Kumpulan Doa Tolak Bala Di Bulan Safar Terbaru Dan Terlengkap Sebuah Doa yang sangat bagus kita amalkan dalam mengarungi kehidupan ini

    Safar adalah nama bulan ke dua dalam penanggalan hijriyah. Secara
harfiah berarti melakukan perjalanan. Bulan Safar dipercaya sebagian
masyarakat kaum Muslimin dunia sebagai bulan yg tak menguntungkan. Dalam tradisi Jahiliyyah bulan Safar menjadi bulan yg paling ditakuti. Anak yg lahir pada bulan Safar dianggap anak pembawa sial dan bencana. Tapi Rasulullah Saw kemudian mengubah persepsi itu dengan meniadakan kepercayaan adanya hari atau bulan bencana dan hari atau bulan buruk
Semua hari dan bulan adalah baik, anugerah Allah Swt, yang bisa memberi manfaat untuk kita semua.

    Namun lantaran persepsi tersebut melekat terus dalam diri kita, dan
supaya kita benar-benar terhindar dari bencana atau malapetaka,
diperlukan do’a, agar semakin menguatkan kita dalam mengarungi kehidupan.

    Untuk itu, dalam kesempatan ini saya menulis sebuah buku saku yang
memuat tentang do’a-do’a yang sangat diperlukan untuk bekal kita dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan segala intrik di dalamnya. Do’a ini banyak disebut sebagai do’a yang mujarab untuk memperbaiki nasib dan menolak bala.

   Do’a ini pertama kali saya dapatkan dalam bentuk berupa bundel dari
sebuah majalah Islam ternama. Sebuah do’a yang dikutip dari do’a Imam Al-Faqihul Muqaddam Muhammad bin Ali Ba’alwi. Beliau adalah ‘induk’ semua habib di Yaman. Dikenal sebagai ulama besar dan pewaris kemuliaan ahlulbait, keluarga terdekat Nabi Muhammad Saw. Semua habib di Yaman dan
di Indonesia memiliki tautan silsilah kepadanya.

    Al-Faqihul Muqaddam (wafat 653/1254) juga disebut-sebut sebagai sulthanul awliya, pemimpin para aulia, yang kebesarannya bisa
disetarakan dengan Syekh Abdul Qadir Jailani (561 H/1166 M).

    Do’a ini saya buat kembali dalam bentuk digital agar semakin banyak
lagi yang bisa mengamalkannya, agar kita semua diselamatkan Allah Swt
dari bencana.

    Selain itu di sini juga disertakan do’a-do’a haikal, yakni do’a-do’a
enangkal bala dari ayat-ayat suci Al-Qur’an. Ini juga merupakan
ayat-ayat yang bisa menyelamatkan kita dari sakit, bencana, malapetaka,
musibah, kejahatan, nasib buruk, dan senantiasa membuat kita mendapatkan pertolongannya Allah Swt.

    Kedua do’a ini sebaiknya kita baca setiap hari. Allahu yuwaffiquna
ila thariqihil mustaqim. Aamiin.

DO’A TOLAK BALA

Bismillaahirrahmanirrahiim.

Alhamdulillaahi rabbil ‘alamin.

Allahumma unqulna wal muslimina minas saqawati ilas sa’adati. Waminan naari ilal jannah. Waminal ‘adzabi ilar rahmah. Waminadz-dzunuubi ilal maghfirah. Waminal isa-ati ilal ihsan. Waminal khawfi ilal aman. Waminal faqri ilal ghina. Waminal dzulli ilal ‘izzi. Waminal ihanati ilal karamati. Waminadl-dlayqi ilas sa’ati. Waminasy-syarri ilal khayri.
Waminal ‘usyri ilal yusri. Waminal adbari ilal iqbal. Waminas suqmi ilas
sihhati. Waminal sukhthi ilar ridla. Waminal ghaflati ilal ‘ibadah.
Waminal fafrati ilal ijtihad. Waminal khad-lani ilat tawfiq. Waminal
bid’ati ilas sunnah. Waminal jawri ilal ‘adli.

(Dengan nama Allah, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).

(Segala puji bagi Allah, seru sekalian alam)

(Ya Allah, ubahlah nasib kami dan nasib kaum muslimin dari celaka
menjadi bahagia, dari neraka menjadi surga, dari mendapat azab menjadi
mendapat rahmat, dari yang berdosa menjadi beroleh ampunan, dari nestapa menjadi kebaikan, di ketakutan menjadi aman, dari miskin menjadi kaya, dari hina menjadi mulia, dari rendah menjadi agung, dari sempit menjadi luas, dari buruk menjadi baik, dari sulit menjadi mudah, dari berpandangan kebelakang menjadi senantiasa berpandangan ke depan, dari
sakit menjadi sehat, dari dilaknat menjadi disukai,  dari lalai menjadi
ibadah, dari masa peralihan menjadi masa ijtihad, dari canda menjadi
petunjuk, dan dari aniaya menjadi adil).

Allahumma a’inna ‘ala dinina bid dunya. Wa ‘alad dunya bit taqwa. Wa
‘alat taqwa bil ‘amali. Wa ‘alal ‘amali bit tawfiq. Wa ‘ala jami’i dzalika biluthfikal mufdli ila ridlaka, almunhiyyi ila jannatika.
Al-Mash-hubi dzalika bin nadzari ila wajhikal karimi. Ya Allah, ya
Allah, ya Allah, ya Rabbahu, ya Rabbahu, ya Rabbahu, ya Ghawtsahu, ya akramal akramin, ya Rahmanu ya Rahim, ya dzal jalali wal ikram. Ya dzal mawahibil ‘idham. Astaghfirullahal adzim alladzi laa ilaha illa huwal hayyul qayyum wa atuubu ilayh.

(Ya Allah, tolonglah kami dalam beragama ini dengan bantuan dunia.
Tolonglah dunia kami dengan takwa. Tolonglah takwa kami dengan perbuatan baik. Tolonglah perbuatan baik kami dengan petunjuk. Dan tolonglah semua itu dengan kelembutan-Mu, yang melingkupi ridla-Mu, yang mengantarkan
kami pada surga-Mu, dan mengantar kami untuk bisa melihat wajah-Mu yang mulia. Ya Allah, ya Allah, ya Allah, ya Tuhan kami, ya Tuhan kami, ya Tuhan kami, ya Penolong kami, ya Penolong kami, ya Penolong kami, wahai Tuhan, yang Mahamulia dari segala yang mulia, wahai Tuhan, yang Maha Pengasih, wahai Tuhan yang Maha Penyayang, wahai Tuhan yang memiliki kemuliaan dan keagungan, wahai Tuhan, yang memiliki anugerah-anugerah
agung, aku memohon ampun kepada-Mu, yang Mahaagung, yang tiada Tuhan selain Engkau, yang Mahahidup dan Maha Berdiri, dan aku bertobat kepada-Mu).

Allahumma inni as-alukat tawfiqa limaa habbika ilal a’mali wa shidqit
tawakkuli ‘alayka wa husnidh dhanni bika wal ghunyati ‘amman siwaka.

(Ya Allah, aku meminta kepada-Mu petunjuk untuk mencintai-Mu dengan amal perbuatan dan tawakal yang benar kepada-Mu, berprasangka baik kepada-Mu,
serta tak membutuhkan siapa pun selain diri-Mu).

Ilahi, ya Lathiifu, ya Razzaqu, ya Waduudu, ya Qawiyyu, ya Matiinu,
as-aluka ta-ahhulan bika. Wa-astighraqan fika. Wa Luthfan syamilan min ladunka. Warizqan wasi’an hani-an mari-an wa sinnan thawilan wa ‘amalan shalihan fil imani wal yaqiini. Wa mulazamatan fil haqqi wad dini. Wa ‘izzan wa syarafan yabqa wayata-abbadu la yasyubuhu takabburun walaa ‘utuwwun walaa fasad. Innaka sami’un qarib.

(Wahai Tuhan, yang Mahalembut, wahai Tuhan, yang Maha Pemberi Rezeki, wahai Tuhan, yang Maha Penderma, wahai Tuhan, yang Mahakuat, wahai Tuhan, yang Mahapasti, aku meminta kepada-Mu untuk menjadi kekasih-Mu,
selalu tenggelam kepada-Mu, senantiasa mendapat kelembutan di sisi-Mu, dan mendapatkan rezeki melimpah yang menyenangkan, usia panjang, senantiasa beramal saleh dalam iman dan yakin, senantiasa berpegang teguh pada agama dan keyakinan, mulia, memiliki harga diri yang abadi tanpa dikotori kecongkakan, penganiayaan, dan perusakan. Karena sesungguhnya Engkau adalah Zat yang Maha Mendengar dan Maha Pengabul
do’a).

Wa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa alihi wa shahbihi wa sallam.

(Semoga rahmat dan salam-Mu senantiasa Kau anugerahkan kepada junjungan kami Nabi Muhammad Saw. serta sahabat dan kerabatnya. Aamiin).

***********************************
Tata Cara Niat Dan Doa Shalat Tolak Bala Lidaf’il Bala

– Hari rabu terakhir bulan safar sering juga di sebut deng rebo wekasan, di hari rabu ini menurut kebanyakan para Auliya Allah yang memiliki pengetahuan spiritual yang sangat tinggi mengatakan bahwa pada setiap tahun, Allah swt menurunkan 320.000 macam bala bencana ke bumi dan semua
itu pertama kali terjadi pada hari Rabu terakhir di bulan Shafar (As
Syeikh Al Kamil Fariduddin As Sukar Janji di dalam kitab “Al Jawahir Al
Khoms”) yang dikenal dengan Rabu Wekasan. Oleh sebab itu hari tersebut menjadi hari yang terberat di sepanjang tahun. Maka di sunnatkan untuk melakukan shalat yaitu sholat tolak bala.

Shalat tolak bala yaitu Shalat sunnah yang di kerjakan untuk memohon
ampunan dari bala bencana (lidaf’il balaa) dan sudah jamak laksanakan
oleh pengikut Jamiyyah Nahdlatul Ulama di Indonesia dan seluruh dunia.
meski dalam khasanah pemikiran NU sendiri shalat ini diterima dengan
baik dan memodifikasi/meluruskan ajaran islam-kejawen yang
memelencengkannya menjadi Sholat Rebo Wekasan. KH.Hasyim Asy’arie
pendiri NU juga pernah berfatwa, tidak boleh mengajak atau melakukan sholat Rebo wekasan karena hal itu tidak ada syariatnya.

KH.Mustofa Bisri(Gus Mus) berfatwa kalau dikampung-kampung masih ada orang yang menjalankan sholat rebo wekasan, ya niatnya saja yang harus diubah. Jangan niat sholat Rebo wekasan, tapi niat sholat sunat gitu saja, atau niat sholat hajat walau hajatnya minta dijauhkan dari bala’,
pokoknya jangan niat sholat Rebo wekasan karena memang nggak ada
dasarnya. Dan kepada mereka yang jadi panutan masyarakat harus
menjelaskan soal ini.” Shalat sunnah lidaf’il balaa ini tak harus dilakukan di hari rabu terakhir bulan safar, tapi dimana kala ketika
kita merasa firasat buruk akan adanya bala bencana.

Tata cara sholat tolak bala

Dapat dilakukan secara sendiri sendiri atau ber jama’ah dan di kerjakan sebagaimana sholat-sholat pada umumnya Jumlah raka’at = 4 raka’at dengan 2 kali salam dengan bacaan setelah al fatihah :
Surat al kautsar (17x)
Surat al Ikhlas (5x)
Surat al Falaq dan an Nas masing masing (1x)

Niat Shalat Tolak Bala

اُصَلِّي سُنَّةً لِدَفْعِ الْبَلاَءِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

Usholli sunnatal lidaf’il balaa rokatainii lillaahi ta’ala

Saya sholat sunnah untuk tolak bala dua rakaat karna allah ta’ala.

Doa setelah shalat Tolak Bala

Bismilaahir rahmaanir rahiim
Wa shallallaahu alaa sayyidinaa muhammadin wa alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Allaahumma yaa syadiidal quwa wa yaa syadidal mihaal yaa aziiza dzallat
Li’izzatika jamii’u khalqika ikfinii min jamii’I khalqika yaa muhsinu
yaa mujammilu yaa mutafadh-dhilu yaa mun’imu yaa mukrimu yaa man laa ilaaha illa anta bi rahmatika yaa arhamar raahimiin Allaahumma bisirril hasani wa akhiihi wa jaddihi wa abiihi ikfinii syarra haadzal yawma wa maa yanzilu fiihi yaa kaafii fasayakfiyukahumul-laahu wa huwas-samii’ul ‘aliim. Wa hasbunallaahu wa ni’mal wakiilu wa laa hawla wa laa quwwata
illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim. Wa shallallaahu ta’aalaa ‘alaa
sayyidinaa muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wasallam

(Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Semoga shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah pada junjungan kami, Nabi Muhammad saw, keluarga dan para sahabatnya. Allahumma, Ya Allah, Tuhan Yang Maha Memiliki Kekuatan dan Keupayaan; Ya Allah, Tuhan Yang Mahamulia dan karena Kemuliaan-Mu itu, menjadi hinalah semua makhluk ciptaan-Mu, peliharalah aku dari kejahatan makhluk-Mu; Ya Allah, Tuhan
Yang Maha Baik Perbuatan-Nya; Ya Allah, Tuhan Yang Memberi Keindahan, Keutamaan, Kenikmatan dan Kemuliaan; Ya Allah, Tiada Tuhan kecuali hanya
Engkau dengan Rahmat-Mu Yang MahaPenyayang.
Allaahumma, Ya Allah, dengan rahasia kemuliaan Sayyidina Hasan ra dan saudaranya (Sayyidina Husein ra), serta kakeknya (Sayyidina Muhammad saw) dan ayahnya (Sayyidina `Ali bin Abi Thalib ra), peliharalah aku dari kejahatan hari ini dan kejahatan yang akan turun padanya; Ya Allah, Tuhan Yang Maha Memelihara, cukuplah Allah Yang Maha Memelihara lagi Maha Mengetahui untuk memelihara segalanya. Cukuplah Allah tempat kami bersandar; tiada daya dan upaya kecuali atas izin Allah Yang Maha Tinggi lagi MahaAgung. Amin.

Nah jadi kita ambil kesimpulan bahwa Shalat Tolak bala ini bukan sholat sunnah yang hanya di
kerjakan pada rabu wekasan saja, tapi bisa di kerjakan kapan saja, tapi
mungkin kebanyakan mengetahui bahwa sholat tolak bala ini di kerjakan pada rabu wekasan saja, padah kenyataannya tidak sebagaimana yang telah di bahas di atas.

Itulah ulasan kami kali ini tentang shalat tolak bala, mudah mudahan apa yang kami bahas ini bermanfaat bagi kita semua, dan mudah-mudahan kita semua bisa mengamalkannya dengan baik.
**************************************
Keutamaan Bulan Safar

 Bulan Safar adalah bulan kedua setelah Muharam dalam kalendar Islam (Hijriyah) yang berdasarkan tahun Qamariyah (perkiraan bulan
mengelilingi bumi). Safar artinya kosong. Dinamakan Safar karena dalam bulan ini orang-orang Arab dulu sering meninggalkan rumah untuk menyerang musuh.

Jelas, itu amalah khurafat dan bid’ah yang tidak bersumber dari ajaran
Islam dan tidak dicontohkan oleh Rasulullah Saw dan para sahabat.
Kesialan, naas, atau bala bencana dapat terjadi kapan saja, tidak hanya
bulan Safar, apalagi khusus banyak terjadi pada bulan Safar.

Allah Swt menegaskan: “Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.”
(QS. At-Taubah: 51 ).

Tidak amalan istimewa atau tertentu yang dikhususkan untuk dirayakan
pada bulan Safar. Amalan bulan Safar adalah sama seperti amalan-amalan
pada bulan-bulan lain.
Kepercayaan mengenai perkara sial atau bala pada sesuatu hari, bulan dan tempat itu merupakan kepercayaan orang jahiliah sebelum kedatangan Islam.
Rasulullah Saw bersabda: “Tidak ada wabah dan tidak ada keburukan
binatang terbang dan tiada kesialan bulan Safar dan larilah (jauhkan
diri) daripada penyakit kusta sebagaimana kamu melarikan diri dari seekor singa” (HR. Bukhari).

Pergantian malam dan siang, pekan demi pekan dan bulan demi bulan adalah merupakan salah satu tanda kekuasaanNya, sehingga semua itu tidak ada hubungannya dengan nasib celaka atau keberuntungan manusia.
Manusia akan mendapatkan keberuntungan atau sebaliknya mendapatkan bencana dan malapetaka adalah karena takdir dariNya, bukan berkaitan dengan suatu masa tertentu.
Namun sangat disayangkan sekali tradisi Jahiliyah yang berkeyakinan
bahwa ada hari baik dan ada hari buruk telah terwariskan oleh hampir
seluruh wilayah di dunia ini, dari kawasan Jazirah Arab pada zaman
sebelum Islam hingga saat ini di kawasan India dan sampai di Indonesia (khususnya jawa).
Mereka berkeyakinan bahwa ada hari-hari yang baik dan ada hari-hari yang naas, demikian juga ada bulan-bulan yang membawa kebaikan dan ada bulan-bulan yang membawa malapetaka. Di antara bulan-bulan yang mereka anggap sebagi bulan penuh bala adalah bulan shafar.

Awal mula kesyirikan yang menganggap bahwa adanya hari dan bulan yang baik dan yang buruk berawal dari adat jahiliyah yang mereka terima dari tukang-tukang sihir (kahin).
Dan bulan shafar ini mereka masukan ke dalam bulan yang penuh dengan malapetaka. Beberapa jenis keyakinan syirik yang bertentangan dengan Islam yang terjadi pada bulan Shafar adalah:

1. Masyarakat Arab Jahiliyah menganggap bulan shafar sebagai bulan penuh kesialan.( Shahih Bukhari no. 2380 dan Abu Dawud no. 3915 ).
2. Masyarakat Arab Jahiliyah juga meyakini adanya penyakit cacing atau ular dalam perut yang disebut shafar, yang akan berontak pada saat lapar dan bahkan dapat membunuh orangnya, dan yang diyakini lebih menular dari pada Jarab ( penyakit kulit / gatal ). ( Shaih Muslim : 1742, Ibnu Majah : 3539 )
3. Keyakinan masyarakat Arab Jahiliyah bahwa pada bulan shafar tahun sekarang diharamkan untuk berperang dan pada shafrar tahun berikutnya boleh berperang. ( Abu Dawud : 3913, 3914 ).
4. Keyakinan sebagian mereka yang menganggap bahwa umrah pada
bulan-bulan haji termasuk bulan Muharam ( shafar awal ) adalah sebuah kejahatan paling buruk di dunia. ( Bukhari no. 1489, Muslim : 1240, 1679 ).
5. Sebagian orang-orang di India yang berkeyakinan bahwa tiga belas ( 13 ) hari pertama bulan shafar adalah hari naas yang banyak diturunkan
bala’. ( Ad-Dahlawi, Risalah Tauhid )
6. Keyakinan sebagian umat Islam di Indonesia bahwa pada setiap tahun
tepatnya pada hari rebo wekasan Alloh menurunkan 320.00 ( tiga ratus dua pulun ) malapetaka atau bencana. ( Al-Buni dalam Kitab Al-Firdaus serta Faridudin dalam Kitab Awradu Khawajah dan tokoh-tokoh sufi lainnya ).
7. Mengenai rebo wekasan ini mereka juga berkeyakinan tidak boleh
melakukan pekerjaan yang berharga atau penting seperti pernikahan,
perjalanan jauh, berdagang dan lain-lain, jika tetap dilakukan maka
nasibnya akan sial.
Tapi, meskipun banyak sekali komentar dan kepercayaan negatif tentang bulan safar ini, tidak memundurkan rasa cinta terhadap bulan ini.
Bulan safar adalah salah satu perjalanan yang memang harus dilalui.
Suatu perjalanan menjadi seseorang yang lebih baik dengan mengintrospeksi diri kita.
Setiap orang pasti punya jalan hidupnya sendiri-sendiri. Layaknya jalan raya, jalan kehidupan ini pun tak selamanya lurus-lurus aja. jalan itu berliku, menanjak, menurun, ada yang mulus, ada yang rusak…
Nasib seseorang itu tergantung pada peran seseorang tersebut dalam
menjalani kehidupan. Allah SWT pernah bersabda:

“Mereka (para Rasul) berkata: “Kesialan / Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib sial?). Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.”(QS. Yaasiin, ayat 19)
Islam tidak mengenal adanya hari atau bulan naas, celaka, sial, malang
dan yang sejenis. Yang ada hanyalah bahwa setiap hari dan atau bulan itu
baik, bahkan dikenal hari mulia (Jum’at) dan bulan mulia (seperti bulan Ramadan, Syawal dan Dzulhijjah).
Kalaupun memang ada kenaasan atau kejadian yang kurang baik itu adalah takdir-Nya. tidak ada hubungannya dengan bulan yang tidak baik.
*************************************
4 Keutamaan Bulan Shafar Menurut Islam

Bulan Shafar merupakan salah satu bulan yang dianugerahkan oleh Allah
SWT. Sayangnya, banyak manusia yang menganggap bahwa bulan Shafar ini adalah bulan bala karena ada banyak sekali masalah atau cobaan yang biasanya turun ke bumi. Padahal, musibah atau cobaan itu bukan diturunkan oleh karena saat itu adalah bulan Shafar, melainkan semua itu terjadi karena kehendak Allah SWT. Tidak ada bulan dari Muharram sampai Dzulhijjah yang menjadi bulan bala. Semuanya adalah bulan yang istimewa karena bulan itu ada atas izin Allah SWT.

Sangat disayangkan karena zaman sekarang pemikiran bahwa bulan Shafar adalah bulan penuh musibah itu sudah tertanam erat dibenak manusia. Sama halnya ketika seseorang beranggapan bahwa suatu penyakit itu dapat menular karena disebabkan oleh penyakit itu sendiri. Padahal, dalam dasar ketauhidan, tidak ada terjadi sesuatu jika bukan karena izin Allah SWT. Dalam sebuah hadist disebutkan; dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda (yang artinya); “Tiada kejangkitan, dan juga tiada mati penasaran, dan tiada juga Safhar”, kemudian seorang badui Arab berkata: “Wahai Rasulullah SAW, onta-onta yang ada di padang pasir
yang bagaikan sekelompok kijang, kemudian dicampuri oleh Seekor onta betina berkudis, kenapa menjadi tertular oleh seekor onta betina yang berkudis tersebut ?”. Kemudian Rasulullah SAW menjawab: “Lalu siapakah yang membuat onta yang pertama berkudis (siapa yang menjangkitinya)?”
(HR. Bukhari dan Muslim).

Di dalam Al-Qur’an maupun hadist telah jelas diterangkan bahwasanya
Allah SWT melarang umat-Nya untuk mengkhususkan hari atau bulan-bulan tertentu sebagai sesuatu yang dianggap menjadi sumber kesialan termasuk menganggap bulan Shafar ini adalah bulan sial. Sebab, kesemua bulan adalah sama, bulan yang diberikan Allah SWT. Sebab, hakekat daripada kesialan atau assyu’mu ialah ketika manusia melakukan perbuatan maksiat kepada Allah SWT, seperti yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud RA:
“Jika kesialan terdapat pada sesuatu maka ada di lidah, karena lidah
adalah salah satu indera manusia yang sering dibuat maksiat.”

Rabu Terakhir Bulan Shafar

Para ulama terdahulu sependapat bahwa Allah SWT memang banyak menurunkan musibah pada hari Rabu terakhir di bulan Shafar. Saking besarnya, seluruh bala atau musibah di tahun ini akan diturunkan pada hari Rabu tersebut.

Ulama ahli ma’rifat juga menyebutkan bahwa di setiap tahun akan turun 320.000 bala yang semuanya diturunkan pada hari Rabu terakhir bulan Shafar. Oleh sebab itu pada hari tersebut disebut sebagai Yaumi Nahsin Musta’mir; hari yang paling sulit di setiap tahun.

Namun perlu ditanamkan di sini bahwasanya bala atau musibah yang Allah SWT turunkan pada hari Arba’ Musta’mir tersebut tidak serta merta
dijadikan alasan untuk menganggap bahwa bulan Shafar adalah bulan sial.
Justru sebaliknya, kita harusnya menganggap bahwa di bulan Shafar ini Allah SWT tengah memberikan ujian besar kepada umat-Nya. Maka, ketika musibah itu dianggap sebagai ujian, setiap orang akan berusaha
melewatinya dengan sebaik mungkin agar mendapat nilai yang baik.
Memperbanyak amal ibadah agar dihindarkan dari mara bahaya adalah salah satu cara menghadapi ujian tersebut.

Menurut ulama, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menghadapi hari Rabu terakhir di bulan Shafar, yakni :

 1. Shalat sunnah empat raka’at; dengan tiap-tiap raka’atnya membaca surah Al-Kautsar 17 kali, surah Al-Ihklas 5 kali, serta Ma’udzatain 1 kali dan membaca doa. Insya Allah, ia akan dihindarkan dari berbagai musibah di hari itu sampai satu tahun.

 2. Disunnahkan membaca surah Yaasin sebanyak 313 kali kemudian berdoa.

Sebagai muslim yang beriman kepada Allah SWT, kita meyakini bahwsanya Qada’ dan Qadar-Nya Allah SWT ialah penentu dari segala yang terjadi. Dengan begitu, keimanan kita akan semakin kuat dan tidak akan mudah terpengaruh oleh hal-hal yang menyesatkan seperti perbuatanzina dalam islam yang sangat dilarang dalam islam. Kita percaya bahwa sebanyak apapun musibah yang diturunkan Allah SWT pada bulan Shafar, tidak serta merta terjadi karena bulan Shafar adalah bulan kesialan, melainkan karena kasih sayang Allah SWT kepada umat-Nya sehingga segala musibah itu diturunkan adalah untuk menyeru manusia agar senantiasa mengingat Allah dan hanya meminta pertolongan kepada-Nya. Oleh karena itu, bulan Shafar menjadi bulan yang istimewa karena pada bulan ini kita akan menjadi semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Maka, adapun keutamaan bulan shafar adalah :

 1. Memperkuat keimanan

Kita yakin bahwa bulan Shafar adalah sama seperti bulan-bulan lain yang
diberikan Allah SWT sehingga kita bisa melakukan perbuatan amal ibadah yang bermanfaat. Tidak mempercayai bahwa bulan Shafar merupakan bulan sial karena segala sesuatu hanya terjadi atas izin Allah SWT.

Sebagaimana firman-Nya yang artinya; “Jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia.
Jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus : 107).

 2. Yakin akan ketetapan Allah SWT

Allah SWT berfirman yang artinya;  “Katakanlah, ’Sekali-kali tidak akan
menimpa kami, melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami.
Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang
beriman harus bertawakal.” (QS. At-Taubah : 51).

 3. Menghidari dari hal yang bertentangan dengan ketauhidan

Oleh sebab kita mengetahui bahwa pada hari Rabu terakhir bulan Shafar
adalah hari di mana Allah SWT banyak menurunkan musibah, bukan berarti apa-apa yang kita niatkan hari itu dan apabila kita batalkan maka disebabkan oleh musibah, melainkan karena niat ingin beribadah.

Contoh; kita batal bepergian di hari Arba’ Musta’mir bukan karena takut
akan bala tapi karena ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui amal ibadah yang kita kerjakan hari itu.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya; “Barangsiapa yang keperluannya tidak dilaksanakan disebabkan berbuat thiyarah, sungguh ia telah berbuat kesyirikan. Para sahabat bertanya, ’Bagaimanakah cara menghilangkan
anggapan (thiyarah) seperti itu?’ Beliau bersabda; ’Hendaklah engkau
mengucapkan (doa), Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali itu datang dari
Engkau, tidak ada kejelekan kecuali itu adalah ketetapan dari Engkau,
dan tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau’.” (HR.
Ahmad dan Ath-Thabrani).

 4. Meningkatkan ketaqwaan dan semakin bertawakkal kepada Allah SWT

Dengan menyadari bahwa segala sesuatu adalah kehendak Allah SWT, maka ketaqwaan kita juga akan meningkat. Kita semakin rajin beribadah seperti shalat wajib dan shalat fardhu karena tiada lain tujuan selain mendapat ridha Allah SWT.
**************************************
Keutamaan Bulan Shafar

Bulan Shafar adalah salah satu bulan Allah yang mulia. Di bulan ini Allah SWT menurunkan berbagai bala’ dan coba’an serta musibah di bumi.
Akan tetapi perlu diketahui, bahwa  musibah-musibah tersebut tidak akan terjadi kecuali dengan Qadha’ dan Qadar Allah SWT.

Bulan Shafar adalah salah satu bulan Allah yang mulia. Di bulan ini Allah SWT menurunkan berbagai bala’ dan coba’an serta musibah di bumi.
Akan tetapi perlu diketahui, bahwa  musibah-musibah tersebut tidak akan terjadi kecuali dengan Qadha’ dan Qadar Allah SWT.  Bukan karena sesuatu yang lain dari berbagai makhluk Allah SWT. Akan tetapi semua hal tersebut adalah sesuai dengan Qadha’ dan Qadar Allah SWT.  Dalam sebuah Hadist yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW telah menjelaskan bahwa kita tidak boleh mempercayai suatu penyakit itu menular karena ditularkan oleh penyakit itu  sendiri. Akan tetapi penyakit yang menular tersebut tidak lain adalah atas kehendak Allah SWT serta Qadha’ dan Qadar-Nya. Hadist tersebut adalah sebagai berikut:

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلم أنه قال : ” لا عدوى و لا هامة و لا صفر ”  فقال أعرابي : يا رسول الله فما بال الإبل تكون في الرمل كأنها الظباء فيخالطها البعير الأجرب فيجربها ؟ فقال رسول الله صلى اللهعليه و سلم : فمن أعدى الأول ؟ ”  رواه البخاري ومسلم

Dari Abi Hurarah RA dari Rasulullah SAW bahwa sesungguhnya beliau
bersabda:”Tiada kejangkitan, dan juga tiada mati penasaran, dan tiada
juga Safhar”, kemudian seorang badui Arab berkata: “Wahai Rasulullah SAW, onta-onta yang ada di padang pasir yang bagaikan sekelompok kijang, kemudian dicampuri oleh Seekor onta betina berkudis, kenapa menjadi tertular oleh seekor onta betina yang berkudis tersebut ?”. Kemudian
Rasulullah SAW menjawab: “Lalu siapakah yang membuat onta yang pertama berkudis (siapa yang menjangkitinya)?”. HR Buhari dan Muslim

Adapun maksud dari kalimat (العدوى )  Al-‘Adwa dalam Hadist ini adalah
penyakit yang menular kepada orang lain yang mulanya sehat. Bangsa Arab di zaman dahulu meyakini hal ini pada berbagai penyakit seperti kudis dll, maka dari itu seorang badui Arab bertanya kepada Rasulullah SAW:
“Kenapa sekelompok onta yang asalnya sehat, di kumpuli oleh seekor onta yang berpenyakit kudis, onta tersebut menjadi berkudis juga? kemudian Rasulullah SAW menjawab: “Lalu siapa yang membuat onta pertama berkudis?” maksudnya: onta yang pertama tidak akan berkudis kecuali karena Qadha’ dan Qadar Allah SWT bukan karena penyakit tersebut.

Jadi seorang muslim tidak boleh meyakini suatu penyakit yang menjangkit orang sehat bahwa yang menularkan adalah penyakit itu sendiri akan tetapi Qadha’ dan Qadar Allahlah yang membuat orang tersebut tertular oleh penyakit. Seperti yang telah ditunjukkan dalam sebuah Ayat Al-Qur’an :

( ما أصاب من مصيبة في الأرض ولا في أنفسكم إلا في كتاب من قبل أن نبرأها ) [ الحديد : 22].

“Setiap bencana yang menimpa di bumi  dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (lauh mahfudz) sebelum Kami mewujudkannya”. Qs Al-Hadid: 22

Sabda Rasul SAW yang berbunyi : (  لا هامة )  La Haamata adalah menafikan
keyakinan orang-orang jahiliyah yang mengatakan bahwa orang yang sudah mati, arwah dan tulangnya menjadi penasaran, sehingga beterbangan bagaikan burung. Keyakinan ini menyerupai keyakinan ahli Tanaasukh  yang mengatakan bahwa Arwah-arwah mayit berpindah pada tubuh hewan-hewan tanpa digiring dan dibangkitkan kembali atau yang disebut Reinkarnasi.
Semua    keyakinan-keyakinan tersebut tidaklah benar menurut syareat islam. Adapun yang sesuai dengan Aqidah islamiyah adalah (Bahwa Arwah-arwah para syuhada’  berada pada tubuh burung hijau, memakan buah-buahan yang datang dari sungai Surga, hingga Allah SWT
mengembalikan Arwah tersebut kepada pemiliknya di hari kiyamat kelak).
Dan di riwayat lain dikatakan: “Arwah atau jiwa seorang mukmin menjadi
seekor burung yang bergelantungan di pohon Surga sampai Allah SWT
mengembalikannya kepada jasadnya di hari kiyamat “.

Adapun sabda Rasul SAW yang berupa : (  ولا صفر )  Wala shafara maka para ulama’ berbeda pendapat dalam menafsirkan kalimat ini. Ulama’-ulama’ Mutaqaddimin  berpendapat: bahwa yang dimaksud dengan Shafara adalah penyakit yang ada di dalam perut, dikatakan: itu merupakan cacing besar seperti ular yang hidup di dalam perut, mereka meyakini hal tersebut sebagai penjangkit, kemudian Rasulullah SAW meniadakan keyakinan tersebut. Sedangkan  Ulama’ lain berpendapat bahwa yang dimaksud dengan
Shafara di sini adalah bulan Shafar. Kemudian mereka berbeda pendapat
dalam penafsiran bulan Shafar menjadi dua penafsiran: Pertama : Maksud dari kalimat ini adalah meniadakan keyakinan orang Jahiliyah yang telah  mengakhirkan bulan Muharram sampai bulan Shafar dalam memuliyakannya.
Yaitu Dengan menghalalkan bulan Muharram dan mengharamkan bulan Shafar sebagai pengganti Muharram.
Kedua : Maksud dari kalimat tersebut bahwa orang jahiliyah dahulu
berpesimis atas datangnya bulan Shafar. Dan mengatakan bahwa bulan Shafar adalah bulan pembawa sial. Kemudian Rasulullah SAW membatalkan keyakinan tersebut. Pendapat inilah yang paling benar menurut kebanyakan Ulama’.

Kita lihat sebagian orang meyakini hal tersebut dengan menganggap bahwa bulan Shafar adalah bulan pembawa sial, sehingga menanggalkan bepergian
di bulan ini. Padahal hal tersebut adalah perbuatan yang termasuk syirik yang dilarang oleh syari’ah. Selain perbuatan tersebut dilarang di bulan Syafar dilarang juga dibulan-bulan atau hari-hari lain seperti Syawal atau hari rabu. Orang jahiliyah di zaman dahulu berpesimis pada bulan Syawal dan meyakini bahwa bulan Syawal bulan pembawa sial, yang asalnya bahwa penyakit lepra datang di bulan ini sehingga menyebabkan banyak pengantin yang meninggal dunia. Kemudian datanglah syari’at islam membatalkan keyakinan tersebut. Bahkan Raslulullahpun Menikahi Aisyah
dan juga Ummu Salamah di bulan Syawal. Seperti dalam Hadist Riwayat
sayidah Aisyah: “Rasulullah SAW menikahiku di bulan Syawal, dan
mengumpuliku di bulan Syawal… begitu juga menikahi Ummu salamah di bulan Syawal  ” .

Kita lihat di sebagian daerah di indonesia (di jawa contohnya) penduduk meyakini bahwa bulan Muharram (bulan suro) adalah bulan yang sial, maka dari itu jarang sekali orang tua menikahkan anaknya di bulan ini. Dengan keyakinan bahwa kebanyakan orang yang menikah di bulan ini, pernikahannya tidak akan berlangsung lama atau cepat meninggal dunia atau cerai. Padahal keyakinan tersebut adalah tidak benar dan dilarang oleh syari’at, karena itu termasuk (Atthiroh)  yang dilarang oleh syari’at sebagaimana dalam Hadist Nabi SAW:

 عن النبي صلى الله عليه و سلم أنه قال: ” لا طيرة ” و في حديث : ” من ردته الطيرة فقد قارف الشرك ”  

Dari Rasulullah SAW, beliyau bersabda: “Tiada Kesialan” dalam Hadist lain: ” Barangsiapa menanggalkan suatu Perjalanan Karena Pesimis (bekeyakinan akan sial) maka telah melakukan perbuata syirik”.

 و في حديث ابن مسعود المرفوع : ” الطيرة من الشرك و ما منا إلا  و لكن الله يذهبه بالتوكل “.

Dan di Hadist Ibnu Mas’ud marfu’: “Pesimis (meyakini akan sial)
termasuk perbuatan syirik dan kebanyakan dari kita telah melakukannya akan tetapi Allah SWT menghilangkannya dengan Tawakkal “.

Dalam kitab “Bidayatul hidayah” diceritakan tentang kepercaya’an rakyat Mesir terhadap sungai Nil. Dahulu sungai ini tidak akan mengalirkan air yang banyak kecuali dengan memberikan seorang tumbal. Setelah negara Mesir dibuka oleh ‘Amr bin ‘Ash RA dia melarang mereka untuk memberikan
seorang tumbal buat sungai ini. Kemudian dia meminta pendapat kepada Khalifah Umar RA dengan mengirim surat kepadanya yang berisi bahwa sungai nil tidak mengalirkan air yang cukup untuk kebutuhan rakyat Mesir kecuali dengan memberikan tumbal. Kemudian Sayyidina Umar bin Khattab menullis surat untuk sungai Nil yang berbunyi: “Wahai sungai Nil jika kamu mengalir karena Allah SWT maka mengalirlah, dan jika kamu mengalir karena selain Allah SWT maka janganlah mengalir”. Semenjak itu pula sungai Nil selalu mengalirkan Air yang sangat banyak dan tidak pernah kering.

Dari kisah ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kepercaya’an –
kepercaya’an yang tidak ada dasar atau dalil dari syari’at islam adalah
kepercaya’an yang batil. Dan seorang muslim tidak diperbolehkan untuk
mempercayainya. Cara agar seorang muslim terhindar dari Atthiroh adalah
dengan membaca:

“اللهم لا طير إلا طيرك و لا خير إلا خيرك و لا إله غيرك “.

 Allah SWT melarang kita untuk menghususkan hari atau bulan tertentu sebagai bulan sial atau membawa kesedihan atau yang lain. Semua bulan adalah sama, yaitu bulan bulan Allah SWT. Setiap bulan yang disitu seorang mu’min mengerjakan kebaikan dan beribadah maka bulan itu adalah bulan yang membawa berkah baginya. Setiap waktu yang dibuat seseorang
untuk mengerjakan maksiat, maka waktu tersebut adalah waktu yang membawa kesialan dan dosa. jadi Hakekat dari pada kesialan atau (الشؤم )
Assyu’mu adalah maksiat kepada Allah SWT, seperti yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud RA: “Jika kesialan terdapat pada sesuatu maka ada di lidah”. karena lidah adalah salah satu indera manusia yang sering dibuat
maksiat. Adiy bin Hatim juga berkata: “Beruntung dan sialnya sesuatu itu
tergantung pada lidahnya”.

Di sebuah Hadist yang dari Ali RA dikatakan :

 من حديث علي مرفوعا : ” باكروا بالصدقة فإن البلاء لا يتخطاها “

“Bersegeralah untuk bersedekah sesungguhnya balak tidak akan
melewatinya”, HR At-tabrani.
Di Hadist lain :

” إن لكل يوم نحسا فادفعوا نحس ذلك اليوم بالصدقة “

“Sesunggunya pada tiap-tiap hari mempunyai musibah, maka tolaklah
musibah itu dengan sedekah “.

*Amalan Kaum muslimin di bulan Shafar.*

Ulama’-ulama’ shaleh terdahulu mengatakan bahwa: “Allah SWT menurunkan bala’ yang sangat besar di hari rabu terakhir dari bulan Shafar dan semua bala’ yang akan di bagikan di tahun ini diturunkan di hari itu, maka barang siapa yang ingin selamat dari bala’–bala’ tersebut maka hendaklah berdo’a di awal bulan Shafar juga di hari rabu terakhir di bulan ini. Barang siapa berdo’a dengan do’a ini maka InsyaAllah Allah SWT akan menolak segala kejelekan dari pada balak tersebut.

*Do’a di awal bulan Shafar: *

(بسم الله الرحمن الرحيم ، وصلى الله تعالى على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين ، أَعوذ بالله من شر هذا الزمان وأهلِه ، وأعوذ بجلالك وجلال وجهك ، وكمال جلال قدسك ، أن تُجِيرَني ووالديَّ وأولادي وأهلي وأحبابي ، وما تحيطه شفقة قلبي من شر هذه السنة ، وقِني شرَّ ما قضيت فيها ، واصرفْ عنِّي شرَّ شهرِ صفر ، يا كريم النظر ، واختم لي في هذا الشهر والدهر بالسلامة والسعادة والعافية لي ولوالدي وأولادي ، ولأهلي ، وما تحوطه شفقة قلبي وجميع المسلمين ،وصلى الله تعالى على  سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم ).

Sebagian orang-orang shaleh mengatakan bahwa: barang siapa membaca do’a ini setiap hari di
bulan Shafar maka maka Allah SWT akan menjaganya dari bala’ dan mala
petaka di tahun itu sampai Shafar yang akan datang, dan tidak akan
terkena bala’ sama sekali. do’a itu adalah sbb:

( بسم الله الرحمن الرحيم ، (اللهم ) صل على سيدنا محمد عبدك ونبيك ورسولك النبي الأمي وعلى آله وبارك وسلم ، ( اللهم ) إني أعوذ بك من شر هذا الشهر ، ومن كل شدة وبلاء وبلية قدرتها فيه يا دهر ، يا مالك الدنيا والآخرة ، يا
عالماً بما كان وما يكون ، ومن إذا أراد شيئاً أن يقول له كن فيكون ، يا أزلي يا أبدي ، يا مبدئ يا معيد ، يا ذا الجلال والإكرام ، يا ذا العرش المجيد ، أنت تفعل ما تريد ، ( اللهم ) احرس بعينك نفسي وأهلي  ومالي وولدي ، وديني ودنياي التي ابتليتني بصحبتها ، بحرمة الأبرار والأخيار ، برحمتك يا أرحم الراحمين ، ( اللهم ) يا شديد القوى ، ويا شديد المحال ، يا عزيز ذلت لعزتك جميع خلقك ، اكفني عن جميع خلقك ، يا محسن يا مجمل ، يا مفضل يا منعم يا مكرم ، يا من لا إله إلا أنت برحمتك  يا أرحم الراحمين ، وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم أجمعين

Faidah 1:
Ulama Ahli ma’rifat menyebutkan : bahwa disetiap tahun turun 320 ribu
bala’, semuanya diturunkan dihari rabu terakhir dari bulan Shafar, maka
hari itu menjadi yaumi nahsin mustamir hari yang paling sulit di setiap tahun. Barang siapa melakukan shalat di hari itu sebanyak empat raka’at, setiap raka’at membaca surat Al-Kautsar tuju belas kali, juga surat Al-Ikhlas lima kali serta Ma’udzatain satu kali satu kali, kemudian setelah salam membaca do’a ini maka Allah SWT akan menjaganya dari berbagai macam bala’ dan musibah yang diturunkan di hari itu hingga
sempurna satu tahun. Adapun do’a yang diagungkan tersebut adalah :

( بسم الله الرحمن الرحيم ، وصلى الله تعالى على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم ، ( اللهم ) يا شديد القوي ويا شديد المحال ، يا عزيز يا ذلت لعزتك جميع خلقك ، اكفني من جميع خلقك  يا محسن يا مجمل ، يا متفضل يا منعم يا
مكرم ، يا من لا إله إلا أنت ، برحمتك يا أرحم الراحمين ، ( اللهم يسر الحسن وأخيه ، وجده وأبيه ، اكفني شر هذا اليوم وما ينزل فيه ، يا كافي ( فسيكفيكهم الله وهو السميع العليم ) وحسبنا الله ونعم الوكيل ، ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم ، وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم ) اهـ.

Ulama’ shaleh menyebutkan bahwa hari rabu terakhir dibulan Shafar adalah hari musibah yang terus menerus (Yaumi Nahsin Mustamir) maka disunahkan untuk membaca surat Yaasin dan jika sampai pada firman Allah SWT ( سلام قولا من رب الرحيم) mengulanginya sebanyak 313 ( tigaratus tigabelas kali ), kemudian berdo’a dengan do’a sbb:

اللهم صل على سيدنا محمد صلاة تنجينا بها من جميع الأهوال والآفات ، وتقضي لنا جميع الحاجات ، وتطهر بها من جميع السيئات ،وترفعنا بها أعلى الدرجات ، وتبلغنا بها أقصى الغايات ، من جميع الخيرات في الحياة وبعد الممات

Kemudian membaca :

(اللهم ) اصرف عنا شر ما ينزل من السماء ، وما يخرج من الأرض ، إنك على كل شيء قدير ، وصلى الله تعالى على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

Kemudian berdo’a dengan meminta sesuatu yang paling penting baik dunia atau akherat kemudian meminta kepada Allah SWT agar diselamatkan.

*Faidah 2:

Sebagian dari faidah yang mujarab untuk menolak balak dan menjaga diri adalah menulis ayat-ayat dibawah ini di kertas kemudian merendamnya di dalam air dan meminumnya. Dikatakan dalam kitab “Na’t Al-bidayat”:
“Diriwayatkan bahwa barang siapa shalat sebanyak empat raka’at seperti
yang diterangkan di atas, kemudian berdo’a dengan do’a di atas (Yaitu
 اللهم يا شديد القوى …الخ) kemudian setelah itu menulis ayat-ayat dibawah ini dan merendamnya di dalam air kemudian meminumnya maka Insya Allah akan diamankan dari bala’ di siang itu hingga akhir tahun.
Ayat-ayat tersebut adalah sbb:

سلام قولاً من رب الرحيم ) ( سلام على نوح في العالمين) ( سلام على إبراهيم ) ( سلام  على موسى وهارون ) ( سلام على إل ياسين ) ( سلام عليكم طبتم فادخلوها داخلين ) ( من كل أمر ، سلام هي حتى مطلع الفجر )
**************************************
Makna dan Peristiwa Penting yang Terjadi di Bulan Safar

 Pada hakekatnya semua hari, tanggal dan bulan adalah baik. Namun, memasuki, bulan Safar, akan diterangkan makna dan peristiwa yang pernah tejadi di bulan kedua  penanggalan Islam (Hijriah). Berikut kami hadirkan ulasan menarik terkait bulan Safar.

Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam penanggalan Hijriah. Yaitu,
bulan kedua setelah Muharam dalam kalendar Islam (Hijriyah) yang
berdasarkan tahun Qamariyah (perkiraan bulan mengelilingi bumi). Secara etimologi, Safar dalam bahasa Arab yang memiliki sejumlah arti di
antaranya “kosong, kuning, dan nama penyakit”.

Bulan ini dinamakan sebagai bulan Safar dalam pengertian “kosong” karena kebiasaan orang-orang Arab zaman dulu meninggalkan tempat kediaman atau rumah mereka (sehingga kosong, red) pada bulan tersebut untuk berperang atau pun bepergian jauh. Pengertian Safar tersebut menunjukkan arti negatif. Hal inilah yang selanjutnya menimbulkan kesan bahwa bulan Safar itu harus diwaspadai.

Kesan seperti ini berkembang dari suatu generasi ke generasi berikutnya hingga saat ini. Bahkan bulan Safar juga dipercaya sebagian masyarakat kita sebagai bulan yang tak menguntungkan.

Sementara  itu, telah menjadi kepercayaan keliru oleh sebagian umat bahwa Safar adalah bulan sial atau bulan bencana. Padahal, mitos Safar bulan sial ini sebenarnya sudah dibantah oleh Rasulullah SAW yang
menyatakan bahwa bulan Safar bukanlah bulan sial.

Dari Abu Hurairah r.a., Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidak ada penyakit menular (yang berlaku tanpa izin Allah), tidak ada buruk sangka pada sesuatu kejadian, tidak ada malang pada burung hantu, dan tidak ada bala (bencana) pada bulan Safar (seperti yang dipercayai).”

Rasulullah SAW kembali bersabda: “Tidak ada wabah dan tidak ada
keburukan binatang terbang dan tiada kesialan bulan Safar dan larilah
(jauhkan diri) daripada penyakit kusta sebagaimana kamu melarikan diri dari seekor singa” (HR. Bukhari)

Dalam sejarah Islam, bulan Safar menempatkan peristiwa-peristiwa penting yang berkaitan dengan perkembangan Islam dari zaman Rasulullah hingga kejayaan serta keruntuhunnya.

Berikut 11 peristiwa penting di bulan Safar. Misalnya, pernikahan
Rasulullah saw dengan Khadijah binti Khuwailid,  peristiwa Perang
Al-Abwa,  tragedi Ar Raji’, Tragedi Bi’ir Ma’unah, kemenangan Perang
Khaibar, peristiwa Pengepungan di Khats’am, masuk Islamnya Bani Udzrah, pengangkatan Usamah Bin Zaid, jatuhnya kota Baghdad ke tangan Hulakhu Khan, meninggalnya pembebas Jerusalem Shalahuddin Al Ayyubi.
Waullahuallam bi Showab.
**************************************
      Hikmah Bulan Safar

Sikap yang harus kita tumbuhkan dalam mengisi Safar ini, antara lain :
Pertama, meyakini bahwa Safar sama dengan bulan-bulan lainnya yang telah Allah SWT. jadikan sebagai kesempatan untuk melakukan amal-amal yang bermanfaat. Menganggap Safar sebagai bulan pembawa sial merupakan perbuatan haram dan syirik karena tidak ada yang mampu memberikan manfaat dan menimpakan mudarat kecuali Allah SWT., sebagaimana firmannya,

“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan
Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Yunus :107)

Kedua, bila musibah menimpa kepada diri kita di bulan ini, harus
diyakini semua itu merupakan ketetapan Allah SWT. yang penuh dengan keadilan dan hikmah-Nya. Allah SWT. berfirman,
“Katakanlah, ’Sekali-kali tidak akan menimpa kami, melainkan apa yang
telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan
hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS.
At-Taubah : 51)

Ketiga, jika kita membatalkan pekerjaan atau hajat pada bulan ini,
alasannya bukan kerana Safar, melainkan karena alasan logik yang tidak bertentangan dengan nilai ketauhidan. Rasulullah SAW. bersabda,
“Barangsiapa yang keperluannya tidak dilaksanakan disebabkan berbuat thiyarah, sungguh ia telah berbuat kesyirikan. Para sahabat bertanya, ’Bagaimanakah cara menghilangkan anggapan (thiyarah) seperti itu ?’
Beliau bersabda, ’Hendaklah engkau mengucapkan (doa), Ya Allah, tidak
ada kebaikan kecuali itu datang dari Engkau, tidak ada kejelekan kecuali
itu adalah ketetapan dari Engkau, dan tidak ada yang berhak diibadahi
dengan benar selain Engkau’.” (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)

Keempat, menumbuhkan sikap tawakal kepada Allah SWT. yang disertai usaha dan amal yang tidak bertentangan dengan syariat. Allah SWT. berfirman,
“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang gaib di langit dan di bumi dan
kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.”(QS. Huud : 123)

Kelima, meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. dengan melakukan berbagai ketaatan, baik dalam melaksanakan perintah-Nya maupun menjauhi larangannya. Dengan ketakwaan, akan menjadi sarana untuk mendapatkan
kebahagiaan, keselamatan, dan mampu membedakan yang benar dan batil (furqan).

Akhirnya, marilah kita perkuatkan asas tauhid dengan ilmu dan amal dan bermohon kepada Allah SWT. agar membimbing dan melindungi diri kita dari perbuatan syirik yang akan merugikan  kita di dunia maupun akhirat.
**************************************
 Amalan Bidaah Dan Khurafat Safar

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

اللهم صل على محمد وآل محمد

Dalam bulan ini masih terdapat di kalangan masyarakat yang melakukan perkara bidaah dan khurafat yang jelas bercanggah dan bertentangan dengan syariat Islam. Kepercayaan karut tersebut bermula daripada amalan atau kepercayaan Masyarakat Arab pada zaman jahiliyah iaitu sebelum kedatangan agama Islam, sememangnya terkenal dengan amalan-amalan yang
bercanggah dengan syarak. Perjalanan kehidupan seharian mereka sentiasa dibayangi oleh amalan-amalan syirik, tahyul dan khurafat yang dilarang Islam.

Kebanyakan orang Arab pada zaman jahiliyah beranggapan terdapat kesialan pada bulan Safar. Ternyata pemikiran jahiliyah ini masih diwarisi oleh segelintir kecil umat Islam pada zaman ini akibat lemahnya keimanan
dalam jiwa dan kejahilan mereka terhadap ilmu tauhid. Mereka beranggapan bulan Safar merupakan bulan di mana Allah menurunkan kemarahan dan hukuman ke atas dunia. Oleh itu banyak musibah dan bencana terjadi, khususnya pada hari Rabu terakhir bulan Safar.

Menyandarkan sesuatu musibah bakal menimpa terhadap sesuatu perkara seperti kedudukan bintang, waktu atau masa yang tertentu, gerakan binatang dan lain-lain adalah perbuatan yang tercela kerana segala sesuatu itu ditetapkan oleh Allah SWT tanpa ada faktor lain yang
mempengaruhi keputusan-Nya.

Firman Allah SWT:

7:131

“Ketahuilah, sesungguhnya nahas dan malang mereka itu hanya di tetapkan di sisi Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”
 (al-A’raaf 7: 131)

Oleh itu bagi sesiapa yang membuat sesuatu keputusan berdasarkan
tathayyur (ramalan buruk kerana sesuatu),  maka dia telah terjebak dalam lembah kesyirikkan.

Daripada ‘Abdullah ibnu ‘Umar r.a dia berkata, Rasulullah SAW bersabda:

      مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ

“Sesiapa yang menangguhkan hajatnya kerana al-Thayrah (ramalan buruk kerana sesuatu) maka dia telah berbuat syirik.”  (Hadis riwayat Imam
Ahmad, no: 6748)

Daripada ‘Abdullah Ibnu Mas’ud bahawasanya Rasulullah SAW bersabda:

      مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ثَلاَثًا وَمَا.

“Al-Thiyarah (menyandarkan keburukan kepada sesuatu) itu syirik,
al-Thiyarah itu syirik tiga kali. Dan tidak ada seoarang pun dari kita,
kecuali (telah terjadi dalam dirinya pengaruh al-Thiyarah tersebut) akan
tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakal.”  (Hadis riwayat Imam Abu Dawud, no: 3411)

      KEPERCAYAAN KHURAFAT DUNIA ARAB

Sesetengah umat Islam menghindarkan diri dari melakukan perjalanan pada bulan safar melainkan terdapat keperluan yang mendesak.

Sebagai contoh dalam kitab al-Futuhat al-Haqqaniy, penulis kitab
tersebut memilih untuk menahan diri dari keluar berjalan pada bulan ini
dan menasihati agar semua pengikut tarekat tersebut untuk tidak
meninggalkan rumah melainkan sekiranya benar-benar perlu.

Dalam kitab tersebut dikhabarkan bahawa Syaikh tarekat tersebut
‘Abdullah Faiz Daghestani berkata: “Pada hari Rabu terakhir bulan
Safar, 70,000 penderitaan (bala) akan menimpa dunia. Sesiapa yang
mengekalkan adab tersebut (beberapa amalan yang tertentu), dia akan dilindungi oleh Allah yang Maha Kuasa.”

 .

Perkara yang disebutkan ‘tathayyur’ atau meramalkan sesuatu kejadian
yang buruk disebabkan oleh sesuatu perkara adalah sinonim dengan
masyarakat jahiliyah. Contohnya;

.

1.  Sekiranya mereka ingin memulakan perjalanan mereka akan melihat pergerakan sesetengah jenis binatang seperti burung mahupun busur panah yang dilepaskan sama ada ke kiri, ke kanan, ke atas atau ke bawah.
Mereka beranggapan arah gerakan tersebut boleh mempengaruhi keburukan atau kebaikan yang mungkin akan dihadapi dalam perjalanan tersebut.
Sekiranya pada tanggapan mereka gerakan tersebut menunjukkan alamat yang tidak baik maka mereka membatalkan hasrat untuk meneruskan perjalanan tersebut.

.

2.  Imam al-Syafi’i r.h pernah berkata: “Dahulu golongan jahiliyah
apabila ingin bermusafir akan mengambil burung dan melepaskannya ke udara. Sekiranya ia terbang ke kanan maka mereka pun keluar atas tanggapan tuah tersebut. Jika ia terbang ke kiri atau ke belakang, maka mereka akan menganggap sial lalu berpatah balik. Maka apabila Nabi SAW diutuskan, baginda menyeru orang ramai: “Kekalkan burung pada sarangnya.”  Riwayat Abu Nu’aim al-Asfahani di dalam Hilyah al-Auliya’.

 .

Islam menyelar budaya ‘tathayyur’ ini dan menganggap ianya merupakan
satu perbuatan yang mencemar kemurniaan tauhid kerana ketergantungan hati seseorang kepada sesuatu perkara selain daripada Allah SWT dengan
menyakini perkara tersebut boleh membawa mudharat atau manfaat kepada kita. Islam meletakkan kejadian sesuatu perkara itu bergantung kepada kehendak dan kekuasaan-Nya semata-mata.

 .

Firman Allah SWT:

9:51

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Tidak sekali-kali akan menimpa kami sesuatu pun melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung yang menyelamatkan kami, dan (dengan kepercayaan itu) maka kepada Allah jualah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal.”
(At-Taubah 9: 51)

      KEPERCAYAAN KHURAFAT DUNIA MELAYU

Masyarakat Melayu juga turut mempercayai bahawa bulan Safar ini
merupakan bulan turunnya bala bencana dan malapetaka. Lantaran itu beberapa amalan bidaah telah dicipta sempena bulan Safar bagi
menghindari sebarang bentuk malapetaka yang berkaitan dengan kedatangan bulan tersebut. Setiap tahun mereka akan melakukan amalan-amalan karut sebagai suatu cara untuk menolak bala.

Antara amalan khurafat yang popular ialah;

1.     Pesta Mandi Safar

Masyarakat terutamanya yang tinggal berhampiran sungai atau pantai akan
mengadakan upacara mandi beramai-ramai dan bersuka ria dengan kepercayaan perbuatan berkenaan kononnya boleh menghapuskan dosa dan menolak bala.

Mereka berarak menuju ke destinasi terpilih diiringi dengan alunan
muzik, nyanyian, jampi serapah dan alunan zikir tertentu. Setelah itu
mereka mambaca jampi tertentu atau menulis ayat-ayat tertentu di atas
kertas lalu memasukkannya ke dalam bekas berisi air dan mandi dengannya.
Sebenarnya amalan mandi Safar ini diwarisi dari budaya Hindu.

Sebaliknya pesta berkenaan menambah dosa kerana ada yang tergamak melakukan perbuatan terkutuk di sisi syarak dengan pergaulan bebas antara lelaki dan perempuan tanpa batas, malah mencari bala kerana kadang-kadang ada yang mati lemas akibat kelalaian sendiri.

.

2.     Menulis Azimat

Berdasarkan kepercayaan karut itu ada yang menulis ayat wifiq pada kertas atau pinggan mangkuk yang kemudian diletakkan dalam tempayan, kolam, perigi atau sungai untuk diminum atau mandi dengan airnya konon untuk mendapat
perlindungan daripada bala buruk pada hari berkenaan.

3.     Majlis Perkahwinan

Kebanyakan masyarakat Islam terutama orang-orang tua tidak mahu mengadakan majlis perkahwinan dan keramaian dalam bulan Safar kerana mereka khuatir bahawa kedua-dua pengantin tidak bahagia dan akan susah atau tidak mendapat zuriat dan mempercayai jodoh pasangan pengantin
tersebut tidak akan berkekalan.

4.     Nasib Malang

Ada juga yang beranggapan bayi yang lahir pada bulan Safar bernasib
malang dan hendaklah dijalankan satu upacara khas untuk membuang nasib malang tersebut.

Bagi masyarakat Bajau di Sabah pula, mereka mempercayai bayi yang lahir
pada bulan Safar tidak bernasib baik. Lantaran itu, untuk mengelak
sebarang kecelakaan ke atas bayi tersebut, pada masa menyambut Maulud Nabi, bayi itu akan dibawa ke masjid untuk ditimbang. Simboliknya ialah untuk meminta pertimbangan daripada Allah agar tidak memburukkan nasib bayi tersebut.

5.     Korban

Terdapat juga segelintir pihak yang beranggapan dianjurkan untuk
mengerjakan ibadah korban pada tarikh 27 Safar.

Kesemua ini merupakan perkara-perkara tahyul dan khurafat yang harus dibanteras sehingga ke akar umbi. Lantaran itu hendaklah seluruh umat Islam menghindarkan diri dari melakukan amalan-amalan bidaah tersebut.

Allah SWT berfirman:

31:13

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, semasa ia memberi nasihat kepadanya: “Wahai anak kesayanganku, janganlah engkau mempersekutukan Allah (dengan sesuatu yang lain), sesungguhnya perbuatan syirik itu adalah satu kezaliman yang besar.”  (Surah Luqman 31: 13).

      TIDAK PERNAH DIAMALKAN

Ternyata kesemua amalan yang dikhususkan sempena bulan Safar di atas tidak pernah diperintah oleh Rasulullah SAW serta tiada seorang sahabat mahupun para al-Salafussoleh yang mengamalkannya.

Sabda Rasulullah SAW:

“Sesiapa yang mengada-adakan di dalam urusan kami (iaitu di dalam
perkara berkaitan agama) apa-apa yang tidak ada padanya, maka
tertolaklah ia.”  (Hadis riwayat Imam al-Bukhari, no: 2697)

“Sesiapa yang melakukan satu amal yang bukan dari suruhan kami (iaitu
di dalam perkara berkaitan agama), maka tertolaklah ia.”  (Hadis
riwayat Imam Muslim, no: 1718)

      TIADA KEMUDARATAN

Rasulullah SAW telah menegaskan bahawa segala tanggapan bahawa bulan Safar adalah bulan yang penuh dengan musibah dan bencana buruk adalah tidak benar. Baginda SAW sering berpesan supaya umatnya berwaspada ketika berhadapan dengan sesuatu musibah dan memberikan peringatan supaya jangan sekali-kali umat Islam beriktikad sial atau nahas Safar
berupaya memudaratkan kehidupan manusia.

Rasulullah SAW bersabda; “Tidak ada penularan penyakit (dengan
sendirinya), tidak ada thiyarah (sempenabaik atau buruk), tidak ada
kesialan (malang) kerana burung hantu, dan tidak ada kesialan (bala
bencana)pada bulan Safar.” (Hadis Riwayat Bukhari r.a., Muslim, Abu
Dawud, dan Ahmad r.a.)

Rasulullah SAW bersabda; “Beranggapan sial termasuk kesyirikan (beliau menyebutnya tiga kali).” Lalu beliau bersabda, “Tidak ada di antara kita yang selamat dari beranggapan sial. Menghilangkan anggapan sial tersebut adalah dengan bertawakal.” (HR. Abu Dawud)

Hendaklah kita menghindarkan diri dari melakukan ramalan bahawa akan
datang sesuatu perkara yang buruk disebabkan sesuatu perkara (tathayyur) kerana ianya termasuk dalam kategori amalan syirik. Ternyata syirik merupakan satu perbuatan yang zalim dan Allah SWT tidak akan mengampunkan golongan yang mengsyirikannya melainkan bagi mereka yang bertaubat.

Allah SWT berfirman:

4:116

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampunkan dosa orang yang
mempersekutukan-Nya dengan sesuatu dan akan mengampunkan (dosa) selain kesalahan (syirik) bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya.Sesiapa yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sesungguhnya dia telah sesat dengan kesesatan yang amat jauh.”  (Surah al-Nisa’ 4: 116).

Mencela waktu atau bulan yang tertentu adalah seolah-olah mencela Allah SWT kerana semua waktu itu adalah ciptaan Allah SWT. Bagi setiap waktu termasuk bulan Safar ini sekiranya dipenuhi dengan aktiviti yang bermanfaat serta amal soleh adalah termasuk dalam waktu yang baik dan penuh keberkatan. Oleh itu hendaklah bulan Safar ini dilihat seperti bulan-bulan yang lain dalam kalendar hijrah dan kita terus mengerjakan amal-amal ibadah yang disunnahkan seperti bulan-bulan lain.

Allah SWT berfirman:

64:11

“Tidak ada kesusahan (atau bala bencana) yang menimpa (seseorang)
melainkan dengan izin Allah; dan sesiapa yang beriman kepada Allah,
Allah akan memimpin hatinya (untuk menerima apa yang telah berlaku itu
dengan tenang dan sabar); dan (ingatlah), Allah Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu.”  (al-Taghaabun 64: 11)

Yakinlah bahawa Safar sama dengan bulan-bulan lainnya yang telah Allah
SWT jadikan sebagai kesempatan untuk melakukan amal-amal yang
bermanfaat. Menganggap Safar sebagai bulan pembawa sial merupakan perbuatan haram dan syirik kerana tidak ada yang mampu memberikan manfaat dan menimpakan mudarat kecuali Allah SWT; sebagaimana firmannya;

10:107
“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, tak ada yang dapat menolak karunia-Nya.Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”  (Surah Yunus :107)

Wallahu A’lam bishowab

والسلام علبكم و رحمة الله و بركاته

Kumpulan khutbah Nikah Khutbah Nikah bahasa Arab

الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ خَلَقَ مِنَ الْمَآءِ بَشَرًا، فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَّصِهْرًا، وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيْرًا.
وَأَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،
أَرْسَلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ. اللَّهُمَّ صَلِّ
وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَفْضَلِ الْخَلْقِ وَالْوَرَى، وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ صَلاَةً وَسَلاَمًا
كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ: فَيَآ أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ
حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
وَاعْلَمُوْا أَنَّ النِّكَاحَ سُنَّةٌ مِنْ سُنَنِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قَالَ اللهُ
تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ
الرَّحِيْمِ. «يَآ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَآئِلَ
لِتَعَارَفُوْا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ»، «وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ
أَزْوَاجاً لِّتَسْكُنُوْا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِيْ ذَالِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ
يَتَفَكَّرُونَ». وَقَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «النِّكَاحُ سُنَّتِيْ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ
فَلَيْسَ مِنِّيْ». وَقَالَ أَيْضًا: «يَا مَعْشَرَ الشَّبَابَ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ
أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ» وَقَالَ
أَيْضًا: «خَيْرُ النِّسَاءِ اِمْرَأَةٌ إِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا سَرَّتْكَ وَإِذَا أَمَرْتَهَا أَطَاعَتْكَ وَإِنْ غِبْتَ
عَنْهَا حَفَظَتْكَ فِيْ مَالِكَ وَنَفْسِهَا». بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، يآ
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً كَثِيْرًا وَّنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ
عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِوَالِدِيْنَا
وَلِمَشَايِخِنَا وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِيْ لآ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ × 3
أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَّمَدًا رَّسُوْلُ اللهِ × 3 صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَا ……….. بِنْ ………… ! اَنْكَحْـتُكَ وَزَوَّجْـتُكَ ِابْنَتِيْ ………………………….. بِمَهْرِ ………….. نَـقْدًا.

قَبِلْتُ نِكَاحَهَا وَتَزْوِيـْجَهَا بِالْمَهْرِالْمَذْكُوْرِ نَـقْدً

*********************

Teks Khutbah Nikah Bhs Indonesia

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ اْلَمحْمُوْدِبِنِعْمَتِهِ , اَلْمَعْبُوْدِبِقُدْرَتِهِ, اَلْمُطَاعِ بِسُلْطَانِهِ,  اَلْمَرْهُوْبِ مِنْ
عَذَابِهِ وَسَطْوَتِهِ ,   اَلنَّافِذِأَمْرُهُ فيِ سَمَائِهِ وَاَرْضِهِ, اَلَّذِيْ خَلَقَ اْلخَلْقَ بِقُدْرَتِهِ, وَمَيَّزَهُ
بِأَحْكَامِهِ, وَاَعَزَّهُمْ بِدِيْنِهِ, وَاَكْرَمَهُمْ بِنَبِيِّهِ مُحَمَّدٍصَلىَّ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ اسْمُهُ وَ تَعَالَتْ عَظَمَتُهُ , جَعَلَ الْمُصَاهَرَةَ سَبَبًا لَاحِقًا وَ أَمْرًا مُفْتَر
َضًا, أَوْشَجَ بِهِ الْأَرْحَامَ, وَ أَلْزَمَ الْأَنَامَ, فَقَالَ عَزَّ مِنْ قَائِلٍ : وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ مِنَ
الْمَاءِ بَشَرًا, فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَ صِهْرًا, وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيْرًا /الفرقان 54
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ تَعَالىَ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ
شُرُوْرِأَنْفُسِنَاوَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا,مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَمُضِلَّ لَهُ,   وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَهَادِيَ
لَهُ. اَشْهَدُ  اَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّاللَّهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ, وَاَشْهَدُاَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيْ كَتَابِهِ الْكَرِيْمِ : : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. (آل عمران: ). وَقَالَ اَيْضًا :يَاأَيُّهَا النَّاسُ
اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا
وَنِسَاءً, وَ اتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ و اْلأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا /
سورة النساء: 1
أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyirol Muslimin, Rohimakumulloh Itulah sebagian pembukaan khutbah nikah yang pernah dibaca oleh Rosululloh SAW sewaktu menikahkah putrinya yang bernama Siti Fatimah Az-Zahroh, dengan Sayyidina Ali karromalloohu wajhah, yang sengaja saya baca dengan harapan agar Aqdun Nikah pada pagi hari ini mendapatkan
barokah. Terutama bagi kedua mempelai, diharapkan memperoleh kebahagiaan hidup, sebagaimana kebahagiaan pada rumah tangga Nabi Muhammad SAW dengan Siti Khodijah dan rumah tangga Sayyidina Ali dengan Siti Fatimah Az-Zahroh.
Selanjutnya Rosululloh SAW mengatakan, bahwa semua peristiwa yang terjadi di dunia ini tidak lepas dari qodho’-qodarnya Alloh SWT.
Termasuk didalamnya adalah peris-tiwa pernikahan atau perjodohan, yang tidak cukup hanya dengan mengandalkan usaha manusia.
Karena Banyak orang yang sudah sekian lama berpacaran dan memadu cinta, ternyata ujung-ujungnya kandas di tengah jalan. Dan tidak sedikit pula orang tua yang sudah menjodohkan anaknya dengan calon menantu yang mereka sukai, akan tetapi keinginan mereka tersebut pada akhirnya juga tidak terwujud.
Itulah yang namanya perjodohan, yang tidak dapat dilepaskan dari
Qodho’-qodar Alloh.

فَإِنَّ الأُمُوْرَ كُلَّهَا بِيَدِ اللَّهِ, يَقْضِى فِيْهَا مَا يَشَاءُ وَيَحْكُمُ مَا يُرِيْدُ

Semua persoalan dalam kehidupan ini berada dalam kekuasaan Alloh. Alloh memutuskan dan menetapkan semua peristiwa sesuai dengan kehendak-Nya.

لاَ مُقَدِّمَ لِمَا أَخَّرَ, وَلاَ مُؤَخِّرَ لِمَا قَدَّمَ،

Tidak ada yang mampu memajukan sesuatu yang sudah ditunda oleh Alloh.
Dan tidak ada yang dapat menunda sesuatu yang sudah dimajukan oleh Alloh.

وَلاَ يَجْتَمِعُ اثْنَانِ وَلاَ يَفْتَرِقَانِ إِلاَّ بِقَضَاءٍ وَقَدَرٍ،

Dua orang tidak akan berkumpul dan tidak pula akan berpisah kecuali
dengan qodho’ dan qodar Alloh.

فَأَمْرُهُ تَعَالَى يَجْرِى عَلَى قَضَائِهِ، وَقَضَاؤُه يَجْرِي إِلَى قَدَرِهِ, لِكُلِّ قَضَاءٍ قَدَرٍ، وَلِكُلِّ قَدَرٍ
أَجَلٌ، وَلِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ.

Semua perkara terjadi sesuai dengan Qadho’ Allah. Qodho’ Allah terus
berproses menuju Qodar-Nya. Setiap Qodho’ ada qodar-nya. Setiap qodar
ada ajalnya, dan setiap ajal ada suratan taqdirnya.

Ma’asyirol Muslimin, ……
Diantara yang sudah diqodho’-qodarkanAlloh pada hari ini ialah
dinikahinya saudari …. Binti bapak ….., oleh saudara ….. Bin Bapak ……
yang akad nikahnya Insya Alloh akan kita saksikan nanti.
………… Paling tidak ada tiga hal yang perlu saya sampaikan, terutama
kepada saudara …. dan saudari ……, agar nantinya bias direnungkan dan
dijadikan sebagai modal dalam membina kehidupan rumah yang kokoh, tentram, sejahtera dan bahagia, sesuai dengan yang diajarkan oleh agama Islam.

PERTAMA. Akad Nikah merupakan perjanjian yang suci dan sakral. Alloh
menyebut Akad Nikah dalam surat An-Nisa’ : 21 dengan istilah “مِيْثَاقًا
غَلِيْظًا”, yang artinya suatu ikatan atau perjanjian yang sangat kuat dan
kokoh.
Oleh karena itu, pernikahan ini seharusnya dipertahankan secara
langgeng, tidak mudah bubrah, tidak gampang patah, dan tidak mudah
kandas di tengah jalan.
Agar menjadi sebuah ikatan yang kuat, saudara ….. dan saudari ….
seharusnya menjadikan pernikahan ini sebagai jalan untuk meraih
kehidupan yang langgeng, sakinah dan bahagia di dunia sampai di akhirat.
Kondisi ini akan terwujud jika kalian berdua mau saling mencintai,
saling menyayangi, saling bantu-membantu dan bekerjasamaterus menerus.
KEDUA, Agama Islam memandang pernikahan sebagai ibadah. Pernikahan memberi kesempatan seluas-luasnya kepada suami-isteri untuk menggali pahala sebanyak-banyaknya melalui berbagai aktifitas dalam kehidupan rumah tangga. Sampai-sampai hubungan intim suami-isteri pun dinilai sebagai perbuatan yang berpahala. Bahkan, separoh dari ajaran agama Islam adalah berupa kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan urusan rumah
tangga.

 “كما قال رسول الله : ”
إذا تزوّج العبدُ فقَدِ استكمل نِصْفَ الدّين. فليتّق الله في نصف الباقي

Oleh karena itu, faktor mencari pahala dan ridho Alloh, seharusnya lah dijadikan sebagai landasan dan motivasi dalam membina rumah tangga.
Tidak semata-mata didasarkan pada tujuan untuk mencari harta, menaikkan status dan kedudukan, apalagi sekedar untukmelampiaskan hawa nafsu.
Dengan menjadikan ibadah sebagai dasar pernikahan, maka Insya Alloh
bakal tercipta kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rohmah, serta langgeng dan penuh barokah,

KETIGA, Islam memandang Akad Nikah sebagai upacara serah terima amanat Alloh.
Kalimat ijab dan Qabul yang akan diucapkan nanti memang pendek dan mudah diucapkan oleh siapa saja, namun didalamnya terkandung makna yang luhur dan memiliki pengaruh / dampak yang sangat besar dalam aktifitas kehidupan berumah tangga.
Dengan ucapan ijab dan Qobul, maka akan muncul berbagai macam kewajiban dan beban tanggung jawab yang harus dipikul oleh suami dan istri. Itulah amanat Alloh yang harus dijaga dan dikelola secara sadar, serta dapat dipertanggung-jawabkan di hadapan Alloh SWT.
Dalam hal ini, saudara …… sebagai suami dibebani tugas menjadi kepala
keluarga, yang berkewajiban antara lain: memenuhi nafkah lahir dan
batin; mencukupi sandang, pangan dan papan secara wajar, sesuai dengan kadar kemampuannya; memperlakukan isteri secara baik; serta memberikan nasehat, didikan, arahan dan bimbingan kepada isteri ke jalan yang diridhoi Alloh, agar memperoleh keselamatan hidup fiddini wad-dun-ya wal akhiroh.
Sedangkan saudari …… sebagai isteri, dibebani tugas antara lain :
mengelola penghasilan suami, menatarumah tangga, mendidik anak-anak, taat dan setia kepada suami, serta menjaga kehormatan diri-pribadi dan suaminya. Sebagaimana sabda Nabi :

مَا اسْتَفَادَ المُؤْمِنُ بَعْدَ تَقْوَى اللهِ خَيْرًا لَهُ مِنْ زَوْجَةٍ صَالِحَةٍ

“Setelah bertakwa kepada Allah, seorang muslim tidak memperoleh sesuatu yang lebih baik, melebihi isteri yang shalihah:

إِنْ أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ وَإِنْ نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ وَإِنْ أَقْسَمَ عَلَيْهَا أَبَرَّتْهُ، وَاِنْ غَابَ عَنْهَا
نَصَحَتْهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ.

Yaitu seorang isteri yang jika diperintah oleh suaminya, dia segera
menurut, jika dipandangnya, dia sangat menyenangkan; jika diberi
sesuatu, dia menerimanya dengan senang hati; dan jika ditinggal pergi
suaminya, dia mampu menjaga kehormatan dirinya dan harta benda suaminya”.
Demikianlah Khutbah Nikah pada pagi hari ini, semoga bermanfaat bagi kita semua, terutama bagi calon mempelai berdua.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا, وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَات .
فَاشْهَدُوْا هَذَا العَقْدَ المُبَارَكَ. وَاسْتَغْفِرُوْا اللَّهَ. إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
أَسْتَغْفِرُ الله الْعَظِيْمَ(3×)اَلَّذِى لاَاِلَهَ اِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَاَتُوبُ إِلَيْهِ.
أَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ الله وَاَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ الله(3×)صلّى الله عليه و سلّم.
_________________________________

Khutbah nikah bahasa Arab dan artinya

الحَمْدُ للهِ الَّذِى خَلَقَ مِنَ المَاءِ بَشَرًا. فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا. خَلَقَ آدَمَ ثُمَّ خَلَقَ زَوْجَهُ
حَوَّاءَ مِنْ ضِلْعٍ مِنْ أََضْلاَعِهِ اليُسْرَى. فَلَمَّا سَكَنَ إِلَيْهَا قَالَتِ المَلاَئِكَةُ مَهْ يَآدَمُ حَتَّى
تُؤَدِّىَ لَهَا مَهْرًا. قَالَ وَمَا مَهْرُهَا قَالُوا أَنْ تُصَلِّيَ عَلَى مُحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِيِّيْنَ وَإِمَامِ
المُرْسَلِيْنَ , فَوَفَّى المَهْرَ وَخَطَبَ الأَمِيْنُ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَزَوَّجَهَا لَهُ عَلَى ذَلِكَ
المَلِكُ القُدُّوسُ السَّلاَمُ . وَشَهِدَ إِسْرَافِيْلُ وَمِيْكَائِيلُ وَبَعْضُ المُقَرَّبِيْنَ بِدَارِ السَّلاَمِ.
فَصَارَ ذَلِكَ سُنَّةَ أَوْلاَدِهِ عَلَى تَعَاقُبِ السِّنِيْنَ.

أَحْمَدُه أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً.
وَأَشْكُرُهُ أَنْ جَعَلَكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ بِالتَنَسُّلِ الَّذِى هُو أَصْلُ كُلِّ نِعْمَةٍ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ
إِلاَّ اللهُ مُبْدِعُ نِظَامِ العَالَمِ عَلَى أَكْمَلِ حِكْمَةٍ. لاَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ
العَالَمِيْنَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ حَبِيبُ الرَّحْمَنِ وَمُجْتَبَاهُ القَائِلُ حُبِّبَ
إِلَيَّى مِنْ دُنْيَاكُمُ النِسَاءُ وَالطِّيْبُ وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِى فِى الصَّلاَةِ وَقَالَ يَامَعْشَرَ الشَّبَابِ
مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فُطُوبَى لِمَنْ أَقَرَّ بِذَلِكَ عَيْنَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ.

فَإِنَّ النِّكَاحَ مِنَ السُّنَنِ المَرْغَوبَةِ الَّتِى عَلَيْهِ مَدَارُ الإِسْتِقَامَةِ إِذْ مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدْ كَمُلَ
نِصْفُ دِيْنِهِ كَمَا أَخْبَرَ بِذَلِكَ الحَبِيْبُ المَبْعُوثُ مِنْ تِهَامَةِ. وَقَالَ تَنَاكَحُوا تَنَاسَلُوا
فَإِنِّى مُبَاهٍ بِكُمُ الأُمَمَ يَومَ القِيَامَةِ. وَقَدْ حَثَّ عَلَيْهِ المَنَّانُ بِقَولِهِ وَأَنْكِحُوا
الأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِيْنَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِيْهِمُ اللهُ مِن
فَضْلِهِ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ. وَهَذَا عَقْدٌ مُبَارَكٌ مَيْمُونٌ وَاجْتِمَاعٌ عَلَى حُصُولِ خَيْرِ يَكُونُْ. إِنْ
شَاءَ اللهُ الَّذِى إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ. أَقُولُ قَولِ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ
اللهَ العَظِيْمَ لِى وَلَكُمْ وَلِوَالِدَيَّ وَوَالِدِكُمْ وَلِمَشَايِخِى وَمَشَايِخِكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِينَ
فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيْمُ

Segala puji bagi Allah, Dzat yang menciptakan manusia dari air, kemudian menciptakan keturunan dan kerabat. Allah menciptakan Nabi Adam kemudian menciptakan isterinya Sayidah Hawa dari tulang rusuknya yang kiri.
Ketika Adam menyukai Hawa, Malaikat berkata : “jangan dulu wahai Adam, hingga kau penuhkan maharnya.” Adam bertanya : “apakah maharnya?”
Malaikat menjawab : “bacalah shalawat kepada Nabi Muhammad pemungkas para Nabi dan Imam para Utusan.  Adam kemudian memenuhkan maharnya dan
Malaikat Jibril berkhutbah dan Allah menikahkan Adam dengan Sayidah
Hawa. Israfil, Mikail dan sebagian Malaikat Muqarrabin menyaksikan di
Daar as Salam. Kemudian ini menjadi contoh perilaku keturunannya dari
tahun ketahun.

Saya memuji kepada Allah yang menciptakan untukmu dari golonganmu, pasangan-pasangan agar kau merasa tentram dengannya dan Allah menciptakan diantaramu rasa cinta kasih. Saya bersyukur kepada Allah yang menciptakan suku-suku dan bangsa-bangsa dengan berketurunan yang
hal itu menjadi asal dari segala nikmat. Saya bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah, yang mengatur alam dengan kebijaksanaan yang sempurna.
Tiada Tuhan selain Allah Tuhan semesta alam. Saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, kekasih Allah yang Maha Penyayang dan pilihan Allah yang menyatakan : “disenangkan untukku dari duniamu, perempuan dan wewangian dan dijadikan penenang hatiku saat bershalat”
Dia juga berkata : “wahai para pemuda, barangsiapa diantaramu yang mempunyai bekal, menikahlah. berbahagialah bagi orang mengakui hal itu sebagai permata Rasulullah, keluarga, sahabat dan para tabiin.

Sesungguhnya nikah itu kesunnahan yang dicintai yang menjadi pondasi
istiqamah, karena orang yang menikah maka telah sempurna separo agamanya sebagaimana dikabarkan oleh orang yang dikasihi yang diutus dari Tanah Tihamah. Rasulullah bersabda : “Menikahlah dan berketurunanlah, sesungguhnya aku membanggakan denganmu ummat yang banyak dihari kiamat.
dan Allah mendorong menikah dengan firmannya : “Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha
Mengetahui.” Ini adalah pernikahan yang berkah dan beruntung, dan
pertemuan yang akan menghasilkan kebaikan bila dikehendaki Allah Dzat
yang bila menginginkan sesuatu, cukuplah berkata jadilah maka jadilah ia Inilah yang bisa saya katakan, dan saya bermohon ampun kepada Allah untuk ku, engkau semua, kedua orang tuaku dan orang tuamu, guru-guruku dan guru-gurumu dan segenap umat muslim. Maka bermohonlah ampun karena
Allah Maha Mengampuni dan Berbelaskasih.

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِيْ لآ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ × 3
أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَّمَدًا رَّسُوْلُ اللهِ × 3 صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَا ……….. بِنْ ………… ! اَنْكَحْـتُكَ وَزَوَّجْـتُكَ ِابْنَتِيْ ………………………….. بِمَهْرِ ………….. نَـقْدًا.

قَبِلْتُ نِكَاحَهَا وَتَزْوِيـْجَهَا بِالْمَهْرِالْمَذْكُوْرِ _نَـقْدً_
_______________________________

KHUTBAH NIKAH BAHASA SUNDA:
(NGAWUJUDKEUN RUMAH TANGGA ANU BAGJA)

Sembah sujud pangabdian pamujaan, tinuju wungkul ka Allah Rabbun Ghafur nu Maha Welas nu Maha Asih, Nu neteskeun hidayah rohmat-Na ka saha bae nu ibadah nurutkeun galur Rasulna.
Para wargi miwah para sepuh nu dimulyakeun ku Allah Alhamdulillah mangrupakeun pujian nu paling pantes kaluar tina lisan sarta ngawujud dina amalan urang sadaya, lantaran ku qudrah sareng iradah mantena urang sadaya tiasa riung mungpulung, patepung lawung
patepang wajah dina kaayaan sehat wal afiat  bari dibarung ku kayakinan
anu kuat yen teu aya hiji kajadian anu tumiba, hiji peristiwa nu
karandapan ku manusa dina kahirupan alam dunya anging parantos ditetepkeun taqdirna Allah, di antara eta taqdir the nyaeta teu lami deui bakal karandapan ku dua insan nu nyanding di payuneun urang.
Kumargi kitu urang sadaya miharep mugia takdir nu kaalaman ku dua
mempelai mangrupakeun takdir Allah nu pangsaena.
Ikhwatu Iman Rahimakumullah
aya tilu ayat nu sok dibaca ku Rasulullah nalika khutbah tikah, nu
sakabehna nganggo kecap ittaquu (bertaqwalah). Lamun eta tilu ayat the
dibaca sacara langsung tina mushaf Alquran, Sim kuring yakin, boh
panganten bari urang sadaya komo deuih panganten baru moal nyangka
ayat-ayat eta aya patula-patali jeung urusan pernikahan sarta rumah
tangga. Kusabab kitu sim kuring bade maparin kado pernikahan sangkan jadi bekel pikeun ngajalankeun kahirupan rumah tangga, kadona the kieu.
Kahiji, palebah mana hubungan ayat-ayat eta jeung urusan pernikahan
sarta rumah tangga. Kedua, naha ngan tilu ayat nu eta nu baca ku Raul
nalika khutbah tikah, padahal ayat-ayat Alquran teh kacida seeurna? Tilu
ayat nu dimaksud nyaeta Sembah sujud pangabdian pamujaan, tinuju wungkul ka Allah Rabbun Ghafur
nu Maha Welas nu Maha Asih, Nu neteskeun hidayah rohmat-Na ka saha bae nu ibadah nurutkeun galur Rasulna.
Tilu ayat nu dimaksud nyaeta
Ayat kahiji

( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ )

Yeuh jalma-jalma anu ariman aranjeun sing tarakwa ka Allah kalawan bener-bener takwana jeung aranjeun ulah maot anging dina kaayaan Islam.
Q.s. Ali Imran:102
hubungan ayat jeung pertikahan
Dina ieu ayat Allah marentahkeun ka kaom muslimin, boh panganten bari
pangpangna panganten baru, sangkan numplekeun sakabeh daya upaya jeung kasanggupan pikeun ngalaksanakan parentah Allah jeung ngajauhan larangana.
Ieu ayat kudu jadi dasar atawa pondasi sarta mabda (awal panginditan) yen nikah the rek ibadah ka Allah, lain sandiwara, lain heureuy, lain anyangan, lain sementara waktu, lain sakadar perjangjian atawa sahna
hubungan syahwat, tapi nikah teh mangrupakeun mitsaqan ghaliza, nyaeta perjangjian anu suci, anu sakral nu nuduhkeun kana kasanggupan pikeun ngalaksanakan sagala rupa aturan Allah dina urusan rumah tangga. Eta margina Rasul ngadawuh

النِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِي فَمَنْ رغب عن سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي – رواه ابن ماجة –

Nikah teh bagian tina sunnah kaula, singsaha nu teu panuju, ngewa kana
sunnah kaula, mangka dirina lain ti golongan kaula.
Ieu dawuhan teh pikeun nandeskeun yen nikah dina Islam mah beda pisan
jeung nikah nu biasa dilakukeun ku kaum jahiliyyah. Di antarana kieu
beberapa orang, kurang dari sepuluh orang bersebadan dengan seorang
wanita. Apabila ia hamil kemudian melahirkan. Maka setelah beberapa hari dari kelahiran, ia mengutus kepada semua laki-laki yang berhubungan dengannya, mereka tidak ada yang menolak untuk datang. Kemudian wanita tersebut berkata: “kalian telah tahu akibat dari perbuatan kalian terhadapku, dan aku telah melahirkan.” Kemudian ia menunjuk salah seorang dari mereka sambil berkata:”ini adalah anakmu”. Sejak itu ia hubungkan anak itu dengan laki-laki tersebut.
Nalika Allah ngutus Muhammad saw. Mantena ngahapus sagala rupa acara
nikah jahiliyyah, sarta ditetepkeun  cara pernikahan numutkeun syare’at
Islam. Tah eta di antarana maksud dawuhan Rasul

النِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِي فَمَنْ رغب عن سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي – رواه ابن ماجة –

Ayat kadua

( يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمِ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ
مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ
عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ) ( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا )

Yeuh sakabeh manusa, mangka kudu tarakwa aranjeun ka pangeran aranjeun anu geus ngajadikeun aranjeun tina asal hiji jalma (Adam), jeung ngajadikeun tina hiji jalam pasangana (Hawa), jeung tidinya Mantena ngareaykeun pirang-pirang lalaki jeung awewe anu loba pisan. Jeung aranjeun kudu tarakwa ka Allah anu kalawan (ngagunakeun) jenengannana aranjeun sok silih pentaan jeung babaturan sarta piara diri ku  aranjeun tatali silaturrahmi (hak kabarayaan). Satemena Allah anu salawasna ngajaga tur ningalikeun ka aranjeun. Q.s. An-Nisa:1

 Hubungannana Ieu ayat nuduhkeun yen Nikah jadi sarana pikeun ngalahirkeun turunan sebage amanat/titipan  ti Allah nu kudu dijaga diriksa dididik sangkan
jadi penerus jeung panyambung perjuangan agama Islam di waktu anu bakal datang. Kusabab kitu dina urusan rumah tangga jeung kulawarga perlu takwa. Kukatakwaan kulawarga bakal ngahiji dina enggoning ngalaksanakeun
ajaran Islam sarta jadi kanikmatan anu pohara gedena. Kutakwa bakal
katingali aya dulur anu jauh tapi deukeut, aya anu deukeut tapi jauh.
Cobi perhatoskeun dawuhan Allah surat al-Hujurat:10

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu tiada lain bersaudara.
ikhwatun dan ikhwanun sok diterjemahkan dengan “dulur-dulur”, dan tidak salah diterjemahkan seperti itu. Namun sebenarnya, terdapat perbedaan makna di antara keduanya. Karena ikhwatun adalah saudara yang disebabkan faktor ansab (nasab, keturunan darah), sedangkan ikhwanun adalah saudara
yang disebabkan faktor ashab (persahabatan, perkawanan). Tetapi ketika Alquran membicarakan kaum mukmin, ternyata ungkapan yang digunakan adalah ikhwatun bukan ikhwanun, padahal banyak di antara kaum mukmin yang tidak satu nasab.  Walaupun tidak satu nasab, tidak satu turunan, tidak seibu sebapak tapi orang mukmin dengan mukmin lainnya dinyatakan
sebagai saudara oleh Alquran. Dengan demikian, apa sebenarnya yang mengikhwankan antar sesama mukmin. Kita cermati sabda Rasulullah saw.
dalam riwayat Ahmad

إِنَّ الْمُؤْمِنَ مِنْ أَهْلِ الْإِيمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ يَأْلَمُ الْمُؤْمِنُ لِأَهْلِ الْإِيمَانِ
كَمَا يَأْلَمُ الْجَسَدُ لِمَا فِي الرَّأْسِ

Sesungguhnya seorang mukmin di antara ahli Iman itu sama kedudukannya dengan kepala pada tubuh. Seorang mukmin akan merasakan sakit karena sakitnya ahlu iman, sebagaimana jasad merasakan sakit karena rasa sakit di kepala.
Hadis ini saya kutip dari kitab Musnad Ahmad yang 50 jilid, pada jilid 37, hal. 517, No. hadis 22.877 , baris ka-3 tiluhur.
Dengan kalimat min ahlil iman menunjukkan bahwa kaum mukmin dikatakan ikhwatun karena al-jami’u ikhwatun fid din, mereka saudara seiman, Keadaan mereka sama dengan keadaan orang yang senasab, seketurunan darah. Tah eta nu dimaksud dulur nu jauh tapi deukeut teh. Sedengkeun dulur nu deukeut tapi jauh urang perhatoskeun dawuhan Allah.
Ayat katilu

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Yeuh jalma-jalma anu ariman sing tarakwa ka Allah jeung maraneh kudu nyarita ku omongan anu jujur. Al-Ahzab:70

 Hubungannana Ieu ayat nuduhkeun yen katakwaan bakal ngawujudkeun akhlak anu hade, nyaeta jujur hatena, jujur letahna, jujur kalakuanana. Kajujurana the henteu palsu jeung nipu, lain sakadar hiasan. Tah akhlak anu hade teh dimimitian ku ngariksa miara letah.
Tilu ayat ieu nuduhkeun yen katakwaan jadi rukun pikeun ngawujudna rumah tangga anu bagja. Pikeun miara katakwaan dirumah tangga aya syarat-syarat anu perlu dicumponan:
(1)    Kudu getol ngaji, thalab elmu sangkan ngarti bari surti kana
agama. Dawuhan Rasul

إذا أراد الله بأهل بيت خيرا فقههم في الدين

Upami Allah bade ngersakeun kahadean hiji rumah tangga/kulawarga, Allah
bakal maparin pangarti kana agama. H.r. al-Baihaqi Al-Fiqhu fid Din lain terang kana agama tapi ngarti bari surti. Eta sababna nu ngarti kana agama mah sagala kaperluan rumah tanggana oge kaayaanana teu matak sarekseuk katingalna, matak kabita nu ningali, matak genah kana manah. Di mana aya rizkina syukur, nalika kurang rizkina sabar.
(2)   Kudu getol ibadah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ يَا ابْنَ
آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ وَإِلَّا تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَيْكَ شُغْلًا وَلَمْ
أَسُدَّ فَقْرَكَ – رواه الترمذي  –

Prak kudu ngahaja nyempetkeun/nyiapkeun waktu, reureuh heula tina kasibukan, tina kapentingan dunya anjeun pikeun ibadah, taat ka kaula, tinangtu ku kaula hate anjeun bakal dipinuhan ku kabeungharan sarta ku kaula bakal dicumponan sagala kabutuh anjeun. Lamun anjeun teu ngahajakeun nyadiakeun waktu, ku kaula diri anjeun bakal dipinuhan ku kasibukan, sarta sagala kabutuh anjeun moal dicumponan Janten jalma anu benghar mah lain anu loba hartana, tapi nu loba uruseunana, gede pikeun tanggungjawabeunana engke jaga di akherat.
Mudah-mudahan Allah ngahijikeun hidep duaan dina kahadean _Allah_
******************************
Khutbah Nikah nasihat perkawinan

الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ به من شرور أنفسنا و من سيئات
أعمالنا من يهده الله فهو المهتدي ومن يضلله فلن يجد وليا ولا نصيرا أشهد
أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله اللهم صل
على سيدنا ونبينا الكريم محمد صلعم وعلى آله وأصحابه أجمعين أما بعد قال
الله تعالى في كتابه الكريم: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا
تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (آل عمران 102) يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ
مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ
الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا(النساء 1) وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ
خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُونَ(الروم 20) وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ
أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ
يَتَفَكَّرُونَ(الروم21) وفي الحديث: عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ * مسلم عَنْ أَبِي
أُمَامَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ مَا اسْتَفَادَ الْمُؤْمِنُ بَعْدَ تَقْوَى
اللَّهِ خَيْرًا لَهُ مِنْ زَوْجَةٍ صَالِحَةٍ إِنْ أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ وَإِنْ نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ وَإِنْ أَقْسَمَ
عَلَيْهَا أَبَرَّتْهُ وَإِنْ غَابَ عَنْهَا نَصَحَتْهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ *ابن ماجه

   Ananda berdua. Hari ini ananda akan resmi menjadi suami isteri. Suatu ikatan suci yang disaksikan oleh Allah. Ikatan suci dalam al-Qur’an disebut sebagai Ikatan kuat yang besar. Pernikahan ini dilakukan dengan mengikuti ajaran Nabi Saw. Beliau bersabda:

Nikah adalah sunnahku, barangsiapa siapa yang tidak mengamalkan sunnahku maka bukan dari golonganku, maka menikahlah kalian sesungguhnya saya bangga dengan ummatku yang banyak. Barangsiapa mempunyai kelapangan rizki maka menikahlah, dan barangsiapa tidak punya maka hendaklah berpuasa, sesungguhnya berpuasa itu merupakan perisai. (Hadits riwayat
Ibnu Majah).

   Begitu istimewa maka dengan pernikahan ini Rasulullah Saw. Menganggap bahwa ananda berdua telah sempurna separoh agama ananda berdua. Maka lengkapilah dan jagalah separoh yang lain. Pernikahan adalah perikatan
antara dua keluarga. Hubungan ini bukan hubungan anda berdua semata, tetapi sekaligus merupakan ikatan dua keluarga besar. Tugas ananda berdua untuk menumbuhkan silaturrahmi antara dua keluarga besar ini.
Allah menugaskan dengan perintahnya: Wa Ta’aawanu alalbirri wattaqwa.
Berlolong-tolonganlah kalian dalam kebaikan dan taqwa. Wa laa ta’aawanuu alal itsmi wal udwaan. Dan jangan bertolong menolong untuk berbuat dosa dan permusuhan. Ananda berdua. Rasulullah Saw. Bersabda: Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab terhadap peliharaannya.
1. Seorang Imam adalah pemimpin dan bertanggungjawab terhadap rakyatnya.
2. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan bertanggung jawab terhadap keluarganya.
3. Seorang wanita di rumah suaminya adalah pemimpin dan bertanggung jawab terhadap keluarganya
4. Seorang pembantu dalam harta tuannya adalah pemimpin ia bertanggungjawab terhadap
tugasnya. Hadist sahih Bukhari. Ananda Mempelai Putri. Ananda sebagai istri harus menyadari tugas ananda dalam hadits di atas. Khusus terhadap ananda. Rasulullah Saw. berpesan agar menjadi wanita yang salihah.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنّ
َ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ
الصَّالِحَةُ * مسلم

Rasulullah Saw. Bersabda: Dunia berisi harta kesenangan dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah wanita yang Shalihah. (Hadits Muslim). Wanita shalihah harus beriman dan mengamalkan ajaran sunnah Rasulullah Saw. Bila ananda menjadi shalihah, maka akan selalu mendapat berkah dari doa dalam setiap tasyahhud setiap orang yang
shalih. Yaitu. Assalaamu alaa ibaadillaahish shaalihiin. Semoga salam sejahtera dilimpahkan kepada hamba-hamba Allah yang shaleh dan shalihah. Ketaatan kepada suami mutlak diperintahkan oleh Rasulullah Saw. Ketaatan ini bahkan digambarkan sebagai keadaan yang membahagiakan baik kepada
ananda sendiri maupun kepada mempelai putra. Hal ini dipersandingkan dengan kata Taqwa kepada Allah dalam sabda beliau Saw.

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ مَا اسْتَفَادَ الْمُؤْمِنُ
بَعْدَ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرًا لَهُ مِنْ زَوْجَةٍ صَالِحَةٍ إِنْ أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ وَإِنْ نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ
وَإِنْ أَقْسَمَ عَلَيْهَا أَبَرَّتْهُ وَإِنْ غَابَ عَنْهَا نَصَحَتْهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ *ابن ماجه

Rasulullah Saw bersabda: Setelah Taqwa kepada Allah bagi seorang
laki-laki tidak ada yang lebih baik kecuali Istri yang shalihah. Yaitu
yang apapbila disuruh sesuatu, ia taat kepada suaminya, bila dipandang, ia nampak menggembirakan suaminya dan bila diberi pemberia, ia rela dan bila suaminya bepergian ia menjaga diri dan hartanya di rumahnya.
(Hadits Ibnu Majah).. Ananda mempelai Putra Tugas ananda pun telah dipaparkan oleh Rasulullah saat Khutbah haji Wada’. Yaitu beliau
berpesan : Berbaik-baiklah dengan istrimu, karena ia diciptakan dari
ruas rusuk yang bengkok. Kalau dipaksa rusuk yang bengkok bisa patah.
Namun fahamilah bahwa ananda bertugas untuk memimpin bahtera rumah tangga, ananda bertanggung jawab terhadap rumah tangga ananda dan akan dimintai pertanggungjawaban..

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ
أَمْوَالِهِم ْ (النساء 34)

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah
telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain
(wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا (التحريم 6)

Hai orang-orang yang beriman,peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Menyelamatkan dari api neraka adalah tugas utama. Karenanya
keluarga ananda harus dikendalikan dengan cara yang benar. Jangan sampai dikendalikan oleh media massa, TV, majalah mode dll. Tetapi pelajarilah al-Quran dan al-Hadits.

1. Bacalah Fiqh tata cara hidup keluarga. 2. Hiasilah rumah ananda
dengan membaca al-Qur’an.
3. Perbanyaklah bergaul dengan masyarakat melalui shalat berjamaah di masjid, dan shalat sunnah di rumah.

Ananda tidak wajib menjadi imam shalat di rumah, tetapi lakukanlah
shalat wajib di masjid dengan berjamaah. Banyak kaum laki-laki tidak memperhatikan penampilan dirinya di rumah. Tindakan ini dikritik oleh Salman al-Farisy Ra. Ketika Abu Darda’ tidak memperlihatkan keinginan
dunia. Akibatnya Istri beliau resah dan nampak sama sekali tidak ceria.
Ternyata sebabnya adalah perilaku Abu Darda’ yang menjauhi keduaniaan.
Karena itu Salman menasehati: Sesungguhnya dirimu punya hak terhadap dirimu sendiri, Tuhanmu punya hak terhadapmu, tamumu punya hak terhadapmu, istrimu juga punya hak terhadap dirimu. Maka tunaikanlah hak-haknya masing-masing. Rasulullah Saw. Pun setuju dengan pendapat Salman ini. (Tirmidzi). Sahabat pernah bertanya kepada Nabi Saw: Apa hak istri kepada suami? Rasulullah menjawab: Berilah makan seperti apa yang
kamu makan, Lengkapilah pakaian seperti halnya kamu berpakaian.
Janganlah engkau sakiti istrimu dan jangan engkau perhinakan. Selain
tugas sebagai suami tugas ananda mempelai putra sebagai anak kepada
orang tua tetap berlaku, selama tidak menyuruh berbuat maksiat kepada
Allah Swt. Satu hal yang harus ananda lakukan setelah pernikahan ini.
Yaitu peganglah ubun-ubun istri ananda dan bacalah doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا
جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ أبوداود

   Ya Allah sesungguhnya saya memohon kepadaMu kebaikan istriku dan kebaikan apa yang Engkau letakkan kepadanya. Aku berlindung diri kepadaMu dari kejelekannya dan kejelekan dari apa yang Engkau taruh padanya. (Hadits riwayat Abu Dawud).
Pernikahan hendaknya dipelihara sepanjang hayat demi kebahagiaan ananda berdua dan putra putrid ananda tercinta. Karena itu hapuslah kata cerai, talak dan yang semisalnya dari dalam kamus bahasa kehidupanmu dalam berumahtangga. Rasulullah Saw bersabda (dalam hadits Tirmidzi):

Ada tiga hal yang perbuatan seriusnya dan bermain-mainnya dianggap serius. Yaitu Nikah, Talak dan rujuk.

Memang disini ada perbedaan pendapat tetapi Jumhur ulama memegang inti hadits Tirmidzi di atas. Selamat menempuh hidup baru dalam rumah tangga semoga mendapat karunia rizki yang luas, anak yang shaleh dan shalihah
serta selalu dalam ridha Allah Swt
**************************************
Khutbah Nikah dan Nasehat untuk Pengantin

Teks Khutbah Hajat (Dapat digunakan untuk khutbah nikah dan khutbah lainnya)

        إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ
        أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

        مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ
        إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

        يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

        يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا
        وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ
        إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.

        يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ
        أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

(HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad, Ad Darimi di
kitabnya Al-Mushanaf dan Ibnu Abi “Ashim di kitabnya As Sunnah)

        أَمَّا بَعْدُ:

        فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ, وَشَرَّ الأُمُورِ
        مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

(HR.Muslim)

[Kemudian akad nikah (ijab oleh wali dan qabul oleh pengantin laki-laki)
dilangsungkan, yaitu oleh wali dengan pengantin laki-laki disaksikan oleh dua saksi laki-laki Muslim yang memenuhi syarat].

Dianjurkan mendoakan kedua mempelai dengan doa yang ma’tsur (disebutkan dalam riwayat) berikut:

        عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَفَّأَ الْإِنْسَانَ
        إِذَا تَزَوَّجَ، قَالَ: *«بَارَكَ اللَّهُ لَكَ، وَبَارَكَ عَلَيْكَ، وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ»*

Dari Abu Hurairah: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila
mengucapkan selamat dan doa jika ada orang yang menikah, Beliau
mengucapkan, “Baarakallahu….(artinya: “Semoga Allah memberkahi
untukmu, atasmu dan menghimpun kamu berdua dalam kebaikan”). (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Albani)

      *Nasihat untuk pengantin baru dan pengantin lama (umum*).

1. Nikah itu sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dilaksanakannya sesuai petunjuk yang dibawa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam . dan ketika membina rumah tangga pun harus mengikuti petunjuk Allah Ta’ala yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam .

              النِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِى فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى وَتَزَوَّجُوا فَإِنِّى
        مُكَاثِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ

“Nikah itu sunnahku.. siapa yang tidak mengamalkan sunahku, bukan
bagian dariku. Menikahlah, karena saya merasa bangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan seluruh umat.” (HR. Ibnu Majah 1919 dan dihasankan al-Albani).

2. Allah menolong orang yang menikah untuk menjaga kehormtannya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَوْنُهُمُ الْمُجَاهِدُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُكَاتَبُ الَّذِى يُرِيدُ
        الأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِى يُرِيدُ الْعَفَافَ

Ada 3 orang yang berhak mendapatkan pertolongan dari Allah, (1) Orang yang berjihad di jalan Allah,
(2) Budak mukatab yang ingin menebus dirinya untuk merdeka, dan (3) Orang yang menikah, karena ingin menjaga kehormatannya. (HR. Nasai 3133, Turmudzi 1756, dan dihasankan al-Albani).

3. Telah terbukti, ketika masyarakat zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam mengikuti Petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
 dalam menikah dan membina rumah tangga, maka terbentuklah masyarakat yang baik. Menjadi masyarakat teladan. Yang menilai bukan juri dari lomba keluarga teladan, namun yang memujinya adalah Allah SWT, dengan
disebut sebagai umat yang terbaik.

        {كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
        وتُؤْمِنُونَ بِالَلَّهِ} [آل عمران: 110]

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh
kepada yang ma´ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. [Al ‘Imran:110]

a. amar ma’ruf nahi munkar. ma’ruf (kebaikan) tertinggi itu tauhid,
menyembah hanya kpd Allah, minta tolong hanya kpd Allah.

         { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } [الفاتحة: 5].

Munkar yang terburuk adalah kemusyrikan, menyekutukan Allah dengan lainnya. misal sedang kesulitan, maka mintanya bukan kpd Allah tapi kepada gunung, minta kepada kuburan keramat, ke dukun ramal atau tukang sihir dsb. itu dosa terbesar, tidak diampuni bila sampai meninggalnya belum bertobat. Itu semua wajib dicegah.

Keluarga yang mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam , beramar ma’ruf nahi munkar sampai dalam segala urusan. Misal makan dan minum, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengajari untuk baca bismillah dan pakai tangan kanan, maka dilakukan dan diajarkan kepada keluarga.
Mencegah kemunkaran, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  wanti2 bhw makan dan minum pakai tangan kiri itu cara syetan, maka harus dijauhi dan diperingatkan pula kepada keluarga dan anak2. jangan sampai makan dan minum pakai tangan kiri.

b. Semua itu disertai *وتُؤْمِنُونَ بِالَلَّهِ* beriman kpd Allah, diyakini dalam
hati (segala amalan ikhlas utk Allah) dibuktikan dengan ucapan dan
perbuatan. mengikuti pa-apa yang diberintahkan, dan menjauhi segala yang dilarang.

Itulah masyarakat yang dipuji oleh Allah Ta’ala, yaitu para sahabat Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam  yang mengikuti petunjuk2 Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam  yaitu Islam ini diyakini dan diamalkan
ikhlas untuk Allah Ta’ala.

4. Dalam mengamalkan itu semua sudah diberi perangkat untuk menjaga diri agar terhindar dari gangguan syetan yang terkutuk. Di antaranya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi petunjuk.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِى تُقْرَأُ فِيهِ
        سُورَةُ الْبَقَرَةِ

“Janganlah menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan akan lari dari suatu rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al Baqarah” (HR. Muslim no. 780).

 Juga dalam hal agar anak2 kita nantinya tidak diganggu syetan, maka ada petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  ketika kita berhubungan suami isteri:

        «لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَتَى أَهْلَهُ قَالَ *بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ
        وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا،* فَقُضِيَ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ لَمْ يَضُرَّهُ » صحيح البخاري
        (1 40)

Seandainya seseorang di antara kalian menjumpai istrinya dan ia mengucapkan,

         *بِاسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا*

 “Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah Jauhkanlah setan dari kami dan
jauhkanlah pula setan dari apa yang Engkau anugrahkan kepada kami”,
lalu keduanya dianugrahi seorang anak niscaya setan tak dapat
membahayakannya.  (HR Bukhari dan Muslim)

5. Kemudian, seperti apa bentuknya masyarakat yang dipuji olh Allah SWT
itu, gejalanya adalah mereka bersemangat dalam iri, tapi bukan iri
masalah dunia, namun iri agar bisa berlomba dalam kebaikan untuk bekal di akherat. Hingga orang2 miskin pun iri terhadap orang kaya bukan iri mengenai harta, dan mereka tidak memprotes taqdir, namun minta jalan keluar kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar bisa berlomba mengimbangi kebaikan orang2 kaya.

Para sahabat bersemangat untuk mendapatkan banyak pahala.

        عَنْ أَبِى ذَرٍّ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالُوا
        لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالأُجُورِ
        يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّى وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ. قَالَ «
        أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ
        صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنْ
        مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ وَفِى بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأْتِى أَحَدُنَا
        شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ « أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ
        فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Sesungguhnya sebagian
dari para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata
kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah,
orang-orang kaya lebih banyak mendapat pahala, mereka mengerjakan shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan
mereka bershodaqoh dengan kelebihan harta mereka”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kamu sesuatu untuk bershodaqaqoh? Sesungguhnya tiap-tiap tasbih adalah shodaqoh, tiap-tiap tahmid adalah shodaqoh, tiap-tiap tahlil adalah shodaqoh, menyuruh kepada kebaikan adalah shodaqoh, mencegah kemungkaran
adalah shodaqoh dan persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan istrinya) adalah shodaqoh “. Mereka bertanya, “ Wahai Rasulullah, apakah (jika) salah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya, ia mendapat pahala?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tahukah engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa.
Demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia
mendapat pahala”.  (HR. Muslim no. 2376)

6. Selanjutnya, wanita yang kesempatannya tidak sebanyak kaum laki2 karena ada saat2 haidh, nifas, menyusui; dan (maaf, mungkin) masih pula lebih cenderung baper (bawa perasaan) hingga kemungkinan bisa mudah
tidak terima kepada suami atau mudah dibawa perasaan, maka masih pula diberi kesempatan baik untuk bisa berlomba kebaikan dengan orang laki-laki yang (orang laki2 rata2) kesempatannya lebih banyak dan kekuatannya pun lebih. Hingga wanita diberi prioritas agar bisa bersaing dalam kebaikan:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ
        لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa
sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9:
471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Peluang-peluang atau kesempatan-kesempatan itu telah digunakan
sebaik-baiknya oleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ,
baik suami maupun istri, sehingga menjadi masyarakat yang dipuji oleh
Allah Ta’ala sebagai umat terbaik tersebut.

Semoga pernikahan ini diberi pertolongan oleh Allah Ta’ala sehingga bisa meniru keluarga keluarga para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  yang telah dipuji oleh Allah Ta’ala tersebut.

        {سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ} {وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ} {وَالْحَمْدُ لِلَّهِ
        رَبِّ الْعَالَمِينَ} رب اغفر وارحم وأنت خير الراحمين يا الله   وَصَلَّى اللَّهُ
        عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Hartono Ahmad Jaiz.
**************************************
Akad Nikah, Khutbah Nikah, Mahar (Maskawin)

KITAB NIKAH

Akad Nikah
Rukun akad nikah ada dua, yaitu: Ijab dan Qabul. Sedangkan syarat sahnya
adalah :

1. Adanya izin dari wali
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ لَمْ يَنْكِحْهَا الْوَلِيُّ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ،
فَإِنْ أَصَابَهَا فَلَهَا مَهْرُهَا بِمَا أَصَابَ مِنْهَا فَإِنِ اشْتَجَرُوْا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَلِيَّ لَهُ

“Wanita yang tidak dinikahkan oleh walinya, maka nikahnya bathil, maka
nikahnya bathil, maka nikahnya bathil. Jika sang lelaki telah
mencampurinya, maka sang wanita berhak mendapatkan maskawin untuk kehormatan dari apa yang telah menimpanya. Dan jika mereka
terlunta-lunta (tidak memiliki wali), maka penguasa dapat menjadi wali
bagi wanita yang tidak mempunyai wali.”

2. Hadirnya para saksi
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لاَنِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَيْ عَدْلٍ.

“Tidak sah nikah kecuali dengan seorang wali dan dua orang saksi yang adil.”

Keharusan Meminta Persetujuan Wanita Sebelum Pernikahan
Apabila pernikahan tidak sah kecuali dengan adanya seorang wali, maka
merupakan kewajiban juga bagi wali untuk meminta persetujuan dari wanita yang berada di bawah perwaliannya sebelum dilangsungkannya pernikahan.
Tidak boleh bagi seorang wali untuk memaksa seorang wanita untuk menikah jika ia tidak ridha dan jika wanita tersebut dinikahkan sedangkan ia tidak ridha, maka ia berhak membatalkan akad tersebut. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَتُنْكَحُ اْلأَيِّمُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ، وَلاَ تُنْكَحُ البِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ قَالُوْا: يَارَسُوْلَ اللهِ،
وَكَيْفَ إِذْنُهَا؟ قَالَ: أَنْ تَسْكُتَ.

“Seorang janda tidak boleh dinikahkan kecuali setelah dipinta
perintahnya dan seorang gadis tidak boleh dinikahkan kecuali setelah
dimintai izinnya.” Para Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana izinnya ?” Beliau menjawab, “Bila ia diam.”

وَعَنْ خَنْسَاءَ بِنْتِ خَدَّامَ اْلأَنْصَارِيَّة، أَنَّ أَبَاهَا زَوَّجَهَا وَهِيَ ثَيِّبٌ، فَكَرِهَتْ ذَلِكَ، فَأَتَتْ
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ نِكَاحَهَا.

“Dan dari Khansa binti Khaddam al-Anshariyyah: bahwa bapaknya telah
menikahkannya sedangkan ia janda, akan tetapi ia tidak rela, kemudian ia
menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau membatalkan pernikahannya.”
Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallah anhuma bahwasanya ada seorang gadis yang
mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengadu bahwa bapaknya telah menikahkannya sedangkan ia tidak rela, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salalm menyerahkan pilihan kepadanya.
Khutbah Nikah Disunnahkan khutbah menjelang akad nikah, yaitu yang disebut sebagai Khutbatul Hajah, dan lafazhnya adalah sebagai berikut :

إِنَّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ
وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ
لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

“Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah. Kepada-Nya kita memuji,
memohon pertolongan dan ampunan. Kita berlindung kepada-Nya dari kejahatan jiwa kita dan keburukan perbuatan kita. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan siapa
yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat
memberi petunjuk kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang
berhak diibadahi dengan benar) selain Allah semata, tidak ada sekutu
bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.”

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan
sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kalian mati
melainkan dalam keadaan beragama Islam.” [Ali ‘Imran: 102]

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ
مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ
كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian Yang telah
menciptakan kalian dari jiwa yang satu, serta daripadanya Allah
menciptakan isterinya dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan
laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) Nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian.” [An-Nisaa’: 1]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ
لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan
ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu
amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat ke-menangan yang besar.” [Al-Ahzaab: 70-71]

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ الله، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي
النَّارِ.

Amma ba’du: “Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah pe-tunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang baru dan setiap
yang baru (dalam agama) itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat
dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.”

Sunnahnya Tahni-ah (Ucapan Selamat) Pernikahan
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alihi wa
sallam apabila mendo’akan seseorang yang menikah beliau bersabda:

بَارَكَ اللهُ لَكُمْ، وَبَارَكَ عَلَيْكُمْ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِيْ خَيْرٍ.

“Semoga Allah memberkahi kalian dan menetapkan keberkahan atas kalian serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.”

Mahar (Maskawin)
Allah Ta’ala berfirman:

وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً ۚ فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا

“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepadamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (am-billah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” [An-Nisaa’: 4]

Mahar atau maskawin adalah hak seorang wanita yang harus dibayar oleh laki-laki yang akan menikahinya. Maskawin merupakan hak milik seorang isteri dan tidak boleh seorang pun mengambilnya, baik sang ayah maupun selainnya, kecuali jika diambilnya maskawin itu dengan keridhaan hatinya.

Syari’at Islam tidak membatasi nominal sedikit banyaknya maskawin, akan tetapi Islam menganjurkan untuk meringankan maskawin agar mempermudah
proses pernikahan dan tidak membuat para pemuda enggan untuk menikah karena mahalnya maskawin.

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِنْ أَرَدتُّمُ اسْتِبْدَالَ زَوْجٍ مَّكَانَ زَوْجٍ وَآتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنطَارًا فَلَا تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا

“Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikit pun…” [An-Nisaa’: 20]

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu bahwasanya ‘Abdurrahman bin ‘Auf datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan padanya terdapat bekas kekuningan, Rasulullah bertanya tentang hal tersebut, lalu ‘Abdurrahman bin ‘Auf mengabarkan beliau bahwasanya ia telah menikahi seorang wanita dari kalangan Anshar, Rasulullah bertanya,
“Berapa engkau membayar maskawinnya?” Ia menjawab, “Satu biji emas.”
Kemudian beliau bersabda, “Adakanlah walimah walau hanya dengan seekor kambing.”

Dan dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu anhu ia berkata :

إِنِّي لَفِي الْقَوْمِ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ قَامَتِ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ يَا
رَسُولَ اللهِ إِنَّهَا قَدْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لَكَ فَرَ فِيهَا رَأْيَكَ، فَلَمْ يُجِبْهَا شَيْئًا ثُمَّ قَامَتْ
فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهَا قَدْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لَكَ فَرَ فِيهَا رَأْيَكَ، فَلَمْ يُجِبْهَا شَيْئًا ثُمَّ
قَامَتْ الثَّالِثَةَ فَقَالَتْ إِنَّهَا قَدْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لَكَ فَرَ فِيهَا رَأْيَكَ. فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا
رَسُولَ اللهِ أَنْكِحْنِيهَا. قَالَ: هَلْ عِنْدَكَ مِنْ شَيْءٍ قَالَ: لاَ. قَالَ: اذْهَبْ فَاطْلُبْ وَلَوْ
خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ فَذَهَبَ فَطَلَبَ ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ: مَا وَجَدْتُ شَيْئًا وَلاَ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ.
فَقَالَ: هَلْ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ شَيْءٌ قَالَ: مَعِي سُورَةُ كَذَا وَسُورَةُ كَذَا. قَالَ: اذْهَبْ فَقَدْ
أَنْكَحْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ.

“Pada suatu waktu aku bersama para Sahabat dan di tengah-tengah kami ada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba ada seorang wanita
yang berdiri seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya wanita ini
telah menyerahkan dirinya untukmu, maka katakanlah pendapat Anda.’ Akan tetapi beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menanggapinya,
kemudian wanita tersebut berdiri kembali seraya berkata, ‘Wahai
Rasulullah, sesungguhnya wanita ini telah menyerahkan dirinya untukmu,
maka katakanlah pendapat Anda.’ Namun Rasulullah tetap belum
menanggapinya, maka wanita tersebut kembali berdiri untuk yang ketiga kalinya seraya berkata, ‘Sesungguhnya wanita ini telah menyerahkan dirinya untukmu, maka katakanlah pendapat Anda.’ Sampai kemudian ada salah seorang Sahabat yang berdiri seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, nikahkanlah aku dengannya!’ Beliau bersabda, ‘Apakah engkau mempunyai
sesuatu yang dapat engkau jadikan mahar?’ Laki-laki itu menjawab,
‘Tidak’ Kemudian beliau bersabda, ‘Pergi dan carilah sesuatu meski hanya sebuah cincin dari besi!’ Maka laki-laki itu pergi dan mencari apa yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tetapi ia kembali dan berkata, ‘Aku tidak menemukan sesuatu meski hanya sebuah cincin dari besi.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya
kepadanya, ‘Apakah engkau menghafal sesuatu dari al-Qur-an?’ Ia menjawab, ‘Aku menghafal surat ini dan itu,” beliau bersabda, ‘Pergilah, sesungguhnya aku telah menikahkan dirimu dengannya dengan mahar hafalan al-Qur-an yang ada padamu.’”

Diperbolehkan bagi seseorang untuk mendahulukan pembayaran maskawin ataupun mengakhirkannya secara keseluruhan atau mendahulukan pembayaran
sebagian maskawin dan mengakhirkan sebagian lainnya. Apabila sang suami telah menggauli isteri sedangkan ia belum membayar mas kawin, maka hal itu sah-sah saja, akan tetapi ia wajib membayar mahar mitsil (mahar senilai yang biasa diberikan kepada wanita kerabat wanita itu) apabila dalam akad nikah ia tidak menyebut maskawin yang akan ia berikan. Namun jika ia telah menyebutnya, maka ia harus membayar maskawin sebesar apa yang telah ia sebutkan. Dan berhati-hatilah, jangan sampai seseorang tidak memenuhi hak wanita yang telah disyaratkan, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

أَحَقُّ مَا أَوْفَيْتُمْ مِنَ الشُّرُوْطِ أَنْ تُوفُواْ بِهِ مَا اسْتَحْلَلْتُمْ بِهِ الفُرُوْجَ.

“Sesungguhnya suatu syarat yang paling berhak untuk kalian penuhi adalah syarat yang dengannya dihalalkan bagi kalian kemaluan (wanita).”

Apabila sang suami meninggal setelah akad dan sebelum menggauli, maka isteri berhak mendapatkan maskawin seluruhnya.

Dari ‘Alqamah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Telah didatangkan kepada
‘Abdullah bin Mas’ud seorang wanita yang telah dinikahi oleh seorang
lelaki, kemudian lelaki tersebut meninggal, ia belum menentukan maskawin dan menggaulinya.” ‘Alqamah berkata, ‘Mereka berselisih tentang hal tersebut dan menanyakannya kepada ‘Abdullah bin Mas’ud, kemudian ia menjawab, ‘Aku berpendapat ia berhak mendapat maskawin semisal mahar yang didapat oleh wanita kerabatnya, ia berhak mendapatkan harta warisan
dan ia juga wajib ber‘iddah.’ Kemudian Ma’qil bin Sinan al-Asyja’i
bersaksi bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menetapkan
kepada Barwa’ binti Wasyiq seperti apa yang telah ditetapkan oleh
‘Abdullah bin Mas’ud.”
[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz,
Penulis Syaikh Abdul Azhim
**************************************

  Contoh Teks Khutbah Nikah Memahami Perbedaan dan Persamaan Suami Istri

Memahami Perbedaan dan Persamaan Pasangan Dalam kehidupan sosial sehari-hari, sering dijumpai adanya
persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan yang berkaitan dengan diri kita semua. Persamaan dan perbedaan tersebut bisa menyangkut masalah-masalah yang sangat pokok, maupun yang hanya sebagai pelengkap belaka.
Berkaitan dengan persoalan ini, Alllah Swt. Yang Maha Mengetahui telah
memberikan ajaran, pedoman dan tuntunan kepada manusia tentang bagaimana hendaknya kita, sebagai umat Islam, menyikapi semua persamaan dan perbedaan yang ada di antara kita. Dalam kaitan ini, Allah Swt. telah berfirman sebagai berikut:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ
أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌالحجرات : 13

“Wahai semua manusia, sesungguhya Kami telah menciptakan kamu dari
seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami jadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kamu sekalian saling mengenal.
Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang
paling bertakwa. Sesungguhnya Allah itu Maha berilmu lagi Maha
Mengetahui”. (al-Hujurât: 13)
Ayat di atas mengisyaratkan adanya tiga persoalan yang layak dicermati
dengan baik, sehingga dapat dijadikan sebagai pedoman atau petunjuk bagi kita semua dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Ketiga persoalan yang menyangkut umat manusia itu adalah sebagai berikut:

Yang pertama: adalah mengenai asal-usul kita sebagai manusia. Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa seluruh manusia berasal dari seorang laki-laki dan seorang permpuan. Ungkapan ini mengisyaratkan bahwa kita
semua berasal dari bahan dan dasar yang sama.Manusia berasal dari sperma seorang laki-laki dan ovum dari perempuan, yang kemudian tergabung menjadi satu dan selanjutnya masuk ke dalam rahim dan tumbuh di sana sebagai janin, yang kelak bila telah sampai waktunya akan lahir sebagai manusia.

Petunjuk itu mengisyaratkan bahwa kita semua berasal dari benih yang
sama, kita semua bermula dari bahan dasar yang serupa. Karena itu,
tentulah di antara kita semua terdapat persamaan-persamaan yang memang mesti ada.

Persamaan-persamaan itu bisa menyangkut hal yang berkaitan dengan wujud fisik atau jasmani, dan bisa juga yang berkaitan dengan ruhani. Yang berhubungan dengan fisik adalah kesamaan yang ada pada sosok jasmani, seperti bentuk tubuh dan kelengkapan anggota ataupun indera pada semua manusia. Sedangkan yang berhubungan dengan ruhani, seperti persamaan-persamaan dalam sifat, sikap, tindak-tanduk, dan lain sebagainya.

Dari adanya persamaan-persamaan itu, kita dianjurkan untuk selalu ingat
bahwa manusia itu adalah sama, karenanya di antara sesama tidak
diperbolehkan untuk saling melecehkan antara yang satu dengan yang lainnya. Suatu kelompok tidak diharapkan untuk merendahkan kelompok lain. Suatu suku tidak dianjurkan untuk menganggap mereka sebagai yang lebih tinggi dari suku lainnya. Suatu bangsa hendaknya tidak menganggap
dirinya paling mulia atau paling tinggi derajatnya, sehingga yang lain
dinilai merupakan bangsa yang rendah.Bila sikap menjunjung persamaan ini dapat diresapi dengan baik, niscaya semua manusia akan saling menghormati antara satu terhadap lainnya. Mereka akan saling menghargai dan mengindahkan dalam percaturan kehidupan sehari-hari. Inilah yang diharapkan dalam kehidupan sosial manusia, yang tentunya akan selalu terjadi komunikasi antara sesama dalam memenuhi kebutuhan masing-masing.
Sikap yang demikian akan bermuara pada kesejahteraan dan kedamaian di antara sesama, dan ini adalah yang paling diharapkan sesuai dengan
ajaran Ilahi.

Yang kedua adalah adanya perbedaan di antara manusia, yang
diisyaratkan dengan ungkapan bahwa mereka itu sengaja dijadikan dalam
bentuk bangsa, suku, dan budaya yang berbeda, agar mereka saling megenal dan pada akhirnya dapat melengkapi kekurangannya dari
kelebihan-kelebihan yang dimiliki bangsa atau suku lain.

Isyarat ini mengajarkan kepada kita bahwa di samping persamaan-persamaan yang ada pada manusia karena asal-usulnya serupa, mestilah ada pula perbedaan-perbedaan. Hal ini menjadi logis, ketika disadari bahwa manusia tidak semuanya hidup dalam kondisi yang sama, baik menyangkut faktor geografis di mana mereka tinggal ataupun yang berkaitan dengan suasana sosial kemasyarakatannya. Ketidaksamaan ini tentulah akan menimbulkan perbedaan-perbedaan antar manusia.Dari sini ditemukanlah
fenomena alami yang selalu ada pada manusia, di mana di antara mereka
ada yang tinggi bentuk tubuhnya dan ada pula yang rendah, ada yang gemuk dan ada pula yang kurus, ada yang kaya dan ada pula yang miskin, ada yang pandai tetapi ada juga yang bodoh. Demikianlah kenyataan yang ada.

Namun, satu hal yang perlu diperhatikan, hendaknya perbedaan-perbedaan itu bisa memberikan semangat kepada kita untuk saling mengisi, saling melengkapi, dan saling menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada
pada masing-masing. Inilah sebenarnya hakekat dari dijadikannya kita, umat manusia, dalam perbedaan-perbedaan. Akan tetapi, pada sisi lain, perbedaan ini tidak sepantasnya dijadikan sebagai alasan untuk menganggap yang lain lebih rendah, lebih hina, ataupun lebih bawah derajatnya.

Kedua ajaran Tuhan ini mengisyaratkan bahwa dalam nuansa pluralis yang tidak dapat dihindari, tetap ada kesamaan-kesamaan, di samping perbedaan-perbedaan. Kedua kenyataan itu hendaknya tidak menjadikan sekelompok manusia merasa lebih mulia, sehingga kemudian mereka menyombongkan diri dan menganggap yang lain tidak layak untuk dihormati.
Inilah kunci kedamaian dalam kehidupan sosial di antara umat manusia.
Bila kita semua menghendaki kedamaian dan ketentraman dalam kehidupan, maka kunci pemahaman terhadap perbedaan dan persamaan tersebut hendaknya dapat dijadikan acuan dalam bertindak dan bertingkah laku.

Yang ketiga adalah bahwa semua manusia itu sama dalam pandangan Tuhan.
Yang membedakan antara satu dengan lainnya di antara mereka adalah kepatuhannya kepada ajaran Ilahi (takwa). Siapa yang lebih patuh dalam menjalankan semua yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dilarang, maka dialah yang dianggap paling baik dan paling mulia dalam penilaian Tuhan.

Sebaliknya, orang yang ketakwaannya hanya pas-pasan saja atau malah lebih rendah intensitas ketundukannya, maka ia tentu akan lebih rendah nilainya di depan Tuhan, walaupun ketika di dunia ia adalah seseorang yang dianggap paling tinggi kedudukannya di mata manusia. Tuhan tidak lagi menilainya berdasarkan kedudukan itu, tetapi sejauh mana ketakwaan dan kepatuhannya dalam menjalankan perintah-Nya.

Dari isyarat-isyarat ini, tampak betapa ajaran Islam yang bersumber dari wahyu Ilahi ternyata telah sangat memperhatikan fenomena yang ada pada masyarakat manusia. Semua yang ada telah diantisipasi dan diberikan petunjuk serta jalan keluar dalam menyikapinya. Pluralitas merupakan salah satu fenomena yang tidak terhindarkan dalam kehidupan ini, dan Tuhan ternyata telah pula mengajarkan bagaimana hendaknya kita semua bersikap. Bila kita semua dapat melakukan petunjuk yang telah digariskan,
tentulah tidak akan ada segala macam persoalan yang hanya akan membawa kita semua dalam kancah perpecahan dan pertikaian, melainkan keharmonisan dan ketenangan yang akan membawa kita pada kebahagiaan dan keceriaan.

Itulah salah satu ajaran Tuhan yang berkaitan dengan realitas alami yang
ada pada manusia. Dengan kenyataan demikian, seharusnyalah kita semua tidak perlu risau akan adanya perbedaan-perbedaan di antara kita. Kita tidak usah sedih hanya karena yang satu tidak memiliki sesuatu seperti yang ada pada pihak lain.Kita tidak usah takut hanya karena di antara kita ada yang lebih berkuasa dan lebih kuat dari yang lainnya, justru kekuatan dan kekuasaan itu hendaknya dapat dijadikan sebagai alat atau sarana untuk menciptakan kedamaian antar sesama. Bila ini yang kita lakukan, sesuai dengan petunjuk Ilahi, niscaya kebahagiaan yang akan ditemukan. Jika ajaran Tuhan itu yang kita perbuat, maka hanya kesejahteraan semata yang akan melingkupi dan menaungi kehidupan kita.

Oleh karena itu, ada baiknya bila kita saling mengingatkan bahwa kembali
kepada al-Qur’an adalah merupakan sesuatu yang patut diperhatikan.
Kembali kepada jalan Tuhan adalah persoalan yang mesti kita tanamkan
sebaik mungkin dalam jiwa kita. Mengikuti tuntunan Allah Swt. merupakan jalan untuk menuju dan kembali kepada-Nya dengan penuh keikhlasan dan senantiasa berada pada ridha-Nya, yang selanjutnya akan membawa kita sebagai makhluk kesayangan dan siap untuk tinggal di surga-Nya.
**************************************

  Teks Khutbah Nikah Bahasa Arab || referensi

Khutbah Nikah 1

الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ خَلَقَ مِنَ الْمَآءِ بَشَرًا، فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَّصِهْرًا، وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيْرًا.
وَأَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،
أَرْسَلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ. اللَّهُمَّ صَلِّ
وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَفْضَلِ الْخَلْقِ وَالْوَرَى، وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ صَلاَةً وَسَلاَمًا
كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ: فَيَآ أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ
حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

وَاعْلَمُوْا أَنَّ النِّكَاحَ سُنَّةٌ مِنْ سُنَنِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قَالَ اللهُ
تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ
الرَّحِيْمِ. «يَآ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَآئِلَ
لِتَعَارَفُوْا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ»، «وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ
أَزْوَاجاً لِّتَسْكُنُوْا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِيْ ذَالِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ
يَتَفَكَّرُونَ». وَقَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «النِّكَاحُ سُنَّتِيْ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ
فَلَيْسَ مِنِّيْ». وَقَالَ أَيْضًا: «يَا مَعْشَرَ الشَّبَابَ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ
أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ» وَقَالَ
أَيْضًا: «خَيْرُ النِّسَاءِ اِمْرَأَةٌ إِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا سَرَّتْكَ وَإِذَا أَمَرْتَهَا أَطَاعَتْكَ وَإِنْ غِبْتَ
عَنْهَا حَفَظَتْكَ فِيْ مَالِكَ وَنَفْسِهَا». بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ
وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، يآ
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً كَثِيْرًا وَّنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ
عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِوَالِدِيْنَا
وَلِمَشَايِخِنَا وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِيْ لآ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ × 3
أَشْهَدُ أَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَّمَدًا رَّسُوْلُ اللهِ × 3 صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَا ……….. بِنْ ………… ! اَنْكَحْـتُكَ وَزَوَّجْـتُكَ ِابْنَتِيْ ………………………….. بِمَهْرِ ………….. نَـقْدًا.

قَبِلْتُ نِكَاحَهَا وَتَزْوِيـْجَهَا بِالْمَهْرِالْمَذْكُوْرِ نَـقْدً

============

Khutbah Nikah 2

الحَمْدُ للهِ الَّذِي أَرْسَلَ رُسُلَهُ فَجَعَلَ لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَةً، وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ المَاءِ
بَشَرًا, فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا, وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيْرًا.     نَحْمَدُهُ وَنَسْتِعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ,
وَنَعُوْذُ بالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ,
وَمَنْ يُضْلِلِ اللهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ,
أرسله بالحقّ بشيرا و نذيرا بين يدي الساعة, من يطع الله و رسوله فقد رشد, و
من يعصهما فإنّه لا يضرّ إلاّ نفسه, و لا يضرّ الله شيئا

قَالَ اللهُ تَعَالَى في كتابه العزيز, أعوذ بالله من الشيطان الرجيم : وَأَنْكِحُوْا
الأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِيْنَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَاءِكُمْ، إِنْ يَكُوْنُوْا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِنْ
فَضْلِهِ , وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ، وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِيْنَ لاَ يَجِدُوْنَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْـنِيَهُمُ اللهُ
مِنْ فَضْلِهِ.  وَقَالَ تَعَالَى: الرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلَى
بَعْضٍ, وَبِمَا أَنْفَقُوْا مِنْ أَمْوَالِهِمْ، فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفظَ اللهُ.
و قَالَ أيضا : وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالمَعْرُوْفِ وَلِلرِّجَال عَلَيْهِنَّ دَرَجَةً وَاللهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِتَّقُوْا اللهَ فِي النِّسَاءِ, فَإِنَّكُمْ أَخَذْتُمُوْهُنَّ
بِأَمَانَةِ اللهِ, وَاسْتَحْلَــلْتُمْ فُرُوْجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللهِ.   وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ:
مَا اسْتَفَادَ المُؤْمِنُ بَعْدَ تَقْوَى اللهِ خَيْرًا لَهُ مِنْ زَوْجَةٍ صَالِحَةٍ : إِنْ أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ
وَإِنْ نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ وَإِنْ أَقْسَمَ عَلَيْهَا أَبَرَّتْهُ، وَاِنْ غَابَ عَنْهَا نَصَحَتْهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ

وَبَعْدُ، فَإِنَّ الأُمُوْرَ كُلَّهَا بِيَدِ اللهِ, يَقْضِى فِيْهَا مَا يَشَاءُ وَيَحْكُمُ مَا يُرِيْدُ, لاَ مُقَدِّمَ
لِمَا أَخَّرَ, وَلاَ مُؤَخِّرَ لِمَا قَدَّمَ، وَلاَ يَجْتَمِعُ اثْنَانِ وَلاَ يَفْتَرِقَانِ إِلاَّ بِقَضَاءٍ وَقَدَرٍ،
فَأَمَرَهُ تَعَالَى يَجْرِى عَلَى قَضَاءِهِ، وَقَضَاؤُهُ يَجْرِي إِلَى قَدَرِهِ, لِكُلِّ قَضَاءٍ قَدَرٍ، وَلِكُلِّ قَدَرٍ
أَجَلٌ، وَلِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ , يَمْحُوْ اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ , وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا . وَأَسْتَغْفَرُ اللهَ لِي وَلَكُم, و لوالدينا و مشايخنا, و لسائر
المسلمين و المسلمات.   فَاشْهَدُوْا هَذَا العَقْدَ المُبَارَكَ. وَاسْتَغْفِرُوْا اللهَ. إِنَّهُ
غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ
أَسْتَغْفِرُ الله الْعَظِيْمَ اَلَّذِى لاَاِلَهَ اِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَاَتُوبُ إِلَيْهِ – 3

أَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ الله وَاَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ الله   – 3
====================

Khutbah Nikah 3

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِىْ خَلَقَ مِنَ اْلمآَءِ بَشَرًا. فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا. خَلَقَ آدَم َ ثُمَّ خَلَقَ زَوْجَهُ
حَوَّآءَ مِنْ ضِلْعٍ مِنْ اَضْلاَعِهِ اْليُسْرَى. فَلَمَّا سَكَنَ اِلَيْهَا قَالَتِ الْمَلآئِكَةُ مَهْ يآاَدَمُ حَتَّى
تُؤَدِّىَ لَهَا مَهْرًا. قَالَ وَمَا مَهْرُهَا. قَالُوْا أَنْ تُصَلِّيَ عَلَى مُحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِيِّيْنَ وَاِمَامِ
اْلمُرْسَلِيْنَ, فَوَفىَّ اْلمَهْرَ وَخَطَبَ اْلاَمِيْنُ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَزَوَّجَهَا لَهُ عَلَى ذَلِكَ
اْلمَلِكُ اْلقُدُّوْسُ السَّلاَمُ. وَشَهِدَ اِسْرَافِيلُ وَمِيْكَآئِلُ وَبَعْضُ الْمُقَرَبِيْنَ بِدَارِالسَّلاَمِ. فَصَارَ
ذَلِكَ سُنَّةَ أَوْلاَدِهِ عَلَى تَعَاقُبِ السِّنِيْنَ. أَحْمَدُهُ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا
لِتَسْكُنُوْآ اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَةً وَرَحْمَةً. وَاَشْكُرُهُ اَنْ جَعَلَكُمْ شُعُوْبًا وَقَبَآئِلَ
بِالْتَنَاسُلِ الَّذِى هُوَ اَصْلُ كُلِّ نِعْمَةٍ. وَاَشْهَدُ اَنْ لآَاِلَهَ اِلاَّاللهُ مُبْدِعُ نِظَامِ اْلعَالَمِ
عَلَى اَكْمَلِ حِكْمَةٍ, لآَاِلَهَ اِلاََّ هُوَ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالمَِيْنَ. وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا
رَسُوْلُ اللهِ حَبِيْبُ الرَّحْمنِ وَمُجْتَبَاهُ الْقَائِلُ: حُبِّبَ اِلَىَّ مِنْ دُنْيَاكُمْ النِّسَآءُ وَالطِّيْبُ
وَجُعِلَتْ قُرََّةُ عََيْنِى فِى الصَّلاَةِ. وَقَالَ يَامَعْشَرَالشَّباَبِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اْلبَآءَةَ
فَالْيَتَزَوَّجْ. فَطُوْبى لمَِنْ اَقَرَّ بِذَالِكَ عَيْنَ رَسُوْلِ اللهِ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى الِهِ وَصَحْبِهِ
وَالتَّابِعِيْنَ, أَماََّّ بَعْدُ فَاِنَّ النِكَاحَ مِنَ السُّنَنِ المَرْغُوْبَةِ الَتِى عَليَهْاَ مَدَارُ
الإِسْتِقَامَةِ اِذْ مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدْ كَمُلَ نِصْفُ دِيْنِهِ كَمَا اَخْبَرَ ِبذلِكَ الحَِبيْبُ المَبْعُوْ ثُ مِنْ
تِهَامَةَ. وَقاَلَ تَنَاكَحوُاْ تَنَاسَلُوْا فَإِنّىِ مُبَاهٍ ِبكُمُ الاُمَمَ يَوْمَ الِقيَامَةِ. وَقَدْ حَثَّ عَلَيْهِ
المنَاَّنُ ِبقَوْلِهِ وَاَنْكِحُوْا الاَيَامى مِنْكُمْ وَالصَاِلحِيْنَ. وَهَذَا عَقْدٌ مُبَارَكٌ مَيْمُوْنٌ
وَاجْتِمَاعٌ عَلىَ حُصُولِ خَيْرٍ يَكُوْنُ. اِنْ شَآء اَللهُ الَذِى اِذاَ اَرَادَ شَيْئاً اَنْ يَقُوْلَ لَهُ كُنْ
فَيَكُوْنُ. أَقُوْلَ قَوْلىِ هذاَ وَأَسْتَغْفِرُاللهَ العَظِيْمَ ِلى وَلَكُمْ وَلِوَالِدَيَّ وَوَالِدِيْكُمْ
وَلمِشَاَيخِىِ وَمَشَاِيخِكُمْ وَلِسَائِرِالمُسْلِمِيْنَ فاَسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَالغَفُوْرُ الرَحِيْمُ
**************************************
 Khutbah Nikah: Kado Indah Di Hari Berkah

Saudaraku ….., Kalaulah semua kado dan hadiah spesial di hari bahagia
ini dibuka, demi Allah… tidak ada yang lebih berharga dari bingkisan
mulia berupa wasiat Allah Subhanahu Wa Ta`ala dan tuntunan Rasulillah
Muhammad Shallallahu `Alaihi Wasallam dalam berumah tangga.

Saudaraku ….., Di antara tanda-tanda kekuasaan Allah ialah menciptakan manusia berpasang-pasangan. Agar dua sejoli saling mendapatkan kedamaian sakinah dari pasangannya dan agar tercipta cinta kasih di antara keduanya.

Pernikahan adalah janji suci dan sumpah setia yang kukuh. Allah
menyebutnya sebagai “mitsaqan ghalizha” agar suami mendekap istri
dalam kebaikan di atas jalan Allah.

Saudaraku ….., luruskanlah niatmu. Pernikahan menjadi sebuah kemuliaan bila diwujudkan dalam rangka menjaga `afaf (kehormatan diri) agar tidak terjatuh dalam lubang maksiat dan kubangan lumpur dosa. Nabi agung Muhammad menyampaikan, bahwa salah satu di antara yang akan meraih pertolongan langsung dari Allah ialah seorang hamba yang melangsungkan
akad nikah agar kehormatan dirinya terjaga. (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu
Majah, Nasa’I, Ibnu Majah, Hakim dari Abu Hurairah dengan sanad shahih)

Pernikahan merupakan separuh agama. Nabi menyatakan dalam kemuliaan sabda beliau, “Barangsiapa menikah, sungguh ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Hendaklah ia bertakwa kepada Allah pada separuh lain
yang tersisa” (HR. Baihaqi dengan sanad hasan lighayrihi). Istri yang
shalihah adalah anugerah indah dari Allah sebagai separuh agama bagi
suaminya, maka ia menyempurnakan separuh lainnya dengan takwa kepada Allah. (HR. Thabrani dalam “Al-Ausath” dengan sanad hasan).

Saudaraku….

 1. Pergaulilah istri atas dasar takwa kepada Allah, dengan selimut
ketulusan cinta dan kehangatan tuntunan Islam. Sebaik-baik
perbekalan adalah takwa kepada Allah. Rumah tangga yang dibingkai
dengan takwa; bingkai itu… setiap tepiannya dihiasi simpul manis
‘iffah kesederhanaan dan balutan sifat qana’ah (merasa cukup)
kemudian keduanya dipadupandankan dengan syukur dan sabar … semua itu lebih bernilai daripada dunia dan seisinya.
 2. Bersemangatlah menuntut ilmu agama Islam, karena dengan ilmu itulah kita akan meraih pelita hidup dan petunjuk yang lurus. Apalah
artinya dunia bila bukan di jalan pengabdian dan penghambaan diri
kepada Allah Ta’ala.
 3. Ungkapkanlah perasaan cinta kepada istrimu. Dengan itu, akan terajut benang kasih nan tulus di antara kalian berdua. Sungguh, setiap istri adalah pakaian bagi suaminya dan suami adalah pakaian bagi istrinya.
 4. Seorang wanita mengharapkan untuk dapat bersanding dengan pendamping hidup yang tegas namun tidak kasar atau keras. Yang ia dambakan ialah sosok yang kuat, tegas namun tetap berbalut kasih sayang dan kesahajaan.
 5. Saudaraku …, istrimu juga mengharapkan sebagaimana yang engkau harapkan darinya…; tutur kata yang baik dan santun, bersih, rapi, pandai manjaga aroma harum tubuh, bijaksana bersikap dan tidak mudah emosi dalam menghadapi berbagai kondisi. Bukan dengan ancaman perpisahan atau tekanan yang menggersangkan hati padahal raganya masih berdenyut nadi.
 6. Sejatinya rumah tangga bagaikan kerajaan bagi seorang istri. Ia merasa ikut membangun dan menata singgasananya karena ia adalah sang
ratu di sana. Maka, bijaksanalah dalam berbagi tanggung jawab,
kewenangan serta kepercayaan bersamanya.
 7. Saudaraku …, setiap istri tak kuasa berpisah dari suami tercinta dan anak-anaknya. Namun, ia pun tidak boleh mengabaikan baktinya kepada kedua orang tua dan kerabatnya. Bimbinglah istrimu untuk dapat menempatkan semua itu tepat di tempatnya. Mengabdi bagi suami dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Seluruhnya, dalam rangka
menghambakan diri dalam tuntunan syariat Allah Ta`ala.
 8. Allah menciptakan setiap wanita dari tulang rusuk. Inilah rahasia
besar di balik kecantikan dan kelembutannya. Hal ini bukanlah
aibnya. Inilah ketetapan yang telah Allah gariskan. Apabila engkau
meluruskan kebengkokan itu, maka engkau akan mematahkannya. Dan
bilamana engkau membiarkannya, maka ia akan selalu dalam kondisi
bengkok. Nabi berpesan agar suami senantiasa membimbing dan
berwasiat kebaikan kepada istrinya.
 9. Janganlah engkau membenci istri hanya karena sebuah kekurangan. Akan tetapi, lihatlah sisi lain yang indah menawan dalam dirinya, niscaya engkau akan ridha kepadanya. Yakinlah, kesempurnaan mutlak hanyalah milik Allah Rabbul `Alamin.
10. Peliharalah istri dan anak keturunan, jagalah mereka dari ancaman adzab Allah dan siksa neraka. Sesunggunya setiap kepala keluarga
akan diminta petanggung jawaban kepemimpinan dan pemeliharaannya di tengah keluarganya.

Saudariku…. Hari ini, engkau akan membuka lembaran baru dalam perjalan hidupmu. Bukan lagi hanya bersama belaian Ibunda tercinta dan kasih sayang Ayahanda terhormat. Tapi, bersama seseorang yang kemarin masih sangat asing, namun sesaat lagi akan menjadi yang terdekat. Ambilah kado terindah kami ini untuk engkau bawa di sepanjang kehidupan rumah tanggamu.

 1. Tingkatkan ketaatanmu kepada Allah. Taatilah pula suamimu di jalan
ketaatan kepada Allah. Apabila hubungan seorang hamba dengan Allah baik, niscaya Allah akan memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia, terutama pasangan hidupnya. Nabi bersabda, “Andaikan aku diizinkan untuk memerintahkan seseorang untuk sujud kepada manusia, niscaya aku akan memerintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya” (HR. Tirmidzi dengan sanad shahih)
 2. Perhatikan baik-baik pandangan dan ciumannya. Berupayalah agar
pandangannya tidak melihat sesuatu yang buruk pada dirimu agar kasih
sayangnya tidak berpaling darimu. Jadilah di setiap hari sebagai
pengantin baru, dampingi suamimu dengan kecantikan dan harum
mempesona spesial hanya untuknya. Suatu ketika seorang sahabat
bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, siapakah istri yang
terbaik?”. Nabi menjawab, “Seorang istri yang suaminya senantiasa
tentram hati saat memandangnya. Yang mentaati arahan suaminya dalam kebaikan. Yang tidak menyelisihi apapun yang kurang disukai suaminya”. (HR. Ahmad, Nasa’i, Hakim dengan sanad shahih)
 3. Kelemahlembutan seorang wanita adalah mutiara terindah pada dirinya.
Jauhkan sikap tinggi hati, hindari mengangkat suara di hadapan
suami. Santun kata dan tutur bicara yang halus justru akan membuat
hati suami luluh di balik ketegasannya. Cermatilah hadits Nabi mulia Muhammad, beliau bersabda, “Apabila seorang wanita menegakkan shalat lima waktu, menjalankan puasa, menjaga kehormatan serta mentaati suaminya, niscaya kelak akan dikatakan kepadanya, “masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang engkau suka” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban dengan sanad shahih).
 4. Peliharalah keindahan sifat malu dan berterima kasihlah mengenang
berbagai kebajikannya. Dukunglah baktinya kepada kedua orang tua dan
keluarga. Sungguh, Nabi pernah mengabarkan bahwa kebanyakan penduduk neraka adalah para wanita yang kufur (megingkari) kebaikan suami.
(HR. Bukhari)
 5. Saudariku…, hindarilah berbagi kisah cerita duka penuh sendu atau
dinamika keluarga kepada siapapun, kecuali seizin suami. Dapur rumah
tangga bukanlah konsumsi publik yang beredar laris manis menjadi
buah bibir yang berujung petaka. Ingat, “tak ada gading yang tak
retak”. Barangsiapa bertakwa kepada Allah, pastilah Allah memberikan
jalan keluar yang terbaik serta melimpahkan rizki dari jalan yang
tiada disangka. Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya semua
urusannya menjadi mudah.
 6. Hormatilah kepemimpinan sang suami sebagai kepala keluarga. Bila ia tengah emosi atau  tidak nyaman hati, padamkanlah hatinya dengan
meminta maaf dan mengalah. Nabi bersabda, “Maukah kalian aku
kabarkan tentang siapakah istri kalian di antara ahli surga? Wanita
penyayang, yang banyak memberikan keturunan serta mudah meminta
maaf. Bila ia bersalah, ia segera menyatakan, “ini tanganku dalam
genggaman tanganmu. Aku tiada dapat memejamkan mata dan terpulas tidur hingga engkau ridha kepadaku (memaafkanku)”. (HR. Daraquthni dan Thabrani dengan sanad hasan)
 7. Didiklah putra-putri suamimu dengan pendidikan Islam yang terindah.
Sungguh, tidak ada konsep pendidikan yang lebih baik daripada
tuntunan Islam. Jadilah sahabat terdekat bagi seluruh anggota
keluarga yang memberikan kenyamanan dan kedamaian dalam selimut kasih sayang.
 8. Saudariku…, jangan sekali-kali meminta perpisahan kepada suami tanpa sebab yang dibenarkan syariat Islam, karena hal itu akan
menghalangimu masuk ke dalam surga Allah.
 9. Terbukalah kepada suami, berkomunikasilah dengan baik dan bijak.
Ajaklah ia untuk menyelesaikan setiap problemtika dengan hati sejuk
dalam petunjuk bimbingan Islam.
10. Hadapilah ujian hidup dengan cahaya ilmu dan kesabaran. Bersimpuh kepada Allah memanjatkan doa kehadirat-Nya adalah senjata setiap hamba di setiap saat dan di setiap tempat.

Saudaraku …, Saudariku …

Inilah bingkisan hadiah yang kami punya. Terimalah dengan hati tulus dan senyum bahagia. Semoga Allah mempersatukan anda berdua dengan cinta di jalan-Nya. Semoga, pergeseran waktu tidak merubah predikat anda berdua sebagai pengantin baru di sepanjang masa. Takwa yang dibalut dengan
pakaian akhlak mulia merupakan perbendaharaan terindah dalam kehidupan setiap hamba. Akhirnya, semoga menjadi dua insan yang berbahagia di dunia dan di akhirat dengan keberkahan dalam pernikahan dan bahtera rumah tangga, amin.
**************************************
  Khutbah Nikah Yang Mengharukan

“Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk kedua mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr. Mamduh Hasan  Al-Ganzouri . Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo dan Dikrektur Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf terkemuka di Timur Tengah, yang  tak lain adalah juga dosen kedua mempelai.”

”Kepada Professor dipersilahkan…”, suara pembawa acara walimatul urs
itu menggema di seluruh ruangan resepsi pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di tepi sungai Nil, Kairo.

Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya yang akan
 disampaikan pakar syaraf jebolan London itu. Hati mereka menanti-nanti mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan dengan kesehatan syaraf dari professor yang murah senyum dan sering nongol di televisi itu.

Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya berambut putih
melangkah menuju podium. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya memancarkan wibawa. Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa ia memang seorang ilmuan berbobot. Sorot matanya yang tajam dan kuat,
mengisyaratkan pribadi yang tegas. Begitu sampai di podium, kamera video dan lampu sorot langsung shoot ke arahnya. Sesaat sebelum bicara, seperti biasa, ia sentuh gagang kacamatanya, lalu…

”Bismillah, alhamdulillah, washalatu was salamu’ala Rasulillah, amma
ba’du. Sebelumnya saya mohon ma’af , saya tidak bisa memberi nasihat
lazimnya para ulama, para mubhaligh dan para ustadz. Namun pada
kesempatan kali ini perkenankan saya bercerita…Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan fiktif belaka dan bukan cerita biasa. Tetapi
sebuah pengalaman hidup yang tak ternilai harganya, yang telah saya
kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya. Harapan saya, mempelai berdua
dan hadirin sekalian yang dimuliakan Allah bisa mengambil hikmah dan
pelajaran yang dikandungnya. Ambilah mutiaranya dan buanglah lumpurnya.”

Saya berharap kisah nyata saya ini bisa melunakkan hati yang keras,
melukiskan nuansa-nuansa cinta dalam kedamaian, serta menghadirkan kesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya. Tiga puluh tahun yang lalu …Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah keluarga bangsawan
menengah ke atas. Ayah saya seorang perwira tinggi, keturunan “Pasha” yang terhormat di negeri ini. Ibu saya tak kalah terhormatnya, seorang lady dari keluarga aristokrat terkemuka di Ma’adi, ia berpendidikan tinggi, ekonom jebolan Sorbonne yang memegang jabatan penting dan sangat
dihormati kalangan elit politik di negeri ini.

Saya anak sulung, adik saya dua, lelaki dan perempuan. Kami hidup dalam suasana aristokrat dengan tatanan hidup tersendiri. Perjalanan hidup sepenuhnya diatur dengan undang-undang dan norma aristokrat. Keluarga besar kami hanya mengenal pergaulan dengan kalangan aristokrat atau kalangan high class yang sepadan!

Entah kenapa saya merasa tidak puas dengan cara hidup seperti ini. Saya
merasa terkukung dan terbelenggu dengan strata sosial yang didewa-dewakan keluarga. Saya tidak merasakan benar hidup yang saya
cari. Saya lebih merasa hidup justru saat bergaul dengan teman-teman
dari kalangan bawah yang menghadapi hidup dengan penuh rintangan dan perjuangan. Hal ini ternyata membuat gusar keluarga saya, mereka menganggap saya ceroboh dan tidak bisa menjaga status sosial keluarga.
Pergaulan saya dengan orang yang selalu basah keringat dalam mencari
pengganjal perut dianggap memalukan keluarga. Namun saya tidak peduli.

Karena ayah memperoleh warisan yan sangat besar dari kakek, dan ibu
mampu mengembangkannya dengan berlipat ganda, maka kami hidup mewah dengan selera tinggi. Jika musim panas tiba, kami biasa berlibur ke luar negri, ke Paris, Roma, Sydney atau kota besar dunia lainnya. Jika berlibur di dalam negeri ke Alexandria misalnya, maka pilihan keluarga kami adalah hotel San Stefano atau hotel mewah di Montaza yang berdekatan dengan istana Raja Faruq.

Begitu masuk fakultas kedokteran, saya dibelikan mobil mewah.
Berkali-kali saya minta pada ayah untuk menggantikannya dengan mobil biasa saja, agar lebih enak bergaul dengan teman-teman dan para dosen.
Tetapi beliau menolak mentah-mentah. “Justru dengan mobil mewah itu kamu akan dihormati siapa saja” tegas ayah.

Terpaksa saya pakai mobil itu meskipun dalam hati saya membantah habis-habisan pendapat materialis ayah. Dan agar lebih nyaman di hati, saya parkir mobil itu agak jauh dari tempat kuliah.

Ketika itu saya jatuh cinta pada teman kuliah. Seorang gadis yang penuh pesona lahir batin. Saya tertarik dengan kesederhanaan, kesahajaan, dan kemuliaan ahlaknya. Dari keteduhan wajahnya saya menangkap dalam relung hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan tiada tara. Kecantikan dan kecerdasannya sangat menajubkan. Ia gadis yang beradab dan berprestasi, sama seperti saya.

Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga mencintai saya. Saya merasa
telah menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk
menempatkan cinta ini dalam ikatan suci yang diridhai Allah, yaitu
ikatan pernikahan. Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai tertinggi di
fakultas. Maka datanglah saat untuk mewujudkan impian kami berdua
menjadi kenyataan. Kami ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan yang lurus.

Saya buka keinginan saya untuk melamar dan menikahi gadis pujaan hati pada keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu, dan
saudara-saudara saya semuanya takjub dengan kecantikan, kelembutan, dan kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam memilih warna pakaian serta tutur bahasanya yang halus.Usai kunjungan itu, ayah bertanya
tentang pekerjaan ayahnya. Begitu saya beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan membanting gelas yang ada di dekatnya. Bahkan beliau mengultimatum: Pernikahan ini tidak boleh terjadi selamanya!

Beliau menegaskan bahwa selama beliau masih hidup rencana pernikahan dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh otak saya nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin yang tak terkira.

Hadirin semua, apakah anda tahu sebabnya? Kenapa ayah saya berlaku
sedemikian sadis? Sebabnya, karena ayah calon istri saya itu tukang
cukur….tukang cukur, ya… sekali lagi tukang cukur! Saya katakan dengan bangga. Karena, meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki sejati. Seorang pekerja keras yang telah menunaikan kewajibannya dengan
baik kepada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi yang tak
banyak dilakukan para bangsawan “Pasha”. Lewat tangannya ia lahirkan
tiga dokter, seorang insinyur dan seorang letnan, meskipun dia sama
sekali tidak mengecap bangku pendidikan.

Ibu, saudara dan semua keluarga berpihak kepada ayah. Saya berdiri
sendiri, tidak ada yang membela. Pada saat yang sama adik saya membawa pacarnya yang telah hamil 2 bulan ke rumah. Minta direstui. Ayah ibu langsung merestui dan menyiapkan biaya pesta pernikahannya sebesar 500
ribu ponds. Saya protes kepada mereka, kenapa ada perlakuan tidak adil seperti ini? Kenapa saya yang ingin bercinta di jalan yang lurus tidak direstui, sedangkan adik saya yang jelas-jelas telah berzina,
bergonta-ganti pacar dan akhirnya menghamili pacarnya yang entah yang ke berapa di luar akad nikah malah direstui dan diberi fasilitas maha besar?
Dengan enteng ayah menjawab. “Karena kamu memilih pasangan hidup dari strata yang salah dan akan menurunkan martabat keluarga, sedangkan pacar adik kamu yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan martabat keluarga besar Al Ganzouri.” Hadirin semua, semakin perih luka dalam
hati saya. Kalau dia bukan ayah saya, tentu sudah saya maki habis-habisan. Mungkin itulah tanda kiamat sudah dekat, yang ingin hidup
bersih dengan menikah dihalangi, namun yang jelas berzina justru
difasilitasi.

Dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk membela cinta dan hidup saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahwa cara dan pasangan
bercinta pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa-apa selain
menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan suci yang saya yakini kebenarannya. Itu saja.

Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya.
Dengan penuh kejujuran saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dengan harapan beliau berlaku bijak merestui rencana saya. Namun, la haula wala quwwata illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau setelah
mengetahui penolakan keluarga saya. Beliaupun menolak mentah-mentah
untuk mengawinkan putrinya dengan saya. Ternyata beliau menjawabnya
dengan reaksi lebih keras, beliau tidak menganggapnya sebagai anak jika tetap nekad menikah dengan saya.

Kami berdua bingung, jiwa kami tersiksa. Keluarga saya menolak
pernikahan ini terjadi karena alasan status sosial , sedangkan keluarga
dia menolak karena alasan membela kehormatan.

Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang air mata, beratap dan bertanya kenapa orang-orang itu tidak memiliki kesejukan cinta? Setelah berpikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri penderitaan ini. Suatu hari saya ajak gadis yang saya cintai itu ke kantor ma’dzun syari (petugas pencatat nikah) disertai 3 orang sahabat karibku. Kami berikan identitas kami dan kami minta ma’dzun untuk melaksanakan akad nikah kami
secara syari’ah mengikuti mahzab imam Hanafi. Ketika Ma’dzun menuntun saya, “Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Saya terima nikah kamu sesuai dengan sunatullah wa rasulih dan dengan mahar yang kita sepakati bersama serta dengan memakai mahzab Imam Abu Hanifah.”

Seketika itu bercucuranlah air mata saya, air mata dia dan air mata 3
sahabat saya yang tahu persis detail perjalanan menuju akad nikah itu.
Kami keluar dari kantor itu resmi menjadi suami-isteri yang sah di mata Allah SWT dan manusia. Saya bisikkan ke istri saya agar menyiapkan kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum berakhir. Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir, akad nikah kami membuat murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di depan mata. Begitu mencium
pernikahan kami, saya diusir oleh ayah dari rumah. Mobil dan segala
fasilitas yang ada disita. Saya pergi dari rumah tanpa membawa apa-apa.
Kecuali tas kumal berisi beberapa potong pakaian dan uang sebanyak 4
pound saja! Itulah sisa uang yang saya miliki sehabis membayar ongkos akad nikah di kantor ma’dzun.

Begitu pula dengan istriku, ia pun diusir oleh keluarganya. Lebih tragis
lagi ia hanya membawa tas kecil berisi pakaian dan uang sebanyak 2
pound, tak lebih! Total kami hanya pegang uang 6 pound atau 2 dolar!!!

Ah, apa yang bisa kami lakukan dengan uang 6 pound? Kami berdua bertemu di jalan layaknya gelandangan. Saat itu adalah bulan Februari, tepat pada puncak musim dingin. Kami menggigil,rasa cemas, takut, sedih dan sengsara campur aduk menjadi satu. Hanya saja saat mata kami yang berkaca-kaca bertatapan penuh cinta dan jiwa menyatu dalam dekapan kasih
sayang , rasa berdaya dan hidup menjalari sukma kami. “Habibi, maafkan kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti ini. Maafkan Kanda!”
“Tidak… Kanda tidak salah, langkah yang kanda tempuh benar. Kita telah
berpikir benar dan bercinta dengan benar. Merekalah yang tidak bisa
menghargai kebenaran. Mereka masih diselimuti cara berpikir anak kecil.
Suatu ketika mereka akan tahu bahwa kita benar dan tindakan mereka salah. Saya tidak menyesal dengan langkah yang kita tempuh
ini.Percayalah, insya Allah, saya akan setia mendampingi kanda, selama
kanda tetap setia membawa dinda ke jalan yang lurus. Kita akan buktikan
kepada mereka bahwa kita bisa hidup dan jaya dengan keyakinan cinta kita. Suatu ketika saat kita gapai kejayaan itu kita ulurkan tangan kita dan kita berikan senyum kita pada mereka dan mereka akan menangis haru. Air mata mereka akan mengalir deras seperti derasnya air mata derita kita saat ini,” jawab isteri saya dengan terisak dalam
pelukan.Kata-katanya memberikan sugesti luar biasa pada diri saya.
Lahirlah rasa optimisme untuk hidup. Rasa takut dan cemas itu sirna
seketika. Apalagi teringat bahwa satu bulan lagi kami akan diangkat
menjadi dokter. Dan sebagai lulusan terbaik masing-masing dari kami akan menerima penghargaan dan uang sebanyak 40 pound.

Malam semakin melarut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk di emperan toko berdua sebagai gembel yang tidak punya apa-apa. Dalam kebekuan, otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak mungkin kami tidur di emperan toko itu. Jalan keluar pun datang juga. Dengan sisa uang 6 pound itu kami masih bisa meminjam sebuah toko selama 24 jam.

Saya berhasil menghubungi seorang teman yang memberi pinjaman sebanyak 50 pound. Ia bahkan mengantarkan kami mencarikan losmen ala kadarnya yang murah. Saat kami berteduh dalam kamar sederhana, segera kami disadarkan kembali bahwa kami berada di lembah kehidupan yang susah,
kami harus mengarunginya berdua dan tidak ada yang menolong kecuali
cinta, kasih sayang dan perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah SWT.

Kami hidup dalam losmen itu beberapa hari, sampai teman kami berhasil menemukan rumah kontrakan sederhana di daerah kumuh Syubra Khaimah. Bagi
 kaum aristokrat, rumah kontrakan kami mungkin dipandang sepantasnya adalah untuk kandang binatang kesayangan mereka. Bahkan rumah binatang kesayangan mereka mungkin lebih bagus dari rumah kontrakan kami.

Namun bagi kami adalah hadiah dari langit. Apapun bentuk rumah itu, jika
seorang gelandangan tanpa rumah menemukan tempat berteduh ia bagai mendapat hadiah agung dari langit. Kebetulan yang punya rumah sedang membutuhkan uang, sehingga dia menerima akad sewa tanpa uang jaminan dan uang administrasi lainnya. Jadi sewanya tak lebih dari 25 pound saja untuk 3 bulan.

Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah kesana. Lalu kami pergi membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tak lebih dari
sebuah kasur kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu kecil, dua
kursi dan satu kompor gas sederhana sekali, kipas dan dua cangkir dari
tanah, itu saja… tak lebih.

Dalam hidup bersahaja dan belum dikatakan layak itu, kami merasa tetap bahagia, karena kami selalu bersama. Adakah di dunia ini kebahagiaan melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta? Hidup bahagia adalah hidup dengan gairah cinta. Dan kenapakah orang-orang di dunia merindukan surga di akhirat? Karena di surga Allah menjanjikan cinta.
Ah, saya jadi teringat perkataan Ibnu Qayyim, bahwa nikmatnya
persetubuhan cinta yang dirasa sepasang suami-isteri di dunia adalah untuk memberikan gambaran setetes nikmat yang disediakan oleh Allah di surga. Jika percintaan suami-isteri itu nikmat, maka surga jauh lebih nikmat dari semua itu. Nikmat cinta di surga tidak bisa dibayangkan.
Yang paling nikmat adalah cinta yang diberikan oleh Allah kepada
penghuni surga , saat Allah memperlihatkan wajah-Nya. Dan tidak semua penghuni surga berhak menikmati indahnya wajah Allah SWT. Untuk nikmat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Yang konsisten mengikuti petunjuk Allah-lah yang berhak memperoleh segala cinta di surga. Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus mendekatkan diri kepada-Nya.

Istri saya jadi rajin membaca Al-Qur’an, lalu memakai jilbab, dan tiada putus shalat malam. Di awal malam ia menjelma menjadi Rabi’ah Adawiyah  yang larut dalam samudra munajat kepada Tuhan. Pada waktu siang ia adalah dokter yang penuh pengabdian dan belas kasihan. Ia memang wanita yang berkarakter dan berkepribadian kuat, ia bertekad untuk hidup berdua tanpa bantuan siapapun, kecuali Allah SWT. Dia juga seorang wanita yang pandai mengatur keuangan. Uang sewa sebanyak 25 poud yang tersisa
setelah membayar sewa rumah cukup untuk makan dan transportasi selama
sebulan.Tetanggga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan kamipun mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan dan derita hidup kami, padahal kami berdua adalah dokter. Sampai-sampai ada yang bilang tanpa disengaja,”Ah, kami kira para dokter itu pasti kaya semua, ternyata ada juga yang melarat sengsara seperti Mamduh dan
isterinya.” Akrabnya pergaulan kami dengan para tetangga banyak
mengurangi nestapa kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan
bantuan-bantuan kecil layaknya saudara sendiri. Ada yang menawarkan kepada isteri agar menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka karena kami memang dokter  yang sibuk. Ada yang membelikan kebutuhan
dokter. Ada yang membantu membersihkan rumah. Saya sangat terkesan dengan pertolongan- pertolongan mereka.

Kehangatan tetangga itu seolah-olah pengganti kasarnya perlakuan yang
kami terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan tidak
terpanggil sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami. Yang lebih
menyakitkan mereka tidak membiarkan kami hidup tenang.

Suatu malam, ketika kami sedang tidur pulas, tiba-tiba rumah kami
digedor dan didobrak oleh 4 bajingan kiriman ayah saya. Mereka merusak segala perkakas yang ada. Meja kayu satu-satunya, mereka patah-patahkan, begitu juga dengan kursi. Kasur tempat kami tidur satu-satunya mereka robek-robek. Mereka mengancam dan memaki kami dengan kata-kata kasar.
Lalu mereka keluar dengan ancaman, “Kalian tak akan hidup tenang, karenaberani menentang Tuan Pasha.”

Yang mereka maksudkan dengan Tuan “Pasha” adalah ayah saya yang kala itu pangkatnya naik menjadi jendral. Ke-empat bajingan itu pergi. Kami berdua berpelukan, menangis bareng berbagi nestapa dan membangun kekuatan. Lalu kami tata kembali rumah yang hancur. Kami kumpulkan lagi kapas-kapas yang berserakan, kami masukan lagi ke dalam kasur dan kami jahit kasur yang sobek-sobek tak karuan itu. Kami tata lagi buku-buku yang berantakan. Meja dan kursi yang rusak itu berusaha kami perbaiki.
Lalu kami tertidur kecapaian dengan tangan erat bergenggaman, seolah
eratnya genggaman inilah sumber rasa aman dan kebahagiaan yang
meringankan intimidasi hidup ini.

Benar, firasat saya mengatakan ayah tidak akan membiarkan kami hidup
tenang. Saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa ayah telah
merancang skenario keji untuk memenjarakan isteri saya dengan tuduhan wanita tuna susila. Semua orang juga tahu kuatnya intelijen militer di negeri ini. Mereka berhak melaksanakan apa saja dan undang-undang berada di telapak kaki mereka. Saya hanya bisa pasrah total kepada Allah mendengar hal itu.

Dan Masya Allah! Ayah telah merancang skenario itu dan tidak
mengurungkan niat jahatnya itu, kecuali setelah seorang teman karibku berhasil memperdaya beliau dengan bersumpah akan berhasil membujuk saya agar menceraikan isteri saya. Dan meminta ayah untuk bersabar dan tidak menjalankan skenario itu , sebab kalau itu terjadi pasti pemberontakan saya akan menjadi lebih keras dan bisa berbuat lebih nekad.

Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku setiap pekan sambil meminta beliau sabar, sampai berhasil meyakinkan saya untuk mencerai isteriku.
Inilah skenario temanku itu untuk terus mengulur waktu, sampai ayah
turun marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara saya bisa mempersiapkan segala sesuatu lebih matang.

Beberapa bulan setelah itu datanglah saat wajib militer. Selama satu
tahun penuh saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang saya
takutkan, tidak ada pemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6
pound setiap bulan. Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang
sangat saya cintai. Nyaris selama 1 tahun saya tidak bisa tidur karena
memikirkan keselamatan isteri tercinta.Tetapi Allah tidak melupakan
kami, Dialah yang menjaga keselamatan hamba-hamba- Nya yang beriman.
Isteri saya hidup selamat bahkan dia mendapatkan kesempatan magang di
sebuah klinik kesehatan dekat rumah kami. Jadi selama satu tahun ini,
dia hidup berkecukupan dengan rahmat Allah SWT.

Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan segenap rasa rindu
kepada kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan
keindahan. Malam itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang putih bersih. Ia tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya. Saya teringat puisi seorang penyair Palestina yang memimpikan hidup bahagia dengan pendamping setia & lepas dari belenggu derita: Sambil menatap kaki langit Kukatakan kepadanya Di sana… di atas lautan pasir kita akan berbaring Dan tidur nyenyak sampai subuh tiba Bukan karna ketiadaan kata-kata Tapi karena kupu-kupu kelelahan Akan tidur di atas bibir kita Besok, oh cintaku… besok Kita akan bangun pagi sekali Dengan para pelaut dan perahu layar mereka Dan akan terbang bersama angin Seperti
burung-burung  Yah… saya pun memimpikan demikian. Ingin rasanya
istirahat dari nestapa dan derita. Saya utarakan mimpi itu kepada istri
tercinta. Namun dia ternyata punya pandangan lain. Dia malah bersih
keras untuk masuk program Magister bersama! “Gila… ide gila!!!”
pikirku saat itu. Bagaimana tidak…ini adalah saat paling tepat untuk
pergi meninggalkan Mesir dan mencari pekerjaan sebagai dokter di negara Teluk, demi menjauhi permusuhan keluarga yang tidak berperasaan. Tetapi istri saya tetap bersikukuh untuk meraih gelar Magister dan menjawab logika yang saya tolak:

“Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan kita dan mendapat tawaran
dari Fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan biaya, kita harus sabar sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta dalam
kebahagiaan. Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa tidak sekalian kita rengguk sum-sum penderitaan ini. Kita sempurnakan prestasi akademis kita, dan kita wujudkan mimpi indah kita.” Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau ketakutan sama sekali. Berhadapan
dengan tekad baja istriku, hatiku pun luluh. Kupenuhi ajakannya dengan
perasaan takjub akan kesabaran dan kekuatan jiwanya.

Jadilah kami berdua masuk Program Magister. Dan mulailah kami memasuki hidup baru yang lebih menderita. Pemasukan pas-pasan, sementara kebutuhan kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktek, buku, dll.
Nyaris kami hidup laksana kaum Sufi, makan hanya dengan roti dan air.
Hari-hari yang kami lalui lebih berat dari hari-hari awal pernikahan
kami. Malam hari kami lalui bersama dengan perut kosong, teman setia
kami adalah air keran.

Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama dalam suatu malam sampai didera rasa lapar yang tak terperikan, kami obati dengan air. Yang terjadi malah kami muntah-muntah. Terpaksa uang untuk beli buku kami ambil untuk pengganjal perut. Siang hari, jangan tanya…
kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan itu, terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan.

Meski demikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernah
menyesal atau mengeluh sedikitpun. Tidak pernah saya melihat istri saya
mengeluh, menagis dan sedih ataupun marah karena suatu sebab. Kalaupun dia menangis, itu bukan karena menyesali nasibnya, tetapi dia malah lebih kasihan kepada saya. Dia kasihan melihat keadaan saya yang asalnya terbiasa hidup mewah, tiba-tiba harus hidup sengsara layaknya
gelandangan. Sebaliknya, sayapun merasa kasihan melihat keadaannya, dia yang asalnya hidup nyaman dengan keluarganya, harus hidup menderita di rumah kontrakan yang kumuh dan makan ala kadarnya. Timbal balik perasaan ini ternya menciptakan suasana mawaddah yang luar biasa kuatnya dalam
diri kami. Saya tidak bisa lagi melukiskan rasa sayang, hormat, dan
cinta yang mendalam padanya.

Setiap kali saya angkat kepala dari buku, yang tampak di depan saya
adalah wajah istri saya yang lagi serius belajar. Kutatap wajahnya
dalam-dalam. Saya kagum pada bidadari saya ini. Merasa diperhatikan, dia akan mengangkat pandangannya dari buku dan menatap saya penuh cinta dengan senyumnya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan terlupakan
semua. Rasanya kamilah orang yang paling berbahagia di dunia ini.
 “Allah menyertai orang-orang yang sabar, sayang…” bisiknya mesra
sambil tersenyum.

Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara. Allah Maha
Penyayang, usaha kami tidak sia-sia. Kami berdua meraih gelar  Magister
dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya 2 tahun saja! Namun, kami belum keluar dari derita. Setelah meraih gelar Magister pun kami masih hidup susah, tidur di atas kasur tipis dan tidak ada istilah makan enak dalam hidup kami. Sampai akhirnya rahmat Allah datang juga. Setelah usaha keras, kami berhasil meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan untuk pertama kalinya, setelah 5 tahun berselimut derita dan duka, kami mengenal hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang
mewah, merasakan kembali tidur di kasur empuk dan kembali mengenal
masakan lezat.

Dua tahun setelah itu, kami dapat membeli villa berlantai dua di
Heliopolis, Kairo. Sebenarnya, saya rindu untuk kembali ke Mesir setelah
memiliki rumah yang layak. Tetapi istriku memang ‘edan’. Ia kembali
mengeluarkan ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan program Doktor
Spesialis di London, juga dengan logika yang sulit saya tolak: “Kita
dokter yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita lalui, dan
kita kini memiliki uang yang cukup untuk mengambil gelar Doktor di
London. Setelah bertahun-tahun hidup di lorong kumuh, tak ada salahnya kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi sambil merasakan hidup di negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah menyediakan dana tambahan.”

Kucium kening istriku, dan bismillah… kami berangkat ke London.
Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berhasil menggondol gelar Doktor dari London. Saya spesialis syaraf dan istri saya spesialis jantung. Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami meneken kontrak kerja baru di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan saya diangkat sebagai direktur rumah sakit, dan istri saya sebagai wakilnya!
Kami juga mengajar di Universitas. Kami pun dikaruniai seorang putri yang cantik dan cerdas. Saya namai dia dengan nama istri terkasih, belahan jiwa yang menemaniku dalam suka dan duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan.

Lima tahun setelah itu, kami pindah kembali ke Kairo setelah sebelumnya
menunaikan ibadah haji di Tanah Haram. Kami kembali laksana raja dan permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling dunia. Kini kami hidup bahagia, penuh cinta dan kedamaian setelah lebih dari 9 tahun hidup menderita, melarat dan sengsara. Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami kepada Allah swt dan bertambahlan rasa cinta kami.

Ini kisah nyata yang saya sampaikan sebagai nasehat hidup. Jika hadirin
sekalian ingin tahu istri saleha yang saya cintai dan mencurahkan cintanya dengan tulus, tanpa pernah surut sejak pertemuan pertama sampai saat ini, di kala suka dan duka, maka lihatlah wanita berjilbab biru yang menunduk di barisan depan kaum ibu, tepat di sebelah kiri artis berjilbab Huda Sulthan. Dialah istri saya tercinta yang mengajarkan
bahwa penderitaan bisa mengekalkan cinta. Dialah Prof Dr Shiddiqa binti
Abdul Aziz…”

Tepuk tangan bergemuruh mengiringi gerak kamera video menyorot sosok perempuan separoh baya yang tampak anggun dengan jilbab biru. Perempuan itu tengah mengusap kucuran air matanya. Kamera juga merekam mata Huda
Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru kedua mempelai, dan
segenap hadirin yang menghayati cerita ini dengan seksama.

Hukum Perayaan Peringatan Maulid Nabi Latar Belakang dan Dasar Hukum Peringatan Perayaan Maulid Nabi Muhammad saw.

Bolehkah merayakan maulid nabi? Apa hukumnya merayakan atau menghadiri maulid Nabi saw?

Hukum Maulid Nabi – Sering kali hal yang di anggap “bid’ah” oleh
sebagian saudara sesama muslim kita menjadi topik hangat dan bahkan menjadi kontrofersi dalam pengambilan hukum. Apapun itu, sekiranya jangan sampai memecah belah persatuan umat ini.

Sesungguhnya Nabi Muhammad saw. adalah utusan Allah dan rahmat bagi
sekalian alam. Nabi Muhammad saw. adalah nikmat terbesar dan anugerah
teragung yang Allah berikan kepada alam semesta.

Ketika manusia saat itu berada dalam kegelapan syirik, kufur, dan tidak
mengenal Rabb pencipta mereka. Manusia mengalami krisis spiritual dan moral yang luar biasa. Nilai-nilai kemanusiaan sudah terbalik.
Penyembahan terhadap berhala-berhala suatu kehormatan, perzinaan suatu kebanggaan, mabuk dan berjudi adalah kejantanan, dan merampok serta membunuh adalah suatu keberanian.

Di saat seperti ini rahmat ilahi memancar dari jazirah Arab. Dunia ini melahirkan seorang Rasul yang ditunggu oleh alam semesta untuk
menghentikan semua kerusakan ini dan membawanya kepada cahaya ilahi.

Kelahiran makhluk mulia yang ditunggu jagad raya membuat alam tersenyum, gembira dan memancarkan cahaya. Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi pengarang kitab Maulid Habsyi (Biasa disebut Simtu Duror atau lengkapnya Simthud-Durar fi akhbar Mawlid Khairil Basyar min akhlaqi wa
awshaafi wa siyar) menggambarkan kelahiran Nabi Mulia itu dalam syairnya yang indah:

اشرق الكون ابتهاجا بوجود المصطفى احمد و لأهل الكون انس وسرور قد تجدد

“Alam bersinar cemerlang bersukaria demi menyambut kelahiran Ahmad
Al-Musthofa Penghuni alam bersukacita Dengan kegembiraan yang berterusan selamanya”.

Dengan tuntunan Allah SWT Nabi Muhammad SAW pun berhasil melaksanakan misi risalah yang diamanahkan kepadanya. Setelah melalui perjalanan dakwah dan jihad selama kurang lebih 23 tahun dengan berbagai macam rintangan dan hambatan yang menimpa Rasulullah SAW berhasil mengeluarkan umat dan mengantarkan bangsa Arab dari penyembahan makhluk menuju kepada penyembahan Rabbnya makhluk, dari kezaliman jahiliyah menuju keadilan Islam.

Jazakallah ya Rasulallah an ummatika afdhola ma jazallah nabiyyan an
ummatih. Baiklah sebelum membahas masalah memperingati Maulid Nabi SAW serta membahas dalil-dalil yang menunjukan bolehnya memperingati Maulid yang mulia ini dan berkumpul dalam acara tersebut.

      Ada beberapa hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan perayaan maulid

        Pertama

kita memperingati Maulid Nabi SAW bukan hanya tepat pada hari
kelahirannya, melainkan selalu dan selamanya di setiap waktu dan setiap
kesempatan ketika kita mendapatkan kegembiraan terlebih lagi pada bulan
kelahiran beliau yaitu Rabi’ul Awwal dan pada hari kelahiran beliau hari
Senin.

Tidak layak seorang yang berakal bertanya,”Mengapa kalian
memperingatinya?” Karena, seolah-olah ia bertanya,”Mengapa kalian
bergembira dengan adanya Nabi SAW?” Apakah sah bila pertanyaan ini
timbul dari seorang muslim yang mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah? Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang bodoh dan tidak membutuhkan jawaban.

Seandainya pun saya, misalnya, harus menjawab, cukuplah saya menjawabnya demikian, “Saya memperingatinya karena saya gembira dan bahagia dengan
beliau, saya gembira dengan beliau karena saya mencintainya, dan saya
mencintainya karena saya seorang mukmin”.

        Kedua

Yang dimaksud dengan peringatan Maulid adalah berkumpul untuk
mendengarkan sirah beliau dan mendengarkan pujian-pujian tentang diri beliau, juga memberi makan orang-orang yang hadir, memuliakan
orang-orang fakir dan orang-orang yang membutuhkan, serta menggembirakan hati orang-orang yang mencintai beliau.

        Ketiga

Kita tidak mengatakan bahwa peringatan Maulid itu dilakukan pada malam tertentu dan dengan cara tertentu yang dinyatakan oleh nash-nash syariat secara jelas, sebagaimana halnya shalat, puasa, dan ibadah yang lain.
Tidak demikian. _Peringatan Maulid tidak seperti shalat, puasa, dan
ibadah_. Tetapi juga tidak ada dalil yang melarang peringatan ini,
karena berkumpul untuk mengingat Allah dan Rasul-Nya serta hal-hal lain yang baik adalah sesuatu yang harus diberi perhatian semampu kita,
terutama pada bulan Maulid.

        Keempat

berkumpulnya orang untuk memperingati acara ini adalah sarana terbesar untuk dakwah, dan merupakan kesempatan yang sangat berharga yang tak boleh dilewatkan. Bahkan, para dai dan ulama wajib mengingatkan umat tentang Nabi baik akhlaqnya, hal ihwalnya, sirahnya, muamalahnya, maupun
ibadahnya di samping menasihati mereka menuju kebaikan dan kebahagiaan serta memperingatkan mereka dari bala, bid’ah, keburukan dan fitnah.

Jika peringatan maulid itu dalam rangka mengingat kembali sejarah
kehidupan Rasulullah saw., mengingat kepribadian beliau yang agung, mengingat misinya yang universal dan abadi, misi yang Allah tegaskan sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Ketika acara maulid seperti demikian, alasan apa masih disebut dengan
bid’ah? dan setiap bid’ah pasti sesat, dan setiap yang sesat pasti
masuk neraka, tidak semuanya benar.! Sebagai pembuka dalam pembahasan memperingati Maulid Nabi SAW,ada baiknya kita kutip perkataan seorang ulama kharismatik dari Universitas Al-Azhar Mesir Imam Mutawalli Sha`Rawi dalam bukunya al-Fikr Ma’idat al-Islamiyya

“Jika makhluk hidup bahagia atas kelahiran Nabi nya itu dan semua
tanaman senang atas kelahirannya, semua binatang senang atas
kelahirannya semua malaikat senang atas kelahirannya, dan semua jin
senang atas kelahirannya, mengapa engkau mencegah kami dari yang bahagia atas kelahirannya? ” (untuk menjawab pendapat orang orang yang tidak memperbolehkan perayaan Maulid Nabi).

Kita dianjurkan untuk bergembira atas rahmat dan karunia Allah SWT
kepada kita. Termasuk kelahiran Nabi Muhammad SAW yang membawa rahmat kepada alam semesta. Allah SWT berfirman:

ﻗُﻞْ ﺑِﻔَﻀْﻞِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻭَﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻪِ ﻓَﺒِﺬَﻟِﻚَ ﻓَﻠْﻴَﻔْﺮَﺣُﻮﺍْ ﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِّﻤَّﺎ ﻳَﺠْﻤَﻌُﻮﻥَ

“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik
dari apa yang mereka kumpulkan.”(QS.Yunus:58).

Dari latar belakang ini lah umat islam merasakan kebahagian luar biasa
atas kelahiran nabi dan memperingatinya setiap tahunnya, bahkan pada saat ini di setiap negara muslim, kita pasti menemukan orang-orang yang merayakan ulang tahun Nabi yang disebut dengan hari Maulid Nabi. Hal ini berlaku pada mayoritas umat islam di banyak Negara misalnya sebagai berikut: Mesir, Suriah, Libanon, Yordania, Palestina, Irak, Kuwait, Uni Emirat, Saudi Arabia (pada sebagian tempat saja) Sudan, Yaman, Libya, Tunisia, Aljazair, Maroko, Mauritania, Djibouti, Somalia, Turki, Pakistan, India, Sri Lanka, Iran, Afghanistan, Azerbaidjan, Uzbekistan, Turkestan, Bosnia, Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, dan sebagian besar negara- negara Islam lainnya.

Di negara-negara tersebut bahkan kebanyakan diperingati sebagai hari
libur nasional. Semua negara-negara ini yaitu duwal islamiyah merayakan hari peringatan peristiwa ini. Bagaimana bisa pada saat ini
ada sebagian minoritas yang berpendapat dan mempunyai keputusan bahwa memperingati acara maulid Nabi adalah sebuah keharaman dan bid’ah yang
sebaiknya di tinggalkan oleh umat islam.

_Hukum perayaan maulid_ telah menjadi topik perdebatan para ulama sejak lama dalam sejarah Islam, yaitu antara kalangan yang memperbolehkan dan yang melarangnya karena dianggap bid’ah. Hingga saat ini pun masalah hukum maulid, masih menjadi topik hangat yang diperdebatkan kalangan muslim.

Ironisnya di beberapa lapisan masyarakat muslim saat ini permasalahan peringatan maulid sering dijadikan tema untuk berbeda pendapat yang kurang sehat, dijadikan topik untuk saling menghujat, saling menuduh
sesat dan lain sebagainya. Bahkan yang tragis, masalah peringatan maulid nabi ini juga menimbulkan kekerasan sektarianisme antar pemeluk Islam di beberapa tempat.

Untuk lebih jelas mengenai duduk persoalan “Hukum Perayaan  Peringatan Maulid Nabi SAW” ini, ada baiknya kita telaah kembali sejarah pemikiran Islam tentang perayaan Maulid ini dari pendapat para ulama terdahulu dan menelisik lebih jauh awal mula tradisi perayaan Maulid ini.
Tentu saja tulisan ini tidak memuat semua pendapat ulama Islam, tetapi
cukup dapat dijadikan rujukan untuk membuat sebuah peta pemikiran dalam memahami hakikat Maulid secara komprehensif dan menyikapinya dengan bijaksana.
**************************************
 Hukum Dan Dalil Maulid Nabi SAW, Apakah Maulid Bid’ah Sesat?

Tulisan ini saya buat karena seringkali saya melihat diskusi atau juga terlibat diskusi baik di internet pula di dunia nyata tentang isu
tahunan namun tidak pernah usang yakni Apakah Maulid Bid’ah. Mereka yang kontra dengan Maulid, dan yang pernah saya temui untuk berdiskusi
umumnya dari kalangan PKS dan juga mereka yang biasa disebut dengan
golongan Salafi Wahabi.

Jadi saya berinisiatif untuk mempostingnya disini, siapapun yang mungkin membutuhkan. Ambil yang baik, buang yang jelek. Koreksi jika saya salah.
Yang benar dari Allah SWT, yang keliru itu dari kekhilafan saya. Allahu
a’llam Bissawab.

Apakah Maulid Bid’ah dalam beragama?

Bukan! Kenapa? Karena Maulid bukan aktivitas beragama dan ibadah, tidak
pernah disyareatkan oleh mereka yang merayakannya. Namun Maulid
merupakan peringatan dan perayaan kelahiran nabi SAW. Apakah pantas
sesuatu yang bukan bagian dari ibadah, di hukumi dengan dalil agama?

Bid’ah dalam beribadah, sudah jelas contohnya menambah rakaat shalat
dari yang sudah ditetapkan secara syar’i, misalnya shalat Maghrib
ditambah jadi 4 rakaat dengan alasan makin banyak makin baik. Dan
menyembelih kurban sebelum shalat Ied Adha dstnya. Sedangkan Maulid,
bukanlah ibadah. Sekali lagi saya jelaskan bawah Maulid adalah
peringatan atas kelahiran orang yang Allah beri titel sebagai Rahmat
bagi sekalian alam.

Nabi SAW, sendiri memperingati hari lahirnya dengan berpuasa. Dan
generasi pengikutnya hingga kini peringati dengan merayakan Maulid.

    Dan memang posting ini teramat panjang, jika anda benar-benar ke
    posting ini guna mencari jawaban mengenai hukum dan dalil peringatan Maulid maka bacalah artikel ini hingga tuntas.

    Dan membaca dan mencoba mengerti tulisan harus menjadi kebiasaan kita agar mendapat pemahaman.

    Silahkan dibaca hingga tuntas saudara-saudari dalam iman Islam.

Maulid sebagai metode dakwah.

Orang yang merayakan Maulid menggunakannya sebagai media untuk dakwah.
Dan dalam urusan cara berdakwah tidak ada batasan. Melalui inisiatif dan ide si pelaku dakwah. Dan mereka melakukannya dengan peringatan Maulid Nabi Muhamamd SAW, dimana pada acara peringatan ini di isi dengan semua aktivitas bersifat sunnah, yakni memberi Tausiyah, berkumpulnya umat
Muslim, pembacaan Al Quran, memberi makan orang banyak dan sebagainya.

Seperti halnya para Waliy menggunakan ilustrasikan rukum Islam sebagai pendawa lima tokoh wayang. Yakinlah jika yang menyebarkan Islam di nusantara bukanlah orang-orang Ahli Sunnah Wal Jamaah, melainkan kaum
Salafi Wahabi bisa-bisa Islam bukannya tersebar malah perang dimana-mana.

Seperti halnya bid’ah para Salafi Wahabi yang berdakwah dengan cara
membagi 3 Tauhid, meskipun tidak rujukannya, namun pihak Salafi Wahabi percaya bahwa itu sebuah metode dakwah guna mengajari umat akan Tauhid. Sekali lagi jika
ditanya mana rujukan dari Nabi SAW mengenai pembagian Tauhid menjadi 3 mereka tidak akan dapat menjawab.

Renungan, kenapa umat Islam dewasa ini peringati Maulid Nabi SAW?

Ulama masa kini manfaatkan momen Maulid, untuk menyegarkan kembali
memori kita terhadap manusia yang amat suci disisi RobNya yakni Nabi
Muhammad SAW, para ulama memberitakan kembali pribadi, perjuangan dan ahlak beliau kepada umat Islam agar tumbuh kekaguman disanubari berharap mencontoh pribadi seagungnya manusia bukan mencontoh tokoh-tokoh kafir.
Jika melihat pada poin ini, tentu peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan hal yang amat baik. Insya Allah mendapat ridho-Nya. Terlebih lagi tiada larangan memperingati kelahiran beliau dengan maksud yang ma’ruf yakni agar umat lebih mengenalnya.

Perlu diketahui bahwa dalam Islam kita disuruh untuk melaksanakan
semampunya yang diperintahkan, dan menjauhi yang dilarangnya. BUKAN MENJAUHI YANG TIDAK DIKERJAKAN / DILARANG. Seperti dalam hadis berikut ini;

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ:
مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ
الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata: “Aku mendengar
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,’Apa saja yang aku
larang terhadap kalian, maka jauhilah. Dan apa saja yang aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian. Sesungguhnya apa yang membinasakan umat sebelum kalian hanyalah karena mereka banyak bertanya dan menyelisihi Nabi-nabi mereka’.” [Diriwayatkan oleh al-Bukhâri dan Muslim].

Jika semua aktivitas yang tidak dikerjakan atau tidak ada larangannya maka menjadi bid’ah dholallah (sesat) niscaya akan banyak kesesatan yang dilakukan umat ini. Contohnya adalah sebagai berikut;

Poin 1. Penyatuan Mushaf menjadi Mushaf Usmani sebagai inisiatif
khalifah Usman ibn Affan RA karena saat itu terjadi 7 dialek berbeda,
alhasil beliau (RA) putuskan untuk menetapkan dialek Quraisy sebagai
satu-satunya.

Pertanyaan untuk poin 1. Apakah nabi tidak tahu jika kelak akan
terjadi perselisihan karena masalah perbedaan logak / dialek
sepeninggalnya, sehingga Usman bin Affan RA berinisiatif membakar logat
yang lahir dan meninggalkan logat Quraisy saja?

Poin 2. Penambahan Harakah / tanda baca, tercetus saat dinasti Umayah
karena kekhawatiran terjadinya perubahan arti atau pengertian. Oleh
karenanya berinisiatif untuk mencantumkan tanda bantu baca yang dituliskan dengan tinta yang berbeda warnanya dengan tulisan Al Qur’an.

Pertanyaan untuk poin 2. Pernahkah Nabi memerintahkan untuk
menambahkan harakah / sakl / tanda baca pada ayat-ayat Quran? Jika
tiada, apakah nabi dan para sahabat bodoh (meminjam istilah salah satu
komentator artikel ini)?

Poin 3. Konsep Uluhiyah, Rububiyah, Asma Wa Sifat yang di gunakan
Salafi Wahabi berdalih untuk permudah ajari umat mengenai Tauhid.

Pertanyaan untuk pon 3. Namun jika kita mau kritis seperti mereka,
pernahkah Nabi dan Sahabatnya membelah Tauhid jadi 3 ini demi permudah ajari umat? Jika pernah ada, silahkan tuliskan hadisnya. Jika tidak ada hadisnya maka amat tepat jika pembagian Tauhid ini sebagai bid’ah ala Salafi Wahabi

Aktivitas dalam peringatan Maulid

Dan peringatan Maulid dengan tujuan yang baik, kemudian di isi dengan
segala perkara aktivitas sunnah maka bukan hal yang dilarang. Baca yang
dibawah ini untuk ketahui aktivitas dalam peringatan Maulid.

Untuk memahami lebih lanjut dari Maulid, maka dengan memaparkan deretan aktivitas didalamnya.

1. Membaca sejarah, pujian tentang Nabi yang tersusun dengan apik dalam kitab Simtudurorr yang disusun oleh Alhabib Ali Alhabsyi atau bacaan lainnya.
2. Membaca doa.
3. Adanya tausyiah.
4. Memberi makan orang banyak.
5. Dan berkumpulnya banyak kaum Muslim dalam satu tempat.

Apakah aktivitas-aktivitas diatas dilarang dalam Islam? Tentu tidak.
Dari ke 5 aktivitas diatas, yang paling sering di jadikan isu panas hanya poin satu yakni Membaca Pujian kepada Nabi SAW, dan disini saya
hanya membahas point itu. Sedangkan untuk point 2 hingga 5 tidak ada yang perlu dimasalahkan.

1. Membaca dan mendengarkan pujian kepada Nabi SAW. Apakah memuji Nabi SAW dilarang dalam Islam? Sama sekali tidak. Namun sering kali mereka yang kontra dengan urusan ini membawa hadis yang berbunyi kira-kira
begini: Janganlah kalian memujiku berlebihan seperti nasrani memuji Isa
bin Maryam.

Berpegang dengan hadis itu mereka menyatakan pujian2 kepada Nabi tidak dibenarkan. Benarkah? Hadis tersebut bukanlah LARANGAN dari Nabi SAW bagi siapapun yang ingin memujinya. Namun memberi batasan, dan batasan itu sudah tertulis jelas di matan hadis tersebut yakni “seperti kaum Nashrani yang berlebihan dalam memuji putra Maryam.”

Tentu kita faham maksud Nabi SAW dalam batasan itu, bahwa jangan seperti umat Nasrani yang menuhankan Isa. Dan bukan melarang siapapun memuja
Nabi SAW.

Perlu anda ketahui bahwa, bukan saja kita sebagai mahluk yang memuji
nabi SAW, Allah SWT sendiri memujinya dengan memberi label “Agung” kepada Nabi SAW.

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.[QS Al Qalam 68:4]“

Kata-kata “agung” dari Allah yang Maha Agung, memiliki makna yang besar dan tak bisa dijangkau batasnya dengan pikiran kita. Artinya kita bebas untuk menisbatkan sifat-sifat kesempurnaan makhluk bagi beliau Saw tanpa batas (kecuali menjadikan beliau (SAW) sebagai tuhan) karena setinggi apapun pujian kita, tak akan mampu menandingi pujian Allah kepada Rasulullah Saw.

Bahkan di surat lain Allah SWT melabelkan kepada Nabi SAW
sifat-sifat-Nya yakni Rauuf dan Rahiim (pengasih dan penyayang). Hal ini dapat di temui pada surat SURAT At Taubah (9): 128. Yang berbunyi:

    “Laqad jaa-akum rasuulun min anfusikum ‘aziizun ‘alayhi maa ‘anittum hariishun ‘alaykum bialmu/miniina rauufun rahiimun.”

Artinya:

    “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan
    dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”

Lihat bagaimana Allah Swt menyematkan dua asma-Nya untuk Rasulullah Saw yaitu Rauuf dan Rahiim (pengasih dan penyayang). Bukan berarti sifat kasih dan sayang Nabi Saw itu sama dengan sifat kasih dan sayang Allah Swt. Namun sifat kasih dan sayang dalam batas kemanusiawiaan tidak sampai batas ketuhanan.

Para sahabat dan ulama salaf, memahami hal ini dengan baik sehingga tidak sedikit para sahabat yang memuji-muji Nabi Saw dengan pujian indah dan tinggi. Di antaranya adalah pujian yang disampaikan sahabat Hassan bin Tsabit’

    واحسن منك لم تر ثط عيني # واجمل منك لم تلد النساء
    خلقت مبرأ من كل عيب # كأنك قد خلقت كما تشاء

Yang lebih baik darimu, belum pernah mataku memandangnya
    Yang lebih indah darimu, belum pernah pernah dilahirkan oleh para wanita
    Engkau diciptakan terbebas dari segala kekurangan
    Seolah engkau tercipta dengan sekehendakmu sendiri

Sahabat Sariyah pun pernah memuji Rasul Saw :

    فما حملت من ناقة فوق ظهرها … أبر وأوفى ذمة من محمد

 “ Tidak ada seeokor unta pun yang membawa seseorang di atas
    punggungnya, yang lebih baik dan menepati janjinya daripada Muhammad “

Dan juga pujian Abbas bin Abdul Muthalib RA:

    “…dan engkau saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang,
    dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya”

Dan masih banyak lagi pujian para sahabat kepada Nabi Saw sehingga
membuat Nabi senang dan terkadang Nabi pun memberikan hadiah pada yang memujinya. Ini semua membuktikan mengenai bolehnya memuji beliau Saw dengan pujian setinggi-tingginya.

Dan disaat seorang Badui bertanya tentang ahlak sang Nabi SAW, isterinya Siti Aisyah RA menyebutnya: khuluquhu al-Qur’an

(Akhlaknya Muhammad itu Al-Qur’an).

Nama beliau sendiri yaitu Muhammad, merupakan bentuk isim maf’ul dari kata Hammada Yuhammidu Tahmiidan, yang secara bahasa artinya adalah yang
banyak dipuji. Ini merupakan isyarat bahwa memang beliau pantas untuk
selalu dipuji. Jadi memuji dan menyanjung Nabi SAW adalah BOLEH.

Lalu kenapa Nabi SAW tidak merayakan Maulid?

Ini pertanyaan selanjutnya. Mungkinkan Nabi SAW meminta umatnya “hai sekalian umatku rayain ultah saya yah!”. Mungkinkah? Tentu tidak, karena merayakan maulid bukan hal esensi saat itu. Tenaga dan waktu Nabi SAW saat itu dihabiskan untuk dakwah menyiarkan Islam. Tentu perayaan Maulid tidak dianggap masalah krusial, apalagi di tetapkan dalam sebuah ayat
dan hadis. Namun Nabi SAW, tidak pernah melarang dirinya dipuji,
kemudian tidak pula melarang berkumpulnya orang banyak untuk dengarkan tausyiah, memberi makan orang banyak dan membaca doa.

Jika nabi SAW menyerukannya maka akan dijadikan wajib hukumnya, dan
dijadikan hari raya.

Lalu kenapa para sahabat Nabi SAW tidak merayakan Maulid?

Pertanyaan dan gugatan selanjutnya dari mereka yang kontra dengan Maulid ialah, kenapa para sahabat tidak merayakannya padahal kualitas cinta mereka pada nabi tentunya jauh diatas kualitas cinta kita.

Untuk menjawabnya mudah saja, para sahabat saat itu hidup dan melihat nabi SAW setiap hari. Mereka tidak perlu merayakan Maulid setiap
tahunnya. Mereka cukup mengabdi dan memujinya. Dan berjihad bersama SAW.
Dan juga tradisi merayakan hari ultah asing pada zaman itu. Sesuatu yang
asing bukan berarti dilarang. Dan memang saat itu perhatian Nabi
berserta sahabat-sahabatnya lebih kepada menyiarkan Islam.

Pendapat ulamat tentang Maulid

Ibnu Hajar Al ‘Asqolani Membolehkan Maulid Nabi

Perkataan berikut kami nukil dari kitab Al Hawiy yang ditulis oleh Imam
As Suyuthi.

وقد سئل شيخ الإسلام حافظ العصر أبو الفضل بن حجر عن عمل المولد فأجاب بما
نصه: أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن أحد من السلف الصالح من القرون
الثلاثة ولكنها مع ذلك قد اشتملت على محاسن وضدها فمن تحرى في عملها
المحاسن وتجنب ضدها كان بدعة حسنة وإلا فلا قال وقد ظهر لي تخريجها على أصل
ثابت وهو ما ثبت في الصحيحين من أن النبي صلى الله عليه وسلم قدم المدينة
فوجد اليهود يصومون يوم عاشوراء فسألهم فقالوا هو يوم أغرق الله فيه فرعون
ونجى موسى فنحن نصومه شكرا لله تعالى فيستفاد منه فعل الشكر لله على ما من
به في يوم معين من إسداء نعمة أو دفع نقمة ويعاد ذلك في نظير ذلك اليوم من
كل سنة والشكر لله يحصل بأنواع العبادة كالسجود والصيام والصدقة والتلاوة
وأي نعمة أعظم من النعمة ببروز هذا النبي نبي الرحمة في ذلك اليوم وعلى هذا
فينبغي أن يتحرى اليوم بعينه حتى يطابق قصة موسى في يوم عاشوراء ومن لم
يلاحظ ذلك لا يبالي بعمل المولد في أي يوم من الشهر بل توسع قوم فنقلوه إلى
يوم من السنة وفيه ما فيه – فهذا ما يتعلق بأصل عمله، وأما ما يعمل فيه
فينبغي أن يقتصر فيه على ما يفهم الشكر لله تعالى من نحو ما تقدم ذكره من
التلاوة والإطعام والصدقة وإنشاد شيء من المدائح النبوية والزهدية المحركة
للقلوب إلى فعل الخير والعمل للآخرة وأما ما يتبع ذلك من السماع واللهو
وغير ذلك فينبغي أن يقال ما كان من ذلك مباحا بحيث يقتضي السرور بذلك اليوم
لا بأس بإلحاقه به وما كان حراما أو مكروها فيمنع وكذا ما كان خلاف الأولى

Syaikhul Islam Hafizh di masa ini, Abul Fadhl Ibnu Hajar ditanya
mengenai amalan Maulid, beliau pun menjawab dengan redaksi sebagai berikut:

“Asal melakukan maulid adalah bid’ah, tidak diriwayatkan dari ulama
salaf dalam tiga abad pertama, akan tetapi didalamnya terkandung
kebaikan-kebaikan dan juga kesalahan-kesalahan. Barangsiapa melakukan kebaikan di dalamnya dan menjauhi kesalahan-kesalahan, maka ia telah melakukan bid’ah yang baik (bid’ah hasanah). Saya telah melihat
landasan yang kuat dalam hadist sahih Bukhari dan Muslim bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, beliau
menemukan orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura, maka beliau bertanya kepada mereka, dan mereka menjawab, “Itu hari dimana Allah
menenggelamkan Firaun, menyelamatkan Musa, kami berpuasa untuk mensyukuri itu semua.” Dari situ dapat diambil kesimpulan bahwa boleh melakukan syukur pada hari tertentu di situ terjadi nikmat yang besar atau terjadi penyelamatan dari mara bahaya, dan dilakukan itu tiap
bertepatan pada hari itu. Syukur bisa dilakukan dengan berbagai macam
ibadah, seperti sujud, puasa, sedekah, membaca al-Qur’an dll. Apa nikmat paling besar selain kehadiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di muka bumi ini. Maka sebaiknya merayakan maulid dengan melakukan syukur berupa membaca Qur’an, memberi makan fakir miskin, menceritakan
keutamaan dan kebaikan Rasulullah yang bisa menggerakkan hati untuk
berbuat baik dan amal sholih. Adapun yang dilakukan dengan mendengarkan musik dan memainkan alat musik, maka hukumnya dikembalikan kepada hukum pekerjaan itu. Kalau perkara yang dilakukan ketika itu mubah maka hukum merayakannya mubah, kalau itu haram maka hukumnya haram dan kalau itu kurang baik maka begitu seterusnya”.
**************************************
 Amalan Amalan yang Dianjurkan dalam ber “Maulid Nabi”

 Hari lahir Rasulullah SAW berulang setiap tahun.
Karenanya, sekali dalam setahun pula masyarakat Indonesia memperingati
hari kelahirannya. Berhubung banyaknya jumlah masjid dan mushola, maka maulid tampak diperingati setiap hari. Undangan muludan di desa-desa tetangga berderet antre diumumkan di masjid-masjid. Bukan apa-apa. Hal
ini lebih didasarkan pada perbedaan kesiapan panitia muludan setempat.

Semangat masyarakat Indonesia untuk menyelenggarakan maulid, bisa dimaklumi. Karena, Islam memang menganjurkan umatnya untuk merayakan hari kelahiran Rasulullah. Tidak salah kalau pemerintah RI menetapkan hari libur bertepatan dengan jatuhnya hari maulid Rasulullah SAW.

Lalu apa yang mesti dilakukan dalam peringatan maulid Rasulullah SAW.
Banyak kegiatan ibadah yang bisa dilakukan dalam kesempatan ini.
Demikian diterangkan Sayid Bakri bin Sayid M Syatho Dimyathi dalam
I‘anatuttholibin.

قال الإمام أبو شامة شيخ المصنف رحمه الله ومن أحسن ما ابتدع فى زماننا ما
يفعل فى كل عام فى اليوم الموافق ليوم مولده صلى الله عليه وسلم من الصدقات
والمعروف وإظهار الزينة والسرور فان ذلك مع ما فيه من الإحسان الى الفقراء
يشعر بمحبة النبي صلى الله عليه وسلم وتعظيمه وجلالته فى قلب فاعل ذلك وشكر
الله تعالى على ما من به من إيجاد رسوله الذى أرسله رحمة للعالمين صلى الله
عليه وسلم

Artinya, Imam Abu Syamah (guru penulis) berkata, “Salah satu dari sekian banyak bid‘ah paling hasanah di zaman kita ialah kelaziman yang dibuat masyarakat setiap tahun dalam merayakan harlah Rasulullah SAW berupa sedekah, berbuat ma’ruf, dan bersolek diri atau merapikan desa serta menyatakan kegembiraan. Semua itu berikut perbuatan baik kepada orang-orang faqir, menunjukkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW, keagungan serta kebesaran beliau SAW di hati mereka yang merayakan maulid, dan bentuk syukur kepada Allah atas anugerah-Nya dalam menciptakan seorang Rasulullah yang diutus sebagai rahmat bagi sekalian alam. Semoga Allah melimpahkan sholawat dan salam kepada rasul-Nya SAW.”

Termasuk membaca riwayat hidup Rasulullah SAW, lantunan sholawat, atau puji-pujian untuk beliau dalam pelbagai karya mulai dari Barzanji
natsar, Barzanji nazhom, qasidah Burdah, Syarafal Anam, maulid Diba‘i,
dan qasidah lainnya. Lazimnya orang Indonesia sedekah melalui pembuatan berkat. Wallahu a‘lam.
***************************

 Bacaan Doa Maulid Nabi Muhammad Saw

Sebelum membahas tentang *Doa Maulid Nabi Muhammad SAW, ada baiknya jika kalian sebagai seorang
Muslim dan Muslimah mengetahui secara lebih tentang Pengertian Maulid Nabi Muhammad SAW didalam Ajaran Islam karena Maulid Nabi Muhammad SAW atau Maulid Nabi atau Maulud merupakan salah satu perayaan memperingati Hari Lahir Baginda Nabi Muhammad SAW yang jatuh di tanggal 12 Rabiul
Awal, dan Bulan Rabiul Awal sendiri merupakan salah satu Bulan yang ada
di dalam Sistem Kalender Hijriah (Kalender Islam).

Kemudian di Indonesia sendiri banyak Muslim dan Muslimah yang selalu mengadakan acara pengajian dalam rangka untuk Memperingati Hari Lahir Nabi Muhammad SAW (Maulid Nabi Muhammad SAW) disetiap tahunnya, tepatnya di tanggal 12 Rabiul Awal (Sistem Kalender Hijriah). Hanya saja didalam
Hukum Maulid Nabi Muhammad SAW khususnya di Indonesia sendiri
mempunyai versi yang berbeda – beda disetiap Muslim,

Maksudnya ada yang mengatakan bahwa Hukum Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW ialah merupakan salah satu Bid’ah (Ibadah yang tidak boleh dilakukan karena Maulid Nabi tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW semasa beliau hidup), tetapi ada yang mengatakan bahwa Hukum Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW boleh dilakukan.

Hal ini tentunya menjadi masalah tersendiri yang tidak kunjung selesai
karena masing – masing kelompok atau orang mempunyai pendapat dan
keyakinan yang berbeda – beda. Hanya saja penjelasan menurut Ulama dan Ustad yang mengatakan bahwa merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW bukan termasuk kedalam perkara Bid’ah karena kita yang merayakan Mualid Nabi
Muhammad SAW mempunyai tujuan

Untuk memperingati dan merayakan kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW yang dilakukan dengan cara mengadakan Pengajian atau Dakwah yang isinya dapat diisi dengan tema perjuangan Baginda Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan Ajaran Islam ataupun dapat diisi dengan Dakwah Islami lain yang tentunya bermanfaat untuk menambah Ilmu kepada sesama Muslim yang
menghadiri Pengajian yang dilakukan disaat Maulid Nabi Muhammad SAW,
bukan melakukan perkara – perkara yang melenceng dari kaidah Islam
(Ajaran Islam).
****************************
 Amalan Utama pada hari Maulid Nabi saw

Tentang kelahiran Nabi saw ada perbedaan dalam hal hari dan tanggalnya.
Menurut riwayat yang bersumber dari sahabat Nabi saw beliau lahir pada
hari Senin 12 Rabi’ul Awwal tahun gajah. Adapun menurut riwayat yang
bersumber dari Ahlul bait Nabi saw beliau lahir saat terbit fajar, hari
Jum’at 17 Rabiul Awwal tahun gajah. Malam kelahiran Nabi saw adalah
malam yang sangat mulia, dan harinya adalah hari yang sangat mulia.

Amalan utama pada hari Kelahiran Nabi saw
Pertama: Mandi sunnah.
Kedua: Puasa.
Tentang keutamaan puasa disebutkan dalam suatu riwayat: “Barangsiapa yang berpuasa pada hari ini, Allah mencatat baginya seperti berpuasa satu tahun..”
Ketiga: ziarah kepada Nabi Nabi saw, atau membaca doa ziarah Nabi saw
minal bu’di, ziarah dari kejauhan (dari selain kota Madinah Al-Munawwarah).
Keempat: Ziarah kepada Imam Ali bin Abi Thalib (sa), atau membaca doa
ziarah kepada Imam Ali bin Abi Thalib (sa) sebagaimana doa ziarah yang dicontohkan oleh Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa).
Kelima: Melakukan shalat sunnah dua rakaat. Setiap rakaat sesudah
Fatihah membaca surat Al-Qadar (10 kali) dan surat Al-Ikhlash (10 kali).
Keenam: Memuliakan hari ini dan bersedekah, berbuat kebajikan dan
membahagiakan orang-orang mukmin, serta berziarah ke kuburan-kuburan suci para kekasih Allah swt.
(Kitab Mafâtihul Jinân, kunci-kunci surga)

Wassalam

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai