena mengikuti ucapan imam Ali, “ Sebaik-baik
urusna umat ini adalah  yang tengah-tengah, yang diikuti generasi selanjutnya dan orang yang berlebihan kembali padanya “. (Ta’rif al-Ahya bi Fadhail al-Ihya : 9)

Sungguh Agung Sanjungan Ulama-Ulama Tersebut Terhadap Kitab Ihya Dan Al-Ghazali. Karenanya, Tidak Berlebihan Bila Syarih (Komentator) Kitab
Tersebut, Murtadha Az-Zabîdi, Memunculkan Sebuah Imege “Andaikan Masih Ada Nabi Setelah Muhammad Rasulullah,Niscaya Al-Ghazali
Orangnya”. (Ittihaf as-Sadah al-Muttaqin : 19)

Mengenal Ihya Ulumiddin

Dalam penyalinannya, kitab Al-Ihya dianggap sebagai kitab yang sangat hebat karena didalamnya mampu merangkum berbagai jenis Ilmu.
Awalnya penyalinan dilakukan dengan cara tulisan tangan (makhtutoh) sebagaimana DR.Badawi,penulis kitab Muallafat Al-Ghazali, memberi keterangan, awalnya makhtutoh Al Ihya dibuat sebanyak hampir
120 makhtutoh yang kemudian di simpan di perpustakaan-perpustakaan terkenal didunia, seperti Perpustakaan Darul Kutub Al-Misriyyah, Al-Azhar, Paris, Istanbul, Algeria, Teheran dan banyak lagi yang lainnya. Setelah zaman-zaman percetakan, cetakan terus dilakukan dan di perbanyak sehingga menjadi tersebar ke berbagai Negara Muslim.

Pada masa sebelum ada mesin cetak, saat masih
berbentuk makhtutoh, Imam Al-Qutb Sultonul Mala’ As-Syeikh Abdullah bin Abi Bakar Al-Idrus mengatakan; “Surga bagi siapapun yang menulis
kitab Ihya Ulumuddin dengan tangannya dan membaginya menjadi 40 jilid.”
Maka di zaman beliau kitab Ihya Ulumuddin menjadi tersebar ke berbagai penjuru.

Setelah di baca dan pelajari, banyak para ulama yang menjadi terkagum-kagum dengan isi kitab Ihya tersebut. Sampai mereka mengatakan bahwa perbedaan antara Ulama yang bertaqwa dengan Ulama dunia yang sesat adalah hubungan erat mereka dengan kitab-kitab Imam Al-Ghazali. Ulama
yang mencintai kitab Imam Ghazali adalah ulama yang bertaqwa kepada Allah sedangkan yang membencinya adalah para pecinta dunia yang hina.
Sebab, Al-Ghazali dalam kitab-kitabnya banyak mempermalukan dunia dan para pecintanya serta para ulama yang tenggelam dalam kecintaan kepada
dunia.

Disamping Karena Cakupan Materi Yang Tersaji Di Dalamnya, Kitab Ini Juga Ditopang Oleh Jurnalistik Yang Sistematis. Sistematika Penulisan Yang
Begitu Rapi Menjadikan Ihya Lebih Menarik Dan Mudah Dibaca Oleh Berbagai Kalangan; Sederhana, Berbobot, Dan Tidak Terlalu Meluas Dalam Penyajian.
Lagi Pula Istilah-Istilah Rumit Juga Jarang Ditemui Dalam Pembendaharaan Kata Yang Terpakai.

Imam Ghazali Telah Mengkonsep Materi Yang Ditulisnya Dalam Empat Klasifikasi Kajian Pokok. Dari Masing-Masing Klasifikasi Tersebut
Terdapat Sepuluh Entri Pembahasan Utama (Kitab). Secara Global, Isi Keseluruhan Kitabnya Telah Mencakup Tiga Sendi Utama Pengetahuan Islam,
Yakni Syari`At, Thariqat, Dan Haqiqat. Imam Ghazali Juga Telah Mengkoneksikan Ketiganya Dengan Praktis Dan Mudah Ditangkap Oleh Nalar
Pembaca. Sehingga, As-Sayyid Abdullah Al-`Aydrus Memberikan Sebuah Kesimpulan Bahwa Dengan Memahami Kitab Ihya Seseorang Telah Cukup Untuk Meraih Tiga Sendi Agama Islam Tersebut.

Inilah Dibeberapa Alasan Kenapa Kitab Ini Sangat Digemari Oleh Banyak Kalangan. Oleh Fukaha, Ihya Dijadikan Sebagai Rujukan Standar Dalam
Bidang Fikih. Oleh Para Sufi, Kitab Ini Menjadi Materi Pokok Yang Tidak Boleh Ditinggalkan. Kedua Studi Ilmu Tersebut Telah Tercover Dalam Karya Momumental Imam Ghazali Ini. Karenanya Al-Habîb Muhammad Luthfy Bin Yahya, Pimpinan Jam`Iyah Thariqah Mu`Tabarah Nahdiyah Yang Sekaligus Mursyid Thariqah Naqsabandi, Menyebut Ihya Sebagai Panduan Utama Tasawuf Bagi Pemula, Atau Dalam Dunia Tasawuf Dikenal Dengan Istilah
Tasawwuful-Fuqaha’.

Sebenarnya, Tidak Hanya Dua Kelompok Ini Yang Banyak Mereferensi Ihya, Para Teolog Islam Juga Menganggap Penting Untuk Menempatkan Ihya Sebagai Bahan Dasar Kajian. Paradigma Bertauhid Yang Disajikan Imam Ghazali Di Awal Pembahasan Kitab Ihya Sangat Membantu Pada Pencerahan Akal Dalam Proses Penggesaan Allah. Imam Ghazali Mampu Mengarahkan Logika Pembaca Pada Sebuah Kesimpulan Yang Benar Dalam Bertauhid Dengan Nalar Berfikir Yang Tepat Dan Berdiri Kokoh Di Atas Dalil-Dalil Naqli. Ibnu Taimiyyah sendiri yang termasuk pengkritik imam Ghazali, ketika membantah kaum filosof dalam kitabnya Minhaj as-Sunnah, amat sering menukil huruf demi huruf hujjah imam Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah dan menyebutkan contoh-contoh yang disebutkan oleh imam Ghazali.

Koreksi Terhadap Ihya

Meskipun Posisi Ihya Di Tengah-Tengah Keilmuan Islam Sangat Tinggi, Bukan Berarti Kitab Ini Terlepas Sepenuhnya Dari Koreksi Dan Kritik.
Banyak Sekali Komentar Negatif Dan Bantahan Yang Ditujukan Kepada Imam Ghazali Atas Karya Momumentalnya Ini, Utamanya Dalam Studi Hadis Yang Beliau Sajikan.

Hadis-Hadis Ihya Ditengarai Banyak Bermasalah Oleh Beberapa Kritikus Hadis. Keberadaannya Menjadi Sorotan Utama Dan Sebagai Bahan Pokok
Kritikan Para Rival Al-Ghazali, Semisal Al-Hafizh Abul Faraj Abdurrahman Ibnu Al-Jauzi. Ibnul Jauzi Yang Dikenal Anti Ihya Banyak Memfonis Palsu
Pada Hadis-Hadis Yang Ditulis Imam Ghazali Dalam Kitab Tersebut.

Dinamika Inilah Yang Selanjutnya Diangkat Kepermukaan Oleh Kelompok Ekstrimis Dan Orentalis Untuk Menolak Sepenuhnya Isi Kitab Ihya
Ulumiddin. Lebih-Lebih, Kelompok Ini Tanpa Malu-Malu Menyebut Al-Ghazali Sebagai Pemalsu Hadis. Pemalsuan Tersebut, Dalam Pandangan Mereka,
Merupakan Hal Wajar Karena Imam Ghazali Tidak Membidangi Studi Hadis Dalam Kajian Keislamanya.

Membela Ihya Al-Ghazali

Benarkah Al-Ghazali Pemalsu Hadis? Atau Memang Beliau Tidak Membidangi Studi Ini? Dan Apakah Kitab Ihya Banyak Memuat Hadis Palsu Sehingga
Tidak Layak Untuk Dipelajari? Berikut Sebagai Bahan Pertimbangan Ilmiah Sebelum Pembaca Ikut Mengiyakan Tuduhan Tersebut:

Pertama,

Apabila Dikatakan Bahwa Kitab Ihya Banyak Memuat Hadis-Hadis Palsu Dan Tidak Terdapat Landasan Ilmiah Dalam Pembelaannya, Maka Tuduhan Ini Terlalu Tergesa-Gesa. Terhitung, Hanya Tiga Redaksi Hadis Yang Diklaim Maudhû` Oleh Al-Hafizh Al-`Iraqi. Pernyataan tersebut muncul setelah Al Iraqi melakukan takhrij lebih dari 4500 hadis di dalam kitab Ihya.

Al-Imam Zainuddin Al-Iraqi menulis takhrij tentang hadits-hadits yang terdapat dalam Ihya Ulumuddin. Banyak dari hadits hadits tersebut yang sanadnya bersambung. Diantara hadits hadits tersebut ada yang
shahih, hasan, dan dhaif. Juga ada hadits-hadits dimana Al-Imam Zainuddin Al-Iraqi tidak mengetahuinya sehingga beliau menyatakan dengan
pernyataan yang penuh adab dan penghormatan:

لم أجد له أصل

“ saya belum mendapatkan asal usulnya. “

Ketidaktahuan Al-Imam Zainuddin Al-Iraqi tentang asal usul hadits tersebut bukan berarti hadits tersebut langsung menjadi PALSU atau MAUDHU. Beliau mungkin belum mengetahuinya, namun ulama-ulama lain mengetahuinya.

Apabila Kita Memandang Jumlah Hadis Yang Ditampilkan Oleh Imam Ghazali Secara Keseluruhan. Setidaknya, Kuantitas Hadis Imam Ghazali Dalam Kitab Ihya-Nya Telah Setingkat Dengan Beberapa Kitab Sunan, Semisal Sunan Abî
Dâwud, Sunan Nasâ’i, Dan Bahkan Dapat Dikatakan Melebihi Bilangan Hadis Yang Terdapat Dalam Sunan Ibnu Majah.

Banyak pendapat para ulama yang sering dijadikan sandaran untuk melemahkan Ihya, diantaranya pendapat Ibnu Jauzi, Al Iraqi, Assubki.

Imam Ibnu Jauzi berkata :

“Ketahuilah, bahwa kitab Ihya Ulumuddin di dalamnya terdapat banyak kerusakan (penyimpangan) yang tidak diketahui kecuali oleh para ulama.
Penyimpangannya yang paling ringan (dibandingkan
penyimpangan-penyimpangan besar lainnya) adalah hadits-hadits palsu dan batil (yang termaktub di dalamnya), juga hadits-hadits mauquf (ucapan
shahabat atau tabi’in) yang dijadikan sebagai hadits marfu’ (ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Semua itu dinukil oleh penulisnya dari referensinya, meskipun bukan dia yang memalsukannya. Dan (sama sekali) tidak dibenarkan mendekatkan diri (kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala) dengan hadits yang palsu, serta tidak boleh tertipu dengan ucapan yang didustakan (atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).” (Minhaajul Qaashidiin, sebagaimana yang dinukil dalam Majalah Al-Bayaan, edisi 48 hal. 81)

Jika kita ingin memandang lebih jauh, sebenarnya Imam Ibnu Jauzi sama sekali tidak menjatuhkan kitab ilya atau berniat menyingkirkannya dari umat.

Berkata Ibnul Jauzi tentang latar belakang dan metode penyusunan kitabnya:

“Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali memiliki beberapa kekurangan yang hanya pakarahli ilmu (hadits) yang menyadarinya (mengenalinya), seperti pada riwayat yang disandarkan kepada Nabi S.A.W namun ternyata maudhu atau tidak shahih. Oleh karena itu, aku menyusun sebuah kitab yang terbebas dari masalah tersebut tadi, dengan tetap
mempertahankan keutamaan (kebaikan) dari kitab aslinya (Al-Ihya). Dalam kitabku ini, aku bersandar hanya pada riwayat yang asli dan terkenal, dan aku hilangkan atau tambahkan dari kitab aslinya (Al-Ihya) apa yang dirasa perlu.”(Mukhtasar Minhajul Qashidin, Ibnu Daar Al-Manarah Mesir, bab Mukadimah)

Dari keterangan ini Ibnul Jauzi hanya berfokus kepada penelitian ulang derajat hadits-hadits yang ada, kemudian melakukan eliminasi terhadap
hadits-hadits yang maudhu, dhaif dan mauquf dan kemudian beliau gantikan dengan dalil yang shahih dan hasan, sehingga didapatkan sebuah kitab yang kokoh sebagai pegangan. Dan sama sekali tidak mengatakan kitab tersebut sesat, atau harus di singkirkan.

Pernyataan Ibnu Jauzi itu bisa menjadi perbincangan ketika munculnya berbagai sanggahan yang muncul dari banyak para muhadditsin dan ulama yang mendukung Ihya. Diantaranya adalah Imam Jalaluddin Assuyuthi dalam kitabnya Al Qaulul Hasan.

Setelah masa imam al-Iraqi, datanglah seorang ulama besar berasal dari Zabid, Yaman yang bernama Al-Imam Al-Muhaddits Al-Hujjah Muhammad bin Muhammad bin Murtadho Az-Zabidi bersama kitab beliau berisi sepuluh jilid yang merupakan syarah kitab Ihya Ulumuddin. Dalam kitab tersebut Al-Imam Muhammad Az-Zabidi menuliskan asal usul
hadits-hadits pada Ihya Ulumuddin dengan banyak, yang mana sanad itu tidak di ketahui oleh Imam Iraqi. Az-Zabidi berkata :

“Al-Iraqi pernah menyatakan tentang hadits ini dan beliau berkata tidak mengetahui asal usulnya, tetapi saya sudah mendapatkan sumber dan asal usulnya”

Az-Zabidi juga menjawab kritikan beberapa ulama atas imam al-Ghazali seperti ath-Thurthusi, al-Marizi, Ibnu Taimiyyah dan lainnya dengan
jawaban yang cukup ilmiyyah dan memuaskan. Beliau juga menjelaskan dengan bijak dan ilmiyyah beberapa ucapan dalam Ihya yang dinilai para
pengkritiknya bertentangan dengan syare’at.

Beliau juga menyebutkan beberapa hujjah dan pendapat para ulama ahli hadits atas bolehnya menyebutkan riwayat hadits dengan makna yang sering dilakukan imam al-Ghazali di dalam kitab Ihyanya tersebut.

Terkait takhrij yang beliau tampilkan ketika mentakhrij hadits-hadits dalam kitab Ihya Ulumuddin tersebut, metode beliau umumnya tidak jauh berbeda dengan para ulama pendahulunya dan beliau pun lebih melengkapi refrensi takhirj sebelumnya yang tidak diketahui asalnya saat itu oleh al-Iraqi. Maka hadits-hadits Ihya Ulumuddin yang dinilai dhaif oleh al-Iraqi atau az-Zabidi, kemungkinan imam al-Ghazali memakai isnad
lainnya yang dimiliki atau dibaca oleh al-Ghazali dan tidak sampai pada mereka apalagi kita yang hidup sekarang ini. Dan bisa jadi al-Ghazali menggunakan rujukan kitab selain kitab-kitab yang menjadi rujukan al-Iraqi dan az-Zabidi. Az-Zabidi terkadang juga memiliki pandangan yang berbeda dari penilaian ulama hadits lainnya ketika mentakhrij hadits dalam Ihya Ulumuddin.

Sebagai contoh, Hadits :

إذا طنت أذن أحدكم فليذكرني وليصل علي، وليقل: ذكر الله بخير من ذكرني

“ Jika telinga seorang dari kalian berdenging, maka sebutlah aku dan bersholawatlah atasku serta ucapkan, Semoga Allah menyebutkanya dengan
kebaikan bagi orang yang menyebutku “. (HR. Ath-Thabrani)

Hadits ini disebutkan dalam kitab Ihya Ulumuddin oleh al-Ghazali. Hadits ini dinilai palsu oleh Ibnul Jauzi dan al-Albani karena ada perawi bernama Muhamamd bin Ubaidillah bin Abu Rafi’
Al-Hasyimi Al-Kufi yang dinilai Munkarul hadits oleh sebagian ulama jarh.  Namun jumhur ulama hadits menilainya dhaif. Asy-Syakhawi dalam
al-Maqashid al-Hasanah menilainya dhaif.
Al-Iraqi juga menilai sanadnya dhaif.
Al-Ijluni juga menilainya dhaif dan ulama hadits lainnya. Bahkan az-Zabidi sendiri memiliki pandangan berbeda yang menguatkan hadits tersebut, ia berkomentar :

لكن قال الهيثمي: إسناد الطبراني في الكبير حسن. وهذا يبطل من زعم ضعفه
فضلاً عن وضعه كابن الجوزي والعقيلي، ونقل المناوى في شرحه على الجامع أنه
رواه ابن خزيمة في صحيحه باللفظ المذكور عن أبي رافع، وهو ممن التزم تخريج
الصحيح فاعرف ذلك

“ Akan tetapi al-Haitsami mengatakan, “ Isnad ath-Thabarani di dalam al-Mu’jam al-Kabirnya bernilai hasan “. Ini membatalkan hujjah orang yang menilai hadits ini dhaif apalagi menilainya palsu seperti Ibnul Jauzi dan al-‘Uqaili. Al-Munawi menukil dalam syarh Jami’nya bahwasanya hadits itu diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam sahihnya dengan lafadz tersebut dari Abi Rafi’, sedangkan beliau (Ibnu Khuzaimah) termasuk orang yang valid di dalam mentakhrij hadits, maka ketahuilah itu “.

Ini artinya az-Zabidi memiliki penilaian berbeda terhadap riwayat hadits tersebut, di mana al-Iraqi dan ulama lainnya menilainya dhaif dan Ibnul Jauzi menilainya palsu, namun az-Zabidi menilainya hasan dengan bersandar pada hujjah al-Haitsami.

Kedua,

Perlu Dipahami Bahwa hadits-hadits lemah atau beberapa hadits palsu, bukanlah Refensi Utama Imam Ghazali, Malainkan Sekedar Tambahan Dari
Dalil Shahîh Yang Mendasari Ijtihadnya. Imam Ghazali Selalu Mendahulukan Landasan Ijtihadnya Dengan Dasar Yang Shahîh Sebelum Kemudian
Menampilkan Dalil Lain Yang Selevel Atau Di Bawahnya.

Dan Sekali Lagi, Bilangan Tersebut Sangatlah Kecil. Tentu Sangat Na’if Bila Bagian Kecil Dari Kekeliruan (Untuk Tidak Mengatakan Kesalahan
Karena Keduanya Memiliki Perbedaan Makna Yang Signifikan) Tersebut Dapat Menghapus Pada Seluruh Kebenaran Yang Terkandung Dalam Kitab Ihya.
Generalisasi Seperti Ini Merupakan Salah Satu Bentuk Paralogis Yang Biasa Dipakai Oleh Bandit Intelektual Ketika Menghantam Lawan Pemikirannya. Atau Dalam Istilah Kita Disebut Dengan Gebyah Uyah Tanpa Memandang Esensi Kebenaran Lain Yang Lebih Berharga.

Al-Hafidz Ibnu Katsir lebih inshaf (bijak) memandang kitab Ihya Ulumuddin :

وهو كتاب عجيب يشتمل على علوم كثيرة من الشرعيات ، وممزوج بأشياء لطيفة من
التصوف وأعمال القلوب ، لكن فيه أحاديث كثيرة غرائب ومنكرات وموضوعات ، كما
يوجد في غيره من كتب الفروع التي يستدل بها على الحلال والحرام ، فالكتاب
الموضوع للرقائق والترغيب والترهيب أسهل أمراً من غيره

“ Ia adalah kitab bagus (mengaggumkan) yang terdiri dari ilmu-ilmu syare’at yang banyak, berisi perkara-perkara lembut dari isu tasawwuf dan perbuatan-perbuatan hati. Akan tetapi di dalamnya banyak hadits gharib, munkar dan palsu, sebagaimana didapatkan (hadits-hadits itu) di kitab-kitab furu lainnya yang dijadikan dalil atas perkara halal dan
haram. Adapun kitab Ihya Ulumuddin itu, objeknya adalah dalam isu Raqaiq, targhib dan tarhib yang urusan haditsnya lebih ringan dari selainnya “. (al-Bidayah wa an-Nihayah : 12174)

Bahkan al-Imam al-Hafidz Ibnu Hajar sering berhujjah dengan kalam imam al-Ghazali dalam isu hadits di kitabnya at-talkhish al-Habir dan lebih
sering dalam kitabnya Fath al-Bari. Demikian juga al-Hafdiz Ibnu Katsir sering membawakan kalam imam al-Ghazali dalam kitab tafsirnya.

Ketiga,

Apabila Dikatakan Bahwa Imam Ghazali Tidak Kapabel Dalam Studi Hadis Maka Sangat Keliru Sekali. Al-Mustashfâ Karya Al-Ghazali Di Bidang Usul Fikih Cukup Kiranya Untuk Membuktikan Kapabelitas Beliau Dalam Bidang Kajian Hadis. Dalam Kitab Tersebut, Tepatnya Pada Entri Pembahasan Sunnah, Imam Ghazali Telah Panjang Lebar Menuturkan Konsep Dan Perdebatan Ulama Mengenai Dinamika Kajian Hadis, Utamanya Yang Berkenaan Dalam Proses Istinbâtul-Ahkâm. Bahkan, Al-Ghazali Juga Sempat Memberikan Tarjîh Ketika Terjadi Perselisihan Alot Antara Ulama, Baik Itu Yang Muncul Dari Kalangan Ushûliyyin Atau Muhadditsîn.

Dalam sejarah beliau, ketika kembali ke Thus, beliau justru memperdalam ilmu hadits dengan beberapa ulama ahli hadits :

وكان الغزالي لم يتفرغ لدراسة الحديث فأقبل عليه في آخر حياته واستدعى أبا
الفتيان، عمر بن أبي الحسن الرواسي الحافظ الطوسي، و أكرمه وسمع عليه صحيحي
البخاري ومسلم

“ Konon al- Ghazali tidak memfokuskan pelajaran hadits, maka beliau mulai fokus ilmu hadits di akhir hayatnya dan mengajak Abu al-Fatyan Umar bin al Hasan ar-Rawasi al –hafidz ath-Thusi, beliau menghormati al- Ghazali dan mendengarkan (secara sanad) padanya kitab Sahih Bukhari dan Muslim “. (Thabaqat asy-Syafi’iyyah al-Kubra : 6200)

وممن سمع الغزالي عنهم الحديث: أبو سهل محمد بن عبد الله الحفصي، سمع منه
صحيح البخاري

“ Dan di antara ulama yang al-Ghazali belajar hadits darinya adalah; Abu Sahl Muhammad bin Abdullah al-Hafshi, ia belajar (dengan sanad) sahih Bukhari darinya “ (Thabaqat asy-Syafi’iyyah al-Kubra : 6210)

والحاكم أبو الفتح الحاكمي الطوسي سمع منه سنن أبي داود

“ Dan al-Hakim Abul Fath al-Hakimi ath-Thusi, beliau mendengar darinya Sunan Abu Dawud “. (Thabaqat asy-Syafi’iyyah al-Kubra : 6210)

Keempat,

Ancaman Rasulullah SAW Kepada Para Pemalsu Hadis Hanya Tertuju Kepada Pemalsu Yang Sengaja Berspekulatif. Hal Tersebut Terbukti Dari Tambahan
Redaksi `Amdan Atau Muta`Ammi dan Dalam Beberapa Riwâyat Shahîh Dari Kutubis-Sittah. Husnuzh-Zhan Kita, Kesengajaan Dalam Pemalsuan Hadis Tidak Akan Terjadi Pada Ulama Sekaliber Al-Ghazali. Terlalu Rendah Intelektualisme Al-Ghazali Bila Harus Memalsukan Hadis Untuk Menopang
Pemikirannya. Imam Ghazali Sendiri Telah Meletakkan Sebuah Prinsip Bahwa Pemalsuan Hadis Dengan Alasan Apapun Tidak Diperkenankan. Pernyataan Tersebut Sebagai Penangkis Terhadap Dugaan Bolehnya Memalsukan Hadis Untuk Fadha’ilul-A`Mal Atau Pencegah Tindakan Tercela. Menurut Al-Ghazali Keberadaan Ayat Dan Hadis Sahih Telah Cukup Untuk Memenuhi Tujuan Tersebut.

Dari Sini, Kita Dapat Menyimpulkan Bahwa Penulisan Hadis Palsu Dalam Literatur Imam Ghazali Muncul Dari Unsur Ketidak Sengajaan Atau Keliru.
Dalam Pembendaharaan Kata Arab Istilah Yang Dipakai Untuk Menyatakan Makna Ini Adalah Kata Khatha’ Bukan Ghalath. Abu Hilal Al-Hasan Abdullah Bin Sahal Al-`Askari Membedakan Antara Keduanya Dengan Menitiktekankan Terhadap Ada Dan Tidaknya Unsur Kesengajan. Jika Memang Sengaja Maka Disebut Ghalath Dan Khata’ Apabila Sebaliknya.

Kemudian, Kesimpulan Ini Dihadapkan Pada Sabda Nabi Shalllahu ‘alaihi wa sallam “Rufi`A `An Ummati Al-Khata’“, Yakni Diantara Perbuatan Umat
Islam Yang Dimaklumi (Dimaafkan) Adalah Tindakan Yang Muncul Tanpa Adanya Unsur Kesengajaan (Khatha’); Bukan Yang Memang Bertujuan Salah (Ghalath). Karenanya, Tiada Dosa Bagi Tindakan Yang Muncul Tanpa Disengaja. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-`Asqalani Telah Mengutip Adanya Konsesus Ulama Akan Hal Ini, Termasuk Keliru Dalam Meriwayatkan Hadis.

Bahkan imam Al-`Iraqi Juga Memberikan Sebuah Pembelaan Bahwa Sebagaian Dari Hadis Maudhû` Tadi Disampaikan Tanpa Memakai Shighat Riwayat.
Sehingga, Dalam Studi Methodologi Hadis, Imam Ghazali Tidak Dapat Diposisikan Sebagai Perawi Yang Mendapat Ancaman Dari Baginda Nabi
Muhammad Shallahu ‘alaihi wa sallam.

Kelima,

Apabila Kita Bercermin Pada Takhrij Al-Hafizh Al-Iraqi, Maka Tidak Akan Ditemukan Lebih Dari Tiga Hadis Yang Disepakati Kepalsuannya. Namun,
Berbeda Apabila Kita Mengacu Pada Komentar Al-Hafizh Ibnu Al-Jauzi.
Terdapat Sekitar Dua Puluh Lima Hadis Yang Diklaim Maudhû` Olehnya.
Ibnul Jauzi Memang Dikenal Sebagai Ulama Yang Sembrono Dalam Memfonis Palsu Sebuah Hadis. Sikap Kontroversi Ibnul Jauzi Ini Banyak Mendapat
Sorotan Kritis Dari Para Muhadditsîn. Sehingga, Banyak Klaim Yang Dilontarkan Ibnul Jauzi Justru Mendapat Bantahan Balik.

Al-Hafizh Al-`Iraqi Dan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-`Asqalani Memberikan Sanggahan Khusus Terhadap Tuduhan Palsu Ibnul Jauzi Akan Kesahihan Beberapa Riwayat Imam Ahmad. Sedangkan Al-Hafizh Jalaluddîn As-Suyûthi
Menulis Al-Qaul Al-Hasan Fîdz-Dzabbi `Anis-Sunnan Yang Secara Umum Membantah Segenap Tuduhan Palsu Ibnul Jauzi Terhadap Riwayat Imam
Bukhari, Muslim, Ahmad, Dâwud, Turmuzi, Nasâ’i, Ibnu Majah, Mustadrak Al-Hakim, Dan Beberapa Hadis Lagi Di Berbagai Literatur Yang Lain.

Ringkasnya, Sebagaimana Yang Telah Disimpulakan Oleh As-Syaikh Muhammad Mahfûzh Bin Abdullah At-Turmusi, Mayoritas Hadis Yang Diklaim Palsu Oleh Ibnul Jauzi Dalam Beberapa Karya Kritisnya, Semisal Al-Maudhû`At Dan Al-`Ilal Al-Mutanâhiyah, Adalah Hadis Shahîh, Hasan Atau Juga Dha`Îf.
Kesimpulan Ini Diperkuat Dengan Adanya Pernyataan Ibnu Shalah Bahwa Ibnul Jauzi Memang Banyak Memfonis Palsu Terhadap Hadis Dha`Îf Tanpa Ada Dasar Kepalsuan.

Fakta Lain Berbicara Mengejutkan Ketika Kita Menyimak Berbagai Karya Ibnul Jauzi; Tidak Hanya Kedua Kitab Di Atas, Utamanya Di Bidang
Mawâ`Izh Dan Tasawuf, Semisal Bahrud-Dumu` Dan Al-Wafâ Fî Ahwâlil-Mushtafâ. Kedua Kitab Ini Banyak Memuat Hadis Palsu Lebih Dari Isi Kitab Yang Ia Kritisi. Sampai-Sampai, Dr. Ibrâhîm Bâjis Bin Abdul Majid Dan Dr. Mushtafâ Abdul Qadîr `Atha Terkejut Akan Kenyataan Ini.
Sosok Ibnul Jauzi Yang Terbilang Berlebihan Dalam Kritik Hadis Dan Keras Menentang Cerita-Cerita Aneh, Justru Karya-Karyanya Dipenuhi Oleh Kedua
Hal Tersebut. Ibnul Atsir Sejarawan Abad VII Juga Menyatakan Keterkejutan Serupa Dalam Al-Kâmil Fî At-Târikh-Nya.

Untuk Itu Tidak Salah Apabila Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-`Asqalani Memberikan Sebuah Kritik Pedas Bahwa “Mayoritas Riwayat Yang Termuat
Dalam Karya-Karya Ibnul Jauzi (Selain Kitab Kritik Hadisnya) Adalah Maudhû’. Riwayat Yang Perlu Dikritisi Lebih Banyak Daripada Yang Tidak”.
Bahkan Ibnul Jauzi Tidak Segan Untuk Mengutip Sebuah Riwayat Dari Karya Yang Pernah Dikritisinya, Atau Sekedar Menukil Hadis-Hadis Yang Telah Difonis Palsu Dalam Kitab Al-Maudhû`Ât-Nya.

Namun, Bukan Berarti Menyerang Balik Terhadap Sebuah Kenyataan Yang Sama Pahitnya. Menyimak Fakta Ini, Kita Juga Perlu Bersikap Bijak Tanpa
Mengkesampingkan Etika Intelektualitas Melalui Sisi Pandang Kebenaran Yang Lain.

Keenam

Mengenai Perselisihan Dalam Status Hukum Maudhû` Yang Muncul Dari Penilaian Imam Hadis Selain Ibnul Jauzi, Cukup Kiranya Diketahui Bahwa
Hal Tersebut Masih Dalam Ranah Ijtihadi Yang Tidak Perlu Dielukan.
Penilaian Muhaddits Dalam Studi Kritiknya Memang Cenderung Beragam, Karena Fonis Palsu Dalam Kritik Hadis Hanyalah Aplikasi Dari Sebuah
Praduga Yang Tidak Menutup Adanya Kemungkinan Keliru. Lebih-Lebih, Apabila Kritik Diarahkan Pada Mata Rantai Periwayatan.

Dan Lagi, Jumlah Yang Diperselisihkan Itu Terbilang Sangat Sedikit;
Tidak Lebih Dari Tiga Redaksi Hadis. Diantaranya Adalah Hadis Yang Menyebutkan Keutamaan Membaca Fâtihatul-Kitâb Dan Dua Ayat Dari Surat
Ali ImranYang Diklaim Palsu Oleh Imam Ibnu Hibbân. Di Dalam Rangkaian Sanad Hadis Tersebut Terdapat Al-Haris Bin ‘AmirYang Menurut Ibnu Hibbân Sebagai Sosok Periwayat Hadis Palsu. Namun, Tuduhan Ini Dibantah Oleh
Al-Hafizh Al-`Iraqi. Al-Hafizh Melandasi Bantahannya Pada Label Tsiqqah Yang Telah Diberikan Oleh Hammad Bin Zaid, Ibnu Mu`In, Abu Zar`Ah, Abu Hatim, Dan Imam Nasâ’i Kepada Al-Haris Bin `Amîr.

Penutup

Wal Hasil, Sebesar Apapun Kritikan Terhadap Ihya Ulumiddin Secara Khusus Dan Literatur-Literatur Salaf Yang Lain Secara Umum Tidak Akan Mengurangi Nilai Kebesaran Yang Telah Diraihnya. Pembuktian Secara Ilmiyah Dan Obyektif Telah Memberikan Bantahan Nyata Terhadap Kritik Dan
Tuduhan Yang Tidak Berdasar Itu. Sejarah Juga Turut Menjadi Bukti Akan Kebesaran Mereka. Mereka Telah Memberikan Sumbangsih Yang Tiada Ternilai Untuk Islam. Lalu Apa Yang Telah Kita Berikan Kepada Islam?

Wallahu A`Lam.

Bughyah al-Mustarsyidin Kitab “ Bughyah al-Mustarsyidin fi Talkhish Fatawa Ba’dh al-Aimmah al-Muta-akhkhirin”

(بغية المسترشدين في تلخيص فتاوى بعض الأئمة
المتأخرين

merupakan sebuah kitab fiqh yang menghimpunkan ringkas dari berbagai fatwa para ulama mazhab Syafi’i yang muta-akhirin (kebelakangan). Usaha penyusunan kitab ini dilakukan oleh al-‘Allamah Sayyid ‘Abdur Rahman bin Muhammad bin Husain bin ‘Umar Ba ‘Alawi al-Hadhrami (1250-1320), seorang tokoh ulama mazhab Syafi’i yang terkenal dan mufti bagi negeri
Hadhramaut, Yaman pada zamannya.

Berikut adalah nama-nama ulama yang dikumpulkan fatwa-fatwa mereka dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin;

a)     Imam al-‘Allamah Abdullah bin al-Husain bin Abdullah Bafaqih,
b)     al-Sayyid al-‘Allamah Abdullah bin ‘Umar bin Abu Bakr bin Yahya,
c)      Imam al-‘Allamah Alawy bin Saqaf bin Muhammad al-Jafri,
d)     Imam al-‘Allamah Muhammad bin Abi Bakar al-Asykhari al-Yamani
e)  Imam al-Syaikh al-‘Allamah al-Muhaqqiq Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi al- Madany.

Menurut al-‘Allamah Sayyid ‘Abdur Rahman Ba’alawi, beliau menyusun kitab Bughyah al-Mustarsyidin ini adalah untuk menampilkan karya yang mudah dibaca dan difahami tanpa perlu berlakunya pengulangan dalam berbagai perbahasan yang ada dari berbagai pendapat tersebut. Sayyid Abdurrahman Ba’lawi menyusun kitab ini secara sistematik sehingga beberapa persoalan yang ada dengan mudah dapat difahami dengan disertai jawapannya
sekaligus. Dikatakan sistematik, kerana dalam kitab ini berbagai permasalahan diletakkan  secara teratur dan sesuai dengan bab-bab fiqh sebagaimana susunan kitab-kitab fiqh yang lain. Hal ini kerana sebelumnya, berbagai fatwa ini berserakan dan tidak teratur secara
sistematik sehingga mendorong Sayyid Abdurrahman bin Muhammad Ba ‘Alawi menyusun kitab ini bagi memudahkan rujukan dan pembacaan oleh para siswa atau murid-murid yang tertarik mengkaji berbagai fatwa tersebut.

Oleh kerana kitab ini merupakan ringkasan dari kumpulan fatwa para ulama’, maka untuk memudahkan identifikasi fatwa masing-masing imam yang ditulis dalam kitab ini, Sayyid Abdurrahman Ba’lawi membuat tanda atau rumuz yang mewakili  para ulama tersebut. Berikut adalah rumuz tersebut;

a)     Imam Abdullah Bafaqih, ditulis   ب,
b)     Imam Abdullah bin Yahya, ditulis ي,
c)      Imam Alawy bin Tsaqaf bin Muhammad al-Jafri, ditulis ج,
d)      Imam Muhammad bin Abi Bakar al-Asykhari al- Yamani, ditulis ش,
e)     Imam Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi al-Madany, ditulis ك.

Disamping itu, Sayyid Abdurrahman Ba’lawi juga menuliskanفائدة(faidah) untuk menunjukkan bahawa fatwa yang dikeluarkan mempunyai beberapa faidah yang sangat baik nuntuk diketahui khalayak. Ia mengatakan bahawadalam menulis berbagai fatwa ini, ia juga menambah atau mengurangibeberapa kata dari fatwa asal agar sesuai dan relevan. Sebagaimana layaknya seorang editor, Abdurrahman Ba’lawi mensinkronkan antara fatwa dengan berbagai improvisasi yang ia lakukan agar karya ini mudah difahami dan sistematis. Bahkan dalam beberapa hal, penambahan tersebut merupakan pendapat pribadinya.

Namun demikian, sebagaimana dinyatakan Azyumardi Azra, bahawa dalam penulisan kitab kuning, tidak disertakan rujukan (referensi) dan footnote disebabkan tradisi akademik yang berlaku waktu itu belum terkondisikan seperti sekarang. Dengan demikian sulit untuk menentukan secara pasti apakah yang ditulis di dalam kitab kuning merupakan pendapat peribadi atau pendapat orang lain.                           


Sayyid Abdur Rahman Ba’alawi juga menambahkan catatan-catatan lain dalam sistematika penulisan kitabnya sebagai berikut:

a)     Jika dalam suatu masalah terdapat dua ulama atau lebih yang menyepakatinya maka ia tuliskan satu persatu siapa saja ulama’ yang
menyepakati sesuai dengan simbolnya masing-masing. Sedangkan jika ada salah satu ulama yang menambahkan pemahaman lain atau sedikit berbeda maka ia menuliskannya dengan kata:  كذا فلان زادatau  كذلك خالف..

b)     Jika dalam suatu masalah terdapat qayyid atau khilaf sedangkan imam yang memberi fatwa belum menyebutkannya, maka ia menambahkan simbol
اھـdi akhir kalimat, lalu ia tambahkan keterangan qayyid atau khilaf dari tersebut dengan sebelumnya menyebut kata قلتagar pembaca mengetahui dari mana keterangan tambahan tersebut bermula.

Sebagaimana kitab-kitab fiqh lainnya, kitab Bughyah al-Murtasyidin, secara umum, ditulis dengan sistematika pembahasan sebagaimana berikut:

a)  Khutbah al-Kitab (muqaddimah). Dalam bahagaian ini Sayyid Abdurrahman Ba’alwi menghuraikan tentang bagaimana penulisan kitab ini, isi tulisan dan menukil beberapa pendapat ulama tentang mencari ilmu dan faidah-faidahnya.

b)    Kitab al-Thaharah. Dalam bahagian ini diulas mengenai air, najis, wudlu, cara buang air kecil dan besar, mandi, tayamum dan diakhiri dengan pembahasan haid.

c)    Kitab al-Shalat. Dalam bahagian ini dihuraikan mengenai adzan, kiblat, rukun shalat, sunnah-sunnah shalat, dzikir dan do’a, syarat-syarat shalat, hal-hal yang membatalkan shalat, hal-hal yang makruh dalam shalat, aurat shalat, sujud sahwi, tilawah dan syukur, shalat-shalat sunnah, shalat jama’ah, shalat musafir, shalat orang yang sakit, shalat juma’at, shalat dalam peperangan, shalat ied, shalat gerhana, shalat isitisqa’, hukum bagi orang yang meninggalkan shalat, shalat janazah, ta’ziyah dan ziarah kubur.

d) Kitab al-Zakat. Dalam bahagian ini dihuraikan mengenai syarat harta yang wajib dizakati, harta-harta yang wajib dizakati, zakat fitrah, dan macam -macam shadaqah.

e)  Kitab al-Shaum. Dalam bahagian ini dihuraikan tentang syarat-syarat puasa, puasa-puasa sunnah dan iktikaf.

f)     Kitab al-Hajj. Pada bahagian ini dikaji seputar haji yakni syarat rukun haji, hal- hal yang diharamkan bagi orang yang ihram, hukum memberikan upah di dalam ibaah haji dan wasiyat untuk beribadah haji.

g)     Kitab al-Bai’. Dalam bahagian ini dibahas mengenai riba, salam, rahn, sulh, orang yang muflis dalam usaha, syirkah, wakalah, iqrar,
ariyah, ghasab, syuf’ah, qiradl, masaqah dan mugharasah, ihya al-amwat, ji’alah, wakaf, hibah, luqathah, dan wadi’ah.

h)  Kitab al-Fara’idh. Dalam bahagian ini dikaji tentang sebab-sebab warisan dan bahagian-bahagiannya, dan wasiyat.

i)   Kitab al-Nikah. Pada bahagian ini syarat rukun nikah, kafa’ah, mahar, walimah, nusuz, thalak, ruju’, nafaqah, dan hadhanah

j)       Kitab al-Jinayah. Pada bahagian ini diulas mengenai diyat, had, jihad, janji dan nadzar, persaksian, dan sumpah.

k)  Bagian penutup, yakni ulasan Sayyid Abdurrahman Ba’lawi tentang beberapa faidah yang ada di dalam al-Qur’an, keutamaan sejarah Nabi dan sahabat, keutamaan ahlul bait dan wasilah.

Kitab Bughyah al-Mustarsyidinini telah diterbitkan oleh beberapa syarikat penerbitan dalam satu jilid. Semoga bermanfaat.

****************************

  kitab Bughyatul Mustarsyidin

Di sebutkan dlm kitab Bughyatul Mustarsyidin bahwasanya jika melakukan perkara2 dibawah ini ketika buat hajat akan menyebabkan sesuatu yg tdk kita inginkan terhadap diri kita, yaitu sbb ;

1. Meludah keatas kotoran yg dikeluarkan akan menyebabkan org itu suka was-was dan menyebabkan giginya kuning serta akan terkena penyakit yg berhubungan dg darah

2. Bersiwak / sikat gigi sambil buang hajat akan menyebabkan penyakit lupa dan kebutaan

3. Lama duduk ketika buang hajat akan menyebabkan penyakit hati dan wasir

4. Mengeluarkan ingus ketika buang hajat akan menyebabkan ketulian

5. Menggerakkan cincin ketika buang hajat akan menyebabkan syaithon tinggal di dalamnya

6. Berbicara dg pembicaraan yg tdk di perlukan ketika buang hajat akan menyebabkan kemurkaan dari Allah SWT

7. Mematikan kutu rambut saat buang hajat akan menyebabkan syaithon akan tinggal bersamanya selama 40hari melalaikan dari Allah

8. Memejamkan mata saat buang hajat akan menyebabkan kemunafikan

9. Mengeluarkan gigi palsu dan meletakkan kedua tangan di atas kepala ketika itu akan menyebabkan keras hati dan hilangnya rasa malu serta penyakit lepra

10. Bersandar ketika buang hajat akan menyebabkan hilangnya air muka dan dapat membesarkan perut

11. Membuang batu istinja / sejenisnya ke arah kotoran yg di keluarkan, akan menyebabkan org tsb terkena penyakit angin

Semoga bermanfaat !!!

************************

  Hukum Merokok ketika Sedang Berpuasa

Puasa adalah menahan makan dan minum yang dimulai sejak fajar sampai masuknya waktu adzan maghrib, akan tetapi di kalangan masyarakat kita terdapat beberapa persoalan tentang bagaimana hukumnya orang yang sedang berpuasa tetapi dia menghisap rokok?
Hal-hal yang dapat membatalkan puasa salah satunya adalah masuknya sesuatu/’ain (seperti air, minuman atau makanan) melalui beberapa lubang yang terdapat di dalam anggota tubuh yang bisa sampai ke lambung. Begitu juga dengan asap dari hisapan rokok, apabila seseorang sedang berpuasa dan dia menghisap rokok, maka hukumnya adalah: Membatalkan puasa, karena asap rokok itu mengandung nikotin dan nikotin tersebut adalah termasuk
kategori ‘ain. Diterangkan dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin;

(فَائِدَةٌ) لاَ يَضُرُّ وُصُوْلُ الرِّيْحِ بِالشَّمِّ وَكَذَا مِنَ الْفَمِّ كَرَاءِحَةِ الْبُخُوْرِ أَوْ غَيْرِهِ اِلَى
الْجَوْفِ وَاِنْ تَعَمَّدَهُ لِأَنَّهُ لَيْسَ عَيْناً وَخَرَجَ بِهِ ماَ فِيْهِ عَيْنٌ كَرَاءِحَةِ النُتْنِ يَعْنِى
اَلتَّنْباَكُ لَعَنَ اللهُ مِنْ أَحَدِثِهِ لِأَنَّهُ مِنَ اْلبِدْعِ اْلقَبِيْحَةِ فَيَفْطُرُ بِهِ. (بغية المستر
شدين باب شروط الصوم، ص 111)

Tidak membatalkan puasa sampainya angin dengan indra pencium, begitu juga menghirup angin atau asap melalui mulut (tidak membatalkan puasa)  walaupun disengaja, karena bukan merupakan ‘ain (benda), dikecualikan hal yang ada ‘ainnya seperti asap rokok (tembakau) yang dapat  membatalkan puasa karena termasuk katagori memasukkan ‘ain (nekotin) dan juga termasuk bid’ah yang jelek. (Bughyah al-Mustarsyidin, bab Syurut as-Shaum, hal. 111) Memang sebelumnya Imam Zayyadi pernah berpendapat bahwa merokok tidaklah membatalkan puasa, karena beliau mengira asap yang dihasilkan dari rokok itu sama saja dengan asap pada umumnya dan tidak termasuk kategori ‘ain, tetapi setelah beliau mengetahui kenyataannya secara pasti bahwa asap yang dihasilkan dari rokok tersebut ada kandungan nikotinnya, maka Imam Zayyadi merevisi pendapatnya yang pertama yaitu: Merokok tidak membatalkan puasa direvisi dengan pendapatnya yang kedua yaitu: Merokok dapat membatalkan puasa. Hal ini diterangkan dalam kitab Bughyah al-Mustarsyidin, bab Syurut al-Shaum. hal.111-112.

(فَائِدَةٌ) لاَ يَضُرُّ وُصُوْلُ الرِّيْحِ بِالشَّمِّ وَكَذَا مِنَ الْفَمِّ كَرَاءِحَةِ الْبُخُوْرِ أَوْ غَيْرِهِ اِلَى
الْجَوْفِ وَاِنْ تَعَمَّدَهُ لِأَنَّهُ لَيْسَ عَيْناً وَخَرَجَ بِهِ ماَ فِيْهِ عَيْنٌ كَرَاءِحَةِ النُتْنِ يَعْنِى
اَلتَّنْباَكُ لَعَنَ اللهُ مِنْ أَحَدِثِهِ لِأَنَّهُ مِنَ اْلبِدْعِ اْلقَبِيْحَةِ فَيَفْطُرُ بِهِ , وَقَدْ أَفْتىَ ز.ي.
بَعْدَ أَنْ أَفْتَى اَوَّلاً بِعَدَمِ اْلفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَرَاهُ اهـ ش.ق. (بغية المستر شدين باب
شروط الصوم  ص 111-112)

Tidak membatalkan puasa sampainya angin dengan indra pencium, begitu juga menghirup angin atau asap melalui mulut (tidak membatalkan puasa)
walaupun disengaja, karena bukan merupakan ‘ain (benda), dikecualikan hal yang ada ‘ainnya seperti asap rokok (tembakau) yang dapat
 membatalkan puasa karena termasuk katagori memasukkan ‘ain (nekotin) dan juga termasuk bid’ah yang jelek. Dan sesungguhnya Imam zayyadi telah memberikan fatwa seperti ini (merokok ternyata membatalkan puasa)
sesudah beliau memberikan fatwa pertama yaitu tidak batalnya pusa karena merokok, sebelum beliau mengetahui kenyataannya secara pasti. (Bughyah al-Mustarsyidin, bab Syurut al-Shaum, hal. 111-112)

*******************************

Penjelasan Hukum Tembakau dalam Kitab: BUGHYATUL MUSTARSYIDIN

Kitab Bughyah

Sebuah kitab yang merupakan ringkasan Fatwa-fatwa beberapa Imam, Ulama Muta-akhirin serta faidah-faidah penting dari kitab-kitab 6 Ulama Mujtahid. Karangan Sayid Abdur Rahman bin Muhammad bin Husain bin Umar Ba ’Alawi (Mufti Hadhramaut)

(Pemasalahan): Tembakau yang dikenal sebagai perbuatan yang keji karena dapat menghilangkan keadaan (kesehatan atau kesadaran) dan harta. Orang yang memakan, menghirup atau mengisapnya bukanlah termasuk orang yang memiliki rasa malu (muru’ah).

Sesungguhnya telah berfatwa para Imam Ahli Shufi seperti Al-Quthub Tuan Abdullah bin Alwi al-Haddad dan al-’Allamah Ahmad al-Hadwan, sebagaimana telah disebutkan oleh Al-Quthub Ahmad bin Umar bin Sumaith dari kedua Imam tersebut atau selainnya yang serupa pendapatnya. Bahkan tercelanya
diungkapkan lagi oleh al-Habib al-Imam Husain bin Syekh bin Abu Bakar bin Salim yang berkata: ’dikhawatirkan orang yang tidak bertaubat dari menghisap tembakau sebelum matinya akan mati dalam keadaan Su-ul Khatimah, wal ’Iyaadzu billaahi ta’aala’.

Dan telah melengkapi uraian di dalamnya, nukilan al-’Allamah Abdullah Baswedan dalam kitab Faidhul Asraar dan Syarh Khutbah. Dan menyebutkan pula beberapa pengarang kitab mengenai keharamannya, seperti al-Qolyubi dan Ibnu ’Allan, yang meriwayatkan hadits di dalamnya.

Dan berkata al-Hasawi dalam Tatsbitul Fu-ad min Kalaami al-Haddad:
‘Saya berkata: Saya melihat dalam kitab Tafsir al-Muqni’ul Kabiir, bersabda Nabi Saw: “Wahai Abu Hurairah akan datang beberapa kaum di akhir zaman yang mengekalkan menghisap rokok (pohon tembakau ini) dan mereka berkata: kami sekalian termasuk sebagian umat Muhammad SAW, dan  padahal mereka bukanlah termasuk daripada umatku dan aku tidak mengakui mereka sebagai umat, tetapi mereka itu merupakan sebagian umat yang liar. Berkata Abu Hurairah: “Aku bertanya kepada Nabi SAW dari apakah tumbuhnya?”. Rasulullah menjawab: “Sesungguhnya tembakau itu tumbuh dari kencing iblis*. *Apakah tetap iman di hati seseorang yang menghisap kencing setan? maka di laknat orang yang menanamnya, yang memindahkannya, dan yang menjual belikannya. Telah bersabda nabi SAW Allah akan memasukan mereka kedalam api neraka  Bahwasanya pohon tembakau itu pohon yang keji.”

Dan saya melihat tulisan al-’Allamah Ahmad bin Hasan al-Haddad dalam Tatsbitul Fu-ad, ‘Saya mendengar sebagian Muhibbin (para Awliya Pencinta Allah) berkata: “Dahulu ada orang yang mengisap Tutun  (tembakau) secara sembunyi dan ia termasuk orang yang mengasihi para Ulama keluarga al-Haddad, ketika ia mati aku melihatnya dan aku bertanya: ‘Apa yang Allah perbuat denganmu?’ Mereka berkata: ‘Telah memberikan syafa’at kepadaku seorang Ulama yang terdahulu kecuali masalah tembakau, sesungguhnya tembakau itu menyakitiku’. Dan aku melihat di dalam kuburnya terdapat lubang dan mengeluarkan asap yang menyakitinya’. Dan Muhibbin itu berkata: ‘Sesungguhnya syafa’at Awliya itu terhalang oleh perbuatan mengisap tembakau (merokok). Saya melihat orang-orang yang (dikenal) shalih tetapi ia mengisap tembakau, maka aku melihat sesudah matinya berkata: ‘Sesungguhnya orang yang menghirup tembakau itu mendapatkan separuh dosa peminum (arak), maka hindarilah dari orang yang mengisap tembakau itu’. Dan berkata seorang Wali yang Mukasyafah Asy-Syarif Abdul Aziz ad-Dabbagh:
‘Telah sepakat orang-orang Ahli Dewan para Wali atas keharaman Tutun ini, dst.’

*************************

      Habib `Abdur Rahman al-Masyhur, pengarang kitab Bughyatul Mustarsyidin

Seorang penuntut ilmu, istimewa yang mengaji fiqh mazhab Syafi`i, pasti kenal dengan sebuah kitab himpunan fatwa yang dinamakan” *Bughyatul Mustarsyidin*”. Kitab ini adalah antara karya al-Habib `Abdur Rahman bin Muhammad bin Husain bin `Umar al-Masyhur rahimahumullah ulama yang diberi jolokan sebagai `Allaamah Hadhramaut, Faqih Hadhramaut, Rais Hadhramaut, Abu Tarim dan beragam lain laqab kemuliaan dan penghormatan.Beliau dilahirkan di Kota Tarim pada 29 Sya’ban 1250H.
Ayahanda beliau, Habib Muhammad al-Masyhur adalah seorang `alim yang khumul, manakala bonda beliau adalah Syarifah Syaikhah binti `Abdur Rahman bin `Ali al-Haddad, seorang wanita yang sholehah lagi berilmu tinggi. Dalam keluarga yang penuh keshalihan dan ilmu inilah al-Habib `Abdur Rahman dibesarkan. Selain kepada kedua orang tuanya, beliau menuntut ilmu dengan para ulama lain di Tarim, antaranya dengan al-Habib `Umar bin Hasan al-Haddad, Habib Muhammad bin Ibrahim BilFaqih, Habib Muhsin bin `Alwi as-Saqqaf, Syaikh Muhammad bin `Abdullah BaSaudan dan
Habib `Abdullah bin Husain bin Thahirrahimahumullah. Di tangan Habib`Umar bin Hasan al-Haddad, sempat beliau mengaji kitab-kitab sebesar _Minhaj Imam an-Nawawi, Tuhfah Imam Ibnu Hajar dan _Shahih Imam al-Bukhari.  Beliau turut mendalami pengajian tasawwufnya dengan Habib Hasan bin Shaleh al-Bahr, Habib Abu Bakar bin `Abdullah al-Aththas dan Habib Ahmad bin Muhammad al-Muhdhar rahimahumullah.

Habib `Abdur Rahman termasuk penuntut yang tinggi kesungguhan dalam mencari pengetahuan. Selama di Tarim, beliau mengikuti 12 mata pelajaran daripada guru-gurunya dengan berpandukan 12 syarah kitab dan 7 hasyiahnya. Sering juga beliau berulang alik ke Seiwun dengan berjalan kaki semata-mata untuk mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh guru-gurunya di sana. Tidak hanya Tarim dan Seiwun, Habib `Abdur Rahman telah menjelajah berbagai pelosok Hadhramaut dan al-Haramain demi mencari ilmu sehingga beliau menjadi seorang yang benar-benar alim dalam berbagai cabang ilmu seperti tawhid, fiqh, tasawwuf, hadits, tafsir, falak dan ilmu-ilmu alat, sekalipun usia beliau masih tergolong muda belia.

Ketika guru beliau, Habib Ahmad bin `Ali al-Junaid, wafat, beliau dilantik untuk menggantikan posisi gurunya. Pengajian-pengajiannya dilaksanakan di berbagai tempat di Tarim. Di kediamannya sendiri turut diadakan majlis-majlis taklim umum dan khusus. Juga beliau diamanahkan untuk menjadi mudir pertama bagi Rubath Tarim yang masyhur itu. Beliau menghabiskan sebahagian besar waktunya untuk berkhidmat kepada umat.
Kalau tidak berdakwah dan mengajar, beliau sentiasa menyibukkan dirinya dengan menulis, merumuskan fatwa atau mentelaah segala kitab. Beliau juga menulis jadwal shalat untuk kegunaan masyarakat.

Ibadah beliau juga luar biasa. Sejak kecil lagi beliau sudah bangun malam untuk beribadah kepada Yang Maha Esa. Amalan -amalan sunnat, baik berupa shalat maupun puasa, sentiasa menjadi wiridnya selain bacaan al-Quran, zikir dan shalawat. Shalat fardhunya sentiasa berjemaah, bahkan beliau telah menjalankan tugas menjadi imam di Masjid Syaikh `Ali bin Abu Bakar as-Sakran selama 40 tahun. Di masjid tersebut jualah tempat beliau sering beruzlah dan berkhalwat untuk beberapa waktu. Kitab *Bughyatul Mustarsyidin* itu ditulisnya ketika sedang menjalani khalwat di masjid tersebut. Selain Bughyah, beliau mempunyai beberapa karya lain, antaranya, Ikhtisar Fatawi Ibnu Ziyad dan  Syamsudz Dzahirah*.

Habib `Abdur Rahman al-Masyhur juga berjaya mencetak murid-murid yang menjadi ulama besar seperti Habib Muhammad bin Hadi as-Saqqaf, Habib Muhammad bin Hasan `Aidid, Habib `Abdullah bin `Alwi al-Habsyi, Habib `Abdullah bin `Umar asy-Syathiri, Habib `Abdul Bari bin Syaikh al-`Adyrus, Habib Ahmad bin `Abdur Rahman as-Saqqaf, Habib `Alwi bin `Abdullah bin Syihab, Habib `Ali bin `Abdur Rahman al-Masyhur dan Habib `Alwi bin Abdur Rahman al-Masyhur.

Habib `Abdur Rahman al-Masyhur tutup usia pada hari Jumaat, 15 Shafar 1320H dan dimakamkan pada kesokan harinya. Beliau dimakamkan di permakaman Zanbal setelah shalat jenazahnya diimamkan oleh anakanda beliau, Habib `Ali bin `Abdur Rahman al-Masyhur. Semoga beliau dirahmati sentiasa oleh Yang Maha Esa dan diberi sebaik-baik balasan di sana
….aaamiiin….al-Fatihah.
***********************************

Aspek Sosial, (03) Menikahi Wanita Hamil Akibat Perzinaan

Deskripsi Masalah :

Seorang laki-laki (A) sebelum menikah dengan seorang perempuan (B) sudah mengadakan hubungan seks lebih dahulu, setelah (B) hamil, baru dilaksanakan pernikahan. Kemudian (B) melahirkan seorang anak perempuan (C), setelah dewasa (C) dikawinkan dengan seorang pemuda (D) sedangkan yang menjadi walinya adalah (A) dan dari perkawinan (C) + (D) itu lahir seorang anak (E).

Pertanyaan :

a)   Apakah perkawinan (C) + (D) sah?

b)   Apakah (E) menjadi anak yang sah bagi (D)?

c)   Apakah (C) menjadi anak yang sah bagi (A)?

Jawaban :

Dalam masalah ini, yang harus dilihat adalah kondisi sebagai berikut:

a).Jika jelas (C) itu berasal dari sperma perzinaan (A) + (B), maka perkawinan (C) dan (D) tidak sah dengan wali (A)

b).Akan tetapi jika tidak berasal dari perzinaan mereka maka yang harus dilihat lagi adalah hal-hal sbb:

i).jika (C) lahir sesudah enam bulan lebih dihitung sejak akad nikah, dengan kemungkinan adanya persetubuhan antara (A) + (B), maka pernikahan (C) + (D), hukumnya sah,

ii).atau tidak diketahui kapan (C) lahir,

iii).atau tidak diketahui adanya kemungkinan persetubuhan antara (A) + (B),

maka menurut qoul yang rajih (pendapat yang kuat) pernikahan (C) + (D) juga sah, sepanjang (C) tidak dinafikan oleh (A) lewat li’an (artinya (C) tetap diakui oleh (A) sebagai anaknya.

Keterangan dari kitab:

a).Kifayatul Akhyar:

*َوْنَكَحَ شَخْصٌ اِمْرَأَةً حَامِلاً مِنَ الزِّنَا صَحَّ نِكَاحُهُ بِلاَخِلاَفٍ

Artinya: Jika seorang laki-laki menikah dengan wanita hamil hasil perzinaan, maka status pernikahannya sah tanpa diperselisihkan

b).Bughyah al-Mustarsyidin:

(مسئلة ي ش) يَجُوْزُ نِكَاحُ الحَامِلِ مِنَ الزِّنَا سَوَاءٌ الزَّنِي وَغَيْرُهُ وَوَطْئُهَا حِيْنَئِذٍ مَعَ
الْكَرَهَةِ

Artinya: Hukum pernikahan wanita hamil hasil perzinaan itu adalah boleh, baik dengan laki-laki yang menzinainya maupun tidak, dan pada masa hamil ini, hukum melakukan hubungan seksual adalah makruh

c).Bujairomi Iqna’:

تَنْبِيْهٌ : عُلِمَ مِنْ كَلاَمِ اْلمُصَنِّفِ أنَّ اْلبِنْتَ اْلمَخْلُوْقَةَ مِنْ مَاءِ زِنَاهُ سَوَاءٌ تَحَقَّقَ انَّهَا
مِنْ مَائِهِ اَمْ لاَ تَحِلُّ لَهُ لأَنَّهَا أَجْنَبِيَةً اِذْ لاَ حُرُمَةَ لِمَاءِ الزِّنَا كَمَا قَالَ اْلمُخَالِفُ
وَهُوَ اَبُوْ حَنِيْفَةَ فَإِنَّهُ يَقُوْلُ إِنَّ اْلبِنْتَ اْلمَخْلُوْقَة مِنْ مَاءِ زِنَاهُ لاَ تَحِلّ لَهُ وَمَعَ ذَلِكَ
قَالَ لاَ تَرِثُهُ فَقَوْلُهَا لاَ تَحِلُّ لَهُ فِيْهِ اِثْبَاتُ اْلمَحْرَمِيَةِ لَهَا.

Artinya: Tanbih: dari pembicaraan mushanif diketahui bahwa status kenasaban wanita yang dilahirkan dari hasih hubungan perzinaan dengan laki-laki yang menikahi ibunya itu adalah ajnabiyyah, baik spermanya benar-benar berasal dari laki-laki yang menghamili ibunya maupun tidak, sebab hinanya sperma perzinaan, sebagaimana pandangan imam Abu Hanifah yang menyatakan bahwa anak wanita yang dihasilkan dari hubungan seks bebas itu tidak layak untuk diintisabkan nasabnya kepadanya, begitu juga masalah waris-mewaris. Karenanyalah tidak layak baginya penetapan status kemahraman padanya.

d).Ghoyatu Talkhishil Murad:

مَسْأَلَةٌ : نَكَحَ حَامِلاً مِنَ الزِّنَا فَاتَتْ بِوَلَدٍ لِزَمَنِ اِمْكَانِهِ مِنْهُ فَإِنْ وَلَدَتْ لِشِتَّةِ اَشْهُرٍ
وَلَحْظَتَيْنِ مِنْ عَقْدِهِ وَاِمْكَانِهِ وَطْئِهِ مِنْهُ لحِقة وَكَذَا إِنْ جَهِلَتْ المُدَّةُ وَلَمْ يُدْرِ هَلْ
وَلَدَتْهُ لِمُدَّةٍ الاِمْكَانِ اَوْ لِدُوْنِهَا

Artinya: Seorang laki-laki yang menikah dengan wanita hamil hasil hubungan seks bebas itu, status anak yang dilahirkannya harus menunggu masa yang memungkinkannya wanita tersebut hamil, yaitu: masa 6 bulan dan masa minimal nifas terhitung dari pasca terjadinya proses akad pernikahan, dan kemungkinan dilakukannya hubungan seksual pasca akand pernikahan. Begitu juga kasus tidak diketahuinya secara jelas tentang masa kehamilannya dalam hal apakah memenuhi masa 6 bulan pasca akad nikah ataupun kurang dari 6 bulan.
************************
بغية المسترشدين

في

تلخيص فتاوى بعض الأئمة من العلماء المتأخرين

مع ضم فوائد جمة من كتب شتى

للعلماء المجتهدين

جمع

السيد عبد الرحمن بن محمد بن حسين بن عمر

المشهور با علوي مفتى الديار

الحضرمية رحمه الله

ونفع بعلومه

آمين

{من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين}

[حديث شريف]

بسم الله الرحمن الرحيم

     الحمد لله رب العالمين، نحمده بجميع المحامد كلها عدّ الكلم، على جميع نعمه كلها ما علم منها وما لم يعلم، ونشكره سبحانه وتعالى على أياديه وإحسانه ما خص منهما وعم، والصلاة والسلام على سيدنا وحبيبنا وشفيعنا محمد المخصوص بأكمل الكمالات والشفاعة العظمى من الإله الأكرم، وعلى آله وأصحابه وحملة شريعته وتابعيهم على المنهج الأقوم، عدد أنفاس وخطرات الموجودات ما جرى قلم.

     أما بعد: فقد منَّ الله وله الفضل دائماً على عبده الفقير “الشريف الحضرمي” باختصار فتاوى سادتي العلماء الأجلاء الفحول، المعوّل على كلامهم والمرجوع لقولهم في المعقول والمنقول، وهم: الإمام العلامة النحرير عديم المشاكل والنظير: عبد الله بن الحسين بن عبد الله بافقيه، والسيد العلامة ذو اليقين والعزم وكثرة الاطلاع وجودة الفهم: عبد الله بن عمر بن أبي بكر بن يحيى، والشريف العلامة ذو الفهم الثاقب والرأي الصائب: علوي بن سقاف بن محمد الجعفري العلويون الحضرميون، والشيخ العلامة البحر الخضمّ: محمد بن أبي بكر الأشخر اليمني، والشيخ العلامة المحقق: محمد بن سليمان الكردي المدني.

     فلخصت حاصل كل سؤال وجواب بأوجز عبارة، على حسب علمي وركة فهمي، مع حذف التكرير، ورددت كل مسألة في غير محلها إلى مظنتها من تقديم أو تأخير، وأردت الآن جمع الكل في هذا السفر، إغناء للطالب عن كثرة المراجعة والفكر، وجعلت لكل واحد من الخمسة المذكورين علامة صدّرت بها السؤال، فخذها مرتبة كترتيبهم في المقال: فللأوّل ب، والثاني ي، والثالث ج، والرابع ش، والخامس ك. وإذا اتفق في المسألة إثنان فأكثر رمزت للكل، فإن زاد واحد أو خالف ذكرت ذلك فقلت: زاد فلان كذا، أو خالف كذلك، وحيث كان في المسألة قيد أو خلاف ونحوه ولم ينبه عليه صاحب الفتاوى كتبت آخرها، اهـ، ثم ذكرت الزيادة المذكورة قائلاً في أوّلها: قلت: ليعلم الأصل من المزيد. وزدت على هؤلاء الفتاويات فوائد معزوّة لقائليها ملخصة عزيزة الوجود مهمة، استفدتها قبل من أفواه المشايخ وكتب الأئمة، وميزتها عن تلك الفتاوى بتصديرها “بفائدة” وسنح في خاطري أيضاً أن ألخص بعض المسائل التي سئلت عنها ولم تكن في تلك الفتاويات، وأضيفها إليها مهملة عن الرمز، ليعرف الغثّ من السمين، ويردها إلى الصواب من رأى بها نقصاً من تحريف أو مين، وجعلت جميع ذلك بعبارات قريبة ظاهرة خوف التطويل المملّ والتعقيد المخلّ، حسبما يلقيه العليم الحكيم بجناني، ويجريه على لساني وبناني.

     واعلم أني بعد أن منّ الله تعالى عليّ بإكمال هذا المجموع وانتشاره في البلاد، حصلت لي سؤالات وفوائد أخر علقتها في الهامش ثم خفت ضياعها، فعزمت مستعيناً بمولاي على أن أضعها في مظانها خلال هذا التأليف فأثبتها كذلك، وتصرفت في بعض عبارات الأصل بزيادة وحذف وتقديم وتأخير إتماماً للفائدة، فزاد بما ذكر نحو الربع فكان من حقه أن يسمى: (تكملة بغية المسترشدين) ومن الله الكريم أسأل المعونة والتسديد، وصلاح النية والهداية لأرشد الطريق السديد.

     ومن وقف عليه وتحقق فيه زلة أو مخالفة لكلام من نقلت عنه أن يصلحه حالاً من غير توان، وله الأجر من الكريم المنان. اللهم وفقنا لإصابة الصواب، وجنبنا الزيغ والارتياب، وانفعنا والمسلمين بما حواه هذا الكتاب آمين.

مقدمة في فوائد تتعلق بخطب الكتب، وفي فضيلة العلم،

وفي الاجتهاد والإفتاء والتقليد

     [فائدة]: أتى لفظ الرب لمعان نظمها بعضهم فقال:

قريب محيط مالك ومدبر >< مرب كثير الخير والمول للنعم

وخالقنا المعبود جابر كسرنا >< ومصلحنا والصاحب الثابت القدم

وجامعنا والسيد احفظ فهذه >< معان أتت للرب فادع لمن نظم

اهـ من حاشية الشيخ إبراهيم الباجوري على شرح ابن قاسم. فائدة]: قال سم: إذا صرف العبد جميع ما أنعم الله به عليه في آن واحد لما خلق به سمي شكوراً وإن صرفها في أوقات مختلفة يسمى شاكراً. قال ع ش: ويمكن صرفها في آن واحد بحمله جنازة متفكراً في مصنوعاته سبحانه وتعالى اهـ.

     [فائدة]: قال بعضهم الفضائل سبع: الصدق، والحياء، والتواضع، والسخاء، والوفاء، والعلم، وأداء الأمانة اهـ حاشية الشيخ سليمان الجمل على شرح المنهج. واعلم أن لهم شريعة وهي: أن تعبده تعالى، فعبادة الله تعالى شريعة عندهم؛ لأنها المقصودة منها، وإن كانت الشريعة عند الفقهاء ما شرعه الله تعالى من الأحكام، وطريقة وهي: أن تقصدهم بالعلم والعمل، وحقيقة وهي نتيجتهما، وهي أن تشهد بنور أودعه الله في سويداء القلب أي وسطه، أن كل باطن له ظاهر وعكسه كخرق الخضر للسفينة، وإن كان منكراً ظاهراً فهو جائز في الباطن؛ لأنه سبب لنجاة السفينة من الملك، والأولى أن تعرف الحقيقة بعلم بواطن الأمور، كعلم الخضر بأن ما فعله مع موسى عليهما السلام من خرق السفينة وغيرها فيه مصلحة، وإن كان ظاهره مفسدة في البعض، والشريعة ظاهر الحقيقة، والحقيقة باطنها، وهما متلازمان معنىً كما سبق. ومثلت الثلاثة بالجوزة، فالشريعة كالقشر الظاهر، والطريقة كاللب الخفي، والحقيقة كالدهن الذي في باطن اللب، ولا يتوصل إلى اللب إلا بخرق القشر، ولا إلى الدهن إلا بدق اللب اهـ من حاشية البجيرمي على الإقناع.

     [فائدة]: قال بعض الفضلاء: صلاة الآدميين عليه صلوات الله وسلامه عليه أفضل من صلاة الملائكة، إذ طاعة البشر أفضل من طاعة الملائكة، لأن الله كلفهم مع وجود صوارف، ومحل كراهة إفراد الصلاة عن السلام، وعكسه في غير ما ورد في الإفراد وفي حقنا ولغير داخل الحجرة الشريفة، قال ابن حجر: ولفظاً لا خطاً فلا يكره الإفراد فيه اهـ حاشية المدابغي. وقوله : “من صلّى عليّ في كتاب الخ” أي: كتب الصلاة وإن لم يتلفظ بذلك، لأنه تسبب في صلاة كل من قرأ ذلك المكتوب، نعم التلفظ بها أكمل، ولم يرسل إلى الجنّ غير نبينا عليه الصلاة والسلام، وأما سليمان عليه السلام فكان حكماً فيهم اهـ تكملة فتح المعين للشيخ عبد الله باسودان.

     [فائدة]: قال بعض الشيوخ: وقد منّ الله عليّ باستخراج عدد الأنبياء من اسم محمد وهم مائة ألف وأربعة وعشرون ألفاً كعدة أصحابه الذين توفى عنهم، ولم يكن فيهم أصم في حياة النبي كرامة له، وطريق الاستخراج أن تضرب عدد حروفه بالجمل الصغير، وهو جعل جميع الحروف آحاداً فهي حينئذ عشرون: الميمات بثمانية، والحاء كذلك، والدال بأربعة في مثلها تبلغ أربعمائة، ثم تضربها في كل عقود الرسل وهي ثلاثمائة وعشرة وتحذف الآحاد تخرج مائة ألف وأربعة وعشرون ألفاً، اهـ حاشية البجيرمي على الإقناع، ثم قال:

     واعلم: أنه يجب الإيمان بالأنبياء إجمالاً فيما لم يرد فيه التفصيل، وتفصيلاً فيما ورد فيه ذلك، كالذين ورد ذكرهم في القرآن وهم خمسة وعشرون مجموعون في قول القائل:

ختم على كل ذي التكليف معرفة  >< بأنبياء على التفصيل قد علموا

في تلك حجتنا منهم ثمانية >< من بعد عشر ويبقى سبعة وهم

إدريس هود شعيب صالح وكذا >< ذو الكفل آدم بالمختار قد ختموا  اهـ.

     [فائدة]: هذه الأبيات في نسب المصطفى عليه أكمل الصلاة والسلام، من حملها أو قالها أو كانت عنده أمن من كل مكروه، وحفظ في نفسه وماله وأهله وذريته، كما قاله ابن الجوزي وهي:

محمد عبد الله شيبة هاشم >< مناف قصيّ مع كلاب ومرة

وكعب لؤي غالب فهر مالك >< ونضر كنانة وهو ابن خزيمة

ومدركة وإلياس مع مضر تلا >< نزار معدّ ثم عدنان صحة  اهـ.

     [فائدة]: قال ابن حجر في الإيعاب: وهو أي الصحابي على الأصح من اجتمع بالنبي مؤمناً ومات كذلك ولو لحظة، فدخل الأعمى وغير المميز، ومن اجتمع به وآمن من الجنّ لأنه بعث إليهم، وخرج الملائكة ومن رآه بعد موته أو قبل البعثة أو في السماء إلا عيسى عليه السلام اهـ.

فضيلة العلم تعلماً وتعليما

     قال بعضهم: إذا جمع المتعلم العقل والأدب وحسن الفهم، والمعلم الصبر والتواضع وحسن الخلق، فقد تمت النعم عليهما، وأنشد آخر فقال:

أخي لن تنال العلم إلا بستة >< سأنبيك عن تفصيلها ببيان

ذكاء وحرص واجتهاد وبلغة >< وإرشاد أستاذ وطول زمان. اهـ باجوري.

     [فائدة]: قال الحسن البصري رحمه الله: صرير قلم العالم تسبيح، وكتابه العلم، والنظر فيه عبادة، ومداده كدم الشهيد، وإذا قام من قبره نظر إليه أهل الجمع، ويحشر مع الأنبياء، وقال عليه الصلاة والسلام: “من اتكأ على يده عالم كتب الله له بكل خطوة عتق رقبة، ومن قبَّل رأس عالم كتب الله له بكل شعرة حسنة”، وتدارس العلم ساعة من الليل أفضل من إحيائه بغيره، ومدارسته أفضل من الذكر وقوله : ” حتى الحيتان في الماء” إنما خصها بالذكر لكونها لا لسان لها. اهـ بجيرمي. وقال أبو الليث: من جلس عند عالم ولم يقدر على حفظ شيء من العلم نال سبع كرامات: فضل المتعلمين، وحبسه عن الذنوب، ونزول الرحمة عليه حال خروجه من بيته، وإذا نزلت الرحمة على أهل الحلقة حصل له نصيبه، ويكتب له طاعة ما دام مستمعاً، وإذا ضاق قلبه لعدم الفهم صار غمه وسيلة إلى حضرة الله تعالى لقوله: “أنا عند المنكسرة قلوبهم من أجلي” أي جابرهم وناصرهم، ويروى: عز العالم وذل الفاسق، فيرد قلبه عن الفسق ويميل طبعه إلى العلم. وقال أيضاً: من جلس مع ثمانية أصناف زاده الله ثمانية أشياء: من جلس مع الأغنياء زاده الله حب الدنيا والرغبة فيها، ومن جلس مع الفقراء حصل له الشكر والرضا بقسمة الله تعالى، ومن جلس مع السلطان زاده الله القسوة والكبر، ومن جلس مع النساء زاده الله الجهل والشهوة، ومن جلس مع الصبيان ازداد من اللهو، ومن جلس مع الفساق ازداد من الجراءة على الذنوب وتسويف التوبة أي تأخيرها، ومن جلس مع الصالحين ازداد رغبة في الطاعات، ومن جلس مع العلماء ازداد من العلم والعمل، اهـ بجيرمي على الإقناع. وقال الإمام الشافعي رضي الله عنه: من تعلم القرآن عظمت قيمته، ومن تعلم الفقه نبل قدره، ومن كتب الحديث قويت حجته، ومن تعلم الحساب جزل رأيه، ومن تعلم العربية رق طبعه، ومن لم يصن نفسه لم ينفعه علمه، اهـ من النجم الوهاج. قال الإمام الغزالي: أربع لا يعرف قدرها إلا أربعة: لا يعرف قدر الحياة إلا الموتى، ولا قدر الصحة إلا أهل السقم، ولا قدر الشباب إلا أهل الهرم، ولا قدر الغنى إلا أهل الفقر اهـ

     [فائدة]: حقيقة الفقه ما وقع في القلب وظهر على اللسان، فأفاد العلم وأورث الخشية، ولهذا قال النووي: إنما لم يظهر على العلماء كرامات كالعباد مع أنهم أفضل منهم لما يدخل عليهم من الرياء.

     (مسألة: ك): قال رجل لأبي هريرة رضي الله عنه: إني أريد أن أتعلم العلم وأخاف أن أضيعه، فقال: كفى بتركك للعلم إضاعة. وقال الإمام: من مكايد الشيطان ترك العمل خوفاً من أن يقول الناس إنه مراء، لأن تطهير العمل من نزغات الشيطان بالكلية متعذر، فلو وقفنا العبادة على الكمال لتعذر الاشتغال بشيء من العبادات، وذلك يوجب البطالة التي هي أقصى غرض الشيطان.

     (مسألة: ش): من آداب حامل القرآن فضلاً عن العالم أن يكون شريف النفس، مرتفعاً عن الجبابرة والجفاة من أبناء الدنيا، وقال الفقيه الجرجاني:

ولم أبتذل في خدمة العلم مهجتي >< لأخدم من لاقيت لكن لأخدما

أأشقى به غرساً وأجنيه ذلة >< إذاً فاتباع الجهل قد كان أحزما

ولو أن أهل العلم صانوه صانهم >< ولو عظموه في الصدور لعظما

ولكن أهانوه فهانوا ودنسوا >< محياه بالأطماع حتى تجهما

     وفي البخاري: لا ينبغي لأحد عنده شيء من العلم أن يضع نفسه. وورد: “من أكرم عالماً فقد أكرم الله ورسوله”. فخدمة أهل الفضل من أعظم القرب، ومن تعظيم شعائر الله تعالى وحرماته إجماعاً.

      (مسألة: ي): لا يحل لعالم أن يذكر مسألة لمن يعلم أنه يقع بمعرفتها في تساهل في الدين ووقوع في مفسدة، إذ العلم إما نافع: كالواجبات العينية يجب ذكره لكل أحد، أو ضار: كالحيل المسقطة للزكاة، وكل ما يوافق الهوى ويجلب حطام الدنيا، لا يجوز ذكره لمن يعلم أنه يعمل به، أو يعلمه من يعمل به، أو فيه ضرر ونفع، فإن ترجحت منافعه ذكره وإلا فلا، ويجب على العلماء والحكام تعليم الجهال ما لا بد منه مما يصح به الإسلام من العقائد، وتصح به الصلاة والصوم من الأحكام الظاهرة، وكذا الزكاة والحج حيث وجب.

     (مسألة: ب): الفرق بين الشك والوسوسة أن الشك هو التردد في الوقوع وعدمه، وهو اعتقاد أن يتقاوم تساويهما، لا مزية لأحدهما على الآخر، فإن جح أحدهما لرجحان المحكوم به على نقيضه فهو الظن وضده الوهم. أما الوسوسة فهي: حديث النفس والشيطان لا تنبني على أصل، بخلاف الشك فينبني عليه، كأخبار من لا يقبل، وتأخير الصلاة تأخيراً مفرطاً، وكثياب من عادته مباشرة النجاسة، وكالصلاة خلف من عادته التساهل، فالاحتياط مطلوب، فإن لم يكن شيء من ذلك فهي الوسوسة التي هي من البدع كأن يتوهم النجاسة، فالاحتياط حينئذ ترك الاحتياط.

     [فائدة]: المشابهة: اتفاق الشيئين في الكيفية. المساواة: اتفاقهما كمية. المشاكلة: اتفاقهما نوعية. المماثلة: اتفاقهما خاصية. الموازنة: اجتماع الأربعة. الحفظ: حصول الصورة في العقل واستحكامها بحيث لو زالت لتمكنت القوة من استرجاعها. التذكر: محاولة استرجاع تلك الصورة إذا زالت. الذكر: رجوعها بعد المحاولة. المعرفة: إدراك الجزئيات كالعلم: إدراك الكليات. الفهم: تصوّر الشيء من لفظ المخاطب. الإفهام: إيصال معنى اللفظ إلى فهم السامع. الفقه: العلم بغرض المخاطب في خطابه. العقل: العلم بصفات الأشياء حسنها وقبيحها وكمالها ونقصانها. الدراية: المعرفة الحاصلة بطرف من التخيل. الجهل: معرفة الأشياء لا بحقائقها. اليقين: اعتقاد أن الأمر كذا وامتناع خلافه. الذهن: قوّة النفس عى اكتساب العلوم الغير الحاصلة. الفكر: انتقال الروح من التصديقات الحاضرة إلى المحضرة. الحدس: وجدان شيء متوسط بين طرفي المجهول لتصير النسبة بالمجهول معلومة. لذكاء: شدة هذا الحدس وكماله. الخاطر: حركة النفس نحو تحصيل الدليل. الوهم: اعتقاد المرجوح. الظن: اعتقاد الراجح. البديهة: المعرفة الحاصلة ابتداء في النفس بسبب الفكر، اهـ من خط الشيخ محمد باسودان

     [فائدة]: ذكر الإمام الشعراني في الطبقات عن أبي المواهب الشاذلي قال: إثبات المسألة بدليلها تحقيق، وإثباتها بدليل آخر تدقيق، والتعبير عنها بفائق العبارة ترقيق، ومراعاة علم المعاني والبيان في تركيبها تنميق، والسلامة من اعتراض الشارع فيها توفيق، اللهم ارزقنا التوفيق، اهـ من خط بعضهم.

الاجتهاد والإفتاء والتقليد

     [فائدة]: قال الإمام الشعراني في زبد العلوم والميزان: وأما أصول الفقه فترجع إلى مراتب الأوامر والنواهي التي جاءت في الكتاب والسنة، وإلى معرفة ما أجمع عليه الأئمة، وما قاسوه، وما ولدوه بالاجتهاد من طريق الاستنباط، ويجمع كل من الأوامر والنواهي مرتبتين تخفيفاً وتشديداً، فمن وجد في نفسه ضعفاً أخذ بالتخفيف، أو قوة فبالأشد. وجميع أحاديث الشريعة وما بني عليها من أقوال المجتهدين إلى يوم الدين لا يخرج عن هذا، فما ثم حكم يناقض حكماً أبداً ولا يصادمه، وهذا أطلعني الله تعالى عليه، لم يظفر به أحد من المجتهدين، فمن تحقق به لم ير في الشريعة وفي أقوال العلماء خلافاً قط، ومن تحقق بما تحقق به أهل الله تعالى من الكشف والتحقيق شهد جميع ما ولده المجتهدون، مأخوذاً من شعاع الشريعة ولم يخطىء أحداً منهم اهـ.

     [فائدة]: إذا أطلق الاجتهاد فالمراد به المطلق، وهو في الأصل بذل المجهود في طلب المقصود، ويرادفه التحري والتوخي، ثم استعمل استنباط الأحكام من الكتاب والسنة، وقد انقطع من نحو الثلاثمائة، وادّعى السيوطي بقاءه إلى آخر الزمان مستدلاً بحديث: “يبعث الله على رأس كل مائة من يجدد” الخ، وردّ بأن المراد بمن يجدد أمر الدين: من يقرر الشرائع والأحكام لا المجتهد المطلق، وخرج به مجتهد المذهب وهو: من يستنبط الأحكام من قواعد إمامه كالمزني، ومجتهد الفتوى وهو: من يقدر على الترجيح في الأقوال كالشيخين لا كابن حجر و (م ر)، فلم يبلغا رتبة الترجيح بل مقلدان فقط، وقال بعضهم: بل لهما الترجيح في بعض المسائل، بل وللشبراملسي أيضاً، اهـ باجوري.

     [فائدة]: قال في فتاوى ابن حجر: ليس لمن قرأ كتاباً أو كتباً ولم يتأهل للافتاء أن يفتي إلا فيما علم من مذهبه علماً جازماً، كوجوب النية في الوضوء ونقضه بمس الذكر، نعم إن نقل له الحكم عن مفت أخر أو عن كتاب موثوق به جاز، وهو ناقل لا مفت، وليس له الإفتاء فيما لم يجده مسطوراً، وإن وجد له نظيراً، وحينئذ المتبحر في الفقه هو من أحاط بأصول إمامه في كل باب، وهي مرتبة أصحاب الوجوه، وقد انقطعت من نحو أربعمائة سنة اهـ.

     (مسألة: ك): شخص طلب العلم، وأكثر من مطالعة الكتب المؤلفة من التفسير والحديث والفقه، وكان ذا فهم وذكاء، فتحكم في رأيه أن جملة هذه الأمة ضلوا وأضلوا عن أصل الدين وطريق سيد المرسلين ، فرفض جميع مؤلفات أهل العلم، ولم يلتزم مذهباً، بل عدل إلى الاجتهاد، وادّعى الاستنباط من الكتاب والسنة بزعمه، وليس فيه شروط الاجتهاد المعتبرة عند أهل العلم، ومع ذلك يلزم الأمة الأخذ بقوله ويوجب متابعته، فهذا الشخص المذكور المدَّعي الاجتهاد يجب عليه الرجوع إلى الحق ورفض الدعاوى الباطلة، وإذ طرح مؤلفات أهل الشرع فليت شعري بماذا يتمسك؟ فإنه لم يدرك النبي عليه الصلاة والسلام، ولا أحداً من أصحابه رضوان الله عليهم، فإن كان عنده شيء من العلم فهو من مؤلفات أهل الشرع، وحيث كانت على ضلالة فمن أين وقع على الهدى؟ فليبينه لنا فإن كتب الأئمة الأربعة رضوان الله عليهم ومقلديهم جلّ مأخذها من الكتاب والسنة، وكيف أخذ هو ما يخالفها؟ ودعواه الاجتهاد اليوم في غاية البعد كيف؟ وقد قال الشيخان وسبقهما الفخر الرازي: الناس اليوم كالمجمعين على أنه لا مجتهد، ونقل ابن حجر عن بعض الأصوليين: أنه لم يوجد بعد عصر الشافعي مجتهد أي: مستقل، وهذا الإمام السيوطي مع سعة اطلاعه وباعه في العلوم وتفننه بما لم يسبق إليه ادعى الاجتهاد النسبي لا الاستقلالي، فلم يسلم له وقد نافت مؤلفاته على الخمسمائة، وأما حمل الناس على مذهبه فغير جائز، وإن فرض أنه مجتهد مستقل ككل مجتهد.

     (مسألة: ي ش): يحرم على المفتي التساهل في الفتيا وسؤال من عرف بذلك، إما لعدم التثبت والمسارعة في الجواب، أو لغرض فاسد كتتبع الحيل ولو مكروهة، والتمسك بالشبه للترخيص على من يرجو نفعه والتعسير على ضده، نعم إن طلب حيلة لا شبهة فيها ولا تجرّ إلى مفسدة، بل ليتخلص بها السائل عن نحو اليمين في نحو الطلاق فلا بأس بل ربما تندب.

     (مسألة ش): تجب، على مفت، إجابة مستفت في واقعة يترتب عليها الإثم بسبب الترك أو الفعل، وذلك في الواجب أو المحرم على التراخي إن لم يأت وقت الحاجة وإلا فعلى الفور، فإن لم يترتب عليها ذلك فسنة مؤكدة، بل إن كان على سبيل مذاكرة العلم التي هي من أسباب إحيائه ففرض كفاية، ولا ينبغي الجواب بلا أدري إلا إن كان صادقاً، أو ترتب على الجواب محذور كإثارة فتنة، وأما الحديث الوارد في كتم العلم فمحمول على علم واجب تعليمه ولم يمنع منه عذر كخوف على معصوم، وذلك كمن يسأل عن الإسلام والصلاة والحلال والحرام، ولو كان العالم بالغاً درجة الفتوى في مذهبه وعلم أمراً فأفتى به بحكم ولم يمتثل أمره، فله الحمل عليه قهراً بنفسه أو بغيره، إذ تجب طاعة المفتي فيما أفتى به.ونقل السمهودي عن الشافعي ومالك أن للعالم وإن لم يكن قاضياً أن يعزر بالضرب والحبس وغيرهما من رأى استحقاقه إذ يجب امتثال أمره.

     (مسألة: ي): اعلم أن العبارات الواردة في مسألة واحدة التي ظاهرها التنافي والتخالف إذا أمكن الجمع بينها من غير تعسف وجب المصير إليه ويكون الأمر من المتفق عليه، وأن إطلاقات الأئمة إذا تناولت شيئاً وصرح بعضهم بخلافه فالمعتمد الأخذ بإطلاقهم، كما نص عليه في التحفة والنهاية.

     (مسألة: ش): المذهب القديم ليس مذهباً للشافعي، لأن المقلد مع المجتهد كالمجتهد مع الرسول عليه السلام، فكما أن الحادث من أدلة الشرع ناسخ للمتقدم منها إجماعاً حتى يجب على المجتهد الأخذ به، كذلك المقلد مع المجتهد، وأما المسائل التي عدوها وجعلوها مما يفتى به على القديم، فسببها أن جماعة من المجتهدين في مذهبه لاح لهم في بعض المسائل أن القديم أظهر دليلاً فأفتوا به، غير ناسبي ذلك إلى الشافعي كالقول المخرَّج، فمن بلغ رتبة الترجيح ولاح له الدليل أفتى بها، وإلا فلا وجه لعلمه، وفتواه على أن المسائل التي عدُّوها أكثرها فيه قول جديد، فتكون الفتوى به وهي ثمانية عشر مسألة: عدم وجوب التباعد عن النجاسة في الماء الكثير بقدر قلتين، وعدم تنجس الماء الجاري إلا بالتغير، وعدم النقض بلمس المحرم، وتحريم أكل الجلد المدبوغ، والتثويب في أذان الصبح، وامتداد وقت المغرب إلى مغيب الشفق، واستحباب تعجيل العشاء، وعدم ندب قراءة السورة في الأخيرتين، والجهر بالتأمين للمأموم في الجهرية، وندب الخط عند عدم الشاخص، وجواز اقتداء المنفرد في أثناء صلاته، وكراهة تقليم أظافر الميت، وعدم اعتبار الحول في الركاز، وصيام الولي عن الميت الذي عليه صوم، وجواز اشتراط التحلل بالمرض، وإجبار الشريك على العمارة، وجعل الصداق في يد الزوج مضموناً، ووجوب الحد بوطء المملوكة المحرم، ذكره المجموع. ويجب اتفاقاً نقض قضاء القاضي وإفتاء المفتي بغير الراجح من مذهبه، إذ من يعمل في فتواه أو عمله بكل قول أو وجه في المسألة، ويعمل بما شاء من غير نظر إلى ترجيح، ولا يتقيد به، جاهل خارق للإجماع، ولا يجوز للمفتي أن يفتي الجاهل المتمسك بمذهب الشافعي صورة بغير الراجح منه.

     (مسألة: ش): نقل ابن الصلاح الإجماع على أنه لا يجوز تقليد غير الأئمة الأربعة، أي حتى العمل لنفسه فضلاً عن القضاء والفتوى، لعدم الثقة بنسبتها لأربابها بأسانيد تمنع التحريف والتبديل، كمذهب الزيدية المنسوبين إلى الإمام زيد بن عليّ بن الحسين السبط رضوان الله عليهم، وإن كان هو إماماً من أئمة الدين، وعلماً صالحاً للمسترشدين، غير أن أصحابه نسبوه إلى التساهل في كثير لعدم اعتنائهم بتحرير مذهبه، بخلاف المذاهب الأربعة فإن أئمتها جزاهم الله خيراً بذلوا نفوسهم في تحرير أقوالها، وبيان ما ثبت عن قائلها وما لم يثبت، فأمن أهلها التحريف، وعلموا الصحيح من الضعيف، ولا يجوز للمقلد لأحد من الأئمة الأربعة أن يعمل أو يفتي في المسألة ذات القولين أو الوجهين بما شاء منهما، بل بالمتأخر من القولين إن علم، لأنه في حكم الناسخ منهما، فإن لم يعلم فبما رجحه إمامه، فإن لم يعلمه بحث عن أصوله إن كان ذا اجتهاد، وإلا عمل بما نقله بعض أئمة الترجيح إن وجد وإلا توقف، ولا نظر في الأوجه إلى تقدم أو تأخر، بل يجب البحث عن الراجح، والمنصوص عليه مقدم على المخرج ما لم يخرج عن نص آخر، كما يقدم ما عليه الأكثر ثم الأعلم ثم الأورع، فإن لم يجد اعتبر أوصاف ناقلي القولين، ومن أفتى بكل قول أو وجه من غير نظر إلى ترجيح فهو جاهل خارق للإجماع، والمعتمد جواز العمل بذلك للمتبحر المتأهل للمشقة التي لا تحتمل عادة، بشرط أن لا يتتبع الرخص في المذاهب بأن يأخذ منها بالأهون بل يفسق بذلك، وأن لا يجتمع على بطلانه إماماه الأوَّل والثاني اهـ. وعبارة ب تقليد مذهب الغير يصعب على علماء الوقت فضلاً عن عوامهم خصوصاً ما لم يخالط علماء ذلك المذهب، إذ لا بد من استيفاء شروطه، وهي كما في التحفة وغيرها خمسة: علمه بالمسألة على مذهب من يقلده بسائر شروطها ومعتبراتها. وأن لا يكون المقلد فيه مما ينقض قضاء القاضي به، وهو ما خالف النص أو الإجماع أو القواعد أو القياس الجلي. وأن لا يتتبع الرخص بأن يأخذ من كل مذهب ما هو الأهون عليه. وأن لا يلفق بين قولين تتولد منهما حقيقة لا يقول بها كل من القائلين كأن توضأ ولم يدلك تقليداً للشافعي، ومس بلا شهوة تقليداً لمالك ثم صلى فصلاته حينئذ باطلة باتفاقهما. وأن لا يعمل بقول إمام في المسألة ثم يعمل بضده، وهذا مختلف فيه عندنا، والمشهور جواز تقليد المفضول مع وجود الفاضل، وفي قول يشترط اعتقاد الأرجحية أو المساواة اهـ. وفي ك: من شروط التقليد عدم التلفيق بحيث تتولد من تلفيقه حقيقة لا يقول بها كل من الإمامين، قاله ابن حجر، إذ لا فرق عنده بين أن يكون التلفيق في قضية أو قضيتين، فلو تزوّج امرأة بولي وشاهدين فاسقين على مذهب أبي حنيفة، أو بلا ولي مع حضوره وعدم عضله، ثم علق طلاقها بإبرائها من نفقة عدَّتها مثلاً فأبرأته، ثم أراد تقليد الشافعي في عدم وقوع الطلاق لعدم صحة الإبراء عنده من نفقة العدَّة لم يصح، بل يحرم وطؤها حينئذ على كلا المذهبين، أما الشافعي فلأنها ليست بزوجة عنده أصلاً لعدم صحة النكاح، ولولا الشبهة لكان زناً محضاً، وأما أبو حنيفة الذي يرى تزويجها فلكونها بانت منه بالبراءة المذكورة، وقال ابن زياد: القادح في التلفيق إنما يتأتى إذا كان في قضية واحدة، بخلافه في قضيتين فليس بقادح، وكلام ابن حجر أحوط، وابن زياد أوفق بالعوام، فعليه يصح التقليد في مثل هذه الصورة.

     (مسألة: ش): يجوز تقليد ملتزم مذهب الشافعي غير مذهبه أو المرجوح فيه للضرورة، أي المشقة التي لا تحتمل عادة، إما عند عدمها فيحرم، إلا إن كان المقلد بالفتح أهلاً للترجيح ورأى المقلد رجحان دليله على دليل إمامه. اهـ، وعبارة ي يجوز العمل في حق الشخص بالضعيف الذي رجحه بعض أهل الترجيح من المسألة ذات القولين أو الوجهين، فيجوز تقليده للعامل المتأهل وغيره، أما الضعيف غير المرجح من بعض أهل الترجيح فيمتنع تقليده على العارف بالنظر، والبحث عن الأرجح كغير عارف وجد من يخبره بالراجح وأراد العمل به، وإلا جاز له العمل بالمرجوح مطلقاً اهـ.

     (مسألة: ك): صرح الأئمة بأنه لا يجوز تعاطي ما اختلف فيه ما لم يقلد القائل بحله، بل نقل ابن حجر وغيره الاتفاق عليه، سواء كان الخلاف في المذهب أو غيره، عبادة أو غيرها، ولو مع من يرى حل ذلك، نعم إنما يأثم من قصر بترك تعلم ما لزمه مع الإمكان، أو كان مما لا يعذر أحد بجهله لشهرته، أما من عجز عنه ولو لنقلة أو اضطرار إلى تحصيل ما يسدّ رمقه وممونه فيرتفع تكليفه كما قبل ورود الشرع، قاله في التحفة اهـ. وعبارة ب: ومعنى التقليد اعتقاد قول الغير من غير معرفة دليله التفصيلي، فيجوز تقليد القول الضعيف لعمل نفسه كمقابل الأصح والمعتمد والأوجه والمتجه، لا مقابل الصحيح لفساده غالباً، ويأثم غير المجتهد بترك التقليد، نعم إن وافق مذهباً معتبراً، قال جمع: تصح عبادته ومعاملته مطلقاً، وقال آخرون: لا مطلقاً، وفصل بعضهم فقال: تصح المعاملة دون العبادة لعدم الجزم بالنية فيها، وقال الشريف العلامة عبد الرحمن بن عبد الله بافقيه: ويظهر من عمل وكلام الأئمة أن العامي حيث عمل معتقداً أنه حكم شرعي ووافق مذهباً معتبراً، وإن لم يعرف عين قائله صح ما لم يكن حال عمله مقلداً لغيره تقليداً صحيحاً اهـ. قلت: ونقل الجلال السيوطي عن جماعة كثيرة من العلماء أنهم كانوا يفتون الناس بالمذاهب الأربعة، لا سيما العوامّ الذين لا يتقيدون بمذهب، ولا يعرفون قواعده ولا نصوصه، ويقولون حيث وافق فعل هؤلاء قول عالم فلا بأس به، اهـ من الميزان. نعم في الفوائد المدنية للكردي أن تقليد القول أو الوجه الضعيف في المذهب بشرطه أولى من تقليد مذهب الغير لعسر اجتماع شروطه اهـ.

     (مسألة: ك): يجوز التقليد بعد العمل بشرطين: أن لا يكون حال العمل عالماً بفساد ما عنّ له بعد العمل تقليده، بل عمل نسيان للمفسد أو جهل بفساده وعذر به، وأن يرى الإمام الذي يريد تقليده جواز التقليد بعد العمل، فمن أراد تقليد أبي حنيفة بعد العمل سأل الحنفية عن جواز ذلك، ولا يفيده سؤال الشافعية حينئذ، إذ هو يريد الدخول في مذهب الحنفي، ومعلوم أنه لا بد من شروط التقليد المعلومة زيادة على هذين اهـ. وفي ي نحوه، وزاد: ومن قلد من يصح تقليده في مسألة صحت صلاته في اعتقاده بل وفي اعتقادنا، لأنا لا نفسقه ولا نعدّه من تاركي الصلاة، فإن لم يقلده وعلمنا أن عمله وافق مذهباً معتبراً، فكذلك على القول بأن العامي لا مذهب له، وإن جهلنا هل وافقه أم لا لم يجز الإنكار عليه.

كتاب الطهارة

     [فائدة]: الكتاب لغة الضم والجمع، واصطلاحاً اسم لجنس من الأحكام. والباب لغة فرجة في ساتر يتوصل منها من داخل إلى خارج، وعكسه حقيقة في الأشخاص مجازاً في المعاني، واصطلاحاً اسم لجملة من الألفاظ مما دخل تحت الكتاب. والفصل لغة الحاجز بين الشيئين، واصطلاحاً اسم لألفاظ مخصوصة دالة على معان مخصوصة مشتمل على فروع الخ. والفرع لغة ما انبنى على غيره ويقابله الأصل، واصطلاحاً اسم لألفاظ مخصوصة مشتملة على مسائل غالباً. والمسألة لغة السؤال، واصطلاحاً مطلوب خبري يبرهن عليه في العلم، والتنبيه لغة الإيقاظ، واصطلاحاً عنوان البحث اللاحق الذي سبقت إليه إشارة بحيث يفهم من الكلام السابق إجمالاً. والخاتمة لغة آخر الشيء، واصطلاحاً اسم لألفاظ مخصوصة دالة على معان مخصوصة جعلت آخر كتاب أو باب. والتتمة ما تم به ذلك وهي قريب من معنى الخاتمة، اهـ باجوري. والقيد اصطلاحاً ما جيء به لجمع أو منع أو بيان واقع، وبتأمل تعريفه هذا مع تعريف الشرط يعلم أن القيد أعم مطلقاً. اهـ إيعاب.

     [فائدة]: الطهارة لها وسائل أربع: الماء والتراب والدابغ وحجر الاستنجاء، ومقاصد كذلك الوضوء والغسل والتيمم وإزالة النجاسة، ووسائل الوسائل الاجتهاد والأواني، اهـ باجوري.

     (مسألة): جزم القاضي والمزجد واختاره الإمام أن اختصاص الطهورية بالماء تعبد لا يعقل، ورجح في الإيعاب تبعاً للغزالي  وابن الصلاح أنه معقول المعنى، قال: وسبب الاختصاص به جمعه للطاقة وعدم التركيب اللذين لا يوجدان في غيره، وفقده للون، وإنما يتلون بلون ظرفه أو ما يقابله، ولا يحدث فيما يلاقيه كيفية ضارة، ولا يغير طبيعة، ولا يحدث من استعماله خيلاء ولا كسر قلوب الفقراء، بخلاف نحو ماء الورد، ولا يلزم من استعماله إضاعة مال غالباً اهـ.

     [فائدة]: الفرق بين مطلق الماء والماء المطلق، أن الحكم المترتب على الأول يترتب على حصول الحقيقة من غير قيد فيشمل سائر أنواع الماء، وعلى الثاني يترتب عليها بقيد الإطلاق فيختص ببعض أنواعها وهو الطهور، اهـ إيعاب.

     [فائدة]: اسم الأعرابي الذي بال في مسجده عليه الصلاة والسلام ذو الخويصرة حرقوص بن زهير اليمامي لا التميمي وهو أصل الخوارج، ووقع له أيضاً أنه سها في صلاته وقال: لئن مات محمد لأتزوّجن عائشة، وقال: اللهم اغفر لي ومحمد ولا تشرك معنا أحداً، فقال له النبي : لقد حجرت واسعاً، كذا بهامش شرح المنهج.

     (مسألة: ب): لا يضر تغير رائحة الماء كثيراً بالقرظ أو القطران، وإن لم تغسل القربة بعد الدبغ، كما أطلقه في الخادم قال بخلاف تغيره كثيراً بالطعم أو اللون، وأفتى البكري بالعفو مطلقاً أي في جميع الصفات.

     [فائدة]: قال البجيرمي: (قوله: فمتغير بمخالط طاهر غير الطهر) أي لغير ذلك المخالط، أما بالنسبة له فمطهر، كما لو أريد تطهير سدر أو عجين أو طين فصب عليه ماء فتغير به تغيراً كثيراً قبل وصوله للجميع فإنه يطهر جميع أجزائه بوصوله لها، إذ لا يصل إلى جميع أجزائه إلا بعد تغيره كذلك فاحفظه، اهـ رشيدي خلافاً للونائي، ونقل أبو مخرمة عن السمهودي أنه لا يضر تغير الماء بأوساخ المتطهرين أي وإن طال مكثه.

     [فائدة]: يشترط لضرر تغير الماء بالطاهر ستة شروط: أن لا يكون بنفسه، وأن يكون بمخالط، وأن يستغني عنه الماء، وأن لا يشق الاحتراز عنه، وأن يكون بحيث يمنع إطلاق اسم الماء، وأن لا يكن ملحاً مائياً ولا تراباً، اهـ كردي.

     (مسألة): ظاهر عبارة التحفة ومال إليه في الإيعاب أنه لو وقع في الماء ما يوافقه في الصفات كلها أو في صفة واحدة أنها تقدر كل الصفات، واعتمده في المغني، واعتمد في حاشية الحلبي أن الموجودة لا تقدر، وعبارة الباجوري إذا وقع في الماء ما يوافقه في كل الصفات قدرت كلها، كطعم الرمان ولون العصير وريح اللاذن بفتح الذال أي اللبان الذكر، وقيل: رطوبة تعلو شعر المعز ولحاها، فإن فقد بعض الصفات قدر المفقود فقط،إذ الموجود إذا لم يغير فلا معنى لفرضه، واعتبر الروياني الأشبه بالخليط، فإذا وقع فيه ماء ورد منقطع الرائحة قدر ماء ورد له رائحة، وهذا التقدير مندوب كما نقل عن سم والبجيرمي، فلو هجم واستعمله جاز، إذ غايته أنه شاكّ في التغير والأصل عدمه.

     (مسألة): قال في الإسعاد شرح الإرشاد في مبحث القلتين: والجرية ما في المجموع الدفعة بين حافتي النهر، والمراد بها ما يرتفع وينخفض بين حافتيه تحقيقاً أو تقديراً، وقول صاحب البحر الجرية ما وقع تحت أدق خيط من إحدى حافتي النهر إلى الأخرى فيه نظر، إذ قضيته أن لا توجد جرية هي قلتان إلا في نحو النيل، فما في المجموع أولى بالاعتماد لأنها من قبيل الأجسام المحسوسة، وحينئذ فإذا كان طول الجرية وهو عرض النهر ثلاثة أذرع، وعرضها وهو عمق النهر ذراع ونصف، وعمقها في طول النهر نصف ذراع، كان الحاصل مائة وأربعة وأربعين فهي فوق القلتين، ولو كان طولها ذراعين والعمق والعرض كما مرّ، كان الحاصل ستة وتسعين فهي دون القلتين، اهـ ملخصاً.

     [فائدة]: أفتى العلامة داود حجر الزبيدي بأنه لو اختلف القلتان وزناً ومساحة كان الاعتبار بالمساحة، إذ هي قضية التقدير في الحديث بقلال هجر، ويؤيده ذكرهم التقريب في الوزن دونها، فدل على أن تقديرهم بالوزن للاحتياط كصاع الفطرة وغيره اهـ.

     [فائدة]: وقع في ماء كثير عينان طاهرة ونجسة فتغير ولم يدر أبهما أم بإحداهما؟ فالذي يظهر مراجعة أهل الخبرة، فإن عرفوا شيئاً وإلا فالظاهر الطهارة عملاً بأصل بقائها حتى يعلم ضده، كما لو شك هل التغير بمجاور أو مخالط أو بطول مكث أو بأوساخ المغترفين؟ فلا يضر أيضاً، اهـ إيعاب.

     (مسألة: ب): توضأ جماعة من ماء قليل ثم رأوا بعد الصلاة بعرات غنم، جاز لهم تقليد القائلين بعدم تنجس الماء مطلقاً إلا بالتغير بشروطه أي التقليد المار، وهم كثير من الصحابة والتابعين والفقهاء، كعلي وابن عباس وأبي هريرة والحسن والنخعي وابن المسيب وعكرمة وابن أبي ليلى ومالك والأوزاعي والثوري، لقوله عليه الصلاة والسلام: “خلق الماء طهوراً لا ينجسه إلا ما غلب على طعمه أو لونه وريحه ” وعليه العمل في الحرمين والغرب وغيرها، وكفى بهؤلاء قدوة، على أن جماعة من الشافعية ذهبوا إلى طهارة روث المأكول كما يأتي.

     (مسألة): توضأ حنفي من ماء قليل بنية التجديد من غير نية اغتراف لم يستعمل الماء، وإن فرض أنه مس فرجه لأن قصده التجديد صارف للاستعمال، ولم يرتفع حدثه عندنا للصارف كما لو توضأ شافعي مجدداً ناسياً للحدث ثم تبين حدثه، وكذا لو غسل وجهه بنية رفع الحدث ثم علم في ظنه أنه متطهر فكمله بنية التجديد ولا يكفيه، فيما لو نسي لمعة أو ترك شرطاً من وضوئه الأوّل من غير الوجه للعلة المذكورة.

     (مسألة): لا يحكم باستعمال الماء إلا بعد فصله عن العضو، فحينئذ لو أدخل متوضىء يده بعد غسل وجهه بلا نية اغتراف ثم أحدث ولو حدثاً أكبر فله أن يغسلها، بل وباقي البدن في الجنابة بالانغماس قبل فصلها خلافاً للإرشاد، لكن إن كان الحدث الثاني أصغر فلا بد من غسل الوجه بماء آخر مع بقائها في الماء.

     (مسألة: ش): لم يرد في نية الاغتراف خبر ولا أثر، ولا نص عليها الشافعي ولا أصحابه، وإنما استنبطها المتأخرون وتبعهم الأصحاب، ووجه وجوبها ظاهر، فعليه متى أدخل المحدث يده بعد تثليث الوجه ما لم يقصد الاقتصار على واحدة، أو الجنب بعد النية، صار الماء مستعملاً بالنسبة لغير ما فيها، وطريق من لم يرد نية الاغتراف أن يغرف الماء قبل النية أو يفرغ على كفه، ولا تكون نية الاغتراف صارفة لنية الوضوء بخلاف نية التبرد.

     [فائدة]: اختلف العلماء في نية الاغتراف، ونظم ابن المقري القائلين بعدم وجوبها فقال:

أوجب جمهور الثقات الظراف   عند التوضي نية الاغتراف

من بعد غسل الوجه من يلغها    فماؤه مستعمل بالخلاف

ووافق الشاشي ابن عبد السلام    في تركها والبغوي ذو العفاف

وابن العجيل الحبر أفتى على    إهمالها والحبر فتواه كاف

     واختاره الغزالي والمزجد. قال أبو مخرمة: فلا يشدد العالم على العامي بل يفتيه بعدم وجوبها.

المعفوَّات في نحو الماء

     [فائدة]: يعفى عما لا يسيل دمه بوقوعه ميتاً، في نحو المائع بنفسه أو بنحو ريح، وكذا بطرح بهيمة أو مميز، وكان مما نشؤه من الماء خلافاً لـ (مر) فيهما، بل أومن غير مميز مطلقاً، أو مميز بلا قصد، كأن قصد طرحه على غيره فوقع فيه، قاله الخطيب، بل رجح في الإيعاب و ق ل عدم الضرر مطلقاً، وهو ظاهر عبارة الإرشاد وغيره، كما لا أثر لطرح الحي مطلقاً، قال ابن حجر في حاشية تحفته: وإذا تأملت جميع ما تقرر، ظهر لك أن ما من صورة من صور ما لا دم له سائل طرح أم لا، منشؤه من الماء أم لا، إلا وفيه خلاف في التنجيس وعدمه، إما قوي أو ضعيف، وفيه رخصة عظيمة في العفو عن سائر هذه الصور، إما على المعتمد أو مقابله، فمن وقع له شيء جاز تقليده بشرطه، وهذا بناء على نجاسة ميتته، أما على رأي من يقول إنها طاهرة فلا إشكال في جواز تقليد ذلك، اهـ كردي. وأفتى أبو مخرمة بأنه لا يضر نقل ما فيه الميتة المعفوّ عنها من إناء لآخر، كما لا يضر إدارته في جوانب الإناء ومسها لجوانبه.

     (مسألة: ك): قرص قملة بين أصبعيه وتلطختا بالدم ثم غمسهما في نحو مائع، فالأحوط عدم العفو والأسهل الذي أميل إليه، وأفتى به م ر العفو حيث لم يتعمد الغمس، مع ملاحظة تنجسهما لقلته وللحاجة إليه.

     [فائدة]: قال في القلائد: يعفى عن بعر الفأر في المائع إذا عم الابتلاء به، وعن جرة البعير، وفم ما يجترّ إذا التقم أخلاف أمه، ولا ينجس ما شرب منه، ونقل عن ابن الصباغ أن الشاة إذا بعرت في لبنها حال الحلب عفي عنه، فلا ينجس ولا يغسل منه إناء ولا فم، فإن وقع فيه بعرة من غيرها عفي عنه للطعم فقط، وأفتى المزجد بالعفو عما يلصق ببدنها ويتساقط حال الحلب وما صدمته بذنبها اهـ. وأفتى السمهودي بالعفو عن بول الإبل والبقر في ضرعيهما المتأخرين، وعما اتصل بهما حين تريض، وأفتى به أيضاً الفقيه محمد صاحب عيديد علوي، ومن خط السيد أبي بكر بافقيه، قال: يعفى عن ذرق الطيور في المياه كالسقايات والحياض لمشقة الاحتراز كما قاله البلقيني اهـ. وقال ع ش: ومما يشقُّ الاحتراز عنه نجاسة نحو الفيران في الأواني المعدّة للاستعمال كالجرار، والأباريق كحياض الأخلية، وإن أمكن الفرق بسهولة تغطيتها على الأقرب.

     (مسألة: ش): المذهب عدم طهارة الآجرّ المعمول بالنجس بالإحراق وإن غسل بعد، واختار ابن الصباغ طهارة ظاهره حينئذ، وأفتى به القفال، ويجوز الوضوء من الأواني المذكورة، ويعفى عن فم كل مجترّ وصبي، وعما تلقيه الفيران في بيوت الأخلية إذا عمّ الابتلاء به.

     (مسألة: ب): الفرق بين دخان النجاسة وبخارها، أن الأول انفصل بواسطة نار، والثاني لا بواسطتها، قاله الشيخ زكريا. وقال أبو مخرمة: هما مترادفان، فما انفصل بواسطة نار فنجس وما لا فلا، أما نفس الشعلة أي لسان النار فطاهرة قطعاً، حتى لو اقتبس منها في شمعة لم يحكم بنجاستها.

     [فائدة]: خلط زباد فيه شعرتان أو ثلاث بزباد كذلك أوصاف عنه، بحث بعض المتأخرين أن محل العفو عن قليل شعر غير المأكول ما لم يكن بفعله فعليه ينجس الزبادان، اهـ فتاوى ابن حجر.

الماء المكروه

     (مسألة: ش): يكره الطهر بماء البحر للبري إن خشي منه ضرراً على نحو عينيه ولو بقول ثقة لمنعه الإسباغ كشديد البرودة، بل إن تحققه حرم.

     [فائدة]: المياه المكروهة ثمانية: المشمس، وشديد البرودة أو الحرارة، وماء ديار ثمود إلا بئر الناقة وقوم لوط، وبئر برهوت، وبئر بابل، وبئر ذروان، وألحق بذلك ماء محسر، والطهر بفضل المرأة، ومن الإناء النحاس، وماء وتراب كل أرض غضب عليها كعاد، اهـ كردي. وعبارة التحفة. ويكره الطهر بفضل المرأة للخلاف فيه، قيل: بل ورد النهي عنه وعن الطهر من إناء النحاس اهـ.

النجاسات

     [فائدة]: يتبع الفرع أخس أبويه في سبعة أشياء: النجاسة، وتحريم الذبيحة، والمناكحة، وتحريم الأكل، وامتناع التضحية في متولد بين نعم وغيرها، وعدم استحقاق سهم الغنيمة لمتولد بين فرس وحمار، وعدم وجوب الزكاة المتولد بين نحو بعير وفرس، وأشرفهما في الدين، وإيجاب البدل، وعقد الجزية، وأخفهما في الزكاة والأضحية، وأغلظهما في جزاء الصيد، ويتبع الأب في النسب وتوابعه كاستحقاق سهم ذوي القربى، وفي الجرية إن كان من أمته أو أمة فرعه، وفي الولاء ومهر المثل ويتبع الأم في الرق والحرية، فالولد بين مملوكين لمالك الأم كولد البهيمة، اهـ كردي.

     [مسألة): المني طاهر من الآدمي اتفاقاً، وكذا غيره من بقية الحيوانات غير الكلب والخنزير على المعتمد، لكن إن لم يكن صاحبه مستنجياً بماء فهو متنجس، ومن ثم حرم الجماع على مستجمر بالحجر منهما، وإن فقد الماء واحتاج إلى الوقاع كما في النهاية والمغني، وقيده في التحفة بوجود الماء، وهذا كما لو تنجس ذكره بمذي ما لم يعلم أن الماء يفتر شهوته فيجوز حينئذ، واغتفر في القلائد المذي مطلقاً للضرورة، وحيث حكمنا بطهارة المني جازت الصلاة في الثوب الذي وقع فيه ولو من جماع، نعم يسنّ غسله رطباً وفركه يابساً.

     (مسألة: ب): ذهب بعضهم إلى طهارة روث المأكول، بل ذهب آخرون إلى طهارة جميع الأرواث حتى من الكلب إلا الآدمي، وجمعهم الشيخ عبد الله بن أبي بكر باشعيب فقال:

روث لمأكول لدى زهريهم     وعطاء والثوري والروياني

وإمام نخع وابن سيرين والأصـ    ـطخرّي والشعبيّ والشيباني

وابن خزيمة منذر حبانهم     ثم ابن حنبل مالك الرياني

طهر وزاد الظاهرية والبخا    ري لغير فضلة الإنسان

     [فائدة]: قال في الخادم للزركشي: الدم كله نجس إلا عشرة: الكبد، والطحال، والمسك، والدم المحبوس في ميتة السمك، والجراد، والميت بالضغطة، والسهم، والجنين، وكذا مني ولبن خرجا على لون الدم اهـ. وفي حكمه بطهارة الدم المحبوس إن أراد ما دام كامناً فلا يستثنى، إذ هو حينئذ ليس دماً، أو إذا تحلب وتلوث به غيره فممنوع لأنه نجس، اهـ إيعاب.

     [فائدة]: قال (بج): ومن القيء ما عاد حالاً لو من مغلظ، فلا يجب تسبيع الفم منه كالدبر، نعم اعتمد (ع ش) عدم وجوب التسبيع من خروج ما من شأنه الاستحالة، وإن لم يستحل كاللحم إلا إن خرج من الفم كذلك، ووجوبه مما شأنه عدمها وإن استحال اهـ. ولا يجب غسل البيضة والولد إذا خرجا من الفرج، إن لم يكن معهما رطوبة نجسة، اهـ شرح روض.

     (مسألة: ب): الحياض التي تجتمع فيها المياه ويلغ الكلاب فيها نجسة إن تغيرت، فلا يعفى عما لا تعم البلوى به منها، فمن أصابه شيء من ذلك لزمه تسبيعه، كما لو قصدها الخراز فوضع فيها الجلود فيلزمه تسبيعها وتسبيع ما تحقق ملاقاته نحو بدنه، ويحرم عليه تلويث المسجد به، إذ لا ضرورة إلى ذلك، ومثل ذلك ما لو ضرب الكلب بنحو سكين مع الرطوبة في أحد الجانبين، إذ لا مجال للعفو حينئذ، ويجوز استعمال أواني العوام المذكورين ومؤاكلتهم حيث لم يتحقق ملاقاة نجاسة لها.

     (مسألة: ي): خذ قاعدة ينبغي الاعتناء بها لكثرة فروعها ونفعها، وهي كل عين لم تتيقن نجاستها لكن غلبت النجاسة في جنسها، كثياب الصبيان، وجهلة الجزارين، والمتدينين من الكفار بالنجاسة كأكلة الخنازير أرجح القولين فيها العمل بالأصل وهو الطهارة، نعم يكره استعمال كل ما احتمل النجاسة على قرب، وكل عين تيقناً نجاستها ولو بمغلظ ثم احتمل طهارتها ولو على بعد لا تنجس ملاقاته، فحينئذ لا يحكم بنجاسة دكاكين الجزارين والحواتين وزوارقهم التي شوهدت الكلاب تلحسها، أو لا يحكم بنجاسة اللحم أو الحوت الموضوع عليها، وما لاقاه من أبدان الناس إلا إن شوهد ملاقاتها للنجاسة، فتكون البقعة التي لحسها الكلب نجسة، وكذا ما لاقاها يقيناً بمشاهدة أو إخبار عدل مع الرطوبة قبل احتمال طهرها بمرور سبع جريات بماء بتراب طهور، ولا يتعدى حكمها لباقي الدكان فضلاً عن غيره، وكل لحم وحوت وغيرهما خرج من تلك الأماكن محكوم بطهارته، إلا ما تيقن ملاقاته لنفس المحل المتنجس ولم يشق ويعم الابتلاء به وإلا عفي عنه أيضاً، قاله أبو قضام وخالفه ابن حجر، وفي النهاية: والضابط أن كل ما يشق الاحتراز عنه غالباً يعفى عنه.

     (مسألة: ب): رجح أبو قضام طهارة صيفة اللحم التي يقال لها العلق، ونجاسة صيفة العيد لاختلاطها بما في جوفه، والذي نعتمده أن الصيفة مطلقاً إما طاهرة أو متنجسة معفوّ عنها، فلا ينجس ما دهن بها أو مسته، لكن لا ينبغي التسريح بها في المسجد مطلقاً للخلاف في طهارتها مع التأذي بكراهة الأنفس لها اهـ. قلت: وأفتى بالطهارة الناشري وأبو مخرمة وأبو صهي اهـ. وعبارة ك الصل يعني الصيفة كما في نسخة الذي يجتمع مع الدم في حوض ثم يعلو الصلّ فيؤخذ لا يضر اختلاطه، إذ الظاهر أن الصل المذكور إما طاهر أو نجس، معفوّ عنه للعفو عن الدم المتحلب من الكبد، ولقول عائشة رضي الله عنها: “كنا نطبخ البرمة على عهد رسول الله فتعلوها الصفرة من الدم فيأكل ولا ينكره” وقد اتفق ابنا حجر وزياد و م ر وغيرهم على طهارة ما في جوف السمك الصغير من الدم والروث، وجواز أكله معه، وأنه لا ينجس به الدهن، بل جرى عليه م ر الكبير أيضاً، ولأن لنا قولاً قوياً أن السمك لا دم له لأنه يبيضّ إذا وضع في الشمس.

     (مسألة: ي): الذي يظهر أن الشيء الأسود الذي يوجد في بعض الحيتان وليس بدم ولا لحم نجس، إذ صريح عبارة التحفة أن كل شيء في الباطن خارج عن أجزاء الحيوان نجس، ومنه هذا الأسود للعلة المذكورة إذ هو دم أو شبهة، وقد صرحوا بنجاسة الخرزة التي في الكرش كحصى الكلي والمثانة، لخروجها من معدن النجاسة مع شبهها بالطاهر فأولى هذا الأسود، ولأنه فضلة مستحيلة وهي نجسة إلا ما استثني، ومن قال بطهارته فقد أخطأ.

     [فائدة]: نقل عن البريهمي أنه قال: في الأصح أن ذرق السمك والجراد وما يخرج من فيها نجس، وفي الإبانة أنه طاهر، ومع الحكم بالنجاسة يعفى عنه إذا عمت به البلوى كدم البراغيث، وأفتى ابن كبن بأن بصاق الجراد وهو بلاقها طاهر، وما في باطن ذنبها نجس على الصحيح، وأفتى عبد الله باسودان بأن الخارج مما لا نفس له سائلة عند قتله إن خرج حال حياته وليس به تغير فطاهر كريق الآدمي، أو بعد موته فنجس مطلقاً، إذ الميتة وجميع أجزائها نجسة، وإنما لم تنجس المائع للنص، ولو شك في شعر أطاهر أم نجس فطاهر، وألحق به في الجواهر العظم بخلاف اللحم.

     (مسألة: ك): يصير العصير خلاً من غير تخمر فيكون طاهراً في ثلاث صور وهي: فيما إذا صب العصير في الدن العتيق بالخل، وفيما إذا جردت حبات العنب من عناقيده وملىء منها الدنّ وطين رأسه، ومثله الرطب إن أخبر عدل بتخلله حينئذ من غير تخمر، وإلا فيتبع الغالب من التخمر وعدمه، وفيما إذا صبّ خلّ على عصير دونه بل أو مساويه كما قاله ابن حجر والخطيب، وقال م ر : إن أخبر عدل يعرف ما يمنع التخمر وما لا اتبع، وإلا حكم بالغالب من التخمر وعدمه، بل لنا وجه مرجوح يجوز تقليده بشرطه أنه يتخلل العصير حينئذ، وإن كان أكثر من الخل، ولو وضع التمر بنواه في الماء حتى تخلل كعادة أهل البصرة، فقياس ما ذكره ابن حجر في الإيعاب من العفو عن حبات العناقيد ونوى التمر أنه يطهر وجرى غيره على عدم العفو عن ذلك، وفي النهاية: ولا فرق في العصير بين المتخذ من نوع واحد أو أنواع، فلو جعل فيه عسلاً أو سكراً، أو اتخذه من نحو عنب ورمان أو برّ وزبيب طهر بانقلابه خلاً، وليس ذلك تخللاً بمصاحبة عين، لأن نفس ذلك كله يتخمر، ولا يضر وضع النبيذ أو العصير على الخمر، وعكسه كما لو أريقت خمر فصب في إنائها خمر أخرى.

     [فائدة]: لا يطهر ظاهر الدن المترشح إليه الخمر قبل تخللها إذ لا ضرورة إليه بخلاف الباطن، نعم ما ارتفع أو انخفض إليه من الدنّ بغير الغليان، بل بوضع شيء أو أخذه لم يطهر هو أيضاً لعدم الضرورة ولا هي لاتصالها بنجس اهـ إيعاب. ومنه للخل خمس صور طاهرة قطعاً إذا تخللت من غير عين ولا إمساك بل اتفاقاً، أو على الأصح إذا تخللت بعد إمساك، وقال العراقيون: لا تطهر غير المحترمة، أو لا تطهر قطعاً إذا طرحت العين قصداً، أو على الأصح إن كانت بغير قصد، أو تطهر على الأصح أيضاً إذا نقلت من نحو شمس، ولا يحرم التخلل به لأنه سبب لإصلاحها من غير محذور اهـ.

     [فائدة]: أصاب جلد الميتة نجاسة مغلظة، لم يكف غسله قبل الدبغ، بل لا بد من تسبيعه بعده، لأنه قبله لم يكن قابلاً للتطهير، وأخذ منه سم أن نحو عظم الميتة إذا أصابه مغلظ لا يطهر بغسله أبداً، فينجس مماسه رطباً نجاسة مغلظة اهـ مدابغي وفي ي نحوه وزاد: ونقل الشوبري عن الشيخ زكريا أنه يطهر من المغلظة بتسبيعه.

إزالة النجاسة

     (مسألة: ي): تحرم مباشرة النجاسة مع الرطوبة لغير حاجة فيجب غسلها فوراً، بخلافه لحاجة كالاستنجاء، وغسلها من نحو بدن، ووضعها في نحو زرع أو بنحو قصد، وكذا التداوي بشرط فقد طاهر صالح.

     (مسألة: ج): قطرات بول متفرقات وقعت بمسجد، ومر الناس في المحل مع ترطب أرجلهم، لم يجب إلا غسل محل البول فقط، لا كل المحل للشك في تنجسه، إذ يحتمل مرور المتوضئين على النجاسة وعلى الموضع الطاهر، والقاعدة أننا لا ننجس بالشك.

     [فائدة]: أفتى ابن حجر بأن الكفين كعضو واحد حكماً، فإذا غسلهما معاً من نجاسة بهما أو بأحدهما كفى، وأفتى أيضاً بجواز غسل النجاسة بمطعوم عند الحاجة، كغسل لثوب إبريسم يفسده الصابون، ونخالة لغسل يد، وملح لدم كما في المجموع اهـ.

     (مسألة: ك): وقعت في الصبغ أجزاء نجسة، فإن كانت مما تنعقد فيه ولا يزيلها الماء كزبل لم يكف غمر المصبوغ بالماء، بل لا بد من إزالة تلك الأجزاء، فإن تعذر فحكمها حكم نجس العين الذي تعذر تطهيره، وإن لم تكن كذلك طهر بغمره في ماء كثير أو ورود قليل عليه، وإن بقي اللون في المحل أو الغسالة، كما يطهر الصبغ المنفرد أو المخضوب بمتنجس أو نجس بذلك اهـ. وفي ب نحوه زاد: وقال القاضي يطهر المصبوغ بالنجس أي مطلقاً بما ذكر وإن بقي اللون، ومال إليه في القلائد ومحمد بن أحمد فضل وبلحاج والريمي.

     [فائدة] قال بج: والحاصل أن المصبوغ بعين النجاسة كالدم، أو بالمتنجس الذي تفتتت فيه النجاسة أو لم تتفتت كان المصبوغ رطباً يطهر إذا صفت الغسالة من الصبغ، أما المصبوغ بمتنجس لم تتفتت فيه النجاسة والمصبوغ جافّ فيطهر بغمسه في قلتين أو صب ماء يغمره وإن لم تصف الغسالة، فقولهم: لا بد في طهر المصبوغ من أن تصفو الغسالة محمول على ما صبغ بنجس أو مخلوط بنجس العين، اهـ سم وطب.

     (مسألة: ش): أفتى ابن مطير في نيل وقعت فيه نجاسة فترك حتى جمد ولم يتصاب فصب عليه ماء يغلبه وهو في حوضه فشربه ثم شربته الأرض بأنه يطهر كالآجرّ المعجون بالنجس، والظاهر عدم طهره والفرق واضح.

     (مسألة: ي): تنجس مائع كدهن وغسل بنجاسة غير متفتتة ثم لاقى جامداً كدقيق اشترط في طهارته زوال أوصاف المائع إلا ما عسر، هذا إن كان له أي المائع وصف، وإلا كفى جري الماء عليه بحيث يظن وصوله إلى جميع أجزائه، كما لو عجن لبن ببول فيطهر باطنه بنقعه في الماء ولو مطبوخاً رخواً يصله الماء.

     (مسألة: ي): لحم عليه دم غير معفوّ عنه ذر عليه ملح فتشربها طهر بإزالة الدم، وإن بقي طعم الملح كحب أو لحم طبخ ببول فيكفي غسل ظاهره، وإن بقي طعم البول بباطنه إذ تشرب ما ذكر كتشرب المسام، كما في التحفة.

     (مسألة: ب ك): تنجس عضو شخص كيد جزار أو شفرته وبه دهن أو نحو حلتيت، فلا بد من إزالة أثر نحو الدهن مع النجاسة لأنه صار متنجساً، كما لو تنجس الدهن ثم دهن به نحو جرب أو تنجس به العضو، فلا بد من إزالته ولو بنحو صابون على المعتمد إلا ما عسر زواله، زاد ب: وقد يفرق بأن المشقة في مسألة الجزار، بل الضرورة أظهر بكثرة تكراره وفي تكليفه نحو السدر كل مرة مشقة، فينبغي الاكتفاء بمجرد إزالة أوصاف النجاسة لا الدسم، لأن المشقة تجلب التيسير، ولأنه يعفى عن كل ما يشق الاحتراز عنه كما في النهاية، لا سيما وقد قال بطهارة روث المأكول مالك وأحمد وغيرهما كما مر اهـ. قلت: وقال السيد علي الونائي في كشف النقاب: لو دهن عضوه بدهن متنجس كفاه جري الماء عليه وإن لم يزل أثر الدسومة، لأنه بانبساطه على العضو يصل الماء إلى جميع أجزائه اهـ.

     [فائدة]: المذهب وجوب غسل ما أصابه الكلب مع الرطوبة ولو معضاً من صيد على المعتمد، وقيل: يجب تقويره، وقيل: يعفى عن محل نابه وظفره، وقيل: طاهر، قال في الإمداد ونقله البجيرمي عن (م ر): ما عدا الأخيرة وزاد، وقيل: تكفي السبع من غير تتريب، وقيل: يجب مرة فقط اهـ، ولو لم تزل العين إلا بست غسلات مثلاً حسبت مرة على المعتمد، لكن يكفي التتريب في إحداها قبل إزالة العين، اهـ حاشية الشرقاوي. ولو جمع غسلات الكلب في إناء وقد ترب في إحداها فلا بد من غسله سبعاً مع التتريب، لأنها صارت نجاسة مستقلة، قاله ابن أبي شريف وتبعه ع ش وحف، وقال سم: إن ترب الأولى كفى وإلا أعاد التراب اهـ جمل.

     [فائدة]: أصابه شيء من الأرض الترابية قبل تمام غسلها لم يجب تتريبه قياساً على ما أصابه من غير الأرض بعد تتريبه قاله الخطيب، وقال (م ر): يجب، وحمل ابن حجر عدم الوجوب على ذات التراب المتطاير، أما ما لاقاه من نحو الثوب فيجب تتريبه، اهـ كردي.

     (مسألة): الغسالة طاهرة إذا لم تتغير وقد طهر المحل، وإلا فهي نجسة مع المحل، لأن البلل المنفصل بعض ما بقي بالمحل، ولا يتبعض الماء القليل طهارة ونجاسة كذا قالوه، لكن قال البجيرمي على الإقناع قوله لأن المنفصل الخ، هذا التعليل يعطي أنه يلزم من طهارة أحدهما طهارة الآخر، ومن نجاسة أحدهما نجاسة الآخر، وهو ظاهر شرح الروض، وذكر ق ل ما حاصله: أنه لا يلزم من نجاسة الغسالة نجاسة المحل، ولعل الأوّل مفروض فيما إذا كان الغسل في نحو إجانة. والثاني فيما إذا كان بالصب والمغسول بين يديه اهـ شيخنا.

الاجتهاد

     [فائدة]: شروط جواز الاجتهاد أحد عشر: كون كل من المشتبهين له أصل في التطهير أو الحل، وللعلامة فيه مجال، وظهورها وبقاء المشتبهين وتعدد المشتبه، والعلم بتنجس أحدهما أو ظنه بخبر عدل رواية، والحصر في المشتبه، واتساع الوقت للاجتهاد والطهارة والصلاة، وإلا صلى وأعاد، وكون الإنائين لواحد على ما قيل، اعتمد ابن حجر و (م ر)، خلافه، وأن لا يخشى منه ضرراً كالشمس، وأن يسلم من التعارض، كخبر عدلين تعذر الجمع بينهما فيتساقطان، إلا إن كان أحدهما أوثق أو أكثر فيؤخذ به، ويزيد وجوب الاجتهاد بدخول الوقت، وعدم تيقن الطهارة، وعدم بلوغهما بالخلط قلتين اهـ كردي.

     (مسألة: ش): اشتبه تراب طهور بغيره وتحير، فلا بد لصحة الصلاة من خلطهما كالمائين، ويظهر أنه لا يتيمم بكل في اشتباه الطهور بالمستعمل، والفرق بينه وبين الماء عسر إزالة التراب الأول عن العضو، إذ يضر الخليط فيه وإن قل بخلاف الماء، فلو فرض تنقية العضو منه صح، لكن لا بد من الجزم بالنية بأن يأخذ كفاً من هذا وكفاً من هذا ويمسح بهما الوجه ناوياً ثم يعكس.

     (مسألة): اجتهد في ماءين فظن طهارة أحدهما فتوضأ به وصلى، وأراق الآخر كما هو السنة ثم أحدث لم يتوضأ ثانياً ببقية الأول، لوجوب الاجتهاد لكل وضوء، ولا يجتهد حينئذ لفقد شرطه وهو التعدد، بل يتيمم ويصلي ولا إعادة عليه، قاله في الإمداد، وهي مسألة نفيسة غامضة معلومة من كلامهم، فإن لم يرق الآخر وبقي من الأول بقية أعاد الاجتهاد، ثم أن ظهر له طهارة الأول أيضاً استعمله أو الثاني أراقهما ثم تيمم، واعلم أن لزوم الاجتهاد مقيد بما إذا لم يكن ذاكراً للدليل الأول كما في النهاية وسم ، وإلا فلا يجب ويتوضأ ثانياً وثالثاً، وهل ذلك عام سواء بقي الآخر أو تلف ظاهر إطلاقهم، نعم ثم رأيت سم استقربه.

     [فائدة]: لا يقبل خبر الفاسق إلا فيما يرجع لجواب نحو دعوى عليه، أو فيما ائتمنه الشرع عليه، كإخبار الفاسقة بانقضاء عدتها، أو إخباره بأن هذه الشاة مذكاة فيحكم بجواز أكلها، وكذا بطهارة لحمها تبعاً، وإن كان لا يقبل خبره في تطهير الثوب وتنجيسه وإن أخبر عن فعل نفسه، اهـ بامخرمة. لكن اعتمد ابن حجر والشيخ زكريا، قبول قوله طهرت الثوب لا طهر.

     (مسألة: ي): الخبر الواقع في القلب صدقه بأن غلب على القلب صدقه، وهو المراد بقولهم: الاعتقاد الجازم يجب العمل به على من صدقه كذلك، وإن لم يثبت عند الحاكم، ولم يكن المخبر مكلفاً عدلاً، فإن ظن صدقه من غير غلبة جاز وذلك في خمس عشرة مسألة تنجس نحو المياه، ونقض الوضوء من نحو مس وريح، وتوقف إزالة النجاسة على نحو صابون أو عدمه، ودخول الوقت والقبلة، وكشف العورة، ووقوع النجاسة، ودخول رمضان وشوَّال وذي الحجة، أو شهر معين منذور صومه، وشعبان بالنسبة لرمضان فيجب الصوم عليه، وعلى من صدقه بتمامه، وطلوع الفجر، وغروب الشمس، وتعليق الطلاق بأي شهر كان، بل وفي أكثر أبواب الفقه، كما نقله ابن زياد عن الشيخ زكريا، ويجوز العمل بقوله: ولا يجب، وإن غلب على قلبه صدقه في سبع مسائل: عدم الماء، ومبيح التيمم، وفوات الجمعة، والإخبار بولاء زوج لمريدة التزويج، وكذا للمعتدة التي جهلت أشهرها أو كانت عمياء أو محبوسة.

خصال الفطرة

     [فائدة]: هذان البيتان في خصال الفطرة التي ابتلي بها إبراهيم الخليل عليه السلام:

تمضمض واستنشق وقصّ لشارب >< دوام سواك واحفظ الفرق للشعر

ختان ونتف الإبط حلق لعانة >< ولا تنس الاستنجاء والقلم للظفر

     [فائدة]: قال ع ش: لو نذر السواك حمل على المتعارف من ذلك الأسنان وما حولها اهـ، وأفتى الزمزمي بأنه لا بد لأصل السنة من استيعاب الأسنان وما حولها أي ظاهراً وباطناً، وقال أبو مخرمة: لا شك أن سقف الحلق من أكمله.

     [فائدة]: قال البجيرمي على الإقناع: والحاصل أن أحكامه أي السواك أربعة: واجب كأن توقف عليه إزالة نجاسة أو ريح كريه في جمعة، وحرام كسواك الغير بغير إذنه وعلم رضاه، ومكروه من حيث الكيفية كاستعماله طولاً، وسنة على الأصل، ولا تعتريه الإباحة لأن ما أصله الندب لا تعتريه الإباحة، ولا يكره الاشتراك في السواك والمشط والمرود خلاف ما تظنه العوام فإن ذلك لنفرة نفوسهم، ولم يرد نص بالكراهة، قال: والخلوف بالضم تغير الفم، وبالفتح كثير الخلف بالوعد، والخلف بفتحتين الذرية الصالحة، وبإسكان اللام الذرية السوء اهـ.

     [فائدة]: تردد في التحفة في كراهة إزالة الخلوف بغير السواك، وصرح زي بأنه لا يكره بنحو أصبعه وكالصائم الممسك، نعم إن تغير فمه بنحو نوم لم يكره، قاله م ر والخطيب خلافاً لابن حجر، ولو مات الصائم بعد الزوال حرم إزالة خلوفه بالسواك قياساً على دم الشهيد، قاله (م ر) والخطيب خلافاً لابن حجر، ولو مات الصائم بعد الزوال حرم إزالة خلوفه بالسواك قياساً على دم الشهيد، قاله (م ر) اهـ بج.

     [فائدة]: نقل الكردي عن البكري والإيعاب وغيرهما أن أغصان الأراك أولى من عروقه، وكلام الرافعي وابن الرفعة والإمام يقتضي التسوية بينهما، وقال ق ل: وينبغي أن ينوي بالسواك السنة ويقول: اللهم بيض به أسناني، وشدّ به لثاتي، وثبت به لهاتي، وبارك لي فيه، وأثبتني عليه يا أرحم الراحمين. وقال في التحفة: ويسنّ أن يكون السواك باليمنى، وأن يجعل خنصره وإبهامه تحته، والثلاثة الباقية فوقه، وأن يبلع ريقه أول استياكه إلا لعذر ولا يمصه، وأن يضعه فوق أذنه اليسرى أو ينصبه بالأرض ولا يعرضه، وأن يغسله قبل وضعه، كما إذا أراد الاستياك به ثانياً وقد حصل به تغير، ولا يزيد في طوله على شبر، ولا يستاك بطرفيه اهـ.

     [فائدة]: من فوائد السواك أنه يطهر الفم، ويرضي الرب، ويبيض الأسنان، ويطيب رائحة الفم، ويشد اللثة ويصفي الخلقة عن نحو البلغم، ويذكي الفطنة، ويقطع الرطوبة، ويجلو البصر، ويبطىء الشيب ويسوّي الظهر، ويضاعف الأجر، ويسهل النزع، ويذكر الشهادة عند الموت، ويورث السعة والغنى واليسر، ويسكن الصداع وعروق الرأس، ويذهب وجع الضرس والحفر، ويصحح المعدة ويقوِّيها، ويزيد في الفصاحة والعقل، ويطهر القلب، ويقوي البدن، وينمي الولد والمال. وذكر بعضهم فوائد أخر تحتاج إلى توقيف اهـ. إيعاب.

     [فائدة]: يسنّ حلق الرأس للرجل في النسك وسابع الولادة وكافر أسلم، ويكره للمضحي في عشرذي الحجة، ويباح فيما عدا ذلك، إلا إن تأذى ببقاء شعره أو شق عليه تعهده فيندب، اهـ إقناع وبج. وعن أنس رضي الله عنه قال: “كان رسول الله يكثر دهن رأسه وتسريح لحيته”. وعن شيخنا ابن علان المكي: من قال إن النبي كان يدهن جسده الشريف فقد استنقص به عليه السلام ويخشى عليه الكفر، اهـ من زاد العجلان شرح الزبد.

     (مسألة: ش): لا يكره حلق ما تحت الحلقوم على المعتمد، إذ لم يرد فيه نهي وليس هو من اللحية، على أنه لا يكره الأخذ من طول اللحية وعرضها كما ورد في الحديث، وإن نص الأصحاب على كراهته، نعم نص الشافعي رضي الله عنه على تحريم حلق اللحية ونتفها، ولو قيل بتحريم نتف الشيب لم يبعد.

     [فائدة]: يكره الأخذ من طول الحاجبين لأنه تغيير لخلق الله تعالى، وعن الحسن وغيره أنه لا بأس به، وأن النبي فعله، اهـ تجريد المزجد. والمعتمد في تقليم أظفار اليدين أن يبدأ بسبابة يمناه إلى خنصرها ثم إبهامها، ثم خنصر يسراه إلى إبهامها. وفي تقليم الرجلين من خنصر يمناه إلى يسراه على التوالي، قاله في التحفة والباجوري تبعاً للإحياء، إلا أنه فيه أخر إبهام اليد اليمنى إلى الفراغ وأبدى في ذلك نكتة.

     [فائدة]: قال النووي: يحرم خضب يدي ورجلي رجل بحناء، وكلام صاحب البيان والماوردي والرافعي وغيرهم يقتضي الحلّ وهو المختار اهـ عباب. وفي القلائد: خص بعض أصحابنا كراهة القزع بترك مواضع متفرقة أو بجانب، أما القصة والقفا فلا بأس بهما للغلام، وجزم به الفقيه عبد الله بن أبي عبيد التريمي.

     (مسألة: ش): لو ختن المولود الجن بأن أزيل ما يغطي الحشفة كفى، إذ القصد إزالته كما لو ولد مختوناً، ولا يسنّ حينئذ إمرار الموسى بخلاف الرأس في المحرم.

     [فائدة]: نقل عن الشيخ عبد الله بلحاج بافضل عن شيخه الشيخ عبد الرحمن بن الشيخ علي علوي أنه قال: رأيت في بعض شروح المنهاج أنه ينبغي للشخص وضع النعل عرضاً لا طولاً، ورأى بلحاج المذكور يوماً نعله موضوعة طولاً وقد أراد أن يحرم فانحرف ووضعها عرضاً.

الحجامة

     [فائدة]: في الحجامة على الريق بركة وزيادة في العقل والحفظ، وخير أيامها الأحد والاثنين، وفي التلوّث خلاف، وتكره يوم السبت والربوع، وخير أوقاتها من الشهر بعد النصف وقبل آخره، وينبغي أن لا يقرب النساء قبلها بيوم وليلة وبعدها كذلك، وإذا أراد الحجامة في الغد فليتعشّ عند العصر، ولا يأكل أثرها مالحاً، وليشرب على أثرها خلاًّ، ثم يحسو شيئاً من المرقة والحلو لا رائباً ولبناً، ويقلّ شرب الماء، والفصد مثلها، اهـ من البستان للسمرقندي.

فروض الوضوء

    [فائدة]: حكمة اختصاص الوضوء بهذه الأعضاء كما قيل: إن آدم عليه السلام توجه إلى الشجرة بوجهه وتناولها بيده، وكان قد وضع يده على رأسه ومشى إليها برجله، فأمر بتطهير هذه الأعضاء، اهـ باجوري.

     [فائدة]: تتعلق بالنية سبعة أحكام نظمها بعضهم فقال:

حقيقة حكم محل وزمن >< كيفية شرط ومقصود حسن

     فحقيقتها قصد الشيء مقترناً بفعله، ومحلها القلب، وحكمها الوجوب، ومقصودها تمييز العبادة عن العادة، كالجلوس للاعتكاف تارة وللاستراحة أخرى، أو تمييز رتبها كالفرض عن النفل، وشرطها إسلام الناوي وتمييزه وعلمه بالمنويّ، وعدم الإتيان بمنافيها، وعدم تعليقها كإن شاء الله إلا إن قصد التبرك، وزمنها أي وقتها أول العبادات إلا الصوم، وكيفيتها تختلف بحسب الأبواب اهـ ش ق.

     (مسألة: ي): تطلق النية على معنيين: أحدهما قصد العمل وإرادته وانبعاث النفس إليه لتحصيل ما هو محبوب لها في الحال أو المآل، وهو طلب رضا الله تعالى والخوف من عقابه، وهذه هي التي بحث على تصحيحها جميع العلماء والصالحين، وهي خارجة عن اختيار العبد، إذ ما تميل إليه النفس خارج عن الاختيار، بل من قوي إيمانه، وكثر خوفه، وعظمت رغبته فيما أعد الله لأوليائه، وقل التفاته إلى ما سواه، صارت قصوده وإراداته في أغلب حركاته تحصيل رضا من آمن به، وما يبعد من عقابه، ومن ضعف إيمانه، وغلبت عليه الشهوات، وكثرت رغبته في زهرة الدنيا، صارت قصوده مقصورة عن ذلك، وإن أتى بأعمال ظاهرها طاعة، نعم للعبد اختيار في هذه النية، وتصحيحها بتقوية أسبابها من الإيمان بمولاه، والرغبة والرهبة فيما أعد من الثواب والعقاب، لتنبعث الإرادة الصالحة المثمرة للتجارة الرابحة، وحكم هذه الوجوب في جميع أنواع الطاعات، والندب في جميع المباحات وفي ترك المعاصي والمكروهات. والثاني على قصد الشيء مقترناً بفعله، وهذه هي التي يبحث عنها الفقهاء، وهي في الحقيقة عين الأولى، وإنما امتازت عنها باستحضار ذلك عند ابتداء الفعل، ووجوب ذلك الاستحضار مبني على أن وجوبه لازم، إما لتميير العبادة عن العادة كالغسل الواجب، أو المسنون من غسل التبرد، وإما لتمييز راتب العبادة بعضها عن بعض، كالصلاة تكون فرضاً أو نفلاً، فكل ما كان من العبادات مشتبهاً بالعادة أو على مراتب مختلفة لزم استحضار قصده عند ابتدائه، إلا نحو الصوم والزكاة مما جوّز الشرع فيه تقديم الاستحضار، وما لم يكن كذلك فلا، بل اللازم فيه النية بالمعنى الأول وهو إرادة وجه الله تعالى، فعلم أنه إما أن تجب النيتان معاً كما مر أو الأولى فقط، فيما سلم من الاشتباه والاختلاف، وذلك كالإسلام والأذان ومطلق الأذكار والقراءة، أما العادات وترك المعاصي والمكروهات فلا تجب لها نية، بل تندب الأولى ليثاب عليها، ولو أشرك في النية ما لا تطلب له نية فاته الكل عند ابن عبد السلام، واعتبر الباعث عند الغزالي اهـ. قلت: رجع ابن حجر في حاشية الإيضاح وأحال عليه في غيرها أن له ثواباً بقدر قصده الأخروي وإن قل. واعتمد (م ر) كلام الغزالي، وهذا في غير قصد نحو الرياء، أما هو فمسقط للثواب مطلقاً اتفاقاً، قاله الكردي:

     (مسألة: ب): اللحية إما خفيفة بأن ترى البشرة من خلالها في مجلس التخاطب، أو كثيفة بأن لا ترى، أو بعضها كذا وبعضها كذا، فلكل حكمه إن تميز، وإلا وجب غسل الجميع، وليس بينهما درجة متوسطة، وتحصل سنة التخليل بغسل الكثيفة بلا كراهة كالرأس، وورد أن من السنة أخذ غرفة بعد تثليث الوجه يغسل بها لحيته، ونص عليه العامري في البهجة لكنه لم يشتهر في كتب المذهب، وكأنهم لم يروه لقوادح خفيت عن المقلدين، فلم يسع لمثلنا إلا الإفتاء بما عليه أئمة المذهب، وقد ذكروا أنه تكره الزيادة على الثلاث، وللعامل سبيل غير الفتوى.

     (مسألة: ك): اعتمد الشيخ زكريا وابن حجر أن ما خرج عن حد الوجه بحيث لو مد خرج بالمد عن جهة نزوله من شعور وجه المرأة، والخنثى حكمه حكم الداخل في حده، أي فيجب غسل ظاهره وباطنه، والبشرة تحته مطلقاً، واعتمد (م ر): أن الخارج من شعورهما كالخارج من شعور الرجل إن خف وجب غسل ظاهره وباطنه، وإن كثف وجب غسل ظاهره فقط.

     (مسألة: ك): الوسخ الذي على ظاهر البدن والظفر والسرة إن نشأ من البدن كالعرق المتجمد فله حكم البدن فينقض لمسه، ويكفي إجراء الماء عليه في الطهارة، وإن نشأ من غير البدن كالغبار وجبت إزالته، أما الوسخ الذي يجتمع تحت الأظفار، فإن لم يمنع وصول الماء صح معه الوضوء، وإن منع فلا في الأصح، ولنا وجه وجيه بالعفو اختاره الغزالي والجويني والقفال، بل هو أظهر من حيث القواعد من القول بعدمه عندي، إذ المشقة تجلب التيسير، فيجوز تقليده بشرطه ولو بعد الصلاة اهـ. وفي ب نحوه في وسخ الأظفار وزاد: وفصل بعضهم بين أن يكون من وسخ البدن الذي لا يخلو عنه غالب الناس فيصح معه الوضوء للمشقة، وأن يطرأ من نحو عجين فلا، وهذا الذي أميل إليه.

     (مسألة: ب): يجب في نحو الشقوق إيصال الماء إلى جميع ما في محل الفرض من الغور الذي لم يستتر، وإزالة ما أذيب فيها من نحو شمع وسمن مانع من إيصال الماء إلى البشرة ما لم يصل اللحم، ويجب أيضاً إزالة ما خيط به الشق مما يمنع وصول الماء إلى محل الفرض ما لم يستتر، نعم إن خاف من إزالته محذور تيمم تيمماً عنه.

     [فائدة]: الذي يظهر من كلامهم أن الشق والثقب حيث كانا في الجلد ولم يصلا إلى اللحم الذي وراء الجلد وجب غسلهما إن لم يخش ضرراً وإلا تيمم، وحيث وصلا اللحم لم يجب، وإن لم يستتر، إلا إن ظهر الضوء من الجهة الأخرى فيجب غسل جميعه حينئذ، اهـ كردي.

     (مسألة): محدث حدثاً أصغر غمس أعضاءه الأربعة فقط في الماء ونوى ارتفع حدثه وإن لم يمكث، كما لو غطس بعد أن طلى ما عداها بشمع، نقله الكردي عن فتاوى ابن حجر، وأفتى به عبد الله بن سراج، وخالفهما أبو حويرث فقال: لا يرتفع بغمس الأعضاء المذكورة بل لا بد من الغطس، وفرق بين المسألتين.

سنن الوضوء

     [فائدة]: يسن للمتوضىء أن يتعوذ قبل التسمية ثم بعدهما: الحمد لله الذي جعل الماء طهوراً والإسلام نوراً، الحمد لله على الإسلام ونعمته، رب أعوذ بك من همزات الشياطين، وأعوذ بك رب أن يحضرون، ثم يتشهد، ومما ينفع للوسوسة في أي أمر كان أن يضع يمناه على صدره ويقول: سبحان الملك الخلاق الفعال سبعاً {إن يشأ يذهبكم ويأت بخلق ـ إلى ـ عزيز} اهـ (ش ق). ولا ينبغي أن يأتي بالأذكار الواردة في الوضوء وبعده في نحو الجوابي المعهودة، لأنها صارت محلاً للبول والقذر فيكره فيها الذكر، كما قاله الحبيب القطب عبد الله الحداد، وشد النكير على من نقل عنه خلافه.

     (مسألة: ش): المعتمد أن أول سنن الوضوء التسمية، وقيل السواك، ولو ترك بعض السنن ولو من أوله أثيب على ما أتى به منها بشرط أن توجد النية فيما قبل غسل الوجه، نعم الترتيب بين المضمضة وغسل الكفين مستحق، فلو قدمها لم تحسب على المعتمد، وكذا بين مسح الرأس والأذنين لا غير. وهنا دقيقة وهي ندب السواك لكل ذكر فيشمل التسمية، وندبها لكل أمر ذي بال، فيحصل حينئذ دور كما هو معلوم، ولا يتخلص منه إلا بأن يقال: تسمية السواك لا يندب قبلها سواك، وهو أولى من عكسه لاعتناء الشارع بالتسمية أكثر.

     [فائدة]: قال سم: يحرم وضع اليد المتنجسة بعينية في البركة الموقوفة أو المسبلة إن تقذر منها الماء لإمكان طهرها خارجها، ومثله البصاق والمخاط، اهـ كردي.

     (مسألة): يتخير نحو المتوضىء في تخليل اللحية والأصابع كالدلك، بين أن يفعله مع كل غسلة أو يؤخره بعد الثالثة، ويخلل ثلاثاً وهو الأولى، ويسنّ تخليل اللحية بغرفة مستقلة، قاله في التحفة، نعم في الإيعاب ندب تخليل أصابع الرجلين مع غسلهما.

     (مسألة: ب): يحصل سنّ تخليل أصابع اليدين والرجلين بأي كيفية كانت، وكمالها بالكيفية المشهورة ومستقلاً بماء جديد.

     (مسألة): لا يحصل تطويل الغرة إلا بعد نية معتبرة ولو عند غسل حمرة الشفة، وظاهر قوله : “أنتم الغر المحجلون يوم القيامة من إسباغ الوضوء” أن هذه السيما إنما تكون لمن توضأ بالفعل في حياته لا بوضوء الغاسل للميت، وينبغي أن مثل الوضوء التيمم لإقامته مقامه، اهـ ع ش.

     (مسألة): لا تحصل سنة تثليث الرأس بمسح ثلاثة جوانب منه ولو مرتباً إذ لا يسمى تثليثاً، إلا إن كان بموضع واحد كما نص عليه، نعم يحصل بذلك تكميل الرأس إن عمه، وشرط المسح على العمامة أن لا يعصي بلبسها لذاته كمحرم، وأن لا يكون عليها نجاسة ولو معفوّاً عنها، وأن يمسح جزءاً من الرأس أولاً، وأن يتصل مسح الجزء بمسح العمامة وإلا صار مستعملاً. قاله في حاشية الجمل، وفي ش ق: لا يشترط الاتصال على المعتمد.

     [فائدة]: يندب غسل الأذنين مع الوجه ثلاثاً كمسحهما مع الرأس ومنفردتين ووضع كفيه عليهما، فالجملة اثنا عشر اهـ أجهوري. وقوله: ووضع كفيه إلخ قال ش ق: أي ثلاث مرات على التوالي بعد تثليث مسح الأذنين على الأظهر، لا بعد المرة الأولى ولا بعد كل مرة اهـ.

     (فرع): لو كان معه ماء لا يكفي كل السنن قدم ما قيل بوجوبه، ثم ما أجمع على طلبه، ثم ما قوي دليله على الأوجه، ولو كفى تثليث بعض الأعضاء كالوجه فالظاهر أن تفريقه على الكل مرتين أولى، اهـ بجيرمي على الإقناع.

     (مسألة: ب): تردد سم في ندب الشرب عقب الوضوء من الماء الموقوف، ولم أر من صرح بندبه، لكن إطلاقهم يقتضي أنه لا فرق كسائر السنن، وكأن ترك الشرب من الجوابي المعروفة لاستقذارها غالباً، ومعلوم أن تناول المستقذر حرام، فلو فرض عدم الاستقذار سنّ الشرب حينئذ اهـ، وخالفه ج فقال: الظاهر حرمة الشرب أخذاً من إطلاقهم حرمة الشرب من الماء الموقوف للطهارة، سواء قبل الوضوء وبعده، إذ هو مناف لشرط الواقف، وقاعدة إذا اجتمع المقتضي والمانع تقديم المانع تؤيد ذلك.

     [فائدة]: يندب للمشتغل بالوضوء إجابة المؤذن ولو فرغ من الوضوء مع فراغ المؤذن أتى بالذكر المشروع عقب الوضوء، ثم ذكر الأذان، ثم دعاء الوضوء، ولا يفوت الأذكار عقبه بطول الفصل كركعتي الطواف والتكبير المقيد، اهـ فتاوى بامخرمة.

     [فائدة]: ينبغي أن لا يتكلم بين الوضوء والذكر لخبر: “من توضأ ثم قال قبل أن يتكلم أشهد الخ غفر له ما بين الوضوء من قبل”. وورد: “من قرأ {إنا أنزلناه} في أثر وضوئه مرة كان من الصدِّيقين، ومن قرأها مرتين كتب في ديوان الشهداء، ومن قرأها ثلاثاً حشره الله مع الأنبياء” اهـ إيعاب. وفي نزهة المجالس حديث: “من قرأها مرة كتب له عبادة خمسين سنة، أو مرتين أعطاه الله ما يعطي الخليل والكليم والحبيب، أو ثلاثاً فتحت له أبواب الجنة يدخل من أيها شاء بلا عتاب ولا عذاب” ويسنّ قراءة الإخلاص لأنه عليه الصلاة والسلام أمر علياً بذلك، ويسنّ عقب الوضوء: اللهم اغفر لي ذنبي، ووسع لي في داري. وبارك لي في رزقي اهـ. زاد في الترحيمية للشيخ حسن بن خليل المقدسي: وقنعني بما رزقتني، ولا تفتني بما زويت عني، اهـ من تكملة فتح المعين للشيخ عبد الله باسودان.

     (مسألة: ك): تفوت سنة الوضوء بطول الفصل عرفاً كما في التحفة والنهاية، وضابطه بأن يزيد على الذكر المأثور وإنا أنزلناه ثلاثاً بقدر ركعتين خفيفتين، ونقل عن إفتاء السمهودي أن فواتها بالحدث، ويسنّ أن يقرأ في الأولى: {ولو أنهم إذ ظلموا أنفسهم ـ إلى ـ رحيماً} وفي الثانية: {ومن يعمل سوءاً ـ إلى ـ رحيماً} اهـ. قلت: ورجح في فتاوى بامخرمة كلام السمهودي، وينبغي أن يستغفر الله ثلاثاً كل ركعة بعد قراءة الآية المذكورة، كما نص عليه في المسالك وغيره.

     [فائدة]: في استحباب تجديد الوضوء خمسة أوجه: أصحها بعد أن يصلي بالأول ولو نفلاً، والثاني بعد فرض، والثالث بعدما يطلب له الوضوء، والرابع بعد صلاة أو سجدة أو قراءة في مصحف، والخامس مطلقاً اهـ شرح المهذب، قال ابن حجر: يحرم التجديد قبل أن يصلي صلاة ما إن قصد عبادة مستقلة، وقال (م ر): يكره.

     [فائدة]: لا بد للوضوء المسنون من نية معتبرة ولو نية الفرضية إذا لم يرد الحقيقة، ولا تكفي نية الأسباب، لأن القصد هنا رفع الحدث الأصغر، إما لنحو حدثه الأكبر في صورة الجنب، أو لتحصيل حقيقة الطهارة، فيكفر إثمه في نحو التكلم بكلام فيه إثم، أو لرفع حدثه فيما فيه خلاف بنقض الوضوء، أو ليزداد تعظيمه وتأمله في نحو قراءة القرآن والعلم، وبه علم الفرق بينه وبين الغسل المسنون حيث نوي سببه اهـ ش ق.

مسح الخف

     [فائدة]: شرع مسح الخف في السنة التاسعة، وثبت عنه قولاً وفعلاً، وعن الحسن: حدثني سبعون صحابياً أنه مسح على الخفين اهـ باجوري.

     (مسألة: ك): المعتمد الذي دل عليه كلام ابن حجر و (م ر) وغيرهما اشتراط الطهارة وغيرها من شروط المسح عند اللبس فقط، فلو طرأت نجاسة وزالت قبل المسح ولو بعد الحدث، أو لم تزل ومسح على غير موضعها أو موضعها وهي معفوّ عنها لم يضر، وما أوهمته عبارة التحفة من الضرر فمؤوّل، إذ يغتفر في الدوام ما لا يغتفر في الابتداء.

     [فائدة] : ابتداء المدة في الخف من انتهاء الحدث مطلقاً عند ابن حجر والخطيب تبعاً لشيخهما زكريا، وفرق (م ر) بين ما كان بغير اختياره كالخارج فمن انتهائه، أو باختياره كاللمس والنوم فمن ابتدائه كما لو اجتمعا اهـ باسودان.

نواقض الوضوء

     (مسألة: ج): ابتلي ببلل يخرج من ذكره، فإن تحقق خروجه من داخله فنجس ينتقض به الوضوء، وإلا فلا نقض ولا تنجس للشك، وأما الدم الخارج من الدبر من علة البواسير أو غيرها، فإن كان من داخل الدبر نقض قطعاً أو من خارجه فلا.

     (مسألة): خرجت مقعدة المبسور انتقض وضوؤه، وتصح إمامة المبسور إذ لا تلزمه الإعادة.

     [فائدة]: الحاصل في النقض بالخارج من الثقبة أنه إن كان المخرج منفتحاً فلا نقض بالخارج من غيره مطلقاً اتفاقاً، أو منسدّاً نظر، فإن كان خلقياً نقض الخارج مطلقاً حتى من المنافذ كالفم عند ابن حجر، خلافاً لـ(مر) والخطيب فيها أو عارضاً فلا نقض به، إلا إن خرج من تحت السرة اتفاقاً، وتثبت للمنسدّ جميع الأحكام، سواء كان خلقياً أو عارضاً، ولا يثبت للمنفتح إلا النقض بالخارج منه فقط، قاله الشيخ زكريا وابن حجر، ووافقهما (م ر): في العارض، قال: أما في الخلقي فتنقل جميع الأحكام للمنفتح وتسلب عن الأصلي اهـ كردي.

     [فائدة]: خروج المني يوجب الغسل ولا ينقض الوضوء، ونظم بعضهم صور خروجه من غير نقض فقال:

نظر وفكر ثم نوم ممكن >< إيلاجه في خرقة هي تقبض

وكذاك في ذكر وفرج بهيمة >< ست أتت في روضة لا تنقض

وكذاك وطء صغيرة أو محرم >< هذي ثمان نقضها لا يعرض

وزيد عليها إخراج المني بنحو فخذه اهـ باجوري.

     [فائدة]: العقل الغريزي صفة غريزية يتبعها العلم بالضروريات عند سلامة الحواس، وهو إما وهبي وهو ما عليه مناط التكليف، أو كسبي وهو ما يكسب من تجارب الزمان، وسمي عقلاً لأنه يعقل صاحبه عن ارتكاب الفواحش، ولذا يقال: لا عقل لمرتكب الفواحش، والأصح أن مقره القلب، وله شعاع متصل بالدماغ، وهو أفضل من العلم لأنه منبعه وأسه، قاله ابن حجر. وقال (م ر) عكسه لاستلزامه له، ولأن الله تعالى يوصف بالعلم لا بالعقل اهـ باجوري.

     [فائدة]: الجنون مرض يزيل الشعور من القلب مع بقاء القوة والحركة في الأعضاء، والإغماء يزيلها مع فتور الأعضاء، والسكر خبل في العقل مع طرب واختلاط نطق، والنوم ريح لطيفة تأتي من الدماغ إلى القلب فتغطي العين، فإن لم تصل إلى القلب فنعاس لا نقض به اهـ جمل.

فائدة أخبر معصوم نائماً غير ممكن بعدم خروج شيء لم ينتقض كما في الإمداد، ولو أخبر من نام ممكناً عدل بخروج ريح أو بلمسها له وجب الأخذ بقوله، كما اعتمده في التحفة والإيعاب، خلافاً لما نقله زي عن (م ر) من النقض في الأولى وعدمه في الثانية، واعتمد بج وجوب الأخذ في الثانية إن كان المخبر معصوماً.

     [فائدة]: المس يخالف اللمس في هذا الباب من ثمانية

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai